RESTU ISTRIMU

RESTU ISTRIMU
18


__ADS_3

Rama menghampiri kedua peremluan itu. Satu perempuan adalah kakak iparnya dan satu perempuan lagi adalah wanita kesayangannya selama ini.


"Kalian ini malah berdebat di sini. Sudah saya bilang, dia bukan pelakor!! Kami berdua sama -sama mencintai. Rama mencintai Dama dan Dama mencintai Rama. Tapi tak sedikit pun Dama meracuni otak Rama untuk hal buruk!! Apalagi untuk meninggalkan Yufi dan anak -anak. Ada juga Dama selalu mensupport Rama, membantu Rama dalam segala hal," tegas Rama lantang.


Dama menoleh ke arah Rama. Tak percaya dengan semua ucapan Rama saat ini. Jelas terdengar Rama masih mencintai dirinya. Walaupun satu tahun ini mereka sudah tak lagi bersama.


"Yufi sudah sadar. Kakak di panggil sejak tadi. Kita ke sana," ucap Rama lantang dan tegas.


Rama langsung pergi begitu saja dan sama sekali tak peduli dengan Dama. Berpamitan pun tidak.


Perempuan di depannya tadi langsung melengos benci kepada Dama lalu pergi juga mengikuti Rama.


Sesak sekali rasanya di perlakukan seperti ini. Rasanya Dama seperti ada dan tiada bagi Rama.


Rasanya Rama hanya datang tepat waktu di saat ia butuh saja mendatangi Dama. Apa Rama hanya ingin memanfaatkan Dama saja dan bersenang -senang dengan dirinya selama ini.

__ADS_1


Selesai makan, Dama langsung kembali ke arah parkiran mobil. Lama -lama malas juga menjalani hubunahn seperti ini. Harus merasakan kecewa setiap saat. Berani mempertahankan Rama berarti Dama siap mengalah dalam segala hal.


Yufi akan tetap berada dalam prioritas teratas bagi Rama setelah keempat anak -anaknya.


Dama masuk ke dalam mobil dan menangis hebat.


Bilang cinta tapi sama sekali tak melirik. Bilang sayang tapi tak mengucap sepatah kata pun hanya sekedar basa basi.


"Apa maumu, Rama!!" teriak Dama keras di dalam mobil.


Dama benci dengan keadaan ini. Doanya di kabulkan oleh Tuhan untuk di pertemukan kembali dengan Rama setelah satu tahun mereka sama sekali tak berkomunikasi.


Dama menarik napas dalam dan di hembuskan pelan melalui hidungnya.


Dengan cepat Dama menyalakan mesin mobilnya dan melajukan dengan kecepatan sedang.

__ADS_1


Dama lebih baik pulang dari pada harus tersiksa batinnya tak di anggap seperti ini.


Air matanya terus mengalir deras di pipinya. Semua yang telah ia berikan untuk Rama adalah pemberian yang begitu tulus dan ikhlas tanpa pamrih.


Dama tak pernah menuntut apapun kepada Rama. Apalagi menagih sesuatu yang pernah ia berukan atau ia pinjamkan kepada Rama.


Empat jam perjalanan menuju kota tempat tinggal Dama saat ini. Dama nampak fokus dan mematikan ponselnya. Ia sedang malas menanggapi chat atau telepon.


Yufi sudah tersadar dan saat ini sudah di pindahkan ke ruang rawat inap VIP. Rama memindahkan Yufi ke tempat yang lebih nyaman untuk beristirahat sekaligus agar keempat anaknya juga merasa nyaman beristirahat di sofa panjang.


Rama bisa bernapas lega, akhirnya istri tercintanya selamat. Yufi telah melewati masa kritisnya dengan baik. Tiga labuh darah hasil donor Dama pun sungguh merubah nasib Yufi.


"Ayah ... Bunda selamat? Bayi kita selamat?" tanya Yufi terbata.


"Iya Bun. Semua lancar dan baik -baik saja. Tetima kasih sudah melahirkan bayi kita dengan selamat," ucap Rama memuji sambil mengecup kening Yufi dengan penuh kasih sayang.

__ADS_1


Rama berjalan ke arah luar kamar. Keempat anaknya sedang fokus menatap layar televisi.


"Kakak mau pulang. Yufi sudah sadar, kini saatnya kamu yang bertugas mengurus mereka sendiri?" ucap Kakak iparnya dengan ketus lalu pergi pulang.


__ADS_2