
Di dalam ruangan rawat VIP itu Rama mulai sibuk mengurus Bunda Yufi, istrinya yang terus menerus mebgeluh sakit di sekujur tubuhnya.
Malam itu Yufi masih belum boleh makan. Ia hanya boleh di beri air minum baik air putuh atau air teh manis hangat dan itu pin hanya tiga sendok makan saja setiap satu jam nya dan tidak boleh lebih dari itu.
Seusai memberi minum kepada Bunda Yufi. Rama kembali mengurus keemlat buah hatinya. Mulai dari menyuapi keempat anaknya sampai membuatkan susu di botol untuk Mayka dan menidurkannya dengan cara di ayun -ayun dalam gendongannya. Sungguh melelahkan.
Sudah lelah mencari uang, lelah berpikir karena memikirkan nasib Bunda Yufi dan keempat anaknya yang berjauhan kota dengan Rama di tambah lagi lelah dalam perjalanan hingga ke kota kampung halaman Bunda Yufi. Dan semuanya terbayarkan dengan napas yang begitu lega. Semua selamat dan tidak ada halangan apapun. Lancar semuanya.
Malam semakin dingin. Keempat anaknya sudah berbaring pulas di kasur lipat yang di bawa oleh kakak iparnya dan di tutup dengan selimut hangat yang panjang.
__ADS_1
Rama duduk di tepi ranjang menatap Yufi yang juga menatapnya sendu. Yufi sungguh berterima kasih sudah di berikan lelaki yang kini menjadi suaminya adalah lelaki penyabar, baik, perhatian dan sangat bertanggung jawab. Yufi kadang merasa berdosa karena dulu pernah mengkhianati Rama hingga minta di talak saat itu juga.
Saat itu entah setan apa yang menguasai hati dan pikiran Yufi sampai ia tergiur dengan pesona lelaki lain. Mungkin saja, Yufi di iming -imingi sesuatu hingga ia mau dan sampai berani meminta cerai pada Rama yang saat itu sedang terpuruk.
Waktu itu anak mereka baru ada dua saja, Saskia dan Ahmad. Tapi, Rama tak tersulut emosinya saat itu dan tidak langsung menalak Yufi. Yufi di biarkan saja dan tidak di pedulikan oleh Rama. Mau berbuat apapu sesuka hatinya di biarkan. Sampai suatu hari Yufi kabur dari rumah kontrakan itu dan pulang ke kampung halamannya membawa dua anaknya yang masih kecil.
Rama sama sekali tidak menghalangi dan membiarkan saja.
"Gak kok. Cuma lagi mau minta tolong," ucap Yufi pelan.
__ADS_1
"Minta tolong apa?" tanya Rama.
"Ayah ... Bisa pulang dulu ambilin kain panjang sama baju bayi," pinta Yufi pelan.
"Bunda lupa atau memang gak tahu. Motor Ayah sudah Ayah jual untuk bayar rumah sakit. Bunda kira, Ayah dapat uang dari mana sebanyak itu. Biaya operasi Bunda itu gak murah, belum lagi biaya obat dan rawat inap kelas VIP ini dan biaya rawat anak kita, Fano. Ayah juga gak tahu nanti kalau kerja naik apa?" ucap Rama pelan.
"Kok, Ayah jadi hitung -hitungan gitu sih sama Bunda. Ini kan yang di lahirkan anak Ayah juga, bukan cuma anak Bunda saja. Kalau memang Ayah keberatan ya, kemarin biarkan saja," ucap Yufi marah.
"Lho ... Bunda kenapa sih? Malah marah -marah. Tadi kan tanya, Ayah jawab jujur malah di kira hitung -hitungan. Kalau Ayah hitung -hitungan sama Bunda, gak akan Ayah jual itu motor," ucap Rama dengan suara agak meninggi. Kesal juga di tuduh begitu.
__ADS_1
Sudah di bela -belain. Di prioritaskan masih saja salah di mata Yufi. Entah tuntutan seperti apa yang di inginkan Yufi. Padahal mereka menikah sudah belasan tahun tapi masih saja tak bisa menerima kekurangan satu sama lain.