
Waktu operasi sudah di mulai. Yufi sudah berada di meja operasi setelah setengah jam menunggu antrian untuk di operasi caesar.
Pikiran Yufi sudah berputar. Ia ketakutan membuat darahnya kembali naik. Dokter menyuruhnya banyak berdzikir dan menenangkan pikirannya serta hatinya. Menjauhkan diri dari pikiran buruk dan negatif.
Rama memegang tangan Yufi yang mulai mendingin karena takut. Jujur, Yufo panik. Tidak pernah melakukan operasi dan selalu bisa melahirkan secara normal.
"Ayah ... Bunda takut. Pasti rasanya sakit pas di sayat perutnya," ucap Yufi lirih.
Rama teringat ucapan Dama dulu. Kebetulan Lanang, putera semata wayang Dama juga di lahirkan secara caesar. Dama pernah bercerita dan aman -aman saja tidak masalah.
Rama juga pernah melihat bekas sayatan pisau operasi tempat bayi itu akan di keluarkan saat mereka bercinta dulu.
Rama menyentuh dan mengisapnya pelan. Dama meringis.
"Memang masih terasa sakit? Bukankah ini sudah terjadi dua tahjn lalu?"
"Bukan sakit tapi kayak merasakan semriwing takut saja. Masih jelas terasa kulit tersayat pisau,"
__ADS_1
Rama malah melamunkan Dama.
"Ayah ... kok malah bengong? Mikirin apa?" tanya Yufi pelan.
"Gak mikir apa -apa. Cuma kayaknya kita butuh orang yang kerja di rumah. Ayah kan gak bisa libur terlalu lama. Nanti gak bisa cari uang secara maksimal," ucap Rama pelan menjelaskan.
"Bayar orang mahal, Ayah. Lagi pula, Bunda masih butuh Ayah," ucap Yufi pelan.
"Kita gak bisa egois. Kalau Ayah gak kerja, kita mau dapat uang dari mana?" tanya Rama pelan.
"Dulu Ayah gak pernah ngeluh kayak gini. Uang selalu ada. Setiap permintaan Bunda selalu Ayah wujudkan. Tapi, satu tahun ini? Ayah sama sekali kacau. Ini karma Ayah telah membohongi Bunda soal Dama!!" ucap Yufi kembali emosi.
"Cukup Bunda!! Ayah lagi gak mau berdebat soal ini. Kalau Bunda mau berdebat, Ayah pergi mau jaga anak -anak saja di depan," ucap Rama pelan.
Keempat anak -anaknya berada di luar ruangan operasi bersama keponakannya yang baru saja datang.
Tak lama meja operasi sudah menyala lampunya. Banyak orang sudah berpakaian hijau sebagai seragam operasi lengkap dengan topinya.
__ADS_1
Yufi juga sudah memakai baju operasi. Ia di suruh duduk untuk menerima suntika anestasi. Yufi memilih di bius secara keseluruhan agar pikirannya tidak stres.
Awalnya operasi itu berjalan dengan lancar. Semua kondisi tubuh Yufi dalam keadaan stabil. Mulau dari darahnya, jantungnya dan napasnya masih berfungsi normal.
Selang oksigen mulai di pasang di hidungnya agar tidak menghambat jalannya operasi.
Baru melakukan sayatan demi sayatan dan belum terbuka. Darah Yufi naik. Dokter mencoba tetap berhati -hati hingga bayi itu memang keluar dengan selamat.
Yufi kekurangan darah. Perawat keluar ruangan mencarinsuami Yufi.
"Saya Rama, suaminya, ada apa?" tanya Rama panik.
"Bapak harus segera mencarikan Ibu Yufi dua labuh darah dengan golongan darah B+. Sekarang juga," titah perawat itu pelan.
Rama berlari ke bagian administarasi di depan. Ia menanyakan di mana bisa mendapatkan dua kantung darah.
"Harus ke PMI Pak. Kita gak punya stok," ucap salah satu karyawan.
__ADS_1
"Ada Pak di bank darah. Kebetulan ada pendonor yang sedang mengambil darahnya. Golongannya sama persis sudah di cek sehat semua. Kalau mau, silahkam ke tenda belakang unyuk bertemu oeangnya langsung," ucap petugas PMI yang bekerja sebagai penerima donor darah di rumah sakit itu.