RESTU ISTRIMU

RESTU ISTRIMU
9


__ADS_3

Rama mengumpat keras. Ia marah sekali pada Dama. Tak mengerti maksud Dama itu sebenarnya apa. Apa yang membuat Dama tega melakukan ini semua.


Ingin rasanya berteriak keras di sana. Rama terlihat sedikit kacau. Ia kehilangan Dama. Sosok Dama yang dewasa dan tulus menyayanginya dengan sepenuh hati.


Tak lama ia berada di sana. Pemilik kontrakan memberi waktu kepada Rama untuk membawa pergi barang -barang Dama.


Dalam perjalanan pulang. Rama mampir ke ATM sebentar untuk memasukkan uang yang di berukan Dama untuknya.


"Kenapa banyak sekali uang ini," ucal Rama lirih.


Dama selama ini sudah banyak membatu Rama dalam hal finansial. Tapi jumlahnya sama persis dengan biaya DP perumahan yang di inginkan Dama saat itu. Cicilannya setiap bulan seharga dengan kontrakan Rama tiap bulan.


"Aku tak bisa menerima ini semua. Kamu kemana Dama!!" teriak Rama dalam hati.


Satu jam berada dalam perjalanan menuju rymah kontrakannya. Selama dalam perjalanan Rama masih tetap berpikir tentang uang itu. Apa memang sebaiknya ia gunakan untu DP rumah dan tiap bulan ia akan mencicilnya. Rumah itu ia isikan dengan barang -barang yang Dama tinggalkan untuk Rama.


Tanpa berpikir panjang dan melihat waktu masih pukul lima sore. Rama melajukan motornya menuju kantor pemasaran perunahan yang sempat ia lihat bersama Dama. Lokasinya memang tak jauh dari kantor Rama sekitar lima belas menit menuju kantornya.


Rama mendatangi kantor pemasaran untuk membeli rumah dengan cara mencicil sesuai impiannya bersama Dama. Tapi kali ini, Rama membeli rumah untuk memboyong istri dan keemlat anaknya agar hidup lebih baik lagi. Setidaknya perumahan subsidi itu cocok untuk keluarga berencana seperti Rama. Kamar dua dengan satu kamar mandi serta ada ruang tamu dan ruang keluarga yang menjadi satu.


"Bapak mau rumah yang mana? Ada satu yang siap huni. Mungkin kalau besok di proses, lusa sudah bisa di tempati. Rumah ini pesanan Ibu Dama namun ia gagalkan. Kalau Bapak mau silahkan saja. Uang mukanya hanya lima belas juta saja," ucap Lelaki itu yang mengurus semua administrasi jual beli rumah.


Mendengar nama Dama. Rama langsung mengiyakan rumah tersebut dan membayar DP rumah sesuai permintaan. Rama tak menyangka, Dama sudah lebih dulu ingin membeli rumah makanya uang DP itu ia berikan untuk Rama agar tidak terlihat oleh istri Rama. Biar seolah -olah Rama membelikan rumah itu untuk istri dan anak -anaknya.


Urusan rumah sudah selesai. Rama tinggal menunggu proses bank saja dan bukti serah terima kunci dan rumah. Jumlah pembayaran cicilan rumah itu akan ia bayarkan melalui payroll penggajiannya.


Rama pun kembali ke rumah kontrakannya. Hujan lebat selama perjalanan mengigatkan Rama pada Dama yang senang pada hujan. Tangannya akan mengulur menengadah untuk mengumpulkan air hujan di telapak tangannya lalu di cium. Bagi Dama wangi hujan adalah mood bosternya selain cokelat.

__ADS_1


Ceklek ...


"Assalamualaikum ...." sapa Rama mengucap salam saat masuk ke dalam rumah kontrakannya.


Ia sudah melepaskan jas hujannya di depan dan di gantung di paku depan pintu kamar kontrakan.


"Waalaikumsalam Ayah ...." jawab Ahmad dengan suara lantang sambil berlari memutari kamar kontrakan yang kecil itu.


Yufi sibuk dengan remote televisinya dan memindahkan channel kesukaannya untuk menonton sinetron yang sedang viral di kalangan ibu -ibu di sekitar kontrakannya.


