
Malam yang begitu dingin di Kota Aezak, orang-orang lebih memilih untuk berlindung di bawah atap ditambah menggulung ria dibalik selimut yang begitu tebal.
Tanpa sadar dari mereka, tiga hari sejak kejadian Penghakiman Dunia, orang-orang ini mulai memahami apa yang harus dilakukan di dunia yang nyaris menyerupai dunia luar tersebut.
Waktu terus berjalan, dan tak terasa fajar telah terbit membuat orang-orang yang berkurung di balik selimut mulai tersadar dan menjalani kehidupan yang menurut mereka sedikit lebih damai daripada di dunia luar yang menyibukkan pemimpin negara yang berurusan dengan empat periode.
Kegilaan dunia luar, ketika di dunia dalam ini, mereka langsung melupakan apapun itu dan menjalaninya demi mendapatkan pencapaian atas diri mereka sendiri.
Menyelesaikan dunia ini? Menurut mereka sangat sulit karena mereka tak bisa ambil hak sendiri atas kehidupan seseorang, maka berjalannya dunia sesuai apa yang terus terjadi bagai air yang mengalir tenang dari pegunungan ke hulu sungai.
Sementara itu, di pagi yang cerah ini, Deny terbangun dari tidurnya di rumah tempat dirinya kehilangan kesadaran, rumah di mana kejadian yang membuat Gavin memilih berpisah dari Deny.
Semuanya tentu berawal dari hal kecil ini, dan terus membesar bagaimana caranya dan prosesnya. Tak ada yang tahu perjalanan takdir seseorang itu sampai di mana atau bagaimana berjalan.
“Hoaaam~ Kemarin benar-benar hari yang berat.” Deny meregangkan tubuhnya.
Sorot matanya berubah, sekarang sorot matanya lebih cerah dan penuh tekad yang berapi-api, padahal kemarin dirinya merasa telah jatuh dari tangga yang dinaiki olehnya dengan susah payah.
Sekarang, Deny adalah pemuda yang mencoba untuk mendewasakan fisik dan mentalnya demi bisa menjalani kehidupan yang penuh cobaan tersebut.
“Gavin, kuharap kita bertemu dengan damai, aksimu kemarin juga sepertinya harus kusimpan dengan baik. Rasanya aku tak bisa mengkhianati kepercayaan teman sendiri, tapi ...” gumam Deny sambil menyesap secangkir kopi. “Setidaknya itu yang sekarang aku lakukan.”
Deny beranjak dan membuka pakaiannya, menunjukkan lekuk tubuh yang biasa saja dengan beberapa bekas luka sayatan dan juga luka lebam yang tak akan bisa menghilang.
“Ah, padahal sebelumnya aku membuat karakter tanpa masa lalu itu, tapi sejak Penghakiman Dunia, tubuhku adalah sebuah kenyataan pahit yang telah terjadi.”
***
Ngiiing~!
Pintu besi terbuka dengan beragam fitur yang bersuara cukup nyaring dan membuat kebisingan. Beberapa kelompok keluar dengan berpakaian jas lengkap, berbaris rapi dan keluar dengan langkah yang tegas.
__ADS_1
“Hari ini, Markas Pusat Pemburu Aezak sedang siaga!”
Saat itu, Deny yang baru saja masuk dari pintu lobi, pandangannya langsung terpaku ke arah sisi kanan di mana pintu besi itu terbuka dan menampakkan sekelompok pria berpakaian jas lengkap.
Deny yang penasaran mendekati meja resepsionis di mana Nanda sedang merapikan beberapa berkas di atas meja dengan raut wajah khawatir dan begitu tergesa-gesa.
“Hei, ada apa nih?” tanya Deny yang menyandarkan tubuhnya ke meja resepsionis.
“Ah, Deny, kau datang juga, para Pemburu pemula berkumpul ke belakang gedung, di sana–”
“Sini Lu, Anak Bawang!!!”
Deny ditarik dengan kasar, hingga dia terjatuh dan mencoba memberontak, beranjak kemudian menatap sengit siapa yang menariknya tiba-tiba disaat dirinya masih berbincang bersama Nanda.
Dia adalah seorang pria dengan tatapan ganasnya, mata kanannya sendiri ada garis vertikal seperti bekas luka, seluruh kedua tangannya penuh bekas luka bergaris yang akan sulit hilang.
Deny pun mundur selangkah, secara tak langsung dia dalam keadaan ragu yang sangat tinggi, siapa yang tak terkejut dengan tampang preman pria tersebut.
