Roleplay World Online (RWO)

Roleplay World Online (RWO)
Bab 35 – Bertemu Walikota Aezak, Adiwiyata.


__ADS_3

“Haaaa~!” Deny duduk dengan lesu di sofanya, memangku dagu dengan napas yang berat dan penuh tekanan hidup yang tak kalah beratnya bagi dirinya pemuda berusia 18 tahun.


Deny Dewantara, baru saja bertemu dengan sahabatnya yang telah mengambil langkah berbeda dari yang dipikirkan olehnya, sebuah langkah di mana kelak keduanya akan bertemu dengan istilah “Musuh”, tak ada yang bisa mengubah takdir ini meski dengan susah payah mereka lakukan.


Masing-masing peran memiliki kepentingan pribadi, takkan ada yang bisa memasuki suatu urusan yang bukan kepentingannya, ini adalah peran yang telah ditentukan secara mutlak sejak hari Penghakiman Dunia di dalam gim tersebut.


Seumur hidupnya, baru kali ini dia merasakan betapa beratnya kehilangan sahabat yang ada disaat suka dan duka, semua kenangan itu harus sirna hanya karena perbedaan peran dalam sebuah kehidupan penuh tekanan ini.


Di tengah Deny yang hanya bisa terduduk lesu, sebuah dering telepon menyadarkannya dan segera menjawab panggilan yang entah siapapun itu, setidaknya dilakukan pengecekan, siapa yang tahu akan ada panggilan darurat.


“Pemburu Deny Dewantara, mohon untuk ke Markas Pusat Pemburu Aezak, ada seorang yang penting sedang menunggumu!” Suara yang familier terdengar oleh indera pendengaran Deny.


“Siap, laksanakan!” seru Deny.


Panggilan tertutup, dan dia hanya menghela napasnya sekali lagi sembari bergumam, “Pekerjaan sih, jadi Nanda harus formal.”


Sekarang, dia bersiap-siap, memakai kemeja putih lengan panjang yang digulung olehnya kemudian celana hitam panjang serta blazer di luar yang cocok dengan cara berpakaiannya seperti itu.


Deny mengambil kunci mobil dan menuju mobilnya, di alat penyapu air hujan yang ada di kaca depan mobil terdapat kertas terselip, Deny mengambilnya dan membacanya dengan pelan.


“Sampai jumpa, sahabat.”


Deny pun mendongakkan kepalanya, menatap langit cerah dengan burung-burung kecil beterbangan dengan riang gembira.


“Ya, khas dengan dirimu yang sekalinya bertemu, sulit untuk berpisah, seharusnya kau tidak usah datang kalau sulit, sudah benar sebenarnya keputusanmu saat berpisah ketika aku terluka akibat Maximus.” Deny bermonolog sembari memasuki mobilnya.


Melajukan mobilnya di jalanan yang mulai ramai dengan lalu-lalang kendaraan bermesin, menunggu lampu lalu lintas dengan tertib dan juga sesekali menatap damainya para NPC hidup di kota ini tanpa beban sedikit pun.


“Sudah seperti orang nyata, nyaris tak bisa dibedakan,” gumam Deny.

__ADS_1


Sekitar 30 menit penuh melajukan mobilnya dengan kecepatan yang cenderung lambat, kali ini dia memilih untuk santai, lagipula Nanda saat menelepon tak begitu panik atau berseru lantang untuk mengatakan Deny secepatnya datang.


Sesampainya di parkiran khusus para Pemburu, Deny keluar dari mobil sambil menekan lampu kunci otomatis, kemudian melangkah dengan langkah besar nan tegas menuju ruangan lobi gedung utama.


Di sana, Nanda nampak memberi kode agar Deny secepatnya bergerak menuju lantai 3 di mana tamu penting itu telah menunggu.


“Issh! Kau lama sekali,” celetuk Nanda disela-sela dirinya yang mengantar Deny ke ruangan yang ada di lantai 3 setelah menaiki lift beberapa waktu lalu.


“Ya, maaf, lagipula siapa sih, ganggu ketenanganku!” keluh Deny sambil memutar mata malasnya.


Nanda membuka pintu ruangan di mana tamu yang katanya penting itu sedang menunggu, di dalam, seorang pria bertubuh cukup besar dengan wajah tampan dan tak terlalu terlihat tua, masih sekitar 30-an ke atas.


“Tuan Adiwiyata, Pemburu Deny Dewantara telah datang,” ucap Nanda sembari menunduk sejenak.


