
“BERGERAK DASAR LEMAH!!!”
Seruan dari para Pemburu Veteran hanya bisa diserap oleh mereka-mereka yang saat ini sedang bersusah payah dalam Proses Pendewasaan, mereka menyerap kalimat demi kalimat hinaan dengan pasrah.
Mau bagaimana lagi, ini demi mereka yang bisa menanggulangi ketakutan mereka di suatu misi yang mengharuskan bagi mereka untuk memakai sejenis kekerasan atau bahkan paling para menghilangkan nyawa seseorang, yang jelas Kriminal.
Deny saat ini sedang terengah-engah dengan tubuh yang semakin condong ke depan saat berlari, ini Proses Pendewasaan baik mental maupun fisik, bagi sebagian orang merasa mereka sedang digodok baik-baik mentalnya, tetapi tak sedikit juga yang menganggap ini demi fisik mereka yang semakin baik.
Entah apa yang dipikirkan oleh para Pemburu Veteran, mereka seakan seorang instruktur pelatih fisik di kemiliteran yang begitu tegas dan tanpa ampun menghakimi seorang junior hingga bahkan nyaris mati secara fisik dan mental.
Namun, katanya, ini semua dilakukan demi kebaikan bersama, orang yang dilatih akan mendapatkan kemampuan yang lebih baik dari sebelumnya, kemudian sang pelatih juga mendapatkan kesenangan pribadi karena telah mengajarkan calon-calon kuat penerus mereka.
“Akh ... Capek, anjir!” keluh Deny yang saat ini sedang menarik sebuah ban besar menggunakan tali.
Hingga ketika sampai di tempat yang telah ditentukan, Deny terkapar kelelahan, kemudian sesosok tubuh menghalangi cahaya yang menyinari matanya.
“Hahaha! Tadi Lu mukul Gua dengan bangga, sekarang Lu cuma segini aja capek!” hina Rico.
Deny beranjak, kali ini dia benar-benar marah terhadap perilaku sombong bagai penguasa dari Si Rico, dirinya sangat tak tahan ingin memukul wajah tengik dari Rico.
“Heh, kurang ajar, ya! Sini kau!” seru Deny yang memasang kuda-kuda dengan tegas.
Perseteruan di antara mereka pun menjadi pusat perhatian, bahkan Jimmy sendiri juga tersenyum karena melihat dua pemuda berjarak 5 tahun ini saling berseteru dengan begitu semangat juang yang tinggi.
“Hajar, hajar!”
“Kasih paham, Anak Baru! Kasih paham anak yang pengen dihargai itu!”
“Deny!!!”
__ADS_1
“Rico!!!”
Entah mengapa, Deny sebagai Pemburu yang masih cukup baru dengan mudahny dikenal banyak orang, menurutnya ini ada sangkut pautnya dengan dirinya yang langsung membuat Rico tersungkur beberapa jam lalu, informasi secepat itu sangat mengalir dengan deras bagai banjir rob.
Tanpa aba-aba lagi, Rico langsung maju sembari melompat dengan melayangkan tinjuan yang tentunya bakalan berat jika terkena telak ke tubuh Deny.
Deng menyampingkan tubuhnya, memutar perlahan kaki untuk mengambil ancang-ancang, dia segera mengangkat kaki kirinya hingga mengenai telak dagu Rico dan membuatnya jatuh telentang ke tanah.
“WOOOO!!!”
Seruan dari para penonton membuat perseteruan ini semakin seru untuk dinikmati, kisah perjalanan Deny yang penuh lika-liku kehidupan berat nan keras akan dimulai dari titik di mana dirinya bakalan disegani siapapun.
Namun, perjalanan itu tak akan mudah, Rico segera beranjak dengan tubuh yang condong ke depan dan kedua tangannya bergelantungan lemah, dari sudut bibirnya mengalir darah segar.
“Jago juga Lu, ya!”
“Iyalah, aku nih cukup jago untuk pertarungan jalanan, aku dijuluki Pengacau di SMK beberapa waktu lalu!” ungkap Deny tanpa sadar membeberkan keahlian tersembunyi yang bahkan Gavin sendiri tak mengetahuinya.
Keduanya pun maju dan saling menyerang, teknik dipakai bukanlah sembarang teknik, saling jual beli serangan hingga di beberapa titik tubuh mereka mulai memperlihatkan luka lebam dan juga beberapa goresan kecil.
