
“Akh, brengsek!”
Deny saat ini berada di ruangan khas rumah sakit, dengan aroma obat-obatan yang sangat menyengat indera penciuman.
Dia terus saja mengingat beberapa waktu lalu ketika dirinya dipertunjukkan suatu hal yang harusnya sudah dilupakan olehnya sejak setahun lalu, tetapi entah mengapa ingatan yang dilupakan olehnya tersebut kembali muncul.
Itu semua sejak dirinya mengalami siklus antara hidup dan mati yang mampu menggoyahkan fisik dan mentalnya sehingga perlahan tapi pasti ingatan-ingatan buruk tentang masa lalunya mulai bermunculan mencoba mengambil alih kedamaian Deny.
“Sial, disaat seperti ini, aku terlalu kesepian, Pak Haryo sudah membantuku disisa-sisa hidupnya, kemudian ... Siapa lagi yang mampu membuatku merasa aman?”
Deny sangat tak percaya bahwa takdirnya yang biasa saja berubah drastis sejak dia memainkan gim kematian ini, di mana takdirnya ditentukan oleh seberapa beruntungnya dia bertahan hidup.
Semua orang perlu kebebasan, tetapi apa yang namanya kebebasan di dalam dunia ini hanyalah omong kosong belaka yang terpendam dalam kebohongan duniawi.
“Huuu ... Napasku serasa menjadi berat, entah mengapa hidupku benar-benar sial,” keluh Deny sambil mengemil pisang.
Cklek~!
Pintu terbuka, Deny langsung menatap fokus ke arah gagang pintu bagian di luar di mana tangan putih mungil memegangnya, ketika tatapannya beranjak lebih ke atas, wajah yang familier terlihat.
“Ah, Na–Nanda!” seru Deny.
Nanda yang memegang satu set buah tangan dengan berisi beberapa jenis buah pun tersenyum begitu manis hingga wajah Deny memerah bagai tomat, tentu bagi Deny suatu perasaan ini adalah hal yang wajar.
“Deny, kamu nggak apa-apa?” tanya Nanda yang langsung duduk di samping brankar pasien milik Deny.
Deny pun menggelengkan kepalanya sambil berkata, “Nggak, nggak apa-apa, yaa, hanya luka kecil sih.”
Deny masih beruntung, dirinya hanya mendapatkan luka kecil, meski gendang telinganya sempat pecah, tetapi beruntungnya teknik Reverse yang dilakukan oleh para dokter bisa memulihkan gendang telinganya dan bisa bekerja dengan baik, terasa mustahil, hanya saja sudah menjadi rahasia umum bagi mereka yang pernah diobati dengan teknik Reverse selama Penghakiman Dunia.
__ADS_1
“Ah, ini, sedikit–”
“Nggak, itu nggak sedikit, kehadiranmu saja sudah membuatku merasa aman, dunia ini benar-benar hal yang mengerikan!” sela Deny sebelum Nanda berkata lebih lanjut.
Kejadian dentuman dan gelombang yang mampu memecah ruang dan waktu itu benar-benar sebuah hal baru sekitar beberapa jam lalu, kejadian ini pun menjadi suatu hal yang harus diakhiri secepatnya sebelum bertambah korban jiwa.
Namun, sampai saat ini, tak ada yang bisa mendekati area Utara Kota Aezak, terlalu berbahaya walaupun memakai penyumbat telinga yang canggih.
“Hmm ... Rasanya aneh mengatakan ini di sini, tapi Kepala Pemburu Jimmy menyuruhku mengatakannya.”
Deny pun memasang telinganya baik-baik, nampaknya akan masuk ke pembicaraan yang lebih serius dan tentunya jangan sampai terlewatkan begitu saja informasi yang mungkin saja bisa digunakan olehnya dalam adaptasi dirinya yang masih buruk.
“Katanya, korban jiwa dari Warga Biasa sekitar 236 orang, dari Pemburu ada 34 orang dan yang selamat dari Pemburu, hanya ... Kau,” jelas Nanda yang membuat Deny tersentak kaget.
Mata Deny membulat sempurna, dia menelan ludahnya tanpa sadar, memikirkan betapa mengerikan alat itu yang kapan saja bisa bergeser hingga sampai ke pusat Kota Aezak dan akan makin banyak korban jiwa.
