
Dan mereka pun langsung berangkat, sebelum itu warti juga tidak lupa membawa SP dan saat masuk kedalam mobil “keren juga mobil mu” sanjung sang adik yang membuat warti tersenyum canggung “iya lah kan ini hadiah berhasil main game, oke lest go!” warti pura pura mengemudikan mobilnya dan sang adik percaya begitu saja, padahal warti hanya memegang gagang setirnya saja yang mengemudikannya tetap SP.
“mbak..” panggil sang adik.
“ya ada apa?” Tanya warti lalu menatap sekilas wajah sang adik yang juga cantik itu “sebenarnya kau ini kerja apaan sih kok dapat mobil sekeren ini dan uang sebanyak itu?” Tanya sang adik, meski ibunya melarangnya berkata begitu namun sang adik tidak bisa menahan rasa penasarannya lagi “ah itu, Cuma main game kok. Tapi main game nya mempertaruhkan nyawa kayak filem korea itu loh yang kalo berhasil menyelesaikan misi dapat hadiah uang” jawab warti dengan jujur, hati sudah ketar ketir takut adiknya ini tidak mempercayainya.
“berarti game itu berbahaya dong?” Tanya sang adik yang langsung mendapat anggukan kepala warti “iya, tapi aku baik baik saja kok hehehe” jawab warti lalu tertawa lagi, ya memang ia jika gugup akan sering tertawa untuk mengurangi rasa gugupnya itu “terus kau mainnya di mana?” Tanya sang adik lagi “mainnya di Bandar lampung” jawab warti cepat.
__ADS_1
“berarti kau harus hati hati, jangan mati” pinta sang adik yang membuat warti tersentak kaget, namun ia tiba tiba tersenyum saat menatap wajah sang adik “iya terimakasih banyak, doakan ya supaya aku sehat selalu biar menyelesaikan misinya terus. Biar dapat uang banyak” kata warti yang langsung mendapat anggukan kepala sang adik “iya, itu pasti” sahut sang adik lalu mereka pun melanjutkan obrolannya lagi hingga tidak terasa sudah sampai di rumah sakit.
“assalamualaikum” kata warti dan sang adik bersamaan “waalaikum salam” tentu sang ibu tampak terkejut melihat kedua anak gadisnya itu menghampirinya “loh kok kamu jadi kurusan ndok” kata sang ibu saat memeluk tubuh warti yang membuat warti tertawa kecil “hehehe iya bu, efek olahraga ini” sahut warti lalu selesai lah pelukan mereka “gimana kabar bapak bu?” Tanya warti saat melihat sang ayah terbaring lemah tidak berdaya dengan banyak alat medis terpasang di tubuhnya.
“ibu tidak tahu, dokter bilang bapak harus segera di rujuk ke rumah sakit abdul muluk. Tapi ibu tidak punya uang, yang kemarin kamu kirimkan sudah habis untuk membayar hutang di bank dan biaya rumah sakit” jawab sang ibu, wajahnya tampak sendu terlihat di mata warti. Ibunya kelelahan dengan beban pikiran yang menumpuk jumlahnya begitu banyak “memang hutang di bank berapa bu?” Tanya warti hati hati yang membuat sang ibu tersenyum pahit sehingga hati warti tampak nyeri melihatnya.
“hutangnya tinggal 100 jt lagi ndok.. kebon kita sudah ibu tawarkan tapi masih belum laku” jawab sang ibu sehingga warti tampak tercengang “ah begitu, ibu tenang saja insya allah kita bisa bayar hutangnya. Sekarang ibu makan dulu ya di temani adik, aku akan menemui dokter dulu” pinta warti yang membuat sang ibu menurutinya sehingga warti bergegas menemui sang dokter yang menangani penyakit ayahnya itu.
__ADS_1
“berapa lama, ayah saya bisa bertahan dok?” Tanya warti.
“mungkin sekitar, 3 hari lagi nona” jawab sang dokter berat sehingga warti tampak putus asa “apa tidak ada organ pendonor di rumah sakit ini?” Tanya warti yang membuat sang dokter menatapnya lalu tersenyum kecut “ada, tapi harga paru paru itu mencapai 2 milyar” mata warti langsung membelalak bahkan ia langsung terdiam kaku karena mendengar jawaban dari pertanyaannya itu, ya warti terkejut bukan main dan sang dokter tahu hal itu sehingga ia juga memilih terdiam.
Tiba tiba warti langsung berdiri yang membuat sang dokter terkejut “apakah bisa di cicil dok? Saya punya uang 600 jt untuk DP nya?” Tanya warti tampak serius “tentu saja, tapi anda harus memberikan jaminan yang lain. Dan bisa anda urus hal itu kepada staf bagian pengurusan dana regristrasi” jawab yang dokter yang membuat hati warti merasa lega “biak lah terimakasih dok, saya akan mengurusnya sekarang juga” selesai mengatakan itu sang dokter pun membiarkan warti pergi “katanya dari keluarga miskin, tapi kok bisa dia punya uang sebanyak itu?” Tanya hati sang dokter, heran. Ya ia heran karena dengar dengar dari suster asistennya nya keluarga warti adalah salah satu keluarga yang sangat melarat di desa ini.
Setelah selesai mengurus biaya operasi dan sebagainya warti kembali ke ruang ayahnya di rawat terlihat sang adik sedang tertidur di sofa sedang sang ibu duduk di samping ayahnya yang terbaring lemah “ibu..” panggil warti lirih membuat sang ibu menatapnya sendu “kamu sudah mendengar penjelasan sang dokter?” Tanya sang ibu yang mendapat anggukan kepala warti lalu ia mendekati ibunya.
__ADS_1
“sekarang apa yang akan kamu lakukan?” Tanya sang ibu yang membuat warti tersenyum kecut “ibu tenang saja, aku sudah membayar semua biaya pengobatan bapak…” belum juga warti selesai bicara tiba tiba sang ibu langsung berdiri membuat warti seketika terdiam “jangan bicara sembarangan war, kamu tahu kan uang yang di butuhkan sangat banyak. Mau pakai apa kamu membayarnya?” Tanya sang ibu terlihat sangat marah dan warti tahu mengapa sang ibu begitu “iya ibu aku tahu, karena itu ibu tenang lah. Besok bapak akan di rujuk ke rumah sakit abdul muluk, aku mohon ibu dan adik siap siap lah karena kita akan berangkat kesana, sekarang aku pergi dulu ada hal lagi yang mau aku urus” pinta warti, ia berusaha menjelaskan dengan baik dan saat ia hendak melangkahkan kakinya tiba tiba sang ibu langsung memeluknya dari belakang.
“tolong jangan lakukan hal bodoh seperti bapak mu ndok..” tentu hati warti langsung bergetar saat mendengar perkataan sang ibu yang serak itu “ibu jangan nangis, iya iya aku gak akan bersikap bodoh kok. Tapi ibu jangan nangis” pinta warti lalu ia melepas kedua tangan sang ibu yang mengikatnya dan di usapnya air mata sang ibu dengan lembut.