Pertarungan itu pantas untuk ditonton, tetapi sangat tak pantas bagi pengetahuan Warga Biasa yang menganggap Pemburu akan “Mengayomi Masyarakat”, tetapi nyatanya mereka hanya main-main seperti ini dan melupakan tugas sesungguhnya dari mereka.
Tinjuan ke kanan secara lurus dari Rico, dimentahkan dengan baik oleh Deny yang kemudian membalasnya dengan tinjuan vertikal dari bawah menargetkan dagu Rico.
Rico secara refleks langsung mundur, sekarang keduanya terengah-engah karena telah berkutat dalam perkelahian ini selama 10 menit lamanya, bahkan Deny sendiri lebih terlihat kelelahan karena dia telah bersusah payah menghadapi berbagai macam latihan fisik dan mental dari Pemburu Veteran lainnya.
“Hahaha, Lu dah capek, ya?! Sini, serangan terakhir!” seru Rico yang menambah Deny semakin marah.
“Aku capek, ya, sangat capek sejauh ini sejak Penghakiman Dunia, jadi ...”
__ADS_1
Deny maju dengan berlari, kepalan tangan dari arah samping disiapkan oleh baik, Rico sendiri mempersiapkan kedua tangannya di depan wajahnya menunggu serangan dari Deny.
“MATI SAJA KAU!!!”
Seisi arena latihan terkejut, seruan penuh intimidasi dengan nada yang begitu lantang mampu membuat mereka terhenyak sekejap, tetapi sayang seribu sayang, mereka kalah bergerak cepat.
Deny sudah melayangkan tinjuan super berat nan tegas, ditambah di tangan kirinya adalah belati Pemburu yang tak kalah membahayakan bagi Rico seorang diri.
Rico pun menjadi ragu, tubuh bergetar secara spontan dan mencoba segera berbalik, tetapi kakinya sama sekali tak merespons hingga sebuah tinjuan berat menghantam pipinya.
Dia merasakan sakit yang luar biasa, rahangnya serasa mau patah, sementara itu matanya mulai berkunang-kunang ditambah perasaan takut ketika bilah dari belati mencoba menusuk lebih jauh ke lehernya.
“AAAKKHH!!!” Rico menutup matanya dengan pasrah.
Dalam beberapa detik gerakan, semua orang masih sangat terkejut, tetapi hal yang lebih terkejut adalah sebuah tangan yang tertancap belati begitu dalam hingga tembus.
Itu adalah Jimmy yang bergerak lebih cepat dari apa yang dipikirkan banyak orang, sementara itu, Deny yang penuh amarah sama sekali tak merasa takut, dia bahkan langsung menarik belati itu hingga bagi Jimmy tentu sangat sakit.
“Tenanglah, tenanglah, Deny Si Pemburu!” ucap Jimmy yang menahan tangan Deny memakai tangan satunya yang tak tertusuk.
Sementara itu, Rico telah jatuh tersungkur sembari menutupi wajahnya dengan tubuh gemetaran, ketakutan luar biasa datang membuat mentalnya hancur berantakan.
“Akh! Brengsek!” umpat Deny yang berbalik tanpa menganggap itu adalah kesalahan untuknya.
Sebelum itu, dia menengok sejenak ke belakang sambil berkata, “Kurasa bagi Pemburu Veteran sekelas Jimmy dapat melihat bagaimana potensiku, tapi ... Harapan untukku berperan sebagai Pemburu bisa saja berubah!”
Setelah itu, ucapan yang menusuk hati terdalam bagi Rico datang padanya. “Rico, mau setua apapun kau, kalau sifatnya kayak bayi, ya, tentu akan bodoh juga, dunia ini keras!”
Deny pergi meninggalkan arena latihan tersebut, sementara itu Jimmy sendiri dia tersenyum penuh misterius, matanya menyorot tajam Deny yang berbelok ke dalam gedung.
__ADS_1
Deny yang saat ini di dalam gedung, berseru kesal, “Akh, bodohlah! Dunia yang keras, tapi aku jelas masih lemah mengatasi berbagai macam hal ini!”
Tentu apa yang dikatakan Deny adalah sebuah kebenaran. Dunia yang keras harus juga dibekali dengan kemampuan yang juga kuat, baik itu fisik dan juga mental karena cobaan itu akan datang bagai banjir rob, tanpa ampun menghantam dirimu yang masih lemah.