
Di sebuah rumah yang cukup kecil, tetapi masih lumayan terasa nyaman untuk ditinggali, seorang pemuda sedang asyik menyeruput secangkir teh hangat di pagi hari yang justru tak terlalu damai baginya.
Deny, dia harus menjadi seorang pemuda yang harus menyisihkan kemanusiaannya demi hidupnya yang damai, semua itu terjadi sejak dirinya masuk ke dalam dunia yang begitu berat ini.
“Ah ... Setidaknya aku masih bisa minum secangkir teh, kemungkinan besok adalah hari yang berat, aku jelas harus menerima tawaran Walikota Adiwiyata untuk hidup yang damai.”
“Menggulingkan Pemburu Veteran Jimmy dari kursi Kepala Pemburu Kota Aezak itu sulit, aku harus mencoba segala cara, setidaknya ... Sampai hidupku terasa damai.”
Deny beranjak menuju dapur, di sana dia duduk tenang dengan memikirkan berbagai macam hal yang akan terjadi ke depannya. Seorang lelaki itu kebanyakan akan berpikir 10 kali ke depan, tergantung kesiapan mereka, berbeda dengan seorang wanita yang tak sedikit terkadang hanya berpikir untuk hari esok saja.
Sekarang, Deny sedang berkutat dengan ponselnya, mencoba untuk mencari segala informasi yang bisa didapatkannya hanya dari laman internet, kebanyakan isinya hanya keluh kesah dari orang-orang yang sedang mencoba beradaptasi.
***
Hari demi hari, Deny menjalani harinya cukup damai setelah dirinya menerima tawaran dari Walikota Adiwiyata, sekarang dia tinggal di apartemen yang cukup besar sekitar 2 hari sejak dirinya yang ragu saat itu.
Deny tentu cukup nyaman menjalani harinya yang lumayan damai, tentu tak sedamai apa yang dipikirkannya, setidaknya dia masih merasa bahagia menyelesaikan tugas-tugas Pemburu sembari juga terus mengawasi pergerakan Pemburu Veteran Jimmy.
Sekitar sehari lalu ada sebuah bencana dari kota sebelah, yaitu Kota Garuda, katanya ada sebuah ledakan besar yang meluluhlantakkan seisi kota rata dengan tanah.
Anggota-anggota pemerintah kota beserta beberapa Pemburu sempat ke perbatasan untuk melihat betapa dahsyatnya ledakan yang diakibatkan oleh sebuah hal yang tak diketahui.
Meski begitu, beberapa jam sebelumnya, terjadi kerusuhan yang sangat besar hingga banyak Warga Biasa serta Pemburu dan juga Kriminal kehilangan nyawanya dalam sekejap.
Deny yang sehari sejak menerima tawaran dari Walikota Adiwiyata pun lumayan terkejut karena kejadian luar biasa ini terjadi ketika dirinya sedang bekerja sama dengan Walikota Adiwiyata.
“Haaa ... Seharusnya ini menjadi hari yang damai, tapi ... Sepertinya para Pemburu akan dipanggil untuk menangani di perbatasan, setidaknya itu kabar yang kuketahui,” ucap Nanda yang saat ini sedang duduk santai di sofa ruang tengah Deny.
Deny hanya melipat kedua tangannya ke depan dada, dia berpose dengan raut wajah yang cukup kebingungan karena dirinya merasa ada yang janggal dengan ledakan besar yang mampu meratakan sebuah kota besar dalam sekejap.
Bahkan getarannya sempat terasa meski kecil dan juga akan sulit dirasakan oleh orang yang inderanya kurang peka.
__ADS_1
“Kau selama seharian ke belakang tidak banyak bicara, perilakumu juga berbeda, apa yang terjadi sejak kau bertemu Walikota Aezak, Pak Adiwiyata?” Nanda tentu penasaran akan hal ini.
Deny pun berbalik dan langsung menuju ruangan dapur yang dipisahkan oleh sekat pembatas antara ruang tengah dan juga ruangan dapur.
“Iish! Kita 'kan sudah menjadi teman dan juga rekan kerja sesama instansi, masa kau menjauhi pertanyaanku!” Nanda cemberut, baru kali ini dia sedikit dicampakkan oleh seorang lelaki.
“Nantilah, aku masih belum siap, dan juga sepertinya berbahaya untuk saat ini jika aku memberitahumu,” ungkap Deny sambil meracik beberapa minuman menyehatkan.
Deny memilih untuk diam, lagipula cara yang disarankan oleh Walikota Adiwiyata adalah membunuh Jimmy tanpa diketahui, itu terasa sangat berat.
Sehari yang lalu.
Deny berada di sebuah ruangan yang kedua kalinya dia masuki, seorang pria bertubuh cukup besar sedang menantikan keputusan apa yang Deny akan terima.
