Roleplay World Online (RWO)

Roleplay World Online (RWO)
Bab 41 – Konfrontasi Dua Daredevil


__ADS_3

“Uang yang menggiurkan, tetapi setengahnya jelas untuk para Warga Biasa yang diperas uangnya karena si brengsek Adiwiyata ini. Setidaknya aku membantu mereka sebelum pria paling brengsek akan kuhadapi, yaitu Bagaskara nantinya!”


Pemikiran bagi sebagian orang adalah untuk apa membantu seorang yang bahkan bukan bagian dari keluarganya, tetapi bagi Gavin, semua Warga Biasa kalangan bawah adalah keluarga yang harus dibantu olehnya demi mendapatkan sedikit aliansi.


Cara yang licik, para Warga Biasa akan menganggap balas budi dan membantu Gavin jika sewaktu-waktu Gavin dalam bahaya besar, pertukaran yang baik dan membuat keuntungan hingga ke depannya.


“Nah, Adiwiyata ... Sekarang apa yang harus kulakukan?” gumam Gavin.


Tak! Tak! Tak!


Suara langkah sepatu yang keras terdengar, sangat cepat hingga Gavin nyaris tak bereaksi. Gavin sempat bersembunyi di balik meja kerja Adiwiyata yang lumayan tinggi sembari mengintip sejenak.


“Heh!” Gavin menyadari bahwa yang masuk ke ruangan bukan orang asing, melainkan hanyalah Laksmana yang tersenyum lebar.


“Gimana? Mobil di bawah sudah siap?” tanya Gavin sambil menenteng tas yang lumayan berat.


Srak!


Tanpa aba-aba, Gavin melempar tas itu ke arah Laksmana hingga pemuda malang itu jatuh tertindih uang dan beberapa logam emas, bahkan Poin Kriminalnya lumayan banyak berkurang.


“Ka–Kau mau membuatku mati?” keluh Laksmana yang segera menyingkirkan tas berisi harta Adiwiyata tersebut.


“Nggak tuh, ya sudah kau yang bawa itu dan aku tetap di sini sebentar, menunggu seseorang yang sangat spesial,” jelas Gavin sambil mengambil sebatang rokok dan dinyalakannya menggunakan pemantik api.


“Awas kanker paru-paru,” celetuk Laksmana yang kemudian berbalik.


Sebelum menghilang di balik tembok, Gavin dengan tepat sasaran melempar kepala Laksmana dengan sebuah pena yang berada di atas meja kerja Adiwiyata.


“Duh!” Laksmana hanya sedikit mengeluh dan langsung pergi dengan menggerutu kesal.


Gavin sendiri merasa itu kejadian yang lumayan lucu, tetapi rasanya sangat sulit untuk membuat respons dari otak hingga mengubah gestur wajah, terlalu monoton dan datar, itulah Gavin yang sekarang.

__ADS_1


Cukup lama menunggu, akhirnya orang yang ditunggu datang dengan memakai kemeja putih lengan panjang yang digulung serta celana hitam panjang, rambutnya yang acak-acakan menambah kesan ketampanan yang tak akan pernah pudar, apalagi dengan postur tubuh ideal.


“Ah, kau Gavin! Kenapa sih main-main terus dengan kejahatan? Setidaknya kau mengurung diri dan–”


“Dan mati? Ayolah Deny, peraturan dasar dunia baru ini adalah kerja lah sesuai peranmu dan jangan sampai kehilangan Poin hanya karena menganggur, sekalinya menganggur, maka Poinmu akan berkurang dan ... Bisa saja mati,” jelas Gavin sambil menjatuhkan rokoknya dan diinjak olehnya.


“Begitu, ya?”


Gavin dan Deny maju secara bersamaan, sementara di koridor depan ruangan Adiwiyata telah dipenuhi tim Pemburu bersenjata lengkap yang kapan saja akan menggerebek Gavin.


“Menyerah aja, Vin. Di luar sudah dikepung, daripada membahayakan nyawamu, yakan?” ucap Deny mencoba untuk memberikan keringanan bagi Gavin yang mulai kehilangan jalannya.


Gavin mengendikkan bahunya, dia memutar mata malasnya dan segera berbalik menuju kaca besar yang berada di belakang meja kerja Adiwiyata.


“Gavin ... Ayolah, paling beberapa minggu aja di dalam penjara,” ucap Deny untuk kesekian kalinya mencoba membujuk Gavin.


“Itu tergantung, pasal yang kutahu adalah bahwa sekalinya aku pernah membunuh orang, maka hukuman mati datang!” balas Gavin dengan penuh senyuman mengejek.


