
Beberapa hari kemudian ...
Waktu cuti Rama sudah habis. Rama tidak bisa menemani Yufi lebih lama lagi. Kecuali memang Yufi mau kembali ke rumah pribadi mereka di kota besar.
Sudah lima hari Rama libur dari pekerjaannya. Kalau di teruskan nanti Yufi dan kelima anaknya mau makan apa?
"Ayah besok berangkat shubuh. Naik bis saja biar cepat," ucap Rama pelan.
"Iya," jawab Yufi sambil menyusui Fano dengan menggunakan botol susu.
Sejak kelahiran anak yang kedua, Yufi tak pernah memberikan ASI eksklusif karena air susunya tak pernah keluar.
Tugas Rama selama di rumah adalah mengurus keempat putra putrinya dan memastikan keadaan rumah tetap kondusif.
"Ayah gak usah macem -macem sekarang. Sudah ada Fano," cicit Yufi mengingatkan.
"Iya Bun," jawab Rama singkat.
Selama di rumah semua ponsel di pegang oleh Yufi. Rama tak di ijinkan memegang ponsel atau berkomunikasi dengan orang lain.
Dama sudah paham soal itu. Dama tak pernah mendului untuk menghubungi Rama kecuali memang ia tahu posisi Rama sedang di luar. Tapi itu dulu.
Hari ini Dama berada di pilihan yang sulit. Ustad Adi sudah datang pagi -pagi sekali dengan kedua orang tuanya. Maksud kedatangannya untuk meminag Dama.
"Pak Ustad? Eh ada Bapak dan Ibu juga?" sapa Dama dengan suara lembut dan sopan.
Dama mengajak kedua orang tua Ustad Adi untuk masuk ke dalam. Lalu mengecup punggung tangan kedua orang tua itu dengan sopan.
"Gimana sehat Dama? Lanang mana?" tanya Ibu ustad Adi.
Dama dan Ibu Ustad Adi cukup dekat. Mereka selalu duduk bersama jika ada acara pengajian di majelis.
"Ada Bu. Lagi main di belakang sama si Kakak," jawab Dama pelan.
Dama memang orang baru di kampung itu. Tapi jiwa sosial Dama dan sepak terjang Dama di kampung itu tidak bisa di landang sebelah mata. Walaupun banyak orang yang iri dengan kesuksesan Dama terutama kaum ibu -ibu yang merasa insecure dengan kegigihan Dama.
__ADS_1
Tak heran, banyak para suami atau lelaki yang membicarakan Dama tentang kebaikan dan kehebatannya. Berbeda dengan para ibu -ibu yang iri dengan Dama dan selalu mengumpat dan mengumbar keburukan Dama. Kadang para ibu -ibu itu secara terang -terangan bicara di depan Dama bahwa mereka tidak suka pada Dama dan kehadiran Dama ke kampung ini malah membuat para ibu -ibu semakin tersisih.
"Sebentar Dama ambilkan minum," ucap Dama pelan beranjak dari duduknya dan berjalan menuju dapur untuk membuatkan minuman dan membawa makanan dan cemilan yang sudah tersedia di dalam toples kecil.
Tak lama, Dama membawa satu nampan besar berisi cangkir yang berisi teh dan potongan kue lapis surabaya yang tertata rapi di piring.
Dama meletakkan satu per satu cangkir itu tepat di depan para tamu dan menyingkirkan nampan besar itu ke kolong meja tamu.
"Silahkan Pak ... Bu ... Pak Ustad," ucap Dama sopan mempersilahkan para tamunya untuk mencicipi sajian yang telah di sajikan oleh Dama.
"Ibu minum ya, Dama," jawab Ibu sambil menyeruput teh manis hangat yang telah di sediakan oleh Dama.
Dama hanya mengangguk kecil.
"Maaf jika kedatangan kami kemari membuat kamu terkejut dan merasa terganggu, Dama," ucap Bapak.
"Gak Pak. Kedatangan Bapak dan Ibu sama sekali tidak menganggu aktivitas Dama pagi ini. Kebetulan sekali Dama sedang tidak sibuk pagi ini," ucap Dama pelan.
