RESTU ISTRIMU

RESTU ISTRIMU
25


__ADS_3

Tatapan Yufi nanar ke arah Rama yang cuek dan tetap menikmati makanannnasi bungkusnya.


"Kok Ayah ngomongnya gitu? Bunda lagi gak pengen aja," jawab Yufi pelan.


"Hemm ... Lagi gak pengen ya? Apa sudah kenyang?" tuduh Rama langsung menusuk hati Yufi..


"Bunda juga belum makan. Lapar sebenarnya tapi lagi gak selera sama tunjang," dusta Yufi untuk menutupi kebohongannya.


"Hemm ...." hanya deheman pelan yang di ucap oleh Rama.


Rama sudah tak peduli. Ia paling taknsuka di bohongi.


"Pinjam ponselnya Bun. Ayah mau chat temen. Ponsel Ayah gak ada pulsanya," ucap Rama dengan nada datar. Rama masih bisa menjaga hatinya dan otaknya agar tetap jernih berpikir agar tidak mengeluarkan kata -kata kasar apalaginharus memukul istri sendiri walaupun salah.


"Ekhem ... Bunda juga gak ada pulsa," ucap Yufi memasukkan kembali ponselnya sambil mengutak atik ponselnya di dalan tas kecilnya.


Rama hanya melirik apa yang sedang di lakukan istrinya. Perlahan menikmati makanan itu akhirnya habis juga.


Rama menutup kembali bungkusan kosong dan membuangnya ke tempat sampah lalu mencuci tangan.


Rama duduk lagi di tempat tadi dan meneguk air putih di dalam hmgelas besar.


Yufi terlihat santai karena melihat Rama yang nampak biasa saja.


Dengan gerak cepat, Rama mengambil tas kecil Yufi langsung menggunting tas yersrbut dan mengambil ponsel Yufi dan di buka semua iai chat dan kontak telepon termasuk semua media sosial yang di pakai oleh Yufi.


Rama mengacak semua media sosial Yufi termasuk aplikasi online lainnya yang bisa di gunakan untuk menjalin komunikasi dengan teman prianya itu.


"Ayah kenapa sih!! Gaknsopan tahu!! Bunda kerja pontang pamting buat beli tas tapi malah di gunting!! Itu tas mahal banget!! Ayah saja gak bisa mwmbelinya!! Malah merusaknya!! Bunda benci sama Ayah!!" teriak Yufi kesal.


Yufi sebenarnya kaget saat tas kecilnya itu di rampas oleh Rama. Ia tak menyangka Rama begitu nekat.


Rama menatap Yufi tajam sekali. Seolah ingin menerkam hidup -hidup istrinya itu.

__ADS_1


"Kenapa? Mau marah? Kalau tas kecil ini sudah Ayah rusak? Mau marah? Mau ngamuk? Silahkan? Bebas!!" ucap Rama kesal.


"Sudah pintar berbohong!!" imbuh Rama ketus.


Yufi menatap Rama bingung.


"Bohong? Bohong apa?" Yufi masih bisa berkilah menutupi kebohongannya.


"Bunda dari mana? Bukannya hari ini libur? Kalau pergi? Kenapa gak ijin sama Ayah? SMS kek atau telepon? Susah? Hemm?" tanya Rama nyinyir dengan mengutak atik ponsel Yufi. Menghapus semua aplikasi dan merestart kembali ponsel Yufi lalu mengeluarkan kartu sim dari ponsel itu dan mematahkan sim cardnya.


Yufi merebut ponselnya. Ponsel itu juga ia beli dari hasil uangnya sendiri selama bekerja sebagai pelayan toko.


"Main patahin kartu orang," ucap Yufi keras berteriak.


"Terus? Ayah salah? Kalau gak terima, silahkan? Mau pilih apa?" tantang Rama mulai kesal. Amarahnya mulai memuncak.


"Kita cerai. Bunda mau saat ini juga Ayah ceraikan Bunda!!" teriak Yufi kasar.


Yufi langsung mengambil tas besar untuk memindahkan senua pakaian dari dalam lemari ke dalam tas besar untuk kembali pulang ke kampungnya.


Rama juga mendiamkan Yufi yang terus menggerutu tak jelas sambil membereskan semua barang -barangnya ke dalam tas besar.


