Roleplay World Online (RWO)

Roleplay World Online (RWO)
Bab 34 – Bertemu Gavin, Berbeda Pihak!


__ADS_3

Pagi yang cerah seperti kebanyakan orang-orang yang memulai hari dengan damai dan tenteram, tetapi tak sedikit juga yang masih menangisi satu persatu orang-orang yang menghilang dari kehidupan mereka karena Penghakiman Dunia kejam ini.


Saat ini, Deny berada di rumahnya, memilih untuk beristirahat selagi dirinya belum mendapatkan panggilan untuk bertugas, selagi ada waktu senggang maka manfaatkan dengan baik untuk memupuk rasa damai bagi diri sendiri, janganlah gila pekerjaan hingga lupa akan daratan.


“Hari ke-6 kalau nggak salah, rasanya sudah banyak yang berubah, aku bukan mau sombong, tetapi mentalku menjadi sedikit lebih baik dari waktu ke waktu.” Deny bermonolog sembari berkutat dengan ponselnya.


“Gavin sudah kutelepon berapa kalipun tetap tak diangkat, dia benar-benar berjalan di atas permukaan yang berduri dan pasti akan menggoyahkan kepribadiannya yang cenderung mudah beradaptasi.”


Deny saat ini menyesap kopi panas dengan tenang, hingga suara deru mesin dari luar rumah membuatnya terkejut dan langsung mengambil posisi waspada sambil melepas pengaman pistol miliknya.


Deny mengintip dari balik gorden, terlihat mobil sedan yang semalam membuat dirinya merasa canggung berkat NOS nya.


“Ah!”


Seorang pemuda turun dari kursi kemudi, rambut kecoklatan dengan sorot mata serius menatap ke arah Deny yang sedang mengintip, sorot mata biru menyala menambah kesan dingin dan juga misterius.


Pemuda yang memakai blazer sepanjang di bawah pinggang serta celana kain coklat yang menambah kesan bahwa dia seorang yang misterius dengan gaya jalan cukup tegas.


“Gavin?” gumam Deny, untuk kesekian kalinya dari sorot matanya menunjukkan rasa atensi yang amat besar kepada sosok pemuda yang saat ini sedang berjalan ke arah pintu rumah.


“Deny, aku tahu kau di dalam!” seru pemuda itu, dia adalah Gavin Arsenio.


Lantas Deny pun langsung menyimpan pistol dibalik sakunya kemudian membukakan pintunya dengan senyuman yang sedikit dipaksakan untuk mencoba ramah.


“Tidak perlu ramah, aku hanya berpamitan kepada sahabatku sebelum pergi ke Kota Garuda,” ucap Gavin seraya mengangkat pistol dari sakunya. “Salam perpisahan yang langsung!”

__ADS_1


“Eh! Vin ... Kenapa kau menjadi seperti ini?” tanya Deny dengan penasaran sembari memasukkan tangan kanannya ke saku untuk mencoba mempersiapkan pistolnya.


“Ya, aku tahu ini berat bagimu yang perdana masuk ke dunia ini, tapi sejak kau terluka, aku terlalu bodoh mendekatimu karena tentu sikapku yang seperti ini akan membahayakanmu!” ungkap Gavin sambil melangkah masuk dan menodongkan pistol ke arah Deny.


Deny mundur selangkah demi selangkah, dia juga mengeluarkan pistolnya dan menodong balik Gavin, keduanya benar-benar sangat serius hingga setetes keringat saja diperhatikan secara detail tanpa terlewat.


“Kau berubah, Vin, sangat berubah!”


“Ayolah, Bagaskara gila itu sudah membuat kita harus menghadapi gim yang seharusnya damai dan tenteram, sekarang malah bahaya kematian mutlak kapan saja bisa terjadi,” jelas Gavin. “Penghakiman Dunia juga harus dibarengin dengan perubahan sikap!”


Deny menggeleng kecewa, baru kali ini penghinaan atas dirinya secara terang-terangan oleh sahabatnya sendiri, semua hal yang benar-benar tak terpikirkan oleh otak kecilnya yang terasa masih sangat polos.


Gavin langsung duduk di sofa, sementara itu Deny masih berdiri dengan kedua tangannya memegang pistol dalam keadaan siaga, di depannya bisa dibilang sudah bukan sahabat yang baik dan sedikit tempramental, sekarang di depannya adalah seorang Kriminal.


“Mau nembak? Heh, masa anak mobil kalah semalam,” sindir Gavin sambil menyimpan pistolnya ke saku.