"Kami ingin melamar kamu untuk anak kami ustad Adi," ucap Bapak pelan.
Rasanya seperti di tembak begitu saja. Tidak ada omongan sebelumnya dari ustad Adi pada Dama.
"Lamaran ini gak salah? Ustad Adi tidak pernah bicara sebelumnya pada Dama," ucap Dama pelan.
"Ekhemm ... bukan tidak mau bicara. Bukan kah lebih baik, mencintai dalam diam dan tunjukkan dengan keseriusan?" jawab Ustad Adi pada Dama.
"Ya tapi gak kayak gini juga harus tembak di tempat. Kalau begini yang ada malah kadi paksaan?" ucap Dama kecewa.
Urusan pribadi yang sudah membawa kedua orang tua itu adalah masalah serius. Masalah serius juga harus dinantisipasi agar tidak salah paham ke depannya.
"Maaf Dama. Bapak minta maaf kalau sudah membuat Dama terganggu dengan permintaan Bapak ini," ucap Bapak yang menjadi tak enak hati.
Dama memang kecewa dan marah. Hatinya kesal sekali. Apa ustad Adi tidak punya nyali untuk bicarakan hal ini jauh hari sebelum membawa Bapak dan Ibunya ke rumah Dama.
"Dama ... bukan Ibu mau membela ustad Adi, anak Ibu. Tapi, memang Ibu yang meminta untuk menyegerakan jika memang ingin serius dengan kamu," ucap Ibu serius.
__ADS_1
"Ya ... Tapi tidak begini Bu. Maaf Dama tidak bisa menerima lamaran ini," ucap Dama lirih.
"Kenapa Dama? Kamu belum bisa melupakan masa lalu kamu? Aku pasti paham untuk hal itu. Aku janji akan membahagiakan kamu," ucap ustad Adi lantang.
"Bukan soal itu. Ukuran kebahagiaan juga tidak ada tolak ukurnya Pak Ustad. Dama hanya butuh kenyamanan dan butuh pasangan yang bisa mengerti Dama dan sayang sama Lanang. Masa lalu Dama memang buruk dan itu tak membuat Dama terpuruk terus. Dama bisa buktikan bahwa Dama bisa hidup sendiri dengan mengurus Lanang," ucap Dama tegas.
"Lalu? Apa susahnya di coba?" tanya Ustad Adi masih menyelidik Dama.
Selama ini Dama tidak pernah terbuka soal dirinya sendiri dan semua perjalanan hidupnya di masa lalu.
Dama menggelengkan kepalanya pelan. Tegas sekali ia bicara.
"Dama tidak bisa. Maafkan Dama Pak Ustad," ucap Dama tegas.
Tok ... tok ... tok ....
"Assalamualaikum ... Dama ...." panggil seseorang dari depan rumah Dama.
"Waalaikumsalam ... Mas Rama ...." jawab Dama langsung tersenyum manis.
Dama bangkit berdiri dan menghampiri Rama lalu mengecup punggung tangan Rama dengan sopan.
"Masuk Mas. Dama ada tamu. Itu Pak Ustad Adi, itu Bapak dan Ibunya Pak Ustad Adi," ucap Dama memperkenalkan tamu -tamunya kepada Rama yang baru saja datang.
Rama menurut pada Dama dan duduk di samping Dama. Rama memberi salam kepada semua tamu Dama.
"Bapak dan Ibu, ini Mas Rama, calon suami Dama. Kami akan segera menikah. Ya kan, Mas?" tanya Dama pelan.
"Ya. Saya Rama, calon suami Dama. Lanang mana Mah," ucap Rama pelan. Kali ini Rama langsung to the poin memanggil Dama dengan sebutan Mamah seperti Lanang memanggil Dama.
"Ada di belakang Pah," jawab Dama pelan.
"Papah mau main sama Rama," ucap Rama pelan sengaja menghindar dari tamu Dama.
Tidak enak juga mengganggu mereka. Biar mereka pulang dengan sendirinya.
__ADS_1
"Benar dia calon suami kamu? Aku mau tahu, kapan kamu nikah?" tegas Ustad Adi kepada Dama.