RESTU ISTRIMU

RESTU ISTRIMU
11


__ADS_3

Malam ini sudah pukul sepuluh malam. Hujan deras yang turun sejak tadi sama sekali tidak berhenti bahkan tambah deras dan semakin lebat. Suara gemurih hujan begitu terdrngar sangat jelas.


Rama dan Dama duduk di sofa ruang tamu secara terpisah. Keduanya sedikit canggung untuk duduk berdekatan lagi.


Mereka berdua duduk di sofa yang terpisah. Dama duduk di sofa panjang sedangkan Rama duduk di sofa yang single.


Rama sibuk dengan ponselnya sampai mie ramen yang di sediakan Dama pun makin lama makin mendingin dan mulai bengkak.


Susu putih panas di campur dengan indocafe juga sudah di sajikan di meja. Tapi, Rama sama sekali belum menyentuhnya sejak tadi.


Sesekali Rama menelepon dan membalas pesan singkat yang terus memberudul.


Wajah Rama tampak kusut dan panik. Terlihat bersitegang saat ponsel itu berbunyi dan Rama mulai berkomunikasi dengan orang yang sedang meneleponnya.


Dama pergi dari sana dan menjauhi di mana Rama duduk. Dama sengaja meninggalkan Rama sendirian agar lebih bebas menelepon. Dama tahu sejak tadi Rama merasa tidak nyaman dengan keberadaan Dama.


Dama bersembunyi di balik dinding ruang tamu dan ikut memasang telingannya agar bisa mendengar semua pembicaraan Rama dengan jelas.


"Ayah terjebak hujan, Bun. Sabar ya? Takut kalau di paksa jalan malah ada apa -apa. Udah malam juga. Ayah berhenti di masjid ini. Sinyalnya juga susah," ucap Rama pelan.


Tak berselang lama, Rama memjawab kembali pertanyaan yang di ajukan oleh Yufi.


"Kita bahas nanti ya, Bun. Kalau soal itu. Kalau Bunda mau ke rumah sakit, pinjem sama saudara dulu," titah Rama kepada Yufi.


Terakhir Rama lebih terdengar mengalah dan sabar.


"Ayah secepatnya pulang dan bawa Bunda ke rumah sakit," ucap Rama pelan.


Rama masih terduduk di sofa dan mematikan ponselnya. Tubuhnya mulai terasa menggigil karena ada beberapa daerah yang hujan dan sempat membasahi tubuh Rama.


Ia menatap makanan yang di sajikan oleh Dama. Perempuan itu tak pernah berubah selalu melayani Rama dengan baik dalam hal apapun. Dan selalu memberikan apa yang di sukai oleh Rama tanpa menilak semua lermintaan dan keinginan Rama.


Rama mengambil susu indocafe kesukaannya. Gelas itu sudah hangat dan tak ada lagi kebulan asap yang menandakan masih panas. Waktu susu itu di seruput, rasanya sudah sedikit dingin. Tapi, ketulusan Dama terasa dari rasa nikmat susu indocafe itu sendiri.

__ADS_1


Kini, ia mulai mencoba mie ramen yang ada di sana dan satu piring gorengan berisi nugget, sosis dan bakwan sayur.


Pelan mie ramen yang mulai dingin itu membasahi mulutnya yang sudah kering sejak tadi.


Dama masuk kembali ke dalam ruang tamu sambil membawa satu gelas teh panas manis di tangannya. Supaya tidak terlihat di curigai oleh Rama.


"Enak Mas?" tanya Dama pelan sambil duduk dan menyeruput teh manis panasnya.


"Enak. Rasanya masih sama. Selalu nikmat," puji Rama sambil tersenyum.


"Ekhemm dari sini ke kota Bunda Yufi berapa lama?" tanya Dama pelan.


"Sekitar tiga jam lah. Tapi hujan. Mas boleh sementara di sini dulu kan?" tanya Rama pelan sambil menatap Dama dengan wajah sendu.


"Pintu rumah Dama selalu terbuka lebar untuk Mas Rama. Kapan pun Mas Rama mau main, silahkan," ucap Dama.


Dalam hati Dama begitu bahagia. Ia merasa semesta memang sedang menguji cintanya kembali. Ketulusannya dan kesabarannya untuk kembali mencintai Rama.


