Roleplay World Online (RWO)

Roleplay World Online (RWO)
Bab 22 – Deny, Si Pemburu Polos [Fase 02 Dimulai]


__ADS_3

Tahun 2030 adalah tahun keemasan bagi umat manusia dalam dunia teknologi yang semakin berkembang pesat hingga mampu melakukan hal yang mustahil bagi 10 tahun silam.


Saat ini, dunia berbagi peran dengan manusia dan juga beberapa kecerdasan buatan yang diciptakan oleh manusia itu sendiri, dengan berbagai konsekuensinya yang harus ditanggung manusia.


Di sebuah toko, terlihat seorang pemuda berambut hitam yang cocok dengan matanya sedang menatap berbinar ke arah sebuah perangkat keras bermerek ArcGear, sebuah keajaiban dunia modern yang telah diterbitkan.


Dia adalah Deny Dewantara yang begitu antusiaa setelah perangkat keras ArcGear dirilis untuk pertama kali dengan salinan maksimal 300.000 di seluruh dunia.


Deny salah satu orang yang beruntung mendapatkan perangkat itu dengan harga yang terbilang fantastis, nyaris menyentuh angka 50 juta untuk satu set saja. Namun, keuntungannya adalah masa depan yang cerah bagi sang pemilik.


Deny berjalan dengan wajah riang, dia akhirnya mendapatkannya, kemudian matanya melirik ke arah kanan yang mana seorang pemuda berambut coklat sedang berjalan dengan santai sambil membawa kardus perangkat keras ArcGear.


“Hei, Vin! Kau sudah beli ArcGear?” seru Deny kepada seorang pemuda berambut coklat tersebut.


Pemuda itu berbalik, sementara Deny menyusulnya dengan langkah kaki yang cepat, lantas mereka berdua sejajar dalam berjalan.


“Kita bertemu di Kota Pemula, temani aku yang pemain baru!” ucap Deny sembari tersenyum riang.


“Yap, tapi ... Sebagai pemain profesional, jangan sekali-kali kau membeberkan peranmu nanti di RWO, semuanya rahasia, jangan mixing dan beberapa aturan lainnya,” jelas Gavin. “Ya, meski kita sempat mixing ketika aku memberikan nomor telepon In-Game ku!”


Deny tertawa renyah, dia kemudian langsung melangkah pergi di tengah keramaian trotoar yang begitu padat karena sebagian dari mereka memang antri untuk membeli perangkat keras idaman mereka.


Sesampainya di rumah, Deny hanya bisa menatap pasrah ke arah pintu kamar berwarna merah dengan tulisan indah di tengahnya, bertuliskan “Ibu”.


“Ibu menyuruhku membeli ini dan mencari uang di dalamnya, kemudian Ibu sama sekali tak berusaha dan hanya mengurung diri sejak setahun ayah pergi,” gumam Deny yang langsung melangkahkan kakinya ke pintu kamar yang ada di sisi kiri ruangan, berlawanan dari pintu kamar Sang Ibu.


Deny membuka pintunya, masuk dan langsung menguncinya sembari menghembuskan napas pasrah, dia benar-benar tak habis pikir bahwa Ibunya yang ceria setahun lalu, sekarang mengurung diri dan berdiam diri dengan kesedihan yang begitu mendalam.


“Ya, begitulah, mari kita rakit ArcGear!”


Deny mengeluarkan fitur-fitur dari ArcGear, merakitnya hingga menjadi satu kesatuan yang baik, kesan futuristik nan modern sangat terlihat dari perangkat keras ArcGear tersebut.

__ADS_1


Kemudian, Deny mengambil sesuatu dari sakunya, itu adalah sebuah chip gim yang akan dimainkannya, yaitu Roleplay World Online yang memiliki fitur nyaris menyamai dunia nyata, benar-benar di luar akal sehat untuk orang-orang dari 20 tahun lalu yang kata masa depan saja masih menganggap hal mustahil.


“Dengan chip seharga tujuh juta dan perangkat seharga lima puluh juta ini, aku harus membalikkan modal secepat mungkin, dalam sehari? Mustahil yang aku baru perdana memainkannya!”


Deny pun memasukkan chip itu ke tempat yang telah disediakan, memakainya dan menekan tombol untuk metode pengaktifan.


Deny berbaring di kasurnya yang cukup empuk, kemudian berkata, “Baiklah, mari kita menyelam! Arc Start!”


