
“nona jangan baper, ini hanya game!” pinta SP yang membuat warti tersenyum kalu “meski ini game tetap saja pernah terjadi di dunia nyata, udah lah. Sekarang gimana lagi rencana mu?” Tanya warti, dari pada ia semakin emosi mendengar fakta tentang raja yang akan ia habisi “jadi kita ini sedang berjalan menuju pusat kota, di sana juga ada raja dewa nah anda tinggal lemparkan saja itu celurit kearahnya kalo kena udah pasti dead dia!” jawab SP yang membuat warti melongo.
“semudah itu? Ah karena terlalu simple aku jadi ragu..” kata warti tampak tidak setuju.
“anda benar sih, tapi nona sebenarnya aku ingin anda menyelamatkan si selir dulu lalu kita bawa kabur” kata SP “eh.. maksudnya?” Tanya warti masih belum bisa mencerna perkataan SP barusan “selir itu tahu semua kebusukan si raja karena itu dia akan di bunuh. Jadi kalo kita selamatkan dia kita bisa punya akses masuk ke istana secara diam diam..” jelas SP yang membuat warti langsung mengerti “setuju sih, tapi masalahnya mudah gak nih kita selamatin itu selir?” Tanya warti karena semua butuh rencana yang matang sehingga mengurangi resiko gagalnya aksi mereka.
“susah susah gampang sih nona..” sahut SP sehingga warti langsung menjitak kepala ponsel ajaibnya itu “ah kau mah gitu katanya bisa di andalkan hmm..” gerutu warti tampak kecewa sehingga SP tersenyum “anda bisa melihatnya sebentar lagi nona” tidak lama setelah itu mereka pun tiba di pusat kota yang ternyata sangat ramai lalu warti menuntut kudanya itu supaya lebih dekat ke tempat eksekusi “disana lah tempatnya nona” kata SP lirih dan warti langsung melihat sebuah tali tambang besar yang terikat di tiang panjang tepat di hadapan para rakyat yang ingin melihat eksekusi itu.
__ADS_1
“terlalu ramai, kuda kita juga terlalu jauh. Tapi kau bisa buat roket untuk kita?” Tanya warti lirih.
“tentu saja nona..” sahut SP sama pelannya yang membuat warti tersenyum “ya sudah saat aku berhasil memutus tali itu kau langsung sambar si selir ya aku akan segera menyusul mu oke. Tapi sebelum itu kita harus pergi menjauh dulu..” warti langsung menaiki kudanya lalu berjalan lah kuda tersebut menjauhi tempat eksekusi yang belum terlalu ramai itu.
Kini warti sedang duduk santai di sebuah kedai kopi tidak jauh dari tempat eksekusi “rencana ku akan membabat talinya itu dan saat terputus seluncur terbang cepat menghampiri sang selir terus kita kabur” kata warti lirih kepada SP yang sedang duduk di bahunya namun tetap tertutupi jubbah nya “apa anda tidak mau mengalihkan perhatian?” Tanya SP sehingga warti terdiam sejenak “tadinya begitu, kau bisa buat bom gas air mata gak?” Tanya balik warti setelah selesai berpikir “tentu saja aku bisa nona” jawab SP sehingga warti tersenyum tipis sekali.
Dan setelah waktu berlalu, akhirnya kini pusat kota di padati oleh masyarakat yang ingin menyaksikan hukuman gantung itu. Sedang warti sengaja tidak mendekat karena drone pembawa gas air mata sudah terbang dan siap meledak bersamaan sang selir akan di hukum mati “nona ayo kita siap siap” kata SP, ia tentu bisa melihat situasi karena matanya terhubung dengan drone buatannya sehingga dengan sigap warti langsung naik ke papan seluncurnya “duar” tentu ledakan itu berhasil mengkagetkan semua orang dan saat itu pula mereka mulai panic saat merasakan mata mereka begitu perih karena efek gas air mata mulai menyebar.
__ADS_1
“wus..” begitu cepat seluncurnya terbang sehingga warti berhasil memutus tali tambang itu dan kini sang selir ikut naik bersamanya “anda tidak apa apa?” Tanya warti sambil membantu sang selir melepas tambang yang mengikat lehernya “kenapa kau menolongku, itu sangat berbahaya?” Tanya sang selir tampak kuatir yang membuat warti tersenyum “anda tidak bersalah, itu saja alasan ku menolong anda” jawab warti tenang yang membuat sang selir terkejut “kau tidak sayang nyawa mu ndok?” Tanya sang selir lagi yang membuat warti menatapnya “sayang lah, tapi aku berani kok melawannya karena aku datang kemari memang untuk membunuhnya” jawab warti dengan penuh keseriusan sehingga selir pun kini merasa sedang bersama kesatria karena ketenangan warti berhasil membuatnya merasa lega.
“siapa nama mu?” Tanya sang selir karena ia memang perlu tahu nama gadis cantik lagi pemberani itu “namaku warti, anda siapa?” Tanya balik warti “aku adalah andini putri armojo, sekarang kita akan kemana dan bagaimana kau bisa membuat kendaraan seperti ini?” Tanya selir bernama andini itu tampak terkejut juga terkagum kagum dengan seluncur buatan SP “ini bukan aku yang membuatnya tapi teman ku, dan kita akan pergi ketempat yang aman kok anda tenang saja” jawab warti lalu ia tersenyum.
Namun tiba tiba ada sebuah pisau tajam yang tersambung rantai terbang cepat kearah mereka “awas..” andini yang melihatnya lebih dulu langsung mendorong tubuh warti “jleb” mata warti langsung membelalak saat ia melihat bahu andini tertancap pisau itu lalu tubuh andini pun terjatuh karena pisau yang tersambung rantai itu menariknya “tidak, SP itu si selir bantu aku..” mendengar permintaan tuannya SP langsung keluar dari jubbah warti dan mengarahkan seluncurnya kearah andini “hiaa..” warti berteriak saat ia memotong rantai itu menggunakan celuritnya sehingga kini tubuh andini langsung terbaring lemah di seluncur dan dengan sangat cepat seluncur itu terbang sehingga rombongan raja dan prajuritnya tidak bisa mengejarnya.
“huh huh huh” napas andini mulai lemah saat ia merasakan sakit yang luar biasa bersarang di bahu kanannya “SP apa yang harus kita lakukan?” Tanya warti tiba tiba seluncur mendarah di sebuah telaga yang airnya berwarna biru cerah “nona air di telaga ini bisa menyembuhkan lukannya, anda hanya perlu membantunya berendam” mendengar itu warti dengan cekatan langsung menggendong tubuh andini dan mereka berdua masuk bersama ketelaga biru itu “ak aku seperti…” warti hanya menggeleng mendengar perkataan andini yang terbata bata itu.
__ADS_1
“diam lah kak, anda akan sembuh segera..” pinta warti namun tiba tiba andini mulai menutup kedua matanya saat rasa sakit itu tidak tertahan lagi bahkan tubuhnya sudah hampir merosot kebawah karena tidak punya tenaga lagi melihat andini hampir tenggelam warti langsung memengang kedua lengan andini sambil sesekali menyeka darah yang keluar dari mulut andini “kakak.. kak jangan menyerah..” kata warti ia mulai panic saat andini mulai kehilangan kesadaran “ini terlalu sakit..” setelah mengatakan itu dengan suara yang parau andini tersenyum namun bersamaan dengan itu air asin menetes di kedua matanya yang tertutup.