Roleplay World Online (RWO)

Roleplay World Online (RWO)
Bab 38 – Deklarasi Perang [Fase 03 Dimulai]


__ADS_3

Darrr~!


Sebuah ledakan membawa gelombang kejut yang mampu menghempaskan siapa saja yang dalam jangkauannya, banyak dari mereka berantakan hanya karena gelombang kejut tersebut.


Ledakan ini adalah sebuah ledakan bom di sebuah Pusat Perbelanjaan Kota Aezak, di sana sekelompok Kriminal memegang senapan laras panjang beserta memakai sejenis topeng.


Salah satu Kriminal memakai topeng putih dengan wajah tersenyum serta ada sebuah corak bercak darah pada bagian matanya.


Pemuda yang memakai topeng berbeda ini pun mengangkat tangannya kepada kerumunan Pemburu yang sedang menodongkan senjata api mereka.


Hingga seorang Pemburu dengan tubuh cukup kurus, tetapi masih terlihat sangat kuat mengangkat tangan untuk memberi kode bahwa turunkan senjata kepada para Pemburu lainnya.


Pemuda yang memakai topeng putih dengan wajah tersenyum itu adalah Gavin, dia maju hingga berhadapan dengan pemuda satunya yang adalah Deny Dewantara.


Keduanya saling berhadapan cukup lama, bahkan beberapa Kriminal lainnya yang tak sabaran mulai mengangkat senjata api dan menodongkannya kepada Deny.


“Nah, siapakah yang ada dibalik topeng itu?” tanya Deny dengan tenang tanpa terintimidasi sedikit pun.


Sementara itu, Gavin melepas topengnya dan menunjukkan setengah wajahnya, sorot mata yang kosong dan sama sekali tak menunjukkan adanya lekukan raut wajah yang membuatnya sangat datar.


“Ah, itu kau, Gavin?” Deny memperjelasnya, dia hanya cukup terkejut karena Gavin telah menjadi pribadi yang berbeda.


“Deny ... Ya?” Gavin nampak kebingungan dengan raut wajah yang datar, terkesan aneh bagi kebanyakan orang.


“Jadi ... Bagaimana kita bisa bertemu dalam kondisi ini sejak kau membunuh empat orang tak bersalah?” tanya Deny yang mengambil pistolnya dan segera mengokangnya.


“Heh, sepertinya media terlalu membesarkannya, setidaknya itu yang kamu tahu, tetapi ... Yang aku tahu jelas tak akan ada yang percaya. Entahlah, kita memang sahabat, tetapi sekarang ... Sudah bukan!” jelas Gavin yang juga mempersiapkan pistolnya dengan mengokangnya.


Keduanya saling todong hingga para Pemburu dan juga Kriminal yang lain pun langsung mempersiapkan senjata mereka, sebelum baik Gavin dan Deny menurunkan tangan mereka dan mengunci kembali pistolnya.


“Semuanya, kembali, tugas kali ini biar aku yang selesaikan!” seru Deny sesaat berbalik yang membuat para Pemburu lainnya merasa kesal ketika dibawah kepemimpinan Deny sebagai Kepala Pemburu Kota Aezak.

__ADS_1


“Kalian juga, pergi ke tempat yang sudah kuberitahu sejak aku merekrut kalian!” seru Gavin juga begitu lantang yang membuat para Kriminal lainnya nampak marah.


Gavin pun tanpa ragu melepas tembakan ke udara hingga mengejutkan semuanya, kemudian berkata, “Nanti kepala kalian berlubang.”


Sontak para Kriminal jelas takut, itu karena mereka Kriminal yanb harus menjadi seperti itu karena situasi memaksa mereka sejak hari Penghakiman Dunia, keraguan hati mereka masih ada sedikit yang membuat rasa takut kembali timbul.


Sementara itu, Deny langsung menurunkan tangan Gavin yang masih mengulut ke atas, dia mengambil pistolnya dan menguncinya yang kemudian menyimpannya ke saku Gavin.


Deny berkata dengan nada yang santai. “Hati-hati, Vin. Anak buahmu bisa mati.”


Gavin memutar mata malas sambil tersenyum sejenak kepada Deny. “Bukan urusanmu.”


Deny pun hanya tertawa pelan, dia merangkul Gavin sambil mengayunkan tangannya kepada para Pemburu untuk pergi dan tak usah peduli tentang toko yang telah dirampok oleh gerombolan Kriminal yang dipimpin oleh Gavin.


“Ayo, minum dulu deh!” ajak Deny dengan senyuman khasnya yang jelas mampu meluluhkan hati para wanita.


Sementara itu, Gavin yang telah memakai topeng hanya terdiam dan mengikuti apa mau dari Deny, lagipula tujuannya masih sangat berhubungan dengan Deny yang adalah musuh terberatnya saat ini.