Deny pun yang tadinya menunduk lesu, sekarang langsung menatap fokus ke arah Nanda, sebuah kata yang mampu mengubah sudut pandang siapapun, kata yang mampu mengubah pikiran negatif siapapun!
“Tapi ... Kabar baiknya ada orang tak dikenal yang menghancurkan alat itu beserta melumpuhkan komplotan Kriminal perampok toko baju sehingga mudah ditangkap, ciri-cirinya ketika terdeteksi dari kamera pesawat nirawak sebelum mati total akibat gangguan sinyal, yaitu berambut coklat dengan memakai setelan jas hitam,” jelas Nanda.
Deny pun kembali termenung, mencoba memikirkan siapa yang tiba-tiba datang menghancurkan alat itu bahkan seperti sebuah kalimat ‘Datang tak diundang, pulang tak diantar’.
“Ciri-cirinya familier sih,” ucap Deny sambil memandang Nanda yang lagi memakan jeruk.
“Heh, kau yang bawa, kau yang makan!” sindir Deny dengan tatapan sengit.
“Iissh! Aku juga yang bawain, aku berhak dong!” balas Nanda tak mau kalah.
“Iye, iye, wanita selalu–”
__ADS_1
“BENAR~!” sela Nanda dengan raut wajah penuh kemenangan.
Deny hanya bisa menggelengkan kepalanya dengan pasrah dan mencoba menikmati hari damainya untuk saat ini saja, karena dia sangat ingin kembali berurusan dengan Pemburu meski mentalnya yang jelas belum siap.
Menit demi menit, jam demi jam hingga malam telah tiba, Deny yang bosan di ruangan rumah sakit langsung turun dari brankarnya, dia membereskan segala macam pakaiannya dan langsung pergi keluar tanpa diketahui oleh para dokter.
“Heh, malesin, cuma tidur makan aja, mending aku pulang dan menikmati malam yang indah ini di rumah!” keluh Deny.
Keluar dengan aman dari rumah sakit, Deny pun memesan taxi yang tentunya masih beroperasi pada malam hari ini, di mana waktu telah menunjukkan pukul 21.30 malam.
“Mas nya ini kenapa ya keluar dari rumah sakit?” tanya sopir taxi tersebut dengan nada penasaran.
“Ya, karna sakit,” balas Deny dengan singkat, dirinya lebih memfokuskan pandangan ke arah jendela luar dan menatap langit yang banyak gugusan bintang berkelap-kelip indah.
Sekitar 15 menit, Deny sampai di depan jalan tanah di mana rumah pertama baginya bersama Gavin, tentu dia tak ingin pindah karena menurutnya rumah ini adalah saksi di mana dia harus berpisah dengan Gavin karena dirinya yang terlalu ceroboh.
Meski begitu, Deny masih ingin mencari rumah baru yang lebih layak, lagipula gajinya cukup besar sejak menjadi Pemburu resmi, apalagi sudah ada tugas yang sukses ketika dirinya bersama rekan-rekan Pemburu lain menyelesaikan tugas itu.
Saat ini, Deny duduk di sofa di dalam rumah, dia menatap langit-langit ruangan, menghembuskan napas yang begitu berat dan mencoba untuk menenangkan diri.
“Sejak Nanda datang, aku merasa aman, terus kabar baik juga datang ketika orang tak dikenal menyelesaikan tugas yang bahkan Pemburu kesulitan.” Deny bermonolog rendah.
Deny beranjak dan menuju dapur, dia segera menyiapkan makanan yang sangat sederhana, yaitu telur mata sapi dan sepotong roti, itu juga hasil dirinya hemat sebelum mendapatkan gaji, jadi kemungkinan besok dia akan mencoba menikmati hidangan yang lumayan mewah.
“Ini sudah sekitar empat hingga lima hari sejak Penghakiman Dunia, Gavin sudah berpisah denganku cukup lama, bagaimana kabarnya, ya, bentar lagi genap satu minggu sejak hari kelam itu.” Deny bermonolog sembari menyuapi roti dan telur mata sapi itu ke mulutnya.
Menikmati dengan perasaan aman dan tenteram, Deny berharap bahwa mulai hari ini dia harus menguatkan mentalnya agar tak sering jatuh terpuruk, dia harus kuat demi menjadi Pemburu yang kuat serta disegani banyak orang.
“Polisi dunia gim, yekan,” celetuk Deny dengan tersenyum.
__ADS_1