“EH, LU NGIKUT AJA, BANGSAT!!!”
Deny hanya bisa terdiam, baru kali ini dia dihardik sangat kasar oleh seorang yang harusnya dihormatui olehnya, matanya bergetar ketakutan, sementara dari arah belakang Nanda datang dan langsung maju di depan Deny.
“Heh, Rico, aku tahu kamu adalah Pemburu Veteran dari Pengujian Beta, tapi nggak gini juga, kamu sebagai Pemburu harus punya hati nurani lah!”
“Heh, gadis jala**!!! Lu nggak usah urusin hidup Gua, intinya Pemburu pemula macam dia harus ikutin apa kataku!”
Nanda terdiam, matanya mulai berkaca-kaca hingga tanpa sadar dia langsung berlari meninggalkan tempat itu yang perlahan semakin ramai karena perdebatan antara Deny serta Rico.
“Hei, anda terlalu keterlaluan, saya ... Saya mencoba untuk sopan, tapi anda itu benar-benar pria paling bajingan deh!”
Pria yang menghalangi Rico hanya bisa berdecak kesal, sementara tubuhnya langsung dihantam ke samping hingga terjatuh oleh Rico yang saat ini datang menyergah Deny.
__ADS_1
Keduanya saling berdekatan, bertatapan begitu sengit hingga aura dingin menyeruak di sekitarnya. Perasaan dingin dengan dipenuhi amarah sangat terasa hingga orang-orang tanpa sadar memegang tengkuk mereka.
“Asal Lu tahu! Gua anak pejabat pajak, apa mau Lu?!”
Deny tanpa sadar membuang ludahnya ke samping, wajahnya menatap remeh Rico yang begitu menyombongkan dirinya di depan banyak orang.
“Anak pejabat pajak? Kau berusia berapa tahun?” tanya Deny mencoba untuk menahan amarahnya.
“23 tahun! Apa Lu, hah?!”
Duakh~!
Suara yang sangat renyah, membuat semua orang mengernyitkan dahi mereka tanpa sadar, hingga keterkejutan mereka ketika Rico jatuh tersungkur sembari memegangi perutnya dengan kesakitan.
“Di sini adalah kota yang tak menganggap orangtuamu berkuasa, anak pejabat pajak gila!” bisik Deny di samping telinga Rico.
“Oke, aku mau berkumpul ke belakang gedung, jadi ... Ada yang mau bertanya?” ucap Deny sambil meregangkan kedua lengannya dan membunyikan jari-jemarinya.
Orang-orang perlahan mundur dan langsung membubarkan diri, mereka tak ingin berurusan dengan perseteruan keduanya yang bisa saja dapat mengundang masalah yang lebih besar.
Deny pergi meninggalkan Rico yang masih tersungkur meringis kesakitan, sementara itu orang-orang lainnya yang menonton perseteruan tersebut langsung pergi dan tak ingin mengurus Rico yang saat ini terlihat sangat marah dari raut wajahnya.
***
Di belakang gedung, para Pemburu yang baru mendapatkan peresmian sebagai Pemburu asli berbaris dengan rapi dan cepat, sementara itu Deny juga telah berdiri di bagian tengah barisan menunggu apa yang selanjutnya akan terjadi.
Dari dalam gedung, keluar seorang pria dengan wibawa yang sangat kuat, bertubuh besar dengan tampang garang, dia adalah Jimmy, Pemburu Veteran, juga mempunyai hubungan khusus sebagai Pengembang gim ini, tetapi sayangnya dia terjebak oleh kebodohannya sendiri.
“Itukah ayahnya Maximus? Kira-kira Maximus sendiri ke mana, ya?” gumam Deny. “Pengembang bodoh, masa kejebak dengan ... Ah, apa jangan-jangan ....” Deny mencoba bermonolog dengan segala macam pikiran yang jelas akan kontroversi jika diketahui oleh banyak orang.
“Oke, semuanya harap tenang!” seru Jimmy berdiri di atas panggung kecil berukuran 2×2 meter.
__ADS_1
“Kalian, kalian akan kami lakukan peningkatan mental diri, setahu saya, kemarin ketika ada perampokan, ada Pemburu yang membahayakan rekannya sendiri karena kebodohannya!” ungkap Jimmy. “Proses itu adalah Proses Pendewasaan!”
“Sial, aku disindir nih,” gumam Deny sambil melirik kanan dan kirinya.