
“Sepakat!”
Di sebuah ruangan bawah tanah yang terkesan mewah dan futuristik, sebuah kesepakatan yang akan membawa dampak sangat besar bagi perekonomian Kota Aezak.
200 miliar ada di tangan pemuda berusia 18 tahun, terasa sangat mudah, hanya saja tentu konsekuensi ke depannya adalah sebuah pertimbangan yang benar-benar tak akan pernah terpikirkan oleh siapapun.
“Itu adalah hanya beberapa persen dari harta Kota Aezak, kira-kira kau mau buat apa?” tanya Theo sambil mengelus-elus sebuah berlian sebesar kelereng.
“Setidaknya mampu mengubah pola hidup ‘mereka’.” Hanya sebuah kalimat tersebut, Gavin membuat Theo merasa bahwa dirinya sudah tak perlu mengurusi urusan anak muda sekelas Gavin, sudah terlalu tua baginya.
Theo hanya mengangguk ringan, dia kemudian segera mengajak semuanya untuk segera keluar dari ruangan itu, tak ada yang boleh menetap bahkan hanya untuk sehelai rambut pun dari orang asing selain sang pemiliknya.
“Hei, Lucy. Kira-kira Si Tua Theo ini dapatkan uang dari mana?” bisik Ferry kepada Lucy.
Sementara itu, Theo sempat mendengar bisikan itu hanya tersenyum, dia memilih diam hanya untuk mendengar jawaban Lucy yang menurutnya akan masuk akal dari sebuah pemikiran wanita.
“Jaga lilin?” Tanpa merasa salah, Lucy dengan lugasnya mengungkap dua kata tersebut.
“Heh! Kau dapat kata itu dari mana?!” seru Gavin yang tiba-tiba merasa bahwa dirinya semakin terjerumus kepada keanehan rekan-rekannya.
“Katanya orang-orang Indonesia gitu, tapi entahlah,” jawab Lucy.
Theo hanya bisa menahan tawa, dirinya sangat tak percaya bahwa pemikiran wanita itu sangat tak masuk akal, dia berpikir akan masuk akal, tetapi malah sebaliknya.
“Saya asli Britania Raya, meski ada sedikit ... Sedikit saja bumbu keragaman Indonesia, tetapi jaga lilin itu bahkan tak terlalu aku mengerti,” ucap Theo sambil terus melangkah menaiki tangga.
Pintu menuju ke aroma luar ruangan pun terbuka, sekarang, Gavin beserta dua rekannya pergi dari sana meninggalkan Theo seorang diri menikmati hasil pertukaran setimpalnya.
“Hemm ... Setidaknya aku bisa lelang di pasar gelap dan dapat keuntungan 20 hingga 30 miliar lebih,” gumam Theo sambil menatap koper yang berada di tangannya, kemudian kembali fokus kepada Gavin dan dua rekannya yang memasuki sebuah helikopter.
“Gavin ... Kau sudah terlalu parah, anak muda sepertimu sungguh disayangkan kehilangan masa-masa keemasan di bangku sekolah.” Theo hanya bisa melontarkan kalimat tersebut tanpa bisa berbuat banyak, dia sendiri terkekang dalam peran Kriminal miliknya.
__ADS_1
Dunia telah berubah, teknologi yang harusnya mampu dimanfaatkan banyak orang malah menjadi sebuah marabahaya besar dan bahkan dapat memicu perseteruan besar antar negara jika konflik ini terus berlangsung dan negara itu juga terus kehilangan warganya.
***
Malam hari di sebuah ruangan yang hanya mengandalkan pencahayaan lampu oranye dengan kapasitas 5 Watt saja.
Di sana, berkumpul 10 orang yang sedang duduk dalam keadaan berdiam diri, salah seorang di antaranya sedang terus menyisihkan setiap lembaran uang.
“Gavin, sebenarnya satu yang membuatku penasaran, tujuanmu membentuk kelompok ini apa?” Rita tampak penasaran, dia seorang wanita dewasa yang telah melewati wajib militer di dunia luar tentu penasaran.
Gavin yang sedang sibuk sendiri pun terdiam, hingga dia lantas melontarkan sebuah kalimat penuh makna. “Aku hanya pemuda biasa dengan hati yang kosong, tujuanku hanyalah ingin mencari kekosongan itu.”
“Heh! Su–Sudahi dulu, ada ... Ada orang misterius di depan pintu rahasia kita, sedang mencoba membukanya!” seru Laksmana yanh yang saat ini sedang menatap laptop miliknya, menunjukkan rekaman dari kamera pengawas secara waktu nyata.
