
Dunia terus bergerak seiring waktu, membawa sebuah keajaiban yang tak akan pernah terpikir oleh orang-orang zaman dahulu.
Di saat inilah, dunia modern datang, tetapi sayangnya membawa sebuah bencana yang membahayakan 300.000 manusia di dalam sebuah permainan antara hidup dan mati mereka.
Tak ada satupun yang bisa bertindak, sang pencipta gim ini sendiri sama sekali tak ditemukan sejak 2 minggu Penghakiman Dunia, seharusnya seluruh dunia bergerak dengan berbagai polisi cyber mereka, tetapi sama sekali tak ada yang bisa mereka lakukan.
Di Kota Aezak, tepat di alun-alun kotanya, seorang pemuda berambut kecoklatan dan bermanik mata biru safir sedang duduk dengan perasaan hampa di tengah ramainya alun-alun kota pada pagi hari.
Dirinya masih merasa sedikit mabuk sejak dua cawan yang diminum olehnya yang diberikan oleh Deny sebagai senjata dalam memperalat dirinya.
“Sejauh ini, hatiku masih terasa kosong. Aku sama sekali tak merasakan sebuah perasaan emosi mendalam. Terlalu monoton, bahkan dunia seakan menjadi monokrom,” gumam Gavin sambil menatap kedua tangannya.
Perasaan yang menggebu-gebu itu baginya saat ini terasa sangat sulit, bahkan rasa mabuk yang harusnya parah berangsur-angsur menghilang seperti tak pernah ada, itu baru terjadi 10 menit sejak dia meminumnya. Seharusnya, bagi kebanyakan orang, rasa mabuk akan bertahan lama setidaknya beberapa jam.
Namun, bagi Gavin, dia bahkan mulai tak merasakan perasaan terbang bagai burung di udara lepas, perasaan mabuk itu benar-benar tak tersampaikan dengan benar di otaknya.
“Aku ...”
“Mama, Kakak itu kenapa?” Seorang anak laki-laki berusia 6 tahun sedang menatap wanita di sampingnya dan menunjuk Gavin dengan penasaran.
“Nggak tahu, sudahlah, kita pergi saja dan jangan dekat-dekat orang seperti itu.”
Gavin sempat merasa hatinya tersentuh, bagaimana tidak, seorang anak kecil harus sempat memainkan gim ini dan berakhir dirinya terjebak dalam dunia keputusasaan.
“Beruntung Nathan tidak masuk, aku hanya sempat membohonginya bahwa anak seusianya tak bisa memakainya, itu ... Sangat beruntung.”
Gavin lagi dan lagi terus bermonolog tanpa akhir, dia hanya terus berbicara pada dirinya sendiri demi mencari apa yang membuat hatinya semakin kosong dan gelap bagai jurang tak berujung.
__ADS_1
Gavin beranjak dari bangku taman, dia segera pergi dari sana dan menuju sebuah tempat persembunyiannya yang telah dibuat olehnya bersama para Kriminal yang direkrutnya.
Sekitar 15 menit berjalan di bahu jalan dengan sorot mata kosong, Gavin berbelok ke sebuah gang sempit dengan kelembaban tinggi, lumut sangat senang hidup di area tersebut.
Semakin masuk ke dalam gang, semakin beraroma busuk hingga Gavin berbelok ke arah kiri dan kemudian meraba-raba dinding sebelah kanannya hingga sebuah tonjolan didapati olehnya.
Gavin menekannya dan membuat dinding sebelah kanan terbuka dengan cara bergeser, memperlihatkan deretan anak tangga menuju bawah tanah, suasana gelap dan mencekam langsung keluar membuat Gavin hanya bernapas pasrah.
“Persembunyiaan yang rapi, setidaknya sekarang.”
Dia menuruni tangga yang licin tersebut, suara dentuman kecil terdengar dari arah belakangnya karena dinding itu telah tertutup rapat hingga udara saja tak akan bisa masuk.
Suasana pengap dan juga aroma aneh sama sekali tak membuat raut wajah dari Gavin berubah, bahkan dia dengan santainya menuruni tangga hingga sampai benar-benar di bawah.
Lampu remang-remang oranye seketika menyala dan menunjukkan sekitar 5 orang laki-laki dan 4 orang wanita yang sedang berkumpul dengan raut wajah tegang.
“Panggil Gavin atau kepala berlubang,” ucap Gavin dengan nada yang benar-benar mengintimidasi siapapun itu.
“Ga–Gavin, uang yang tadi sudah dihitung, totalnya 178 juta rupiah!” seru seorang wanita yang masih sangat terlihat muda, mungkin sepantaran Gavin, bernama Rianti.