Rama masuk ke dalam dan meletakkan semua tas dan jaketnya. Lalu masuk ke dalam kamar mandinya yang berada di luar kamar tersebut.


Tak lama, Rama masuk kembali ke dalam kamarnya dan mengganti pakaiannya.


"Bunda gak masak. Ayah kalau mau beli makan di luar aja. Bunda sekalian ya," ucap Yufi santai dengan kedua mata yang tak lepas dari layar televisinya.


Rama hanya diam dan mengambil gelas lalu menuangkan air putih lalu di teguk hingga habis. Rasanya haus sekali dan kerongkongannya terasa sangat kering sekali.


Rama menoleh ke arah Mayka yang baru saja bangun dan menggendong putri kecilnya yang lucu.


Lalu keluar dari kamar kontrakan itu untuk mencari makan malam setelah mengambil uang dari dompetnya.


Pemandangan yang sudah biasa ia lihat jika Yufi bersikap seperti itu. Tak menyiapkan apapun untuk Rama.


Setengah jam kemudian Rama pulang dari depan gang membeli nasi goreng dua bungkus serta membelikan jajan untuk Mayka dan ketiga anaknya yang lain.


Mayka di letakkan di karpet lalu Rama mengambil piring dan sendok. Yufi masih serius menonyon sinetron yang belum selesai.

__ADS_1


Ia memilih makan malam terlebih dahulu sambil mengajak bermain Mayka dan membukakan jajanan yang ingin di nikmati oleh Mayka.


Yufi beringsut mendekati suaminya dan bersikap manja.


"Ayo makan. Katanya belum makan," ucap Rama pelan sambil mengunyah nasi goreng di dalam mulutnya dan menyuapi biskuit kecil untuk Mayka.


Dengan cepat Rama membuka kan satu bungkus nasi goreng itu untuk Yufi. Keduanya saling diam. Mood Rama belum stabil. Ia masih menahan amarah kecewa yang sangat besar pada Dama.


"Ayah kenapa? Dari tadi diam saja," tanya Yufi pelan menatap Rama, suaminya.


"Biasa saja. Lagi cape aja, Bun," jawab Rama pelan.


Selesai makan Rama memilih keluar kamar kontrakan dan duduk di depan sambil menyesap satu batang rokok dan kedua matanya sesekali melihat ke atas langit. Banyak bintang bertaburan di sana dengan sangat indah.


Salah satu bintang itu pernah di tunjuk oleh Dama. Rama ingat betul dengan permintaan Dama saat itu.


"Kamu tahu Mas. Jika bintang itu bisa aku gapai dengan mudahnya, begitu pun dengan cintaku yang mudah luluh dengan segala perangaimu."


"Dua hari saja tak bertemu kamu, rasanya sulit sekali. Bagaimana aku? Jika kamu benar benar pergi dari kehidupan aku?" tanya Rama dalam hatinya.


Skip ...


Dama sudah membayar orang untuk membersihkan rumah itu. Sementara ia tingga di sebuah motel kecil.


Dama mencari peluang usaha baru. Jelas ia akan membuka toko serba ada di sana. Kedua, ia mau membuka jasa rental mobil. Dari pada mobilnya menganggur dan ada Pak Wira yang siap bekerja.


Keesokkan harinya. Dama mulai merenovasi di bagin depan rumah. Ia beri kaca besar tembus pandang dan rolling dor sebagai penutup. Keinginannya sudah matang untuk membuat usaha. Ia pikir dari pada uangnya habis tak bersisa, makan lebih baik ia gunakan untuk membika usaha yang lebih bermanfaat.

__ADS_1


Sebagai wanita mandiri. Dama tak pernah mengeluh sekali pun itu urusan uang. Hasil jerih payahnya selama ini sebagian ia tabung untuk biaya sekolah Lanang.


Di kota keci ini, Dama berharap kehidupannya bisa berubah lebih baik. Semoga keputusannya memang keputusan yang tepat. Semoga ia bjsa melupakan Rama secepatnya.


__ADS_2