
"Jangan sakiti tuan ku!" teriak SP ia di bantu oleh drone nya mengalihkan perhatian raja monyet "ah tidak tidak jangan melawannya, ih ini juga kenapa sulit sekali" warti yang sangat paik berusaha terlepas dari himpitan bangunan itu namun tubuhnya tetap tidak bisa bergerak "tombak ku" kata warti sudah mulai putus asa namun tiba tiba tombak itu melesat cepat hingga mampu menghancurkan reruntuhan bangunan itu sehingga kini warti bisa terbebas.
"aku mohon sekali lagi, bunuh dia!" teriak warti lalu tangan kanannya langsung melemparkan tombaknya itu "cus" cahaya biru tiba tiba muncul mengelilingi tombak itu dan dengan cahaya itu pula tombak langsung mampu menusuk tepat di kening sang raja monyet hingga tembus ke tulang tengkorak belakangnya.
"brak" seketika sang raja monyet langsung tumbang bersamaan dengan warti yang itu tersungkur di tanah yang gersang ini "huh huh huh" napasnya mulai berat karena ia merasakan tubuh bagian kirinya terasa nyeri yang teramat sangat "nona.." panggil SP namun warti tidak meresponnya dan saat melihat ada darah mengalir dari tangan kiri tuannya ini SP langsung bertambah panik.
"jangan..." pinta warti lirih saat SP ingin memberikan obat regenerasi "obat itu hanya ada satu, jika habis sekarang kita bisa gagal dalam misi ini. aku gak apa apa kok cuma agak lelah sedikit, biarkan aku istirahat sejenak baru kita lanjutkan perjalanannya" jelas warti yang membuat Sp merasa sangat sedih "nona biarkan aku balut dulu luka mu ini?" pinta SP sehingga warti hanya mengangguk samar lalu ia pun duduk bersandar pilar bangunan yang telah jatuh ini sedang SP sibuk membalut kan kain kasa di lengan kiri warti.
__ADS_1
"kok ada obat beginian?" tanya warti saat melihat kota p3k yang di dalamnya ada banyak alat dan obat untuk pertolongan luka pertama "karena di relaita seseorang yang terluka sering di berikan ini jadi aku merekayasa sehingga bisa membuatnya kembali di sini" jawab SP yang membuat warti menatapnya takjub namun juga tampak tidak percaya "wah kau memang keren ya SP, hmm jadi raja monyet sudah kita kalahkan ini?" tanya warti setelah melihat tidak ada siapa pun yang hidup di tempat ini kecuali mereka berdua.
"benar, inangnya telah anda bunuh jadi mereka kini hilang. Dan setelah perjalanan ini kita akan masuk ke distrik banteng.." jawab Sp yang membuat warti langsung menatapnya "banteng? kenapa harus banteng?" tentu SP langsung cemberut saat mendengar pertanyaan warti yang terdengar menjengkelkan itu "kenapa anda protes terus sih nona? ya karena banteng adalah hawan yang kuat jadi dia berhak jadi lawan kita, begitu mungkin alasannya karena aku pun sebenranya tidak tahu apa apa. karena sebagai sistem aku hanya mengikuti program yang di tugaskan oleh pencipta ku" jawab SP panjang lebar kali tinggi namun beruntung warti bisa memahaminya dengan baik.
"begitu, aku semakin penarasan siapa orang yang menciptakan kau hingga secanggih ini?" kata Warti yang membuat SP tersenyum "tunda dulu rasa penasaran anda nona karena hal itu mustahil untuk anda ketahui" sahut SP terdengar sangat tegas sehingga kini giliran warti yang tersenyum "ha ah baik lah" setelah mengatakan itu tiba tiba warti langsung berdiri "ya sudah yuk lanjut?" ajak warti yang membuat SP tersenyum lalu ia kembali membuatkan seluncur yang sebagai kendaraan warti menuju tempat selanjutnya supaya tuannya ini tidak terlalu lelah dan bisa menyimpan energy lebih banyak.
sesampainya di distrik banteng, pemandangan yag tersaji pun tidak jauh berbeda. banyak puing puing bangunan runtuh dan bau busuk juga ayit darah begitu tercium oleh indra penciuman warti "orang orangnya gak ada tapi kenapa bau amis banget di sini?" tanya warti penasaraan karena ia benar benar di but terkejut dengan keadaan kota ini "mereka sudah mati tertimpa reruntuhan bangunan kota nona" jawab SP yang membuat warti menatapnya tidak percaya "memang sebesar apa bantengnya?" tanya warti lagi namun tiba tiba SP menunjuk kearah depan "deg" dan betapa terkejutnya jantung warti saat melihat sosok banteng sedang asik menyeruduk bebangunan besar di sekitarnya. Beruntung SP mengajak warti untuk mendarat diatas pilar yang sudah roboh juga jaraknya cukup jauh dengan sang monster banteng.
__ADS_1
"entah lah nona.." jawab SP singkat yang membuat warti melotot "Ya.." warti langsung kelabakan dan ia segera menutup mulutnya itu yang sudah main menjerit begitu saja "nona apa yang anda lakukan, lihat bantengnya kesini?" kata SP seolah tidak punya dosa, padahal warti keceplosan karena dirinya "is kau memang menyebalkan SP!" gerutu warti ia ingin sekali menjitak kapala SP namun ia tunda dulu karena banteng itu benar benar berlari kencang kearah mereka.
"menghindar nona" teriak SP.
"gue tahu.." sahut warti keras, lalu dengan sigap ia langsung menghindar dengan melompat dari pilar itu saat sang banteng ingin menyeruduknya "rasakan ini" kata warti sambil melemparkan tombaknya itu kearah sang banteng "trang.." warti tersentak kaget saat tombaknya tidak mempan menembus tubuh sang banteng yang terbuat dari baja itu "nona cepat lari ngapain malah matung di situ?" teriak SP yang membuat kesadaran warti kembali sehingga warti segera berlari kencang menghindari kejaran sang banteng yang brutal itu.
"dia terlalu kuat, aku harus bagaimana ya?" pikir warti menghindar terus tidak ada gunanya dan SP juga sama sama tidak berguna. sehingga ia tampak kesal juga frustrasi secara bersamaan "nona jangan kesitu larinya itu jalan buntu!" teriak SP dari atas karena ia terbang bersama para drone nya yang berusaha mengalihkan perhatian sang banteng namun gagal.
__ADS_1
"ais kau telah ngasih infonya, begoo!" teriak warti sama kerasnya yang membuat SP tampak terkejut saat melihat dinding tembok di depan warti "ah sial beneran buntu" warti berkeluh kesah di dalam hatinya dan ia segera membalikan tubuhnya dengan cepat seperti melakukan salto sehingga kini warti mendarat di atas tubuh sang banteng.
"Eh kok bantengnya bisa mengecil?" tanya warti keheranan namun tiba tiba sang banteng langsung menabrakkan tanduknya ke tembok dengan keras. Sehingga tubuh warti terpental jauh dari atas tubuhnya "bruak.." warti tersungkur di sebuah pilar besar dan tubuhnya terasa kesakitan karena benturan keras, beruntung warti masih memakai jubahnya sehingga tidak patah tulang "ah dia memang kuat.." warti membelalak matanya saat melihat banteng itu sudah di hadapannya lalu bersiap menyeruduknya.