
Dunia adalah suatu perwujudan di mana tempat tinggal seluruh makhluk hidup atau bahkan tempat beradanya benda-benda mati ciptaan makhluk hidup maupun yang memang telah ada keberadaannya.
Namun, dunia terkadang memberikan sebuah cobaan alami kepada para perusaknya, entah itu dengan berbagai macam bencana alam atau dari tangan manusia itu sendiri yang mengakibatkan dunia harus hancur.
Di sisi lain, dunia kedua tempat di mana makhluk hidup bernama manusia mencoba mencari peruntungan mereka, tetapi sayangnya mereka harus mengalami apa yang namanya ancaman kehidupan bagi mereka.
Dunia kedua sama halnya seperti dunia asli atau dunia pertama, di dunia kedua ini, kematian bisa berdampak nyata ke dunia pertama, itu adalah peraturan mutlak yang telah dicetuskan oleh seorang generasi gila pembuat dunia kedua ini.
Saat ini, di dunia kedua, tempat bernama Kota Aezak sedang ramai perbincangan akan dentuman dan gelombang yang mampu menggoyangkan ruang dan waktu, itu terjadi di Utara Kota Aezak, perbatasan antara Kota Aezak dan Kota Jaya.
“Heh, semakin berbahaya Kota Aezak, aku harus pergi ke Kota Garuda yang katanya pusat teknologi dan berbagai macam hal, tapi sebelum itu ada hal yang harus kulakukan!” ucap seorang pemuda berambut coklat dan bermata biru.
Begitulah pendapat seorang pemuda, banyak pula yang berpendapat demikian, bahwa kota pemula yang seharusnya didesain untuk para pemula malah menjadi kota yang penuh marabahaya seperti ini.
Di rumah sakit pusat Aezak, saat ini seorang pemuda dilarikan ke ruang penanganan secepatnya, tubuhnya penuh luka, dari seluruh lubang di kepalanya mengeluarkan cairan merah.
Dia adalah Deny Dewantara, pemuda yang mengalami nasib sialnya saat menjalani panggilan atas perampokan toko baju di Utara Aezak, tetapi bencana yang lebih besar pula tercipta di sana.
Saat ini, Kota Aezak bagian Utara menjadi bagian paling berbahaya sejak sebuah perangkat yang mampu memecahkan gendang telinga hingga rasa sakit luar biasa mendatangi orang-orang di sekitar wilayah tersebut.
“Ugh ...” rintih Deny.
“Dok, pasien masih merespons!”
“Lakukan penanganan dengan baik, kita harus cepat, Poinnya terus saja berkurang!”
“Baik, Dok!”
Para dokter mencoba yang terbaik untuk menangani pasien sekelas Deny yang saat ini benar-benar prihatin atas keadaannya.
“Darah telah dikendalikan, kembalikan Poin pasien!”
“Pemulihan indera pendengaran, lakukan teknik Reverse!”
__ADS_1
“Beruntungnya ada teknik Reverse, kalau tidak, anak muda ini tak akan bisa mendengar selamanya di dunia ini.”
Sekitar sejam melakukan penanganan medis kepada Deny, para dokter pun menyelesaikan apa yang memang harus mereka selesaikan, semuanya berseru cukup senang atas keselamatan Deny.
Sekarang, tinggal tekad Deny lah yang akan bermain di sini, bagaimana tekad untuk bertahan hidup dipertaruhkan demi persentasenya keselamatan Deny semakin tinggi.
Di dalam alam bawah sadar Deny, saat ini dia sedang meringkuk sembari menangis sesenggukan, perasaannya benar-benar hancur sejauh ini, dia nyaris gila akan keadaan seperti ini.
“Akh! Pa–Pak Haryo ... Gavin ... Semuanya ... Ini sakit!”
Di tengah dirinya yang nyaris putus asa, sesosok bayangan muncul dari kegelapan itu sendiri, bayangan yang menyerupai bentuk tubuh Deny datang sembari menunjukkan deretan gigi putihnya yang terlihat menakutkan disaat tersenyum.
“Deny, bertahan sedikit lagi.”
Deny mendongakkan kepalanya, menatap sosok bayangan yang tersenyum itu, sontak saja tubuhnya bergetar dan merespons dengan mundur secara cepat dan mulai menunjukkan gelagat paniknya.
