Roleplay World Online (RWO)

Roleplay World Online (RWO)
Bab 42 – Pelarian yang Mendebarkan


__ADS_3

“Aku akan menyerah, jadi ayo tangkap aku!”


Kalimat ini akan meruntuhkan harga diri para Pemburu yang bersemangat untuk menangkap seorang pelaku Kriminal. Mereka beranggapan akan melakukan aksi gagah dan berani dalam meringkus para pelaku Kriminal.


Namun, justru menyerahnya Gavin menjadikan mereka menggerutu kesal sembari seseorang di antara mereka maju sambil membawa borgol untuk Gavin.


Crang!


Mereka yang telah lengah pun dibutakan oleh sebuah cahaya yang amat terang dan juga ledakan yang membuat mereka buta dan tuli untuk sementara waktu.


Sedangkan Gavin, dia sudah sempat memakai alat peredam suara di telinganya dan menutup matanya dalam waktu yang sangat singkat ketika benda berbentuk tabung masuk lewat kaca yang telah pecah.


“Kami datang!”


Suara baling-baling helikopter terdengar sangat kuat, kemudian seseorang masuk melewati kaca yang telah pecah menggunakan tali dari helikopter tersebut.


Sedangkan Gavin saat itu pun menatap satu persatu para Pemburu yang masih dalam keadaan buta dan tuli untuk sementara waktu karena alat bernama flashbang.


“Ferry, kau lama sekali!” seru Gavin yang bahkan terlihat marah, tetapi raut wajahnya sedikit pun tak berubah.


“Ya maaf, habisnya bannya bocor,” celetuk Ferry tanpa tahu bahwa Gavin telah menatapnya dengan sorot mata yang begitu dingin.


Ketika Ferry menyadarinya, dia lantas langsung memperbaiki penjelasannya. “Ah, tadi Lucy lagi buang air besar, jadi ... Dia yang sebagai pilot satu-satunya kita harus ditungguin.”


“Ya sudah, aku akan naik.”


Gavin pun menaiki tali helikopter itu dan ditariknya bersama Ferry, ketika sampai di dalam helikopter, terdapat Lucy tersenyum penuh arti kepada Gavin dan juga Rita yang memakai seragam militer penuh serta memegang senapan laras panjang.


“Rita, santai dan rileks. Jangan sekali-kali kau lepas kunci pengamannya,” ucap Gavin memberi peringatan kepada Rita.


Rita tersenyum, rambut pirang panjangnya itu dikibaskan ke belakang dengan anggun, sementara itu suara helikopter dari arah belakang terdengar mendekat.

__ADS_1


“Itu, itu helikopter Pemburu!” seru Ferry.


Lantas Lucy langsung membuat helikopternya melaju membelah udara, bermanuver di antara gedung-gedung tinggi, tetapi sayangnya masih dikejar oleh helikopter Pemburu yang benar-benar ambisius dalam menangkap komplotan Gavin.


“Dari bawah juga mengejar, kita benar-benar membangunkan singa tidur!” ucap Rita sambil melakukan bidikan menggunakan senapan laras panjang miliknya ke jalanan kota.


“Ini sesuai prediksiku, kita terus membuat mereka kewalahan hingga pelarian yang mendebarkan ini akan berakhir dengan sebuah gerakan kecil dari Kusuma, Henry, Darwin, Rianti dan Yosica!” ucap Gavin dengan tersenyum tipis setipis tisu dibagi lima.


“PERINGATAN PERTAMA!!!”


Dari arah helikopter yang mengejar mereka, sebuah seruan tentang peringatan pun dikumandangkan, sebuah hal yang akan menjadi momok mengerikan bagi para Kriminal jika peringatan ketiga, maka Pemburu akan bertindak dengan menyisihkan sisi kemanusiaan, mereka tak segan-segan mengeksekusi Kriminal setelah peringatan ketiga tersebut.


“Lu–Lucy ... Kau bia tenang, 'kan?” tanya Ferry yang mendekat kepada Lucy.


Lucy yang sedang berkutat dengan kemudi miliknya tentu menjadi kesal, sekali tarik saja kemudi yang menyerupai tuas itu, maka helikopter akan mengalami guncangan dan bisa bermanuver tanpa arah.


“Minggir, atau kuplontoskan kepalamu itu!” hardik Lucy dengan sorot mata tajamnya, mata kecokelatannya yang menawan benar-benar menjadi kesan tersendiri, apalagi dengan set pakaian layaknya wanita kantoran.


