
Ustad Adi dan kedua orang tuanya sudah pulang. Dama bisa bernapas lega rasanya. Bisa di bayangkan bukan, bagaimana rasanya di dekati oleh orang yang sama sekali tidak kita cintai atau tidak memiliki chemistry sama sekali. Males pastinya bukan?
Dama meletakkan kembali gelas kotor dan toples tang sudah berkurang ke dalam nampan dan di bawa ke dapur untuk di cuci.
Sekilas, ia melihat Rama sedang mengajak bermain Lanang di halaman belakang. Mereka berdua berlari -larian dan saling berkejaran terlihat sangat akrab sekali.
Dama ikut nimbrung di halaman belakang. Cuaca yang semakin panas dan mulai terik memang cocok di beri cemilan yang dingin seperti puding roti dan es kopyor.
"Mas Rama ... Lanang ... Sini sayang," ucap Dama dengan suara lantang memanggil kedua lelaki kesayangannya itu.
Rama menoleh dan menatap Dama yang tersenyum dan melambaikan tangannya. Lalu meletakkan bola plastik di taman itu dan menggendong Lanang sambil berlari. Anak lelaki itu berteriak kegirangan dan tertawa tergelak hingga tak bisa mengeluarkan suaranya.
Lanang memang kurang kasih sayang dari sosok Ayah. Beberapa kali Dama di dekati laki -laki, Dama selalu minta agar bisa dekat juga dengan Lanang, buah hatinya.
Kalau Lanang tidak bisa di dekati, maka lelaki itu juga tidak akan bisa mendapatkan hati Dama. Apalagi jelas dari awal tidak mau menerima Lanang dengan ketulusan. Dama akan bersiap untuk mencontreng buruk nama lelaki itu dari daftar pencalonan suami dan ayah Lanang.
Sebelum Rama dan Ustad Adi. Ada satu lelaki yang juga sudah berhasil mendaparkan hati Dama dan Lanang. Namanya sudah mendapatkan tempat khusus dan spesial. Namun, namanya manusia. Tidak akan ada yang tahu bagaimana isi hati dan pikirannya. Sekarang bilang A maka besok bisa berubah bilang B.
Rama sudah duduk di lantai dan menurunkan Lanang yang sejak tadi di gendong di atas pundaknya.
"Ini buat Mas Rama," ucap Dama memberikan satu piring kecil berisi dua potong puding cokelat roti tawar.
"Terima kasih sayang. Kalau bisa manggilnya yang tadi aja. Kan calon suami?" cicit Rama lembut.
Dama menatap Rama bingung. Tidak biasanya Rama punya permintaan sesederhana ini. Apa ini pertanda bahwa Rama juga ingin lebih serius lagi dengan Dama.
Lanang berada di pangkuan Dama dan di suapi perlahan oleh Dama. Puding cokelat roti tawar itu adalah makanan kesukaan Lanang. Satu loyang besar bisa Lanang habiskan sendiri dalam waktu satu hari saja di setiap jam makannya.
__ADS_1
"Mah ... Papah mau balik ke kota sekarang. Motornya boleh Papah bawa buat kerja?" tanya Rama kepada Dama.
"Bawa aja Pah. Siapa juga yang mau pakai di sini," ucap Dama lembut.
"Mamah yang sabar ya jalani ini semua," pinta Rama.
"Bukannya selama ini, aku sabar nunggu Papah?" jawab Dama lirih. Dama terus menyuapi Lanang yang terus meminta puding cokelat tersebut.
"Om kita main bola lagi yuk?" cicit Lanang dengan suara lucu ciri khas anak -anak.
"Panggilnya Papah ya Nak. Papahnya mau kerja, nanti kalau Papah pulang, pasti Papah ajak main bola lagi, oke?" ucap Rama sambil mengusap lembut rambut Lanang dengan penuh kasih sayang.
"Mah ... ini Papah?" Lanang bertanya kepada Dama.
"Iya sayang. Ini Papah," jawab Dama mengiyakan karena ada kesepakatan antara Rama dan Lanang.
"Lanang mau di gendong Papah," cicitnya mulai manja.
Pelukan Rama memang snagat kebapakan hingha membuat nyaman Lanang. Tak sampai lima menit anak lelaki itu sudah terlelap di dekapan Rama.
