
Malam yang indah bagi kebanyakan orang, gugusan bintang berkelap-kelip yang memanjakan mata, kapan lagi bisa melihat bintang sebanyak itu dalam satu malam yang cukup dingin ini.
Di dalam dunia RWO, keindahan adalah salah satu fitur unggulan yang sebenarnya tak terlalu penting, tetapi suatu keindahan ada agar orang-orang di dalamnya menjadi betah dan bahkan menetap sangat lama hanya untuk ingin melihat gugusan bintang berkelap-kelip yang memanjakan mata tersebut.
Di dunia luar, mendapatkan satu bintang saja di langit sangat beruntung, itu karena polusi yang ada di suatu kota sehingga langit malam tertutupi oleh asap atau awan yang terbentuk akibat polusi dari berbagai pabrik.
Saat ini, orang-orang mulai bisa menikmati kehidupan di dalam gim ini yang penuh tipu daya muslihat dari setiap individu, maka jelas setiap individu itu juga harus belajar bahwa mereka harus hidup dengan berbagai macam hal demi menunjang mereka.
Kehidupan duniawi hanya bisa berlangsung sekali seumur hidup, kenyamanan yang dirasakan, keindahan dan semuanya akan sirna jikalau mereka-mereka tak bisa menjaga diri masing-masing dalam suatu kelompok majemuk.
Namun, seorang pemuda bernama Deny Dewantara, dia adalah satu dari banyak orang yang memilih untuk mencoba menyendiri terlebih dahulu, bahkan jikalau ada tugas dari Markas Pusat Pemburu Aezak, dia akan turun dengan sendiri tanpa rekan.
Deny sangat takut, sangat takut untuk kehilangan sekali lagi rekan lapangan, sudah cukup Haryo dan Gavin yang meninggalkannya, meski Gavin hanya pergi, tetapi itu sudah termasuk meninggalkan dirinya yang sangat rentan terhadap marabahaya di dunia ini.
“Besok adalah hari ke-6 kalau nggak salah, hmm ... Sejak Penghakiman Dunia, senyumanku terkadang menjadi palsu dan hanya sebuah kedok saja,” gumam Deny.
Malam itu, Deny mencoba tidur dengan damai dan tenteram, bahkan ponselnya diganti ke mode senyap agar dirinya bisa menikmati bagaimana tidur yang sangat nyenyak, meskipun begitu, notifikasi getar dari ponsel masih ada.
Namun, baru saja sejam menutup mata dan memasuki alam mimpi yang cukup indah, getar dari ponselnya mampu membangunkannya, alhasil dengan pandangan yang buram dia mencoba mengambil ponselnya dan mengangkat siapapun yang menghubunginya pukul 00.23 tengah malam ini.
“Pemburu Deny Dewantara, apakah kamu sedang bersiaga atau masih menikmati tidur nyenyakmu?!”
“AKHH! Itu ... Saya masih menikmati tidur nyenyakku meski harus dibangunkan dengan panggilan telepon!”
Deny menggerutu dalam hatinya, keadaan ini harus terjadi kapan dan di mana saja, kejadian yang mengharuskannya siap sedia jikalau ada suatu hal yang membuatnya untuk segera turun tangan.
“Bersiaga, ada balapan liar skala besar di alun-alun Kota Aezak, 15 Pemburu diturunkan termasuk kamu!”
__ADS_1
“Si–Siap, laksanakan!”
Panggilan tertutup, kali ini dia membanting ponselnya ke kasur, wajahnya benar-benar terlihat sangat kesal, tetapi apa boleh buat jika memang harus turun tangan meringkus balapan liar yang dapat membahayakan Warga Biasa yang mencoba hidup tenang.
“Ya, setidaknya aku masih lebih baik daripada polisi di luar, kayak di negeri ribuan pulauku,” celetuk Deny dengan wajah sumringah.
Deny pun berlari dan memakai seragam Pemburunya, kemeja putih dengan lengan yang digulung, kemudian celana hitam panjang, kemudian bagian luar ada sebuah blazer sepanjang di bawah pinggang.
“Oke, aku siap!”
Deny mengambil kunci mobil dan keluar rumah, dia segera membuka mobilnya dan langsung bersiap di kursi kemudi.