“Hahaha, Deny tetaplah Deny, ya. Setidaknya kau berada di pihak yang cukup baik, daripada aku disaat Penghakiman Dunia harus berada di pihak peran Kriminal macam ini,” ungkap Gavin dengan sorot mata lemahnya.


Deny pun terdiam, dia termenung cukup lama mencoba memikirkan kalimat penuh dari Gavin, memang menurut Deny, dirinya sangat beruntung berada di pihak yang di mata Warga Biasa sangat berjasa atas keamanan kota.


Sebaliknya, Gavin tentu akan dianggap kotoran oleh Warga Biasa, Kriminal yang wajib diinjak-injak oleh hukum dari para Pemburu, Kriminal juga kapan saja bisa mendapatkan ganjarannya meski tidak sepenuhnya salah.


“Yaa ... Kembali ke perspektif masing-masing, Vin, aku sekarang telah menjadi Pemburu yang nampaknya masih sulit menangkapmu, apalagi katamu kau mau ke Kota Garuda,” ucap Deny sambil mengambil kursi plastik dan duduk berhadapan dengan Gavin.


Gavin mengendikkan bahunya, menatap remeh kepada Deny sembari berkata, “Nantilah kapan-kapan kita tentu harus saling mencari, kita kali ini gencatan senjata, aku hanya mau pamitan dan kapan saja kita bertemu, kita adalah suatu hal yang berbeda, kau Pemburu dan aku ... Kriminal.”

__ADS_1


Deny berdiri kemudian meletakkan tangan kanan yang dikepal ke arah dadanya sembari berkata dengan lantang, “Sumpah Pemburu, saya akan menangkap setiap Kriminal yang nampak di depan visual!”


“Buku Pemburu yang kuno, visi dan misi yang terlalu monoton, maka dari itu saat Pengujian Beta aku malas pakai peran Pemburu yang terkesan terlalu datar, Kriminal cukup nyaman saat itu, tetapi sekarang ... Kriminal sama sekali tak nyaman!” jelas Gavin yang ikut berdiri.


Keduanya pun melangkah satu langkah, kemudian menganggukkan kepala secara serentak begitu tegas sambil saling meninju pelan dada masing-masing.


Dua kubu yang berbeda pihak, bertemu dalam satu waktu dengan sebuah visi dan misi yang tentu berbeda, pikiran rasionalitas akan membebani siapa saja jika seorang sahabat harus saling bermusuhan seperti ini.


Namun, Deny langsung berseru keras, “Jangan mati, Gavin, sebelum kau kutangkap!”


Gavin tersenyum remeh dan kemudian sedikit mendongakkan kepalanya dengan raut penuh kesombongan sambil berkata, “Yap! Aku jelas tak akan mati, setidaknya untuk sekarang. Mati secara fisik dan mental, itu ... Entahlah!”


“Heh, kalimatmu ambigu!”


“Mana Deny yang cepat tanggap?” celetuk Gavin yang kemudian melangkah pergi.


Ketika keduanya saling berdampingan, Gavin menepuk pelan pundak Deny sembari menghembuskan napas yang terlihat begitu berat. “Kita bertemu nanti, aku akan ke Kota Garuda mencoba mencari peruntungan di sana.”


Gavin pun pergi untuk kedua kalinya dari hadapan Deny, kali ini dengan kejelasan yang sangat jelas dan tentu tak akan membuat Deny merasa penasaran mengapa sekelas Gavin, anak yang berambisi menjadi dokter harus pergi meninggalkan sahabat satu-satunya.


Meski begitu, rasanya impian dokter itu akan sulit tercapai, tetapi Deny dengan cepat menggelengkan kepalanya dan mencoba untuk berpikir positif bahwa Gavin akan mencapai impiannya tersebut.


“Tetaplah hidup hingga akhir gim, jadi dokter yang berguna bagi Indonesia jika kita selamat dari Penghakiman Dunia ini,” seru Deny yang membuat Gavin sempat terhenti.


Gavin menoleh ke samping, menunjukkan senyuman ramahnya yang seolah kalimat Deny adalah hal yang memang harus dilakukannya agar para pasien yang terlantar hanya karena puluhan syarat pengobatan, dengan adanya impian Gavin menjadi dokter yang mengayomi masyarakat.

__ADS_1


“Sampai jumpa nanti, disaat ... Kita berdua berhadapan sebagai musuh,” ungkap Gavin dengan raut wajah serius.


Begitupun Deny yang menanggapinya demikian. “Ya! Aku menunggunya!”


__ADS_2