
Rama masuk ke dalam ruang pengambilan darah yang di sediakan PMI. Petugas itu menunjukkan kepada Rama, seorang pendonor yang memang sedang mendonorkan darahnya.
Betapa terkejutnya saat Rama melihat orang tersebut adalah Dama. Perlahan Rama berjalan menuju arah Dama yang sedang tergolek lemah di ambil darahnya.
"Dama?" panggil Rama pelan dan begitu lembut.
Mendengar ada suara memanggil namanya dengan lembut dan suara itu sudah tak asing lagi saat di dengar. Dama membuka kedua matanya perlahan. Antara sadar dan tidak sadar. Dama melihat sosok Rama juga sedang menatap dirinya
"Mas Rama? Kau kah itu? Benar? Atau aku hanya sedang bermimpi atau berilusi saja
"Ini benar Mas, Dama. Mas ingin meminta darahmu dua labuh saja. Apa kamu masih sanggup? Mas harus mencari kemana lagi? Bunda Yufi membutuhkannya," ucap Rama pelan dan mulai panik.
Wajahnya tetlihat resah dan gelisah menunggu jawaban Dama. Dama menatao erat ke arah Rama. Tak mungkin Dama tidak mau menolong Bunda Yufi yang memang sedang bertarung nyawa di meja operasi.
__ADS_1
Dama juga seorang perempuan. Namun, Dama bukan seorang perempuan yang egois dan jahat yang tega mengambil kesempatan di saat yang begitu tepat.
"Dama mau Mas. Bawa Dama dekat dengan tubuh Bunda Yufi? Agar Dama bisa lihat saat darah Dama masuk ke dalam tubuh Bunda Yufi," ucap Dama lirih.
"Terima kasih Dama. Coba Mas tabyakan apakah bisa dengan apa yang kamu minta?" ucap Rama pelan.
Rama bergegas pergi mencari petugas jaga meminta penjelasan dnegan jelas.
Proses pengambulan sarah memang harus seperti itu. Darah pendonor harus di amsukkan ke dalam kantong darah dan kemudian di lakukan sesuatu dengan darah tersebut sebelum di berika kepada sang penerima donor darah tersebut.
Beberapa menit awal, Rama memang masih berada di sampingnya hingga Dama sendiri mulai melupakan keberadaan Rama yang sudah tiada di dekatnya.
Kedua mata Dama mencari sosok Rama dan tak ada. Tentu Dama tahu, ia bukan lah siapa -siapa bagi Rama.
__ADS_1
Ponsel Dama berbunyi, Dama langsung mengangkat sambungan telepon yang baru saja masuk ke ponselnya.
"Hallo?," ucap Dama menyapa terlebih dahulu. Tandanya Dama sudah mengangkat tekepon tersebut.
"Kamu di mana Dama? Aku ada di rumah kamu. Apa kamu melupakan sesuatu? Kita sudah berjanji?" tanya seseorang yang ada di sambungan telepon itu dengan suara pelan dan sangat berhati -hati sekali.
Dama memejankan kedua matanya. Dama mengingat kembali, ia punya janji apa dengan lelaki yang sedang meneleponnya menagih janjinya.
"Apa itu? Aku lupa. Katakan saja biar aku ingat," jawab Dama santai.
"Kalau lupa ya sudah. Untuk apa aku harus mencoba membuat kamu ingat? Toh, tetap saja tidak bisa kamu penuhi saat ini juga?," ucap lelaki itu dari sambungan teleponnya penuh tasa kecewa.
Lelaki iti bernama Adi. Mereka slaing mengenal sejak satu tahun yang lalu. Saat itu Dama mencari seorang ustad untuk mendoalan rumah yang baru saja ia renovasi ddan akan di gunakan selamanya untuk tempat tinggal. Acara itu hanyalah acara syukuran biasa sekaligus acara perkenalan dengan para tetangga dengan Dama yang baru saja pindah ke rumah itu.
__ADS_1
Adi atau akrab di panggil Ustad Adi memang seorang lelaki single dengan status duda anak tiga. Saat mengenal Dama, ustad Adi langsung jatuh hati pada Dama dan langsung mengungkapkan niatnya untuk mempersunting Dama.