
Drap! Drap! Drap!
Suara langkah kaki yang begitu berat dan juga cepat, di koridor itu dipenuhi lontaran teriakan untuk menghentikan sosok yang sedang berlari kencang melewati setiap halangannya.
Dia adalah Gavin, matanya menatap kosong dan terus berlari dengan pikiran yang di satu sisi tenang, tetapi sisi lain sangat kacau, banyak sekali ingatan yang berantakan dan dalam proses merancang kembali.
“Kriminal, sepertinya itu peranku,” gumam Gavin.
Dor!
Ledakan pistol terdengar dari belakang, dan dalam sekejap proyektil peluru menghantam kaki Gavin.
Namun, hal yang sama sekali tak masuk akal bagi orang-orang yang saat ini dalam proses pengejaran adalah Gavin tetap berlari tanpa terpincang-pincang.
Pose larinya masih stabil, sementara kakinya sendiri terus mengeluarkan cairan merah yang kental tanpa kenal waktu, terus mengalir dan mengalir hingga Gavin sendiri mulai merasa kesal sendiri.
Dia berhenti, menarik bagian bawah celana untuk disobek dan diikatkan ke tempat luka itu berada agar darah segar tak terus menerus keluar, rasa sakit sendiri malah sama sekali tak terasa, hanya sebuah perasaan bahaya bahwa jika tak segera ditutup maka nyawanya dalam keadaan bahaya.
“Panggil para Pemburu, Warga Biasa segera berlindung, seorang Kriminal melarikan diri!”
Gema sirine mengerikan di bangunan itu menandakan betapa bahayanya Kriminal sekelas Gavin yang berlari tanpa ekspresi dan terus mencoba merangkai satu persatu ingatan yang nampak berantakan.
“Putri Ayu ... Wanita itu siapa, terasa familier?”
“Liora Cynthia? Theo? Bambang Subagyo?”
Ekspresi datar, ditambah suara kebingungan jelas sangat tidak sinkronisasi, hal ini menambah catatan kecil bagi para dokter dalam melakukan penanganan yang jelas sangat fatal kesalahannya.
Ekspresi bagi seorang manusia jelas harus ada, tetapi Gavin sama sekali kehilangan wujud dari sebuah ekspresi, bahkan rasa emosi yang menggebu-gebu sama sekali tak terasa.
Kemudian, rasa sakit sendiri nampaknya dinetralisir oleh emosi yang benar-benar kosong sehingga sebuah rasa sakit perlahan digantikan oleh sebuah rasa biasa saja.
__ADS_1
“Dunia seakan kosong, tapi dunia juga seakan menyuruhku untuk pergi dari tempat ini,” gumam Gavin.
“Berhenti, atau kami akan lakukan tindakan yang lebih jauh!” Dari depan, sekelompok Pemburu menodongkan senjata api mereka ke arah Gavin.
Gavin sempat berhenti, tetapi tak lama kemudian dia langsung masuk ke pintu yang ada di sampingnya dan menutupnya, ketika di dalam ada seorang pasien yang menatap heran Gavin.
“Saya numpang lewat,” ucap Gavin dengan datar.
Dia menuju jendela di samping brankar pasien, dan langsung menerjangnya, melompat dari lantai dua benar-benar hanya orang gila yang melakukannya atau hanya orang yang sama sekali tak merasakan suatu rasa ketakutan.
Gavin mendarat di atas mobil hingga membuatnya sedikit ringsek, setelah itu dia kembali melompat dan langsung berakselerasi meninggalkan area rumah sakit yang menurutnya sangat berbahaya.
Ketika di jalan, Gavin menghalau sebuah mobil yang hendak lewat, mobil dengan jenis sedan itupun tanpa ragu Gavin rebut dari pengemudinya.
Gavin menarik tubuh pengemudi yang sedang berontak agar tak direbut, tetapi kekuatan Gavin seakan dikeluarkan secara maksimal sejak dirinya merasakan kekosongan tiada tara.
Gavin duduk di kursi kemudi dan segera tancap gas, dia melajukan mobil di jalanan perkotaan yang padat dan tanpa sadar menuju sebuah area pinggiran kota dengan rumah kayu yang terkesan misterius di tengah semak-semak belukar tinggi.
Sebuah takdir kejam sedang menunggunya di depan, takdir yang akan mempertimbangkan sebuah hal demi mencapai suatu tujuan yang begitu berat.
“Ingatanku yang berantakan seperti kembali, aku sudah tahu semuanya, bahkan ... Nama yang membuatku merasakan kesengsaraan duniawi, Putri Ayu!” Gavin bermonolog dengan datar.
