Roleplay World Online (RWO)

Roleplay World Online (RWO)
Bab 40 – Hari Terakhir Kekuasaan Adiwiyata


__ADS_3

“Semuanya, besok adalah hari yang besar. Harta yang besar dari Adiwiyata harus kita ambil dan setengahnya bagikan kepada para Warga Biasa!” seru Gavin tanpa mengubah raut wajahnya sedikit pun.


Malam itu, di tempat rahasia Gavin dan kelompoknya, mereka berkumpul untuk merundingkan yang akan mereka lakukan tepat besok pukul 12.00 siang.


Ini adalah rencana yang sangat besar dan berdampak ke depannya, sebuah rencana menjatuhkan sang kapitalis yang haus akan uang dan kekuasaan, semuanya diambil semena-mena tanpa memedulikan Warga Biasa yang kehilangan profesinya.


Gavin menyadarinya, dirinya sudah bukan seperti dulu lagi yang biasa saja dan tak jarang suka tidak peduli terhadap orang lain, dengan perubahan dirinya inilah yang membuat rasa tak peduli itu mulai menjadi peduli, tetapi caranya pun menjadi semakin menjurus ke arah yang salah.


Meskipun begitu, Gavin merasa bahwa tak perlu memikirkan orang-orang kaya itu yang justru menyengsarakan orang-orang di bawah, dengan cara sedikit kasar maka semuanya bisa selesai.


Pemikiran yang terasa dangkal, tetapi dampaknya sangat signifikan daripada menunggu demi mencari orang-orang kaya yang benar-benar baik dan mau berbagi ke sesama.


Lebih baik mengincar orang-orang kaya gila uang itu dan segera menyediakan apa yang seharusnya orang-orang kelas bawah miliki tanpa mengemis ataupun meminta-minta dengan berlinang air mata.


Kepedulian sesama, dua kata selalu dibuang karena merasa tak perlu, tetapi kepedulian sesama lah yang sering membawa kita pada sebuah kemajuan dan juga kesuksesan diri.


“Emm ... Gavin, kira-kira rencana kita ini akan berhasil? Aku ... Aku ragu,” ucap Laksmana yang membuar Gavin menatapnya dengan sorot mata yang dingin dari balik lubang topengnya.


“Entahlah, Laks. Namun, semuanya akan bergerak sesuai apa yang aku prediksi. Setidaknya begitu,” jawab Gavin sambil melempar sebuah kunci mobil kepada Laksmana.


Laksmana pun berseru, “Baiklah, aku akan mengendarai. Kuharap ilmu yang diberikan oleh Gavin bisa berguna. Injak pedal gas dan ... Melampauinya!”


Laksmana dengan hati yang girang pun keluar dari ruangan perundingan, dia langsung pergi ke atas untuk melakukan beberapa hal tentang mobil yang diberikan oleh Gavin untuk dipakai dalam misi besok hari.


Sementara itu, sisanya, saat ini sedang menunggu beberapa pernyataan yang jelas mampu membimbing mereka ke arah yang benar demi misi ini selesai.


“Darwin, aku dengar kau menyukaiku? Sukai saja peluruku ketika masuk ke otakmu yang bodoh itu, masa pedang lawan pedang,” ucap Gavin sambil tersenyum sejenak yang kemudian kembali datar.


Darwin pun hanya bisa menunduk diam, yang lain mencoba untuk menghibur Darwin meski memang benar, penyuka sesama jenis wajib dimusnahkan karena mereka hanya akan menjadi kotoran di jalanan dengan pedang-pedangan mereka.


“Rita Kowalski, orang Rusia yang malang, jangan buat presidenmu dendam dan malah melempar nuklir ke Indonesia,” sindir Gavin sambil melempar sebuah gantungan kunci berbentuk roket yang mirip nuklir.

__ADS_1


“Heh, tidak. Namun, tergantung bagaimana Presiden Vladimir menganggap Indonesia, soalnya 250 warganya masuk ke dalam dunia ini dan dalam bahaya besar,” balas Rita dengan matanya yang mengedip genit.


Postur tubuh yang ideal dengan lekukannya mampu mengundang perhatian para pria yang sangat bajingan.


“Ah, lupakan. Masalahnya di sini adalah tidak ada orang yang tak bersalah, semuanya ... Semuanya pasti pernah bersalah, jadi ... Presidenmu saja pasti pernah bersalah, entah kepada siapa,” jelas Gavin sambil melempar senyuman tipis setipis tisu dibagi lima.


“Sudahi sesi curhat kalian, aku mau tidur!” seru Lucy, wanita dengan berkedok wanita karir, memakai namanya yang cukup besar di dunia bisnis.