Menyalakan mesin, deru mesin yang khas langsung membuat Deny merasakan nyaman, ini juga salah satu kesukaannya, suara deru mesin yang menenangkan jiwa dan raga miliknya.
“Oke, ganti persneling, injak pedal gas dan ... MELAJU TAK TERBATAS DAN MELAMPAUINYA!!!”
Jalanan yang sepi memudahkan Deny bermanuver, ketika ada belokan tajam, maka dia dengan yakin melempar bodi bagian belakang mobil kemudian menarik sejenak rem tangan, ini berfungsi demi bisa melakukan drifting yang sempurna.
Melajukan mobil di jalanan sepi dengan kecepatan di atas rata-rata, sekitar 100 Km/H bahkan lebih, suara gemuruh mesinnya mampu membuat beberapa rumah menyala lampunya dan orang di dalamnya berseru kesal.
“Maaf deh!” celetuk Deny.
Sekitar 15 menit, Deny melihat lampu sirine yang menyala di gelapnya malam, dia pun juga segera menyalakan lampu sirine tanpa membunyikannya agar tak mengganggu kenyamanan Warga Biasa yang sedang istirahat.
Di alun-alun Kota Aezak, 8 mobil Pemburu telah berkumpul dan mencoba untuk memblokir jalur para Pembalap Liar Kriminal yang mencoba untuk melarikan diri dari penggerebekan tersebut.
Dari arah depan, Deny melihat sebuah mobil sedan dengan nomor plat yang familier, mobil itu mencoba berakselerasi di belokan yang mengarah ke Barat alun-alun kota.
__ADS_1
Deny langsung mengejarnya, kedua mobil ini pun saling beriringan dalam kecepatan tinggi di tengah jalan yang cukup sepi.
“Mohon menepi!” seru Deny menggunakan pelantang suara yang tersedia dalam mobilnya.
Namun, bukannya menurunkan kecepatan untuk menepi, mobil itu malah semakin melaju yang membuat Deny menggerutu kesal, dia pun menaikkan persnelingnya dan langsung menginjak pedal gas sangat dalam.
Ckiiit~!
Jalanan kota yang tadinya sepi, sekarang menjadi penuh decitan ban dan suara deru mesin, benar-benar mengendarai mobil dengan sangat cepat dan mampu membelah udara di sekitar.
“Peringatan pertama!” seru Deny.
Bukannya takut atas peringatan pertama, mobil Pembalap Liar Kriminal itupun kembali menambah kecepatan yang bagi mobil Deny sepertinya cukup sulit karena tenaga kuda serta batas RPM nya sudah diambang batas.
“Backup! Di Jalan Kotak Waktu, sisi Barat menuju Rumah Sakit Pusat Aezak!” seru Deny di alat komunikasi yang berada di mobilnya.
Kedua mobil ini jaraknya semakin menjauh yang membuat Deny mengumpat kesal, dia lantas mencoba memacu mobilnya untuk semakin cepat tanpa mementingkan batas RPM yang terus bergetar dan terlihat kelelahan.
Mesin mobilnya mulai panas, membuat Deny merasa bahwa tak ada cara lagi selain untuk berhenti daripada membahayakan dirinya, lagipula dari arah belakangnya, sudah ada mobil Pemburu lainnya dengan jenis super car yang tentu lebih cepat dari miliknya.
“AAAKHH!! Perlu peningkatan sih,” keluh Deny sembari memukul setir kemudinya.
Sementara itu, dia yang beristirahat di tepi jalan, sekitar 5 menit kemudian, mobil yang dia kejar dan juga super car Pemburu tadi melewatinya dari arah berlawanan, benar-benar sengit pertarungan kecepatan mobil keduanya, lantas Deny cukup terpukau akan kelihaiannya Pembalap Liar Kriminal tersebut.
Ketika mobil Pembalap Liar Kriminal itu melewatinya, dalam sepersekian detik, Deny menangkap pengemudinya menggunakan matanya, sosok yang sangat familier bahkan sangat dikenal olehnya meski hanya melihatnya dalam sepersekian detik saja.
“Gavin?!”
__ADS_1