
Pagi pagi sekali Dama dan asistennya berkemas. Mereka hanya membawa barang barang mereka yang penting dan yang sangat di butuhkan di tempat yang baru nanti.
Semalaman Dama berpikir keras atas masalah yang ia hadapi saat ini dan akhirnya ia mendaparkan solusi. Jalan satu satunya memang dia yang harus pergi dari kehidupan Rama.
Dama melakukan hal ini bukan tak sayang pada Rama. Tapi ia menghargai Yufi. Permintaan Yufi seperti ini.
Rama yang sudah berkeluarga dan memiliki banyak anak. Mana mungkin ia tega meninggalkan istri dan anak anaknya yang masih terlalu kecil dan membutuhkan kasih sayang seorang Ayah.
Dama sudah merapikan barang barang pribadinya termasuk milik Lanang yang sudah ada di dalam beberapa koper besar. Sisa barang dan beberapa alat rymah tangga yang tak mungkin di bawanya akan di berikan secara cuma cuma untuk pemilik kontrakan.
Dama juga sudah tak bekerja lagi di kantor yang telah membesarkan namanya itu. Secara diam diam ia membuat surat pengunduran diri kepada atasannya. Mungkin hari ini surat pengunduran dirinya baru di proses oleh perusahaan. Dama hanya memberi perintah pada asistennya di kantor untuk mengurus semuanya. Jika ada hal hal yang penting baru hubungi Dama selebihnya Dama tak mau lagi berurusan dengan perusahaan besar itu apalagi sampai mengjnjakkan kakinya kembali kesana.
__ADS_1
Tujuan Dama saat ini adalah pergi dari kehidupan Rama. Tapi ia tak tahu lagi kemana ia harus pergi.
"Kita mau kemana Mbak Dama?" tanya supir pribadinya itu yang tak tahu arah tujuan kepergian Dama saat ini.
"Saya juga gak tahu Pak. Ada saran gak? Saya harus kemana?" tanya Dama pelan. Tatapan Dama kosong ke depan jalan raya.
Pikirannya melayang jauh dan bingung. Dama bingung apa yang harus ia lakukan sekarang setelah ia tak bekerja.
Dama mengangguk pelan lalu menatap Lanang yang tertidur dalam dekaoan asistennya.
"Boleh Pak. Dama mau kesana. Kira kira di sana bagusnya usaha apa ya, Pak?" tanya Dama pelan sambil bersandar di jok penumpang mobil miliknya.
__ADS_1
"Memang Mbak Dama sudah tidak bekerja lagi?" tanya Pak Wira pelan.
"Gak Pak. Mulai hari ini, Dama sudah mengundurkan diri dengan mengajukan surat resign dan Dama sudah tidak bekerja lagi di sana," jawab Dama pelan.
Pak Wira hanya mengangguk pelan. Ia tahu, bos mudanya ini sedang terlibat cinra lokasi dengan teman kerjanya.
"Sedang menghilangkan jejak?" tanya Pak Wira dengan senyum lenuh arti.
Dama menoleh ke arah Pak Wira dan tersenyum ramah lalu mengangguk pasrah.
Di dalam rumahnya tidak pernah ada rahasia. Semua, jujur apa adanya. Sosok Rama yang sering datang ke rumah Dama pun sudah di kenal baik oleh asisten dan supir pribadi Dama. Bahkan Rama pernah beberapa kali menginap di rumah Dama.
__ADS_1
"Iya Pak. Dama salah dalam hubungan ini. Dama yang bersikeras untuk di nikahi dan setuju menjadi iatri kedua Rama tapi dengan syarat atas ijin Mbak Yufi sebagai istri pertama. Selama tidak lernah ada ijin dan restu dari Mbak Yufi, Dama gak mau," jawab Dama pelan. Keputusannya bukat dan tak bisa di ganggu gugat lagi.