“Setidaknya kau dalam misi memakai pakaian yang telah ditentukan!” sindir Ferry yang tak mau kalah dengan keadaannya saat ini.


Wwirrr~!


Helikopter pun menjadi goyah tak terkendali hingga nampak menukik ke arah tanah, hal itu membuat Gavin dengan cepat langsung meraih tuas kemudi yang sedang dipegang oleh Lucy dan segera mengembalikannya ke arah semula.


Helikopter bisa terbang kembali dengan semula, tetapi seisi di dalamnya harus terdiam ketika Gavin yang telah memberikan sorot mata mengerikannya.


“Mati jangan mengajak orang,” celetuk Gavin dengan kesal.


“Ini nih, Ferry si dekil,” seru Lucy yang menolehkan kepalanya ke belakang.


“Heh, anjir! Emang ya orang-orang negeri Paman Sam nggak tahu apa-apa main hakimi, paling rasis lagi!” geram Ferry yang justru semakin naik amarahnya.

__ADS_1


“Rasis? Kau saja itu, negara dengan penduduk paling rasis sedunia, urutan tujuh belas, di atas Amerika yang pada urutan sembilan belas!” Lucy kembali lagi tak mau kalah.


Pelarian yang mendebarkan ini adalah dalam konteks bahwa percakapan yang mereka lontarkan terlalu banyak hal-hal gelap yang bahkan bisa saja membahayakan siapapun dan apapun itu, termasuk The Creator.


“Alah, negara yang sering urusin urusan negara lain, negara yang mengusik negara lain hanya karena negara itu ada minyaknya!” Untuk kesekian kalinya, Ferry terus saja menimpali apa yang Lucy lontarkan.


Ceklek!


Kunci pengaman senapan laras panjang yang dipegang oleh Rita telah terbuka, dia lantas bersiul ringan yang menyadarkan Ferry maupun Lucy akan keadaan mereka yang kapan saja kepalanya bocor.


“Tahu nggak? Sejak Ukraina kami ambil alih, kami diwajibkan wajib militer hingga fase ketiga, selama enam tahun tuh! Jadi ... Bidikanku bisa saja tak akan pernah meleset dalam jarak sedekat ini,” ucap Rita dengan nada yang penuh intimidasi.


Gavin yang menyimak semua itu hanya diam, dia memilih diam daripada ikut campur urusan yang bukan bagian dari dirinya. Setidaknya untuk hal itu, tetapi urusan orang-orang kalangan bawah adalah sebuah hal yang tak perlu dipertanyakan lagi masalahnya.


“PERINGATAN KETIGA!!!”


Dalam 10 menit perdebatan tanpa henti, ternyata helikopter Pemburu masih berada di belakang mereka dan sedang meneriakkan peringatan ketiga atau peringatan terakhir, sehingga tentu persenjataan dari helikopter telah disiapkan.


“Brengsek! Kalian terlalu bertele-tele, sini aku ambil kemudi!” seru Gavin yang menarik Lucy ke samping dan langsung mengambil tempat di mana tombol-tombol aneh berada.


“Ga–Gavin ... Kau tahu memiloti burung besar ini?” seru Ferry yang tentu merasa khawatir tentang Gavin yang akan memiloti helikopter tersebut.


“Emm ... Belajar dengan keadaan,” celetuk Gavin.


Wwirrr~!


Helikopter menukik tajam ke arah permukaan tanah, nyaris saja menabrak sebuah truk gandeng di depannya, beruntung Gavin dengan tekad yang berapi-api langsung menarik tuas kemudi dan segera melakukan manuver di persimpangan depan.


Karena pergerakan yang tiba-tiba dari Gavin, membuat seisi helikopter berteriak, tetapi bukan hanya itu dampaknya, ada sebuah dampak yang membuat mereka sangat beruntung.


Dampak itu adalah ketidaksigapan helikopter Pemburu dalam menangani situasi tersebut, hingga ketika mereka mengikuti jalur dari Gavin, justru mereka sama sekali tak memerhatikan truk gandeng yang lumayan tinggi dan berakhir ledakan besar di sana.

__ADS_1


“Wohooo~!” seru Ferry kesenangan, dengan air mata yang berlinang karena kejadian beberapa detik itu membuatnya meneteskan air mata ketakutan.


“BAJINGAN KAU GAVIN!!!” Lucy berseru kesal, wajahnya sangat jelek di situasi tersebut, kerutan wajahnya yang benar-benar menahan rasa takut.


__ADS_2