
Di sebuah rumah di tengah semak-semak belukar, Deny diseret masuk ke dalam rumah, dia dihajar habis-habisan di dalam rumah dengan tiga pria yang langsung melayangkan bogem mentahnya.
Maximus sendiri hanya terkekeh geli, dia menarik Deny untuk berlutut, mengangkat dagunya dan memberikan senyuman yang tak akan pernah Deny rasakan di dunia luar, senyuman licik yang mengerikan.
“Hihihi~ Kamu pikir aku adalah Maximus yang biasa saja dengan segudang kekesalannya kepadamu dan juga Gavin?” ucap Maximus dengan senyuman menyeringai.
Maximus menampar Deny, kemudian berkata, “Hei, pakai otak kecilmu itu! Dunia ini berubah dan ... Aku sebagai Kriminal tentu harus merundungmu, bukan? Hahaha!”
Deny hanya bisa menghela napas pasrah, dia benar-benar merasa sangat sakit baik fisik dan juga mental, ini pertama kali baginya dia dihantam oleh berbagai macam cobaan yang tak pernah dia rasakan semasa di dunia luar.
Deny bergumam, “Gavin ... Jangan datang.”
Namun, kekhawatiran Deny semakin menjadi ketika pintu terbuka dengan keras yang menampakkan Gavin dengan raut wajah kesal bercampur amarah yang meledak-ledak.
“Max, apa-apaan kau?!” teriak Gavin begitu menggelegar.
“Hahaha! Ternyata Si Tengil Gavin yang mencariku, kalian sangat tak tahu bahwa situasi sekarang sangat berat, bukan?” ejek Maximus dengan mata yang seakan ingin keluar dari tempatnya.
“Kau, teman yang gila, selemah itu kah mentalmu mengatasi itu semua? Mana ayahmu yang kaya raya itu, heh?” hina Gavin tanpa mengendorkan kewaspadaannya.
Deny sendiri hanya bisa tersenyum pasrah menatap temannya yang dalam bahaya tingkat tinggi, hanya memegang pistol di tangannya.
“Kau brngsek!”
Srat!
Sayatan kecil membuat Deny bergetar hebat, perasaan dingin menjalar ke seluruh tubuh, rasa sakit mulai benar-benar mematahkan semangat kehidupannya.
“Ukh ...” Deny perlahan kehilangan kesadaran. “Inikah akhirnya?”
***
Dunia berputar begitu cepat, jalan takdir yang berbeda harus dilalui oleh setiap individu demi mencapai tujuan masing-masing bagi mereka.
Hidup adalah sebuah instrumen permainan yang dirancang oleh sang penguasa, begitu pun takdir yang dijalankan oleh makhluk hidup.
__ADS_1
Sementara itu, seorang pemuda yang terbaring lemah sedang mencoba meniti takdirnya ke jalan yang lebih baik, pemuda ini hanya bisa tersenyum membaca sebuah kertas di tangannya.
Dia adalah Deny yang entah bagaimana dirinya bisa selamat, Deny berpikir bahwa dia seharusnya tewas di saat itu juga, tetapi keadaannya sekarang di ruangan putih beraroma obat-obatan menunjukkan bahwa dia tak apa-apa dan hanya terluka.
“Deny, aku tahu kalau kau akan mengatakan diriku pecundang setelah meninggalkan temannya, tapi ... Kurasa ini jalan yang kupilih sejak dirimu dalam bahaya, salam Gavin Arsenio, temanmu.”
Deny hanya bisa membaca dan terus membaca kertas di tangannya, dia juga telah menanyai para dokter serta perawat di mana keberadaan orang yang membawanya ke sini.
Namun, jawaban mereka jelas sama, bahwa Gavin telah pergi meninggalkannya sendiri, sangat sendiri dan kesepian.
“Yaah ... Jalan takdir yang kau pilih sepertinya berbeda, aku akan menjalaninya sebagai Pemburu yang Polos dan perlahan menjadi Pemburu yang Kuat,” gumam Deny.
Deny hanya bisa menghela napas pasrah saat ini, dia sama sekali tak habis pikir bahwa jalan takdir yang harus dilaluinya nampak seperti sebuah jalan berduri yang sangat berbahaya dan tentu menyakitkan.
Namun, itu semua demi dirinya menyelesaikan apa yang telah terjadi sebagai seorang Pemburu yang masih baik, begitu menurutnya.
Sehari kemudian, Deny dipersilahkan untuk keluar rumah sakit karena telah membaik, sekarang dirinya tak mempunyai siapapun untuk bersama menjalani jalan takdirnya.