“Bagus. Aku akan mengambil 38 juta, dan 140 juta sisanya kalian bagi rata.”
Gavin pun diberikan beberapa tumpuk uang dan segera dimasukkan ke {Inventaris} miliknya, sementara yang lain sedang melakukan pembagian sama rata sekitar 15 juta lebih per orang.
“Setelah ini, jika kalian bertemu Kepala Pemburu Kota Aezak, lakukan hal yang memang ingin kalian lakukan, aku tak peduli lagi.”
“Bu–Bukannya Kepala Pemburu Kota Aezak itu adalah sahabat Gavin?” tanya seorang pemuda yang juga sepantaran dengan Gavin, bernama Laksmana.
__ADS_1
“Laks, jika kau ragu, setidaknya berikan nyawamu padaku,” ucap Gavin yang membuat Laksmana melangkah mundur sembari menunduk merasa bersalah.
Gavin menghela napasnya, dia pun menunjukkan senyumannya sejenak, setidaknya itu bagi mereka adalah senyuman intimidasi yang kapan saja bisa membuat mereka kehilangan nyawanya, selayaknya senyuman pemimpin Indonesia zaman dahulu (Gimana, enak zamanku toh?).
“Haaa ... Kenapa kalian tidak menghabisiku, sembilan orang itu melawan seorang diri pasti mudah,” ucap Gavin yang mengangkat pistolnya dan menodongkannya ke arah para Kriminal.
Seorang dari mereka pun maju, dia adalah Kusuma, pemuda kurus yang sedang merasa putus asa akibat takdirnya.
“Aku mungkin lebih tua darimu, Gavin. Namun, aku yang paling merasa putus asa di sini dengan keadaan, tetapi sejak kemarin kau merekrutku yang sedang meringkuk di bahu jalan berteduh di dalam kotak kardus, aku hanya ingin balas budi saja,” jelas Kusuma dengan sorot mata lemahnya.
Gavin pun merasa sesuatu memberatkan pundaknya, itu adalah perasaan beban kepada seorang yang sangat ingin balas budi saja kepada dirinya yang telah kotor dengan dosa tersebut.
“Kami hanya ingin balas budi, Gavin. Tak lebih, jadi ... Kami akan melindungi Gavin dari bahaya apapun, dengan itu ... Balas budi kami bisa tersampaikan kepada Gavin yang telah kehilangan jati dirinya,” jelas seorang pria yang bertubuh cukup besar, dia bernama Henry, seorang keturunan Britania Raya seperti Gavin.
“Henry, Kusuma, Laksmana, Ferry, Darwin, Rianti, Yosica, Rita dan Lucy. Kalian itu mungkin telah menjadi Kriminal, tetapi hati kalian yang masih berisi itu masih memiliki rasa kemanusiaan, tak sepertiku.”
Gavin pun berbalik dan langsung pergi dari sana, memasuki salah satu ruangan dengan pintu kayu yang nampak rusak, tetapi di dalam ruangan itu, terlihat desain yang masih sangat rapi dengan dinding dan juga lantai yang cukup baik serta ada sebuah furnitur seperti kasur dan juga lemari.
Sementara itu, sembilan Kriminal lainnya sedang terdiam dan mencoba menelaah kalimat yang cukup terasa ambigu dari Gavin, hingga Darwin, pemuda asal Jerman langsung menangkap maksud dari Gavin, meski terasa sangat gila.
“Apakah Gavin menyukaiku?”
“Heh! Kau mau kubunuh, hah! Nggak ada kampanye gilamu itu di sini, dasar kaum nggak berotak!” seru Laksmana yang langsung membuat Darwin merasa ciut nyalinya.
Sementara itu, yang lainnya tertawa melihat tingkah Darwin yang ada sedikit kesan bahwa dia pelaku penyuka sesama jenis tak berotak dan bermoral yang sedang dimarahi oleh Laksmana.
Gavin yang berada di dalam ruangannya hanya tersenyum tipis, dia menyadari bahwa gerakan kecilnya dalam melakukan perekrutan para Kriminal polos telah pada jalan yang benar.
__ADS_1
Tujuannya hanya satu, mengumpulkan para Kriminal polos dan mengasahnya menjadi Kriminal yang masih memiliki rasa kemanusiaan, bahkan dibentuknya mereka demi memenuhi kebutuhan para Warga Biasa yang telah kehilangan profesi karena suatu sebab dan menjadi gelandangan di jalanan tanpa satu pun pendamping mereka.