
Satu minggu kemudian ...
Rama kembali mendatangi rumah Dama. Keduanya sepakat untuk menikah siri. Rama awalnya tetap ingin menikahi Dama secara resmi melalui penghulu dan terdaftar di Kantor Urusan Agama. Tapi, Dama tidak mau. Dama hanya ingin menikah siri saja sebelum Bunda Yufi memberikan restu atas pernikahan kedua Rama dengan Dama. Dama hanya ingin tidak menambah dosa karena perzinahannya yang selama ini di lakukan oleh Rama dan Dama.
Dama tengah menyiapkan makan malam untuk Rama. Malam ini Rama baru saja sampai di rumahnya. Cuaca malam ini begitu dingin dan hujan deras.
Rama sedang asyik bermain dengan Lanang di ruang TV. Lanang dan Rama memang sudah sangat dekat sejak dulu kala. Hubungan mereka cukup baik. Rama begitu sayang pada Lanang. Malam ini saja, Rama tidak lupa membawakan oleh oleh untuk Lanang. Sebelum kembali ke rumah Dama, Rama selalu meminta ijin untuk bicara dengan Lanang dan menanyakan calon anak tirinya yang sudah di anggap sebagai anaknya sendiri itu ingin di bawakan apa bila calon papahnya itu datanh menjenguk dirinya dan Mama Dama.
"Kamu kenapa, Dama? Dari tadi, Mas lihat agak gugup," ucap Rama pelan. Rama memeluk Dama dari belakang. Dama hanya terdiam dan tetap memasak.
"Hei ... Kamu dengar Mas bicara? Atau memang lagi malas mendengar Mas bicara? Hemm ...." ucap Rama lembut. Rama membalikan tubuh Dama dan menyentuh dagu Dama.
Dama hanya menatap Rama lekat. Ia tak bicara sepatah kata pun kepada Rama.
__ADS_1
"Ada apa? Bicara saja? Kalau tidak jadi tidak apa. Kalau tidak siap ya tidak apa -apa," ucap Rama pelan.
"Bukan itu," jawab Dama lirih akhirnya membuka mulutnya dan mengeluarkan suara.
"Lalu? Ada hal lain yang membebani kamu, Dama?" tanya Rama pelan.
"Ayahnya Lanang, beberapa hari lalu berhasil menghubungi aku. Ia mencari tahu aku dari Kakakku dan Mama aku," ucap Dama mulai bercerita.
Ia mematikan kompornya dan mengangkat bebek goreng yang sudah matang sempurna.
"Ia memintaku untuk kembali padanya," ucap Dama pelan.
"Terus?" tanya Rama penasaran.
__ADS_1
"Aku belum menjawab Mas. Aku bimbang. Aku merasa berdosa dengan Bunda Yufi atas hubungan kita, tapi aku terlanjur nyaman dan mencintai kamu, Mas Rama. Aku ... hanya ingin Lanang punya sosok Papah yang bisa mengajaknya bermain dan bercerita di saat Lanang bersedih," ucap Dama pelan mulai jujur.
"Kamu masih sayang sama Ayahnya Lanang?" tanya Rama pelan.
Dama menggelengkan kepalanya dengan cepat.
"Enggak Mas Rama. Aku sama sekali sudah tak ada perasaan apapun pada Ayahnya Lanang?" ucap Dama jujur.
"Terus? Hubungannya dengan pernikahan kita apa?" tanya Rama cepat.
"Bunda Yufi belum kasih ijin Mas. Kalau mau nekat. Aku sama sekali gak mau dan gak punya keberanian itu. Kalau Mas, setuju lebih baik kita menikah siri saja untuk menghindari hal -hal yang tidak di inginkan," ucap Dama menjelaskan.
"Oke. Mas mau. Apapun yang kamu minta dan itu demi kebaikan hubungan kita. Mas akan menurutinya," ucap Rama pelan.
__ADS_1
"Besok pagi Pak Kyai akan datang kesini. Aku sudah minta datang. Aku cerita sama permasalahan aku pada Pak Kyai dan Pak Kyai siap untuk menikahkan kita," ucap Dama pelan.
"Udah selesai kan? Senyum dong sekarang? Jangan sedih wajahnya," ucap Rama tersenyum.