Rich Girl With System

Rich Girl With System
telah sembuh


__ADS_3

"hehehe iya maaf lupa, habis aku sangat senang" kata warti lirih "ya sudah aku batalkan ini pesanannya" setelah mengatakan itu sang adik batal memesan gojek "ibu jika urusan ibu sudah selesai di sana segera kembali lah kesini. oke?" pinta warti ia tampak tidak rela melepas kepergian ibu dan adiknya ini.


"his iya iya mbak parno bange hmm.. btw aku tapi gak bisa mengemudikan mobilnya?" kata nurul yang membuat warti dan SP tersenyum "tenang saja nona mobil akan berjalan sendiri kearah yang anda mau, aku yang akan mengemudikannya dari sini" jawab SP yang membuat sang ibu dan nurul melongo.


"eh serius?" tanya mereka berdua serempak "iya bu, dik udah tenang aja" jawa warti yang mendapat anggukan kepala SP "ah begitu syukurlah" kata mereka berdua merasa lega "ya sudah dik cepat ambilkan makanan aku lapar, kalo udah sarapan bareng baru boleh pergi hehehe" mendengar perkataan warti sang adik langsung sigap kembali kedapur bersama SP untuk mengambil makanan sehingga hanya tinggal warti dan ibunya di dalam kamar ini.


"kamu gimana keadaannya ?" tanya sang ibu saat ia duduk di samping warti "aku sebentar lagi juga sehat bu, di sana hati hati kalo udah selesai urusan segeralah ibu dan adik kembali" jawab warti yang membuat sang ibu menatapnya terlihat wajah pucat warti di matanya "iya, tapi kamu juga jangan pecicilan kalo belum sembuh" pinta sang ibu yang membuat warti langsung tersenyum lebar lalu kepalanya manggut manggut.

__ADS_1


"siap ibu ku sayang" kata warti penuh semangat an tidak berselang lama nurul dan SP pun kembali ke kamar dan sang ibu dan nurul pun kini sudah pergi setelah berbincang-bincang dengan warti. "nona butuh sesuatu?" tanya SP yang membuat warti menatapnya "kapan aku akan sembuh?" tanya balik warti yang tentu berhasil membuat SP terkejut.


"nona akan segera sembuh, anda tidak perlu kuatir biaya rumah sakit rawat ayah anda sudah kami urus" jawab SP namun warti tampak masih kurang puas sehingga tuannya itu menghela napas dengan berat "SP tolong awasi ibu dan adikku, aku punya fiasat buruk tentang mereka" pinta warti seraya ia menatap penuh permohonan kearah ponsel ajaibnya itu "nona anda tidak perlu memohon begitu, aku pasti akan melaukannya dengan senang hati" ujar SP lalu ia tersenyum yang berharap dengan hal itu tuannya ini akan merasa lega.


"terimakasih Sp" sahut warti "sama sama nona" kata SP lalu ia duduk di samping warti "di level 10 apa misinya?" tanya warti hati hati "level 10 adalah level tersulit di dystopia, misi kita kali ini adalah menyelamatkan umat manusia dari wabah virus rabies jadi kita akan bertempur di garis depan untuk mengalahkan para binatang buas yang jadi monster karena virus itu" jawab SP menjelaskan tentang misi 10 sehingga warti hanya terdiam namun meski begitu sebenarnya ia sedang berpikir.


"itu sulit, menurutmu aku harus memilih yang mana?" tanya warti karena ia sedang kebingungan sekarang "jika anda tidak keberatan pilih saja senjata dari level 9, karena ada bonus jubah yang akan berguna untuk melindungi tubuh anda dari gigitan para hewan buas itu" jawab SP sehingga warti langsung menganggukkan kepalanya "baik lah itu saja, lagi pula tombak itu keren juga. tapi butuh tenaga ekstra apa aku bisa menggunakannya sampai akhir ?" kaa warti ia ragu, karena memang benar senjata itu sangat kuat namun efek sampingnya tubuh warti akan sering kehabisan energi.

__ADS_1


"nona bisa saja ganti senjata" ujar SP karena keputusan penuh memang terdapat pada warti "sebenarnya sama aja sih mau pilih senjata yang lain juga, karena butuh energi yang besar juga. jadi aku pilih yang kau pilihkan saja deh" kata warti sehingga kepala SP mengangguk samar "nona anda jika menang akan dapat uang 1 milyar" kata SP yang membuat warti tersenyum "iya aku tahu, tapi uang bukan tujuan ku SP tapi aku juga tidak akan menolaknya jika di beri karena aku masih punya keluarga yang harus aku bantu perekonomiannya" sahut warti, ia memang bukan tipe manusia yang gila harta sehingga warti tidak ambil pusing tentang hadiah uang yang fantastis itu.


"nona itu bagus, tetap lah jadi baik karena aku menyukainya" mendengar perkataan SP barusan membuat bibir warti berkedut ingin tersenyum lebar namun ia menahannya "kau kenapa bucin banget sih sama aku?" tanya warti yang membuat Sp menatapnya "karena anda adalah tuan ku dan anda juga baik, tidak ada alasan bagiku tidak menyukai anda" jawab SP dengan jujur yang membuat warti melongo namun tiba tiba "hahaha" warti tertawa lepas yang membuat sp keheranan.


"anda terlihat senang sekali?" kata SP yang membuat warti berhenti tertawa "hmm habis kau sangat jujur, padahal berbohong sedikit juga gak masalah hehehe. tapi terimakasih banyak ya karena kamu sudah menyukai ku" jelas warti sehingga Sp tersenyum sambil menganggukan kepalanya "nona mau makan ciken gak?" tanya SP yang membuat warti menatapnya "ya mau lah, sana pesan kita bersantai dulu sebelum tempur di level 10 nih" pinta warti yang langsung di laksanakan oleh SP sehingga mereka pun menghabiskan waktu masa pemulihan ini dengan bersenang senang.


setelah 1 minggu berlalu warti kini benar benar telah pulih total, ia sudah sembuh dari luka yang di deritanya selama ini sehingga kini di malam yang sunyi warti sengaja bangun untuk melaksanakan solat tahajud dan witir lalu berdoa kepada tuhannya "ya allah sesungguhnya aku telah sembuh terimakasih banyak sudah menyembuhkan ku. tapi ya allah tolong lah kabulkan lah doa ku, tolong jagalah ibu, ayah dan adikku dari bahaya yang mereka tidak mengetahuinya juga dari orang orang yang zalim. dan untuk ku tetap jagalah aku selalu ya allah supaya bisa menyelesaikan misi demi misi di Sistem pemandu kekayaan tapi tetap permudahkan lah aku untuk bisa beribadah kepada engkau. aamiin ya rabbal alamin" setelah selesai berdoa warti segera membereskan mukena dan sajadahnya.

__ADS_1


lalu ia berjalan kearah jendela saat membuka kordennya ia menatap langit malam yang gelap di penuhi bintang "padahal aku sudah sembuh tapi mengapa dia tidak datang lagi?" warti berkata di dalam hatinya karena ia mengingat suara yang ia dengar di malam itu sosok pria yang ia pun masih samar samar mengingat wajahnya yang belum terlihat jelas oleh kedua matanya.


__ADS_2