Semuanya seakan menghilang, tetapi dirinya terus saja diikuti oleh sosok yang terus saja tersenyum bagai tak ada beban hingga kedua tangan sosok ini mengulur ke depan dan mencoba meraih tubuh Deny, lebih tepatnya posisi di mana leher berada.
“Haa ... Haa ... Men–Menjauh! Arrrghh!” Deny berseru ketakutan, dia kemudian beranjak dan berbalik untuk melakukan ancang-ancang berlari.
“Mau ke mana, Den?”
Deny kembali berbalik, tetapi kali ini dia berpikir untuk melakukan gerakan tipuan, yaitu melakukan ancang-ancang berbalik, tetapi sama sekali tak jadi dan masih tetap pada jalur yang sama.
Namun, kali ini sosok bayangan itu tentu saja tetap setia menunggu Deny, perlahan ruangan yang tadinya gelap dengan sedikit cahaya kekuningan, sekarang ruangan itu menjadi putih terang.
“Ah, nggak asyik deh! Masa sedikit dipermainkan pikirannya langsung diblokir!” keluh sosok bayangan itu yang langsung menghilang tanpa meninggalkan jejak sedikit pun.
“Si–Siapa sebenarnya itu dan ... Ini di mana?”
Deny celingak-celinguk mencari arah, tetapi sama sekali tak menemukan apa yang dicari olehnya, sekarang dia hanya terduduk dalam keadaan pandangan kosong tanpa mengalami kepanikan ataupun suatu masalah lagi.
“Haaa ... Setidaknya ... Aku bisa tenang,” gumam Deny.
__ADS_1
Zzrrt~!
Tiba-tiba saja, ruangan itu dipenuhi oleh warna-warni yang berantakan layaknya televisi yang sedang dalam gangguan sinyal antena, kemudian muncul satu persatu gambar yang pernah dilihat oleh Deny.
“Itu 'kan saat aku bersama Gavin di kafe,” gumam Deny.
Kemudian, gambar-gambar memori itu terus saja berputar dan menunjukkan segala hal kepada Deny yang saat ini dalam keadaan putus asa tinggi.
“Ti–Tidak! Jangan gambar sialan itu!” teriak Deny yang langsung beranjak dan nampak memberontak dengan sikapnya.
Gambar yang ditampilkan adalah sebuah gambar seorang pria tersenyum ramah sembari merangkul pundak seorang pemuda berwajah ketus.
“Sial, ayah kurang ajar!”
Deny langsung datang menyerang ke arah gambar itu, tetapi sayang langkah demi langkah, gambar itu semakin menjauh hingga Deny merasakan lelah yang sangat besar.
Gambar itu kembali diganti, menampakkan sosok seorang wanita jatuh terduduk dengan derai air mata, kemudian ada sosok pria yang sedang melayangkan tangan besarnya ke arah pipi wanita tersebut.
“Anjing!”
Untuk ke sekian kalinya, gambar kembali tergantikan oleh suatu hal yang Deny sama sekali tak ingin lihat, bahkan menurutnya lebih baik mati daripada melihat gambar yang membuat amarahnya menjadi memuncak.
Sebuah gambar di mana seorang wanita terduduk dengan sorot mata kosong dan di tangannya terdapat sebotol minuman keras, sedangkan seorang pria melangkah pergi dan menjauh dari sana.
“AAAKKHH!!! BRENGSEK!!!”
Di tengah umpatannya yang semakin tak terkendali, ruangan yang berisi gambar raksasa perlahan runtuh dan mulai merangkai sebuah visual di mana tempat Deny berada sebenarnya, yaitu di ruangan perawatan rumah sakit pusat Aezak.
Di sana, seorang dokter menatap heran Deny yang tiba-tiba mengumpat tak jelas, tetapi pikiran dokter seakan paham bagaimana mental Deny yang sebenarnya.
“Nah, apakah Nak Deny sudah sadar saat ini?” ucap dokter yang pada tag namanya tertulis Bambang Subagyo.
Deny pun terdiam, dia mengerutkan dahinya dan mencoba mencerna segala macam ingatan yang terasa buram sejak sebuah permainan pikiran yang mampu membuat emosinya tak terkendali beberapa saat lalu.
__ADS_1
“Ah, Dokter Bambang, aku ... Aku baik-baik saja,” ucap Deny pelan.