Wanita berkebangsaan Amerika Serikat ini lebih berani daripada yang lain kepada Gavin, dia yang paling pertama direkrut oleh Gavin ke dalam perkumpulan para Kriminal tanpa arah yang hanya berbuat buruk demi kebaikan orang-orang kelas bawah, disebut oleh mereka sebagai The Smily, atau berarti Si Tersenyum.


Konteksnya bisa berarti senyuman mengerikan kepada orang-orang kalangan atas, kemudian senyuman hangat kepada orang-orang kalangan bawah.


“Rencana besok adalah hari terakhir Adiwiyata,” seru Gavin.


***


Pagi yang cerah membawa angin segar bagi banyak orang, terkecuali 9 orang yang saat ini sedang berkumpul dengan memakai topeng berwarna hitam dengan lubang untuk mata dan mulut yang tersenyum, salah seorang di antara mereka memakai topeng berwarna putih dengan lubang yang sama, tetapi ada sebuah bercak berwarna merah pada bagian bawah lubang mata.


Gavin menaiki tangga menuju permukaan, tepat ketika dinding yang berguna sebagai pintu rahasia itu terbuka, Laksmana sedang berdiri sembari menghisap sebatang rokok, juga memakai kemeja hitam yang lengannya digulung, serta memakai topeng hitam juga.


“Laks, mobil sudah selesai? Aku akan bersiap di rumah. Kau bersiap pukul 11.45 siang.”


Laksmana menganggukkan kepala, kemudian dia menuruni tangga ke bawah tanah meninggalkan Gavin yang sedang berdiri sembari menatap birunya langit dengan gumpalan awan menghiasinya.


“Deny, ini bakalan menjadi hari terakhir Adiwiyata, juga ... Menjadi hari yang berat bagimu dalam menegakkan yang namanya ‘Keadilan’.”


Gavin menuju luar gang, di sana, banyak orang yang menaruh atensi pada dirinya, yang membuat beberapa dari mereka bahkan menelepon pihak Pemburu untuk menangani orang misterius macam Gavin.


Gavin sendiri tak masalah, dia langsung masuk ke mobil sedan hitam dengan kaca gelap membuat dirinya tak terlihat dari luar.


“Oke, mari kita berpesta!”

__ADS_1


***


Pukul 11.40 siang di sebuah gedung tempat di mana Walikota Aezak, Adiwiyata berada sedang menikmati makan siangnya yang lebih cepat dari jadwalnya.


“Ah~ Lezatnya, uang rakyat itu nikmat!” gumam Adiwiyata dengan wajah yang berseri-seri.


Sementara itu, dia yang sedang menikmati segelas wine dikejutkan dengan pintu ruangannya yang terbuka dan menampakkan seorang pria berpakaian setelan jas dan memakai topeng berwarna putih.


“Siapa kau?!!” seru Adiwiyata.


Pria yang memasuki ruangannya secara tiba-tiba itu adalah Gavin Arsenio, lantas Gavin langsung datang menyerang ke arah Adiwiyata hingga keduanya jatuh saling tindih.


“Ugh! Kau!” Adiwiyata jelas marah, urat-urat di kepalanya menegang.


Gavin tetap diam, dia lantas melirik sebuah brankas sepanjang 2 meter, lebar 1 meter dan tinggi 3 meter sedang berada di samping lemari coklat pada bagian belakang kursi Adiwiyata.


“Kau ... Kau mau mengambil isinya? Silahkan! Silahkan! Nomor kodenya ... 0512ALDRA.”


“Bagus. Kalau begitu kau tidur terlebih dahulu seperti gerombolan penjagamu di luar sana!” ucap Gavin sambil menusukkan suntikan berisi cairan bius dengan dosis yang cukup tinggi.


Sementara itu, di luar ruangan, koridor ke arah kanan dan kiri dipenuhi tubuh tergeletak tak berdaya dalam kondisi tak sadarkan diri karena cairan bius yang sangat ampuh dari Gavin.


Gerakannya yang cepat,nyaris tak terdeteksi bahkan membuat penjaga kelas atas sekalipun harus lengah dalam sekejap.


Gavin saat ini sedang menatap tumpukan emas dan juga berlian di dalam brankas, jumlahnya sangat berlimpah dengan beberapa kartu buku tabungan yang jelas isinya sangat menggiurkan.


“Sial, benar-benar uang rakyat,” celetuk Gavin ketika membaca sebuah kertas atas anggaran yang diambil bahkan lebih dari setengahnya.


“Baiklah, ini adalah hari terakhir kekuasaan Adiwiyata setelah aku publikasikan!”


Pukul 12.00 siang, aksi sesungguhnya pun beredar, di mana media yang telah dimodifikasi oleh para anggota Kriminal The Smily, membuat sebuah berita menggemparkan di mana Adiwiyata selaku Walikota Aezak melakukan perampasan atau korupsi besar-besaran.

__ADS_1


__ADS_2