Dirinya kesepian, begitu kesepian bahkan setelah dia pergi ke rumah Gavin, di sana rumah itu menjadi terbengkalai dengan perabotan yang berantakan karena dia pernah disiksa di tempat itu.
Deny pun menciptakan tekad baru baginya, dia langsung pergi ke Markas Besar Pemburu Kota Aezak, di mana dirinya akan mendaftarkan diri sebagai Pemburu resmi demi mendapatkan gaji miliknya di saat dirinya menangkap seorang Kriminal.
Berjalan di tengah dirinya yang baru sembuh tentu menyakitkan, apalagi lehernya yang terasa kesemutan di saat-saat tertentu membuatnya merasa sangat risih.
Di gedung yang begitu megah dengan berbagai macam orang lalu-lalang, kesibukan itu sama sekali tak menyurutkan Deny untuk memasuki gedung itu demi meresmikan namanya sebagai Pemburu resmi Kota Aezak.
Di lobi dengan kesan futuristik, di meja resepsionis, Deny bertanya, “Hmm ... Pendaftaran Pemburu resmi di mana, ya?”
Si resepsionis wanita pun langsung menganggukkan kepala sambil berkata, “Baik, silahkan ikut saya!”
Deny mengikuti resepsionis wanita tersebut sembari terus mengedarkan pandangan karena begitu takjub akan desain yang tercipta dari sebuah program kecerdasan buatan yang menopang server Roleplay World Online, bernama IndoTech.
“Silahkan anda masuk ke ruangan, kami akan segera mengakses data pribadi anda,” ucap resepsionis wanita sembari membukakan sebuah pintu kaca tebal.
Deny memasuki pintu itu dan terlihat seorang pria berpakaian jas sedang berdiri dan tersenyum ke arah Deny yang hanya bisa membalasnya dengan senyuman kikuk.
__ADS_1
“Ini kah sebuah NPC?” gumam Deny. “Nggak ada perbedaan kalau cuma dilihat sekilas, tapi kalau mendetail, tentu kelihatan,” lanjutnya.
“Baik. Apakah anda akan melakukan bepergian jarak jauh?”
Deny menggeleng ringan, dia cukup gugup dengan keringat yang perlahan mengalir dari dahinya, padahal suhu ruangan sendiri cukup rendah untuk sebuah ruangan yang memakai pendingin.
“Baik. Apakah anda akan melakukan tugas Pemburu dengan baik tanpa memikirkan hal-hal yang lain?”
Deny sempat terhenyak, pertanyaan yang terlalu ambigu membuatnya kebingungan, tetapi dia tetap mencoba untuk menjawabnya demi kelancaran proses peresmian dirinya sebagai Pemburu yang terdaftar di suatu instansi terkait.
Pria berpakaian jas itu pun mengangguk pelan mencoba untuk membuat Deny meneruskan jawabannya, jika tidak maka prosesnya tentu akan melambat.
“Ah, saya akan melakukan tugas Pemburu dengan baik.”
“Apakah kemanusiaan lebih utama dalam suatu misi?”
Kembali lagi, Deny untuk kesekian kalinya merasa kebingungan, pertanyaan yang terlalu aneh untuk sebuah proses peresmian Pemburu. Deny berpikir sejenak dengan pria itu meletakkan sebuah jam pasir di atas meja.
Deny yang duduk cukup tenang tadinya sekarang menjadi tegang karena jam pasir itu menekan otaknya untuk bekerja lebih efisien dan cepat tanpa pengurangan kualitas kerja otak.
“Te–Tentu, kemanusiaan jelas hal yang utama–”
“Bagaimana jika kamu diperintahkan membunuh seorang Kriminal?”
“Saya ...” Deny hanya bisa terdiam, dirinya tak mampu untuk melanjutkan hal yang sungguh sulit baginya.
Deny pun berdiri dan mencoba untuk menenangkan pikirannya dengan membelakangi pria berpakaian jas tersebut, otaknya berputar lebih cepat untuk mencari jawaban yang rasanya cocok untuk kepribadiannya sendiri.
Sebenarnya Kriminal sendiri adalah penjahat, tetapi sebagai orang yang masih mementingkan kemanusiaan, rasanya untuk menghakimi mereka dengan membunuhnya sangat tidak etis meski mereka mau bersalah sebesar apapun.
“Saya ... Saya kurang yakin, tapi saya jelas tidak akan pernah membunuh seseorang, baik itu Kriminal maupun pihak lainnya.”
“Anak yang polos,” celetuk pria tersebut yang membuat Deny berbalik dengan perasaan terkejut tinggi.
“Akh, bisa cepat, nggak sih?!” seru Deny yang mulai naik pitam.
__ADS_1