Rama tersenyum manis. Senyuman itu sudah lama tak di lihatnya. Rindu sekali berada di pelukan Rama.


"Mas ...." panggil Dama pelan sambil menyeruput teh manisnya lagi.


"Ya? Kenapa?" tanya Rama pelan.


"Aku antar ke rumah Bunda, malam ini. Kasihan Bunda, Mas," ucap Dama pelan.


"Pake mobil? Lalu motornya?" tanya Rama pelan.


"Ya sementara di tinggal dulu. Keselamatan Bunda lebih penting, kan?" tanya Dama pelan.


Rama mengangguk pelan. Ia tidak mau kehilangan sosok istrinya yang telah baik mengurus empat orang anaknya selama ini. Wajar jika seorang Ibu marah dan menangis, itu karena ia kelelahan setelah seharian beraktivitas mengurus rumah tangga.


"Ekhemm ... Dama ... Motor itu mau Mas gadai untuk biaya operasi Bunda," ucap Rama pelan.

__ADS_1


Tadinya Rama tidak mau bicara. Tapi, waktu memang sangat mendesak dan tak bisa di tunda lagi. Rama juga takut jika ia datang terlambat dan Yufi tak tertolong.


Dama bangkit berdiri dan masuk ke dalam kamarnya. Tak lama, Dama keluar lagi dengan satu tas kecil tenteng dan sudah rapi memakai jaket jeans kesukaannya.


Dama duduk kembali di sofa dan mengeluarkan sejumlah uang dari amplop cokelat.


"Segini cukup? Untuk biaya operasi Bunda?" tanya Dama pelan mengeluarkan lima ikatan lembaran merah yang masing -masing terikat dnegan jumlah lima jutaan. Semuanya sekitar dua puluh juta rupiah.


Rama takjub melihat uang sebanyak itu. Bahkan pesangon Rama kemarin tak sampai sejumlah itu.


"Jangan Dama. Itu uang kamu. Uang untuk modal usaha," Rama menolak halus pemberian Dama.


"Jadi di tolak nih? Rejeki anak lho," ucap Dama pelan.


Rama diam sejenak. Melihat uang yang banyak di depan mata membuat Rama tenang masalah biaya operasi untuknYufi yang sangat mahal. Tapi ... berulamg kali Rama selalu membuat Dama kesusahn untuk masalah dirinya sendiri.


"Bukan di tolak. Mas malu, Dama. Mas takut di kira memanfaatkan kebaikan kamu," ucap Rama pelan.


"Memang Mas Rama anggap Dama apa?" tanya Dama pelan dan menatap lekat kedua mata Rama yang sendu.


"Dama ... Jangan pertanyakan hal ini lagi pada Mas. Saat itu Mas hampir gila kehilangan kamu. Gak mungkin kan, Mas semudah itu melupakan apa yang pernah terjadi pada kita?" ucap Rama pelan.


Dama tertunduk. Kata -kata itu begitu menusuk hatinya. Sekarang Dama sadar. Rama memang menyayanginya dengan tulus. Rasa cintanya sama rata untuk Yufi, istrinya dan Dama. Kadarnya sama rata dan adil.


"Yuk ... berangkat sekarang. Takut kemalaman. Kita jalan pelan - pelan saja," titah Dama cepat.


Dama tidak mau membuang waktu lagi. Waktu terus berrjalan dan jangan sampai penyesalan itu datang terlambat.


"Lanang?" tanya Rama pelan.


"Ada susternya. Bereskan uangnya Mas. Masukkan ke dalam tas kamu," ucap Dama pelan.


"Ini BPKB motor sebagai jaminan," ucap Rama pelan. Ia tidak mau berhutang budi terlalu banyak pada Dama.

__ADS_1


"Apaan sih Mas. Memang aku renternir? Aku ikhlas ngasihnya. Gak usah di bayar," ucap Dama pelan. Ia bergegaa keluar dan menuju garasi mobilnya untuk mengeluarkan mobilnya dari garasi ke luar jalan.


Rama juga sudah memasukkan sejumlah uang itu ke dalam tas kecilnya dan emletakkan helm di dalam meja yang ada di ruang tamu itu.


__ADS_2