
Ngiiiung~! Ngiiiung~!
Sirine menggema di tengah kota yang begitu padat, iring-iringan mobil para Pemburu membelah jalanan dengan sebuah kesombongan tiada tara.
Mereka mengawal para sandera dari perampokan yang beberapa waktu lalu terjadi menuju kantor pusat Pemburu Kota Aezak demi dimintai keterangan dan juga menenangkan mereka dari bahaya dunia luar.
Para Kriminal habis tak tersisa, korban dari pihak Pemburu sendiri ada Haryo yang terluka karena Deny benar-benar melakukan kesalahan fatal di tengah kegentingan seperti itu.
Deny sendiri saat ini duduk sembari memeluk lututnya, dia menunduk dengan tubuh yang gemetar, perasaannya benar-benar diselimuti sebuah rasa ketakutan yang tak pernah dibayangkan olehnya.
Haryo yang mengendarai mobil melirik sejenak Deny, dia hanya bisa tersenyum pasrah melihat keadaan Deny yang harus dewasa dengan keadaan penuh tekanan dan marabahaya tersebut, semuanya jelas adalah hal yang sulit untuk dilalui.
Deny masihlah Pemburu, atau bahkan pemain yang polos dan banyak berharap dengan keunggulan penukaran mata uang dari dalam gim ke dunia nyata, tetapi sekarang hal itu sama sekali tak penting, hal terpenting sekarang adalah bagaimana cara bertahan hidup di tengah kekacauan Penghakiman Dunia.
Dalam 30 menit, iring-iringan mobil Pemburu sampai di Markas Pusat Pemburu Aezak, di sana mereka langsung melakukan netralisir tubuh sehabis menyelesaikan tugas yang seharusnya terbilang berat karena langsung menghakimi para perampok di tempat.
Deny sendiri duduk sendirian di bangku samping sebuah mesin minuman, dirinya yang memakai kemeja putih dan celana hitam panjang hanya bisa menunduk dengan menggenggam sekaleng minuman cukup keras.
Ckrek!
Telinga Deny menangkap suara di sampingnya, melirik sejenak, terlihat Haryo yang memasukkan koin ke dalam mesin minuman dan mengambil minuman yang dipilih olehnya kemudian segera duduk di samping Deny.
Situasi itu begitu canggung antara senior dan junior, Deny sendiri sama sekali tak berbicara atau bahkan niat untuk berbicara tak ada karena sekarang dia lebih ingin menenangkan dirinya.
“Deny, saya tahu ... Saya tahu ini berat bagimu–”
“Berat apa?! Itu adalah kejadian yang benar-benar membuat hatiku perlahan menggelap! Capek saya, capek saya, Pak Haryo!”
__ADS_1
“Heh! Pak ... Saya masih berusia 27 tahun!”
“Sudah dikatakan Bapak-bapak itu.”
Sudut bibir Haryo berkedut, sementara Deny menenggak minuman di tangannya, setelahnya beranjak dan pergi meninggalkan Haryo yang saat itu termenung.
Deny berjalan dengan gontai, napasnya keluar dengan berat, langkahnya yang begitu berat juga dirasakan olehnya, matanya mulai berkunang-kunang dengan berbagai macam ingatan buruk yang terjadi baik di dunia dalam ataupun dunia luar.
“Sial ... Sial!”
Deny jatuh terduduk, derai air mata keluar, perasaannya hancur dalam sekejap karena sebuah hal yang menekannya untuk melakukan hal yang bukan prinsip hidupnya.
Orang-orang di sekitar Markas Pusat Pemburu terus menyimak Deny, tetapi sayangnya tak ada yang datang kepadanya untuk menenangkannya.
Kemudian, di tengah keheningan bagi Deny, seorang wanita datang dan langsung memeluknya begitu lembut dan mempesona bagi banyak orang, kecantikannya tiada tara dengan senyuman yang meluluhkan hati semua orang.
Deny menjauhkan pelukan wanita itu dan memerhatikan wajahnya, dia adalah Nanda, salah satu resepsionis tercantik di Markas Pusat Pemburu Aezak, dengan rambut hitam sependek bahu dan wajah yang mendukung benar-benar menambah kesan bahwa wanita ini adalah idaman kaum pria.