“Se–Sejak kapan?” Deny nampak terkejut karena peraturan yang baru beberapa hari disahkan itu tiba-tiba diketahui oleh Gavin.


Deny pun menggertak, “Kau! Ayolah, Vin, kembali ke asalmu! Pemuda yang bersemangat dan penuh kasih sayang!”


“Aku masih penuh kasih sayang, kok. Uang itu akan disebarluaskan kepada Warga Biasa yang kehilangan profesi utama mereka dan menjadi gelandangan karena keserakahan Adiwiyata selama dua minggu penuh ini. Baru dua minggu sudah banyak orang yang kelaparan dan ... Mati!”


Deny tentu merasa sangat tak percaya dengan penjelasan Gavin, tetapi satu hal yang diketahuinya sejak dahulu adalah sekalinya Gavin menjelaskan panjang lebar, maka itulah faktanya dan tak akan bisa dibantah lagi kebenarannya.


Gavin berbalik dan melihat wajah kebingungan Deny, dua pemuda ini saling tatap dengan sorot mata yang begitu tenang di tengah tekanan hidup yang berbeda.


“Daredevil, itu kata yang pernah diucapkan oleh Pak Agus satpam SMA kita, sebuah kata yang berarti secara harfiah adalah orang yang pemberani dan bahkan tak takut akan kematian, itu adalah aku sekarang yang benar-benar terjadi dan juga kau,” jelas Gavin.


“Baiklah, terlalu banyak dialog akan membuat situasi ini menjadi semakin tegang, bagaimana kalau olahraga sedikit, gimana kalau sesama sabuk hitam seni bela diri campuran?” Deny langsung mengambil kuda-kuda dengan tegas.

__ADS_1


Gavin pun demikian, kakinya menapak sangat kuat, kedua tangannya berada di depan wajah dengan pose menantang yang jelas membuat Deny merasa terprovokasi.


Lantas keduanya pun maju dengan cepat, Gavin melompati meja kerja Adiwiyata dan langsung melayangkan tendangan vertikal dari atas, hantaman keras langsung terdengar ketika kakinya menapak lantai.


Deny sempat menghindar ke samping yang kemudian melayangkan sebuah ayunan kaki secara alami ke arah kepala Gavin.


Gavin jelas tak akan mau kalah, dia memaksa dirinya untuk segera bangkit dan langsung menghadang jalur serangan menggunakan tangannya dan melesatkan tangan satunya secara lurus ke depan.


Gerakan itu begitu alami, Konfrontasi keduanya pun menjadi tontonan bagi para Pemburu yang telah berada di depan pintu dan terus menikmati indahnya seni bela diri campuran yang diperagakan oleh Gavin maupun Deny.


Gavin dan Deny mundur ke belakang secara serentak, yang kemudian Deny kembali melesat dengan langkah yang besar, sebelum sebuah hantaman tepat di dagunya langsung membuatnya terlempar ke belakang.


Gavin melompat dan melakukan gerakan akrobatik yang membuat ayunan kakinya langsung mengenai telak dagu dari Deny, kemudian mendaratkannya dengan baik dan mengambil ancang-ancang untuk kembali menyerang.


Para Pemburu yang melihat Deny telah jatuh pun tak tinggal diam, mereka mencoba langsung menodongkan senjata api ke arah Gavin yang tentu sedikit terdiam dengan helaan napas lelah.


“Jangan, ini antara tangan dan tangan!” seru Deny yang mencoba berdiri dengan susah payah, kepalanya terasa pusing.


Deny mengambil napas panjang kemudian dihembuskannya, lantas langsung berlari lurus ke depan dengan kedua tangan yang bersiap, gerakannya sporadis dan terasa akan sangat berbahaya bila mengenai telak targetnya.


Gavin tak tinggal diam, dia berputar secara cepat dan langsung menunduk, memberikan gerakan ayunan kaki di atas lantai, hingga Deny yang telah berlari cepat harus terpelanting ke samping karena kakinya dijegal dengan rapi.


Gavin pun menindih tubuh Deny dan menodongkan kepalan tangan ke arah wajah Deny.


“Jadi ... Aku menang?”


“Selalu saja! Selalu saja gerakan itu membuatku lengah, memang kurang ajar kau!” keluh Deny sambil memberi kode bahwa dirinya tak apa-apa kepada para Pemburu.


“Nah, aku mau menyerahkan diri.”


Kalimat yang justru meruntuhkan kepercayaan diri Deny dan para Pemburu, itu karena musuh mereka dengan mudahnya menyerahkan diri dan tanpa perlawanan yang membuat mereka terlihat gagah dan berani ketika meringkus sang target.

__ADS_1


“Tapi ...”


Crang!


__ADS_2