"Pah ... Lanang tidur," ucap Dama tersenyum.
Dama senang kalau Rama dan Lanang bisa dekat dan memiliki ikatan batin tersendiri seperti layaknya ikatan batin yang di miliki oleh seorang ayah terhadap anak kandungnya.
"Papah mau serius sama aku?" tanya Dama kembali.
"Papah memang gak akan menjanjikan apapun untuk Mamah. Tapi Papah akan berusaha semaksimal mungkin. Tidak ada usaha yang mengkhianati hasil kan?" ucap Rama mencoba meyakinkan Dama.
__ADS_1
"Setidaknya ... kita menikah siri, Pah. Biar aku di sini juga tidak di dekati oleh lelaki lain yang mungkin akan membuat Papah cemburu," pinta Dama.
"Lanang mau di tidurkan dimana?" tanya Rama mengalihkan pembicaraannya.
Dama langsung berdiri dan berjalan menuju kamar Lanang. Rama memang sama sekali tidak berubah. Dia akan selalu mengalihkan pembicaraan bila ingin menghindari suatu pertanyaan yang memang belum bisa ia jawab kepastiannya.
Rama mengangkat Lanang dan merebahkan tubuh lelaki kecil dan lucu itu di kasur miliknya dengan sprei bercorak kartun spiderman. Tubuh mungil itu di beri selimut tipis berbulu halus dengan corak kartun mobil.
Rama bangkit berdiri dan memegang tangan Dama.
"Mamah mau menikah siri dulu? Beneran gak apa -apa? Papah itu gak mau. Maunya ya langsung SAH di mata agama dan negara," ucap Rama menjelaskan.
"Pah ... Dosa Dama sudah banyak. Pertemuan ini jelas akan ada pertemuan selanjutnya. Dan Dama gak mau mengulang kembali hubungan kita yang dulu," ucap Dama pelan.
"Tapi ... kalau menikah siri. Papah takut mamah akan berpikir buruk. Seolah hanya menjadi simpanan halal Papah, atau pelacur pribadi Papah. Papah gak mau dengar itu. Niat Papah ya menikahi Mamah. Mamah jadi istri kedua Papah. Itu saja tanpa embel -embel yang menyakitkan hati," ucap Rama menjelaskan.
"Dama paham dengan maksud Papah. Tapi kita hidup di lingkingan sosial Pah. Banyak yang akan lihat kita selalu berduaan walau gak setiap hari," ucap Dama mencoba mengungkapkan kegundahan Dama selama ini.
Setahun kemarin ia pergi pun bukan hanya karena keinginan Yufi yang menginginkan Dama mengjilang dari kehidupan Rama. Tapi juga Dama ingin mencoba membunuh perasaannya sendiri. Toh, ada yang bilang. Cinta itu tak harus memiliki.
Rama memeluk Dama erat. Dama juga membalas pelukan erat itu.
"Papah sayang sama Mamah. Kalau memang Mamah maunya begitu, minggu depan Papah lulang kita menikah tanpa restu Bunda. Dan bukan pernikahan siri tapi pernikahan sesuangguhnya. Tapi ingat selama tidak ada restu dari Bunda, hubungan kita akan seperti ini. Mamah harus paham saat Papah berada di dekat Bunda. Karena memang Papah gak bisa menyakiti hati Bunda dan Mamah. Kalian adalah dua wanita yang Papah sayang. Papah tidak mau memilih tapi mau saling melengkapi," ucap Rama dengan tegas mengingatkan.
Rama tahu, Dama buka tipe perempuan penuntut. Kalau pun saat ini ia menuntut untuk.di nikahi.karena keadaan Dama bukan karna ketidak pengertian Dama dengan situasi dan kondisi Rama.
"Papah pulang dulu ya?" ucap Rama smabil mengecup kening Dama, lalu kedua pipi Dama dan bibir mungil Dama.
__ADS_1
Cup ...
Rama menatap Dama yangbsudah menutup Mata. Rama mengeratkan pelukannya dan mencium Dama lebih dalam lagi hingga suara decitan antar kedua bibir itu berbunyi seolah memberitahu bahwa keduanya sedang menikmati kerinduan mereka.