Sahabat tetaplah sahabat, mau sejahat atau berubah banyak pun, kalian tetap akan merasa ragu untuk menyakiti sahabat sendiri dengan tangan kalian, hati kalian masih sangat kecil untuk menggores kecil saja tubuh sahabat kalian, keraguan besar mampu menghalangi niat buruk tersebut.


Keduanya sampai di sebuah kedai dengan lampu remang-remang berwarna oranye, bagian depan kedai itu sangat tertutup dengan bangku-bangku bekas yang jelas menghalangi jalan.


Bagi kebanyakan orang, kedai ini sama sekali tak beroperasi, tetapi bagi Deny, kedai ini adalah tempat favoritnya setelah dia jauh mengenali dunia pemerintahan dan politik yang kejam.


Kedai ini menurut informasi, menjadi tempat di mana pertukaran barang-barang berbahaya berada. Para politisi kota dan juga luar kota pasti akan menanyai tempat yang misterius demi melakukan transaksi barang-barang berbahaya tersebut.


Maka, tempat inilah yang menjadi rekomendasi bagi mereka, apalagi minuman alkohol yang terkenal sangat nikmat bagi kalangan tikus-tikus politisi gila kekuasaan.


“Ayo!” ajak Deny.


Keduanya masuk, pintu dari ruangan yang sedikit sulit terbuka itu membuat suara decitan pintu yang seketika langsung membangunkan sang bartender.

__ADS_1


“Selamat datang di kedai The Mind.” Sang bartender menyambut Gavin dan Deny yang menuju meja di mana pelayanan akan disediakan.


“Kasih dia yang paling keras,” ucap Deny tanpa membuat Gavin merasa tak nyaman, justru mulai menyukai tempat ini dalam sekali datang saja.


“Everclear tersisa sebotol.”


Deny menganggukkan kepalanya dan segera mengambil botol tersebut, kemudian menuangkan pada cawan kecil yang berisi sekitar 50 ml saja.


“Nih, nikmati saja, aku yang traktir. Lagipula ... Sudah lama kita tidak ngumpul-ngumpul santai. Sekarang, takdir kita berbeda, tadi hanyalah sebuah pesan gencatan senjata sejenak,” jelas Deny.


Gavin pun melepas topengnya, mata biru safirnya melirik dingin ke arah sang bartender pria yang sedang tersenyum, tetapi kemudian senyuman sang bartender langsung menghilang dan muncul rasa takut mendalam terhadap sorot mata tersebut.


Gavin mengambil cawan kecil itu dan langsung menenggaknya dalam sekali tegukan, rasa biji-bijian yang telah difermentasi dan menghasilkan minuman keras bernama Everclear langsung membuat Gavin merasa bahwa dunia sedang berputar.


Deny tersenyum, dia lantas menambahkan lagi minuman itu ke cawan Gavin yang langsung menenggaknya habis.


“Gimana kabarmu, Vin?”


“Kabarku tidak baik. Sejak beberapa hari lalu disaat Kota Garuda lenyap, aku tenggelam dalam kegelapan tanpa batas,” jelas Gavin yang mulai terkontaminasi yang namanya mabuk.


“Deny, kau memang licik, Pak Prawibawa saja yang korupsi dana Kota Aezak dan belum terungkap, langsung kau eksekusi dengan memberinya yang paling keras hingga mabuk,” ucap Sang bartender sembari mengelap sebuah cangkir.


Deny mengendikkan bahunya, dia lantas berdiri dan merangkul hangat Gavin yang dalam keadaan mabuk. Apalagi saat ini nampak sorot mata kosong itu perlahan mulai menunjukkan cahaya harapan.


“Vin, bisa kita damai saja dan bantu aku dalam menciptakan kota yang juga damai tanpa Kriminal?” ucap Deny pelan.


Sorot mata Gavin kembali kosong, dia beranjak dan langsung menodongkan pistolnya ke arah Deny yang jatuh ke lantai dan sedang menatap moncong pistol yang diarahkan padanya.


“Ugh! Aku tak seburuk itu, Deny. Aku Kriminal, tetapi tak seburuk kau yang menjatuhkan Pemburu Jimmy demi uang dan kekuasaan. Sejak dulu kau memang tak berubah, suka saja mencari uang dan kekuasaan!” seru Gavin yang meludah ke samping.


Gavin melangkah pergi, ketika berada di pintu keluar, dia berbalik sejenak dan berkata dengan lantangnya. “Setelah semua ini, aku harap kau tak akan pernah bersama denganku sebagai sahabat. Aku masih memiliki tujuan lain, aku dengan ini menyatakan perang terhadap para Pemburu khususnya kau!”

__ADS_1


Gavin pergi meninggalkan Deny dan sang bartender, sementara itu Deny hanya bisa menggigit bibir bawahnya dengan kesal.


“Gavin ... Kenapa kau berubah, aku memang pada jati diriku yang haus akan uang dan kekuasaan, tetapi ... Kau benar-benar bukan Gavin yang dulu,” gumam Deny.


__ADS_2