Lebih baik menyudahi semua sebelum Yufi di tanya ini dan itu oleh Rama.


Rama pergi dari kamar kontrakannya dan main ke rumah orang tuanya sendiri untuk menumpang tidur. Sudah cukup rasanya hari ini menahan emosi untuk tidak di luapkan.


"Mak ... numpang tidur ya," ucap Rama langsung naik ke lantai dua dan tidur di kamar adik perempuannya.


Melihat anak lelakinya seperti itu, jelas, rumah tangganya sedang ada masalah.


Yufi juga sudah siap pergi. Tanpa berpamitan kepada semua orang. Kamra kontrakan itu Yufi tinggalkan begitu saja. Ia pergi ke terminal dan mencari bis antar kota yang membawanya pulang ke kampung halamannya.


Dalam hati Yufi berkata, "Istri itu di bahagiakan!! Di manjakan!! Bukan untuk di ajak susah!! Harusnya Ayah itu sadar!! Kalau Ayah memang gak mampu membahagiakan Bunda!! Bukannya malah marah begini!! Kalau Bapak tahu soal ini, habis kamu di marahi oleh Bapak,"

__ADS_1


Skip ...


Rama terbangun saat adzan maghrib berkumandang. Emak dan Bapaknya tidak ada yang berani mengganggu tidur Rama.


Saat Rama turun, adik perempuan Rama memberikan kunci kamar kontrakannya kepada Rama.


"Ini Mas, kunci kamar kontrakan kamu. Kak Yufi sudah pulang kampung. Kalian berantem lagi? Bukan kah Mas Rama sudah dapat pekerjaan?" ucap Lina ikut iba dengan apa yang saat ini terjadi pada rumah tangga kakak laki -lakinya itu.


"Biarkan saja," jawab Rama pelan dan ikut duduk di sofa ruang tamu.


Rama bersandar di sofa dan menatap Emak sedang mengantarkan kopi hitam untuk dirinya dan pisang goreng kesukaan Rama.


"Udah ngopi dulu. Coba cerita pelan -pelan," ucap Emak menanti cerita sesungguhnya.


Rama menyeruput kopi hitam itu dan meletakkan kembali gelas kopi itu.


"Sudah lah. Lagi males ngomong," ucap Rama pelan.


Rama malah memainkan ponselnya dan membuka satu aplikasi yang selalu membuatnya tenang dari segala permasalahan. Ya, aplikasi game. Rama paling suka main game. Bisa berjam -jam dia duduk bermain game tanoa bisa di ganggu gugat.


Lina mulai membuka tema pembahasannya.


"Bukannya mau ngadu soal Kak Yufi sama Mas Rama. Tapi memang sudah beberapa kali, Lina lihat sendiri, kalau Kak Yufi itu pergi makan setiap hari sepulang kerja," ucap Lina jujur.


Rama menghentikan jarinya memencet keyboard ponselnya. Lalu menatap Lina tajam.


"Terus kamu diem aja? Gak datengin Kak Yufi? Besok bilang ke toko baju temlat Kak Yufi kerja. Bilang saja, Kak Yufi keluar karena lagi hamil muda. Alasan aja gitu," titah Rama ketus.


"Iya Mas. Besok Lina ke tempat Kak Yufi belerja?" ucap Lina pelan.


Rama sudah malas. Ia menghabiskan kopinya lalu pergi kembali ke kamar kontrakannya. Ia masuk dan menutup kembali lalu melanjutkan tidur.


Dari pada pusing mikirin Yufi, istrinya. Mending Rama istirahat dan besok kembali kerja. Itu lebih baik. Buat apa mengurusi istrinya yang sudah jelas -jelas pergi dengan lelaki lain.

__ADS_1


Mau cerai ya, silahkan. Tapi urus sendiri. Rama tidak akan pernah menceraikan Yufi.


Rama hanya tak habis pikir saja. Lelaki tak berduit seperti dia ternyata mudah tersakiti juga. Rama tidak mau membanggakan dirinya sendiri sebagai lelaki yang memang bertanggung jawab. Memberikan semuanya yang ada untuk Yufi. Rama bukan lelaki pemalas yang tidak mau kerja. Bahkan ia mati -matian kerja satu hari satu malam hanya untuk mencukupi kebutuhan istrinya.


__ADS_2