“Aku menerima tawaranmu, tetapi aku butuh saran,” ucap Deny sambil melirik sebuah koper uang yang sangat penuh sedang terbuka dan mampu menggiurkan baginya.
“Hoho~ Begitu, ya. Oke kalau begitu, kusarankan kau membunuh Jimmy tanpa diketahui,” jelas Adiwiyata sambil menyodorkan sekoper penuh uang pecahan Rp 100.000.
“Ya, setidaknya 250 juta sudah di tangan, nanti kalau berhasil, akan 8 kali lipat!”
“Oke!” Deny tanpa ragu mengiyakan pernyataan dari Adiwiyata yang membuat pria itu tersenyum menyeringai.
Kembali ke masa sekarang, saat ini Deny sedang menunggu saat yang tepat untuk menjalani aksinya yang terbilang untuk pertama kali baginya ikut dalam arus gelap sebuah kekuasaan sehingga kapan saja bisa membahayakan dirinya oleh sang target.
Dua hari kemudian, Deny yang sedang asyik duduk santai di balkon kamarnya, mendapatkan panggilan dari nomor tak dikenal, dia mengangkatnya dan mendapatkan perintah untuk menjalankan kudeta kekuasaan terhadap Pemburu Veteran Jimmy.
Disaat ketika seorang tersangka melarikan diri, itu adalah kabar yang tepat, melihat dari kinerja Jimmy yang menurun sehingga dengan mudahnya menggiring opini publik ke arah yang buruk kepada Jimmy.
“O–Oke,” jawab Deny dari panggilan telepon.
Dia pun menyalakan laptopnya yang ada di meja dan segera melakukan perilisan berita yang tentu akan menggemparkan publik Kota Aezak karena kinerja Jimmy sangat buruk dalam menangani tersangka kasus pembunuhan empat orang di sebuah rumah yang familier bagi Deny.
__ADS_1
“Jangan-jangan ... Gavin?!”
Deny menggelengkan kepalanya, dia pun bergumam, “Okelah, itu jalan yang kau pilih, Vin. Aku juga akan menjalani jalan takdirku, yaitu sebagai Pemburu yang kuat.”
Dengan merilis berita, sontak opini publik terhadap Jimmy akan jatuh drastis dan berujung ketidaknyamanan Warga Biasa untuk terus menjadikan Jimmy sebagai Kepala Pemburu Kota Aezak.
Deny pun memilih untuk berangkat ke gedung di mana Walikota Aezak, Adiwiyata sedang berdiam diri menunggu hasil yang diberikan oleh Deny.
Sekitar sejam melajukan mobilnya di jalanan yang padat merayap, akhirnya Deny sampai juga di rumah dinas Walikota Adiwiyata yang saat ini sedang dijaga cukup ketat.
“Wah, itu ... Cepat juga Pemburu Jimmy bergerak,” ucap Deny ketika melihat mobil yang biasa dipakai oleh Pemburu Veteran Jimmy dalam kesehariannya.
Deny pun buru-buru memasuki gedung yang dalam penjagaan ketat dari para pengawal Walikota Adiwiyata, sesampainya di suatu ruangan, Deny mendengar kalimat dengan nada yang cukup panik.
“... Jangan sampai terbongkar ke publik, kita sendiri akan habis di dunia ini dan juga dunia luar!”
Deny pun masuk setelah diberikan pipa besi oleh seorang pengawal Adiwiyata, dia masuk dan langsung menghantamkan pipa besi itu ke tengkuk Jimmy hingga Jimmy jatuh tersungkur tak sadarkan diri.
“Kamu, saya promosikan menjadi Kepala Pemburu Kota Aezak di usia yang ke-18 tahun!”
‘Sebenarnya aku tidak ingin itu, tetapi kenapa tidak,’ batin Deny.
Deny pun melangkah pergi dengan raut wajah yang begitu serius, itu karena dirinya telah menerima Informasi bahwa tersangka yang saat ini sedang berada di rumah sakit dalam penanganan mental yang berat.
“Gavin Arsenio, entah bagaimana pertemuan kita, tapi ingatlah, kita berbeda kubu dan jelas meskipun kau temanku, tak ada kata maaf kepada seorang Kriminal,” ucap Deny dengan tekanan yang begitu besar.
Inilah dunia yang tercipta karena sebuah ambisi gila dari Bagaskara, sementara itu, dua sahabat sedang meniti takdirnya ke jalan yang lebih jauh dan kelak akan bertemu dengan dua sikap yang berbeda dan tentu saling berlawanan.
...----------------...
Akan datang ... Bab 38 – perseteruan Besar Organisasi [Fase 03 Dimulai]
__ADS_1