Ziing~!


***


“Waaah~! Ko–Kotanya benar-benar nyata! Ini ... Karakterku, aku pakai saja dengan menyamai dunia nyata, tak begitu berbahaya juga.”


Deny berkeliling, dia mencoba untuk menikmati terlebih dahulu kota ini sebelum bekerja sebagai petugas keamanan yang disebut Pemburu.


“Pemburu, katanya sekali menangkap Kriminal, bisa dapat tujuh juta, balik modal chip, gak sih?!”


Di sana, seorang pria berjubah yang begitu mendominasi melakukan orasinya yang sangat mengerikan di mana Deny hanya bisa ternganga lebar menyimak semua yang dikatakan pria bernama Bagaskara.


“Jika kalian mati di sini, kalian juga akan mati di dunia nyata dengan gelombang ultrasonik yang akan menghantam otak kalian dan menghancurkannya! Hahaha~!”


Deny jatuh terduduk lemas, matanya bergetar ketika menerima kenyataan bahwa dia harus melakukannya di dunia yang sama persis seperti dunia nyata, di mana ketika sampai pada kematian maka mereka tak akan hidup kembali.


Ini adalah Penghakiman Dunia yang jelas sangat memukul mental Deny sebagai pemain yang baru saja melakukan penyelaman perdana baginya.


“Si–Sial, sial, sial! A–Aku cuma mau mendapatkan uang untuk menghidupi aku dan ibu! Ba–Bagaimana ini?!” seru Deny yang memeluk lututnya dan menunduk.


Dia tidak peduli dengan orang-orang di sekitarnya yang semakin kacau ketika pria bernama Bagaskara telah pergi dari sana, alun-alun di Kota Aezak pun berubah menjadi kericuhan yang jelas bagi Deny adalah bahaya juga.


“Ja–Jangan sentuh aku, brengsek!”

__ADS_1


“Pergi kau!”


“Mama~! A–Aku belum mau mati!”


“Jangan ... Jangan pergi kau manusia biadab Bagaskara!”


“HEEAARRRGHH!!!”


Kehancuran alun-alun kota membuat Deny terpaksa harus mundur dari sana, dia masih memikirkan nyawanya juga, tak ingin berlama-lama pada keputusasaan duniawi.


***


Sehari sejak Penghakiman Dunia, Deny saat ini berada bersama Gavin Arsenio, teman satu sekolahnya dan juga teman satu perjuangan dalam menghadapi berbagai macam cobaan di dunia luar.


“Pagi yang tidak cerah, kita perlu melakukan sesuatu,” ucap Deny menoleh kepada Gavin.


Gavin hanya diam, tetapi nampak terlihat sedang fokus dengan pikirannya yang begitu sibuk, Deny pun hanya bisa mengendikkan bahunya dan kembali duduk tenang.


“Aku mau kerja, uang bertahan hidup akan sulit, kau jaga rumah, tungguin kabar dari media sosial yang kita lakukan untuk mencari Max!”


Deny hanya bisa menganggukkan kepalanya, menatap kepergian temannya untuk bekerja, sementara itu dia berkutat dengan ponsel pintarnya.


Sekitar sejam sejak Gavin pergi, Deny mendapati notifikasi dari media sosial Blue Bird Apps yang mengatakan bahwa Maximus, orang yang dicari hendak mendatanginya jika dia memberikan titik lokasinya.


Tanpa ragu, dengan bersemangat, Deny langsung memberikan titik lokasinya dan segera menelepon Gavin untuk memberikan kabarnya.


“Vin! Max, teman kita yang kaya raya itu juga terjebak! Dia sekarang menuju ke sini setelah dia sempat menanyai tentang siapa yang menerbitkan iklan, aku komentar dan memberikan nomorku secara pribadi dan lokasi kita,” jelas Deny.


“Ah, bodoh! Intinya aku akan ke sana!” ucap Gavin dari seberang nampak khawatir.


Deny jelas bingung, tetapi kebingungannya itu pun terjawab ketika dua buah mobil sedan mendatangi rumah itu dan langsung orang-orang di dalamnya keluar serta menodongkan senjata api mereka.

__ADS_1


“Sial, sepertinya kekhawatiran Gavin datang padaku, aku, Pemburu yang polos,” gerutu Deny sambil menatap sengit Maximus yang menyeringai kejam.


__ADS_2