“Lupakan Putri Ayu, aku lebih mementingkan takdir milikku, kuharap semuanya berlalu ketika aku menyelesaikan apa yang telah terjadi selama ini.”
Gavin melihat kakinya yang terus mengeluarkan cairan merah, begitu pula poinnya yang perlahan tapi pasti berkurang hingga sekarang saja tersisa sekitar 67 Poin Kriminal.
Gavin pun langsung membuka balutan kain di kakinya, tanpa ragu dan tanpa rasa takut langsung mengobrak-abrik bagian lukanya tersebut hingga mendapatkan peluru yang bersarang di sana.
Cukup mengerikan, tetapi wajah Gavin sama sekali tak ada perubahan raut wajah, terlalu datar dan benar-benar sama sekali tak merasakan apa yang rasanya sakit.
“Jahit, ya?”
__ADS_1
Gavin mengingat dia mempunyai beberapa alat medis di rumahnya tersebut, langsung mengambilnya dan mengeluarkan beberapa benang medis dan juga jarum medis tanpa ragu.
Matanya melirik anestesi, tetapi dia langsung bergeser ke arah apa yang telah dipegangnya, dia segera meletakkannya di dekatnya dan langsung melakukan apa yang pernah dipelajari sejak dirinya menjadi anak Fakultas Kedokteran Semester 1 dan juga ilmu dari rekaman para ahli.
Sekitar 30 menit dia berkutat dengan kakinya, akhirnya pun selesai, Poin Kriminalnya sendiri tersisa 32, benar-benar berkurang disituasi yang seharusnya menyakitkan, tetapi raut wajah dan perasa miliknya yang telah mati total tak merasakannya.
“Poin Kriminalku tersisa 32, terlalu sedikit,” gumam Gavin.
Dia pun langsung berdiri dan keluar rumah, memasuki mobil yang dicurinya tadi dan langsung melajukan mobil itu menuju suatu tempat yang jelas adalah sebuah misi pribadi miliknya demi menaikkan Poin Kriminal.
Itu adalah pusat perbelanjaan Kota Aezak yang sedang ramai, Gavin masuk begitu saja dengan santainya sambil memegang senjata api berjenis SS3 atau Senapan Serbu 3.
Menuju ke kasirnya langsung, Gavin menodongkan moncong senjatanya tanpa ragu ke arah seorang kasir wanita yang saat itu terkejut bukan main, tubuhnya gemetar ketakutan.
“Berikan semua uang di dalamnya!” ucap Gavin tanpa tekanan nada satupun.
Begitu datar, tetapi sudah mampu mengintimidasi kasir wanita dan juga rekan kasir yang lain, lantas mereka langsung membungkus semua uang yang berada di mesin kasir tersebut.
Gavin memerhatikan sekeliling, dia melihat kamera pengawas yang sedang menyorotnya yang saat ini memakai topeng tersenyum miliknya.
Gavin lantas menembak kamera pengawas itu tanpa ragu kemudian langsung mengambil uang yang telah dikumpulkan oleh petugas kasir wanita serta rekannya di dalam sebuah plastik hitam.
Berjalan dengan santai menuju mobilnya, orang-orang di sekitar jelas takut, Pemburu sama sekali tak ada di tempat tersebut sehingga mereka tak bisa ambil tindakan gegabah disaat Gavin jelas memegang sebuah senjata api.
“Hahaha, sebuah takdir yang kejam, aku harus benar-benar menjadi Kriminal untuk menyelesaikan apa yang telah terjadi, semuanya ...” ucap Gavin yang langsung menekan pedal gas dan pergi dari area pusat perbelanjaan di sana.
Bibirnya terlihat sedikit tertekuk, tetapi kembali datar tanpa senyuman, sorot matanya benar-benar kosong hingga jika terlihat orang, maka orang itu bisa saja menganggap bahwa Gavin tak sadarkan diri.
Inilah Gavin, seorang pemuda biasa saja yang berubah menjadi tak berbelas kasihan sejak dirinya mendapati masalah demi masalah, semuanya hancur lebur di dalam pikirannya, mentalnya telah hancur hingga tak tersisa, rasa kemanusiaan telah hilang total.
Gavin Arsenio, menjadi seorang pemuda yang benar-benar kesepian di tengah penderitaannya, dia berjuang demi orang lain di tengah namanya semakin buruk dan buruk saja.
__ADS_1
Dunia benar-benar menjatuhkan takdir yang kejam kepada pemuda biasa saja tersebut.