Mereka semua pun langsung berdiri, menyiapkan senjata api masing-masing, Gavin dengan revolver berkaliber besar yang mampu meledakkan kepala dalam sekali tembakan saja, sangat brutal dan tentu tanpa ampun.
Sisanya, mereka hanya menyimpan pistol dengan kaliber kecil, tetapi tentu masih sangat berbahaya jika mengenai langsung titik vital.
Mereka maju secara perlahan, Laksmana dengan perangkat keras portabelnya terus mengawasi orang misterius itu yang telah membuka pintu rahasia mereka, lantas Gavin pun yang telah gatal ini memergoki langsung berlari.
Dengan cekatan, Gavin benar-benar cepat dan mampu bermanuver di lorong yang sempit, hingga tangga menuju ke permukaan telah terlihat dan juga orang misterius yang sedang berdiri dalam keadaan siaga.
“Siapa di sana?!” seru Gavin sembari menodongkan pistolnya.
Tak ada jawaban, tanpa ampun, Gavin langsung menarik pelatuk pistolnya dan melemparkan proyektil peluru berkecepatan tinggi langsung menghunjam tangan orang misterius itu.
Erangan kesakitan menggema di lorong lembap tersebut, orang misterius itu justru tak bergeming, tak berpindah dari tempatnya seperti sedang menyetor nyawanya ke hadapan malaikat pencabut nyawa, atau bisa dibilang perantaranya adalah Gavin sendiri.
“Cari mati!”
Dor!
__ADS_1
Tembakan kedua menggema, desingan peluru itu membelah udara dan langsung menghunjam kaki orang misterius itu hingga dia terjatuh sembari terus mengerang kesakitan.
Aroma amis darah mulai masuk ke dalam indera penciuman, mampu menambah adrenalin bagi Gavin dan juga rekan-rekannya yang telah terdiam mengamati Gavin dan juga orang misterius tersebut.
Gavin mendekatinya, menunjukkan seorang dengan setengah wajah dari orang misterius itu nampak terlihat seperti bekas luka bakar parah, bahkan dagingnya yang meleleh terlihat jelas, bola mata yang bulat itu seakan hendak lepas dari tempatnya.
“To–Tolong ... Bunuh ... Bunuh saja ... A–Aku,” ucap orang misterius mengerikan itu, dia bahkan memeluk kaki Gavin dan sedang meminta pembunuhan secara sepihak.
“Gavin! Jangan!” seru Laksmana dari belakang ketika Gavin hendak mengangkat moncong pistolnya ke arah dahi orang misterius tersebut.
“BUNUH AKU!!!”
Dor!
Burung gagak yang hinggap di kabel listrik beterbangan, bersuara yang memekakkan telinga, lolongan anjing malam mampu menambah suasana semakin mencekam dengan asap bekas tembakan itu yang telah menghilang secara perlahan.
Sementara itu, orang misterius itu telah jatuh terkapar dengan kepala yang pecah dan menghamburkan isinya keluar, cipratan darahnya mengenai wajah Gavin, menunjukkan wajahnya yang dingin dengan sorot mata birunya mampu mengguncang kejiwaan rekan-rekannya.
“Dia memintanya,” ucap Gavin tanpa merasa bersalah.
“Tidak, masalahnya itu adalah dia mencurigakan, mampu membuka pintu kita dan juga luka bakarnya yang mengerikan itu! Kau ... Benar-benar tidak rasional!” seru Laksmana yang langsung berbalik masuk.
“Sebenarnya Laks benar, tapi ... Entahlah,” timpal Ferry yang juga segera berbalik dan masuk kembali ke tempat persembunyian.
“Kau terasa berbeda, Gavin,” ucap Yosica yang sebelumnya dia yang paling sedikit berbicara.
Semuanya pun hanya bisa menatap antara kecewa dan juga linglung kepada Gavin, entah mengapa satu hal yang pasti adalah Gavin kembali berubah lagi kepribadiannya, sekarang dia lebih bertindak impulsif atau sikap ketika seseorang melakukan sesuatu tanpa memikirkan akibatnya.
“Tenangkan dirimu, Gavin,” ucap Kusuma, dan dia adalah yang paling terakhir meninggalkan Gavin untuk kembali masuk ke dalam persembunyian.
Gavin mendongakkan kepalanya, menatap bulan yang begitu indah di matanya, bulan dengan bentuk bulat sempurna serta memiliki warna cenderung kebiru-biruan, ini adalah fenomena yang cukup langka baik di dunia maya maupun dunia nyata.
__ADS_1
“Haaaa ….”