“Nah, ayo ke ruanganku, kita bicarakan sesuatu yang bisa menenangkanmu,” ucap Nanda. “Ah, lupakan tatapan mengerikan dari beberapa orang!” lanjutnya setelah menyadari banyak pria yang menatap Deny begitu sengit.
Deny hanya bisa menghela napas, dia pun segera beranjak dan mengikuti Nanda ke sebuah gedung di mana tinggalnya para karyawan dari Markas Pusat Pemburu Aezak, di sana tempat tinggal mereka yang tak mempunyai siapapun di dunia ini.
“Masuk kamarku, aku ganti baju!”
Deny mengiyakan dan segera masuk ke dalam ruangan kamar Nanda. Untuk bagiannya Nanda, sebuah apartemen dengan empat ruangan utama, yaitu kamar tidur, dapur, ruang tamu dan kamar mandi.
Di tempat inilah Nanda tinggal sendirian, begitu berat baginya, Deny pun tak bisa membayangkan seorang gadis seusianya harus tinggal sendirian di hari-hari yang begitu berat dan marabahaya bisa datang kapan saja.
__ADS_1
Sekitar lima menit Deny menunggu dan duduk di pinggiran kasur, dia menatap pintu kamar yang terbuka dan terlihat Nanda dengan pakaian cukup terbuka, belahan dadanya sangat terlihat dengan sepasang gunung kembar yang cukup besar.
Sementara, bagian bawah, hanya celana pendek si atas lutut yang ketat membuat paha Nanda terlihat begitu indah di mata Deny.
“Nah ... Curhatlah, aku dengerin,” ucap Nanda yang menggeser kursi dan duduk berhadapan dengan Deny yang saat ini dalam keadaan gugup.
“Bisa kau tutup itu?” ucap Deny yang memalingkan wajahnya.
“Hihihi~ Ayolah, masa kau yang sudah berusia 18 tahun malu sama yang beginian, di negeri Paman Sam, atau negeri Ginseng dan negeri Sakura lebih terbuka, Den, lebih dari ini!” celetuk Nanda dengan tawa yang terasa menenangkan bagi Deny.
Deny pun bernapas pasrah, dia pun segera mengeluarkan unek-uneknya kepada seorang gadis berusia 18 tahun yang baru dikenalnya pada pagi hari ini, begitu cepat, tetapi rasanya sangat mudah untuk saling mengenal satu sama lain.
“Nanda, aku capek, kenapa seberat ini jadi Pemburu yang bisa mengeksekusi Kriminal kapan saja?”
Nanda pun menjawab dengan sebuah kalimat yang cukup ambigu. “Setidaknya harga dirimu masih lebih baik dari mereka. Para Kriminal, ya, Kriminal, kemudian Pemburu, ya adalah Pemburu! Perbedaan itulah yang menambah tekanan bagimu!”
Deny menunduk lesu, kemudian berkata dengan nada yang tak kalah lesu dan penuh penekanan di setiap katanya. “Tapi, aku benar-benar capek! Ini dunia yang tak kuinginkan, setidaknya, sekarang!”
“Setidaknya sekarang? Ke depannya apa kau telah inginkan? Hei, kau itu tidak konsisten! Sudahlah, intinya berjuang demi hidupmu, mau bagaimana pun caranya kita hanya bisa bergerak sesuai kepribadian kita!”
Nanda beranjak dan mendekati Deny, dia mengangkat tangan kanannya dan diulurkan ke depan dengan kepalan tangan yang cukup tegas, kemudian meninju Deny dengan pelan.
“Aku mendukungmu bagaimana kau berjalan, aku akan menemanimu sebagai wanita yang baru mengenalmu beberapa jam lalu, sepanjang hari yang berat bagimu!”
Deny pun beranjak, dia menyentuh pundak Nanda dan segera pergi keluar dari kamar tersebut serta meninggalkan Nanda sendirian di apartemennya.
Deny berjalan menyeberangi gedung melewati koridor, dia terus saja memikirkan segala cara demi beradaptasi dengan cepat, tetapi mentalnya sama sekali belum bisa terkoordinasi.
__ADS_1
“Ya, setidaknya dukungan dari Nanda cukup membuatku lega,” gumam Deny.