Nanda pun dipersilahkan pergi, sesaat melewati Deny, Nanda berbisik sejenak, “Dia Walikota Aezak.”


Deny pun terkejut, dirinya yang tadinya menatap malas langsung membusungkan dadanya dan menyegarkan matanya sembari berdehem untuk mencoba mencairkan suasana.


“Duduk,” perintah Adiwiyata dengan suara yang berat dan terkesan penuh intimidasi.


Deny sedikit gentar, tetapi dia mencoba untuk menenangkan fisik dan mentalnya, sudah banyak hal-hal yang lebih mengerikan daripada masalah intimidasi seorang pria penting, Deny bahkan sudah berapa kali nyaris ditelan oleh kegelapan dan pergi untuk selamanya dari dunia.


Sekarang, Deny duduk berhadapan dengan Adiwiyata yang memakai setelan jas lengkap, tampang garang dari balik ketampanannya cukup terlihat hingga Adiwiyata juga berdehem mencoba mencairkan suasana.


“Ehem! Nah, kamu Pemburu Deny Dewantara, 'kan?” tanya Adiwiyata sembari memangku kakinya, kesan hangatnya mulai terasa.


“Iya, hmm ... Kalau boleh tahu, ada apa anda yang orang sepenting ini mendatangi pemuda biasa saja seperti saya?”


Adiwiyata tertawa terbahak-bahak, suaranya menggelegar hingga menggetarkan jiwa Deny, tawa yang benar-benar meruntuhkan kesan hangat sebelumnya menjadi sangat dingin dengan penuh tekanan tinggi.

__ADS_1


“Kamu bertanya, kamu bertanya balik pada saya?” Adiwiyata menunjuk dirinya dengan senyuman meremehkan.


“Ah, maaf jika membuat anda tersinggung, hanya saja di dunia yang seberat ini, orang sepenting anda kenapa bertemu saya?”


Adiwiyata pun berdiri dan mendekati Deny dia menarik pundak Deny untuk menyuruhkan berdiri, kemudian sedikit menunduk dan membisikkan sesuatu ke telinga Deny.


“Kamu butuh apa harta? Kekuasaan? Hak melakukan apa saja? Aku akan kabulkan, tetapi dengan satu syarat yang pastinya juga menguntungkan dirimu,” bisik Adiwiyata yang kemudian kembali duduk dan meninggalkan Deny berdiri dengan pandangan kosong.


“Ah! Maaf jika saya lancang, tapi ... Rasanya seorang pemimpin macam Walikota seharusnys tak memikirkan itu, dia hanya memikirkan–”


“Mengayomi masyarakat? Cih, itu terlalu kuno, sekali-kali ambil beberapa uang dari anggaran, lumayan 'kan buat jajan,” sela Adiwiyata dengan senyuman menyeringai.


“Tidak, saya tidak bisa mengikuti apa yang anda mau, saya juga hanya Pemburu biasa, saya hanya pemuda yang memainkan gim ini demi kesenangan dan juga sedikit penghasilan semata!” jelas Deny yang mulai naik pitam.


Adiwiyata mengangguk ringan, dia pun menyalakan cerutunya yang sedari tadi dipegangnya tanpa dinyalakan, setelah menyalakannya, dia menghisapnya begitu dalam dan dihembuskan dengan pola lingkaran asap.


“Bayangkan lingkaran ini adalah kehidupan damai milikmu, nah, jika saya ayunkan tangan sedikit saja, kehidupan damai milikmu akan hilang dalam sekejap!” jelas Adiwiyata yang membuat Deny sempat kebingungan.


Namun, sesaat kemudian, Deny menyadari bahwa dirinya saat ini sedang diancam yang tidak-tidak, dengan artian, sekali ayunan tangan perintah, Deny bisa saja kehilangam kehidupan yang saat ini masih cukup damai, terlalu riskan untuk acuh tak acuh terhadap kalimat ambigu dari Adiwiyata.


“Haaa~ Terus apa yang ada mau aku lakukan?”


“Gulingkan kekuasaan Pemburu Veteran Jimmy,” tutur Adiwiyata yang langsung membuat Deny berdiri dan memasang posisi waspada.


Siapa yang tidak tahu Pemburu Veteran Jimmy, orang yang berkuasa atas keamanan Kota Aezak, bahkan sekelas Walikota macam Adiwiyata seperti menjadi lunak di hadapan Jimmy.


“Hahaha! Pikirkan sampai ... Sebuah hal ‘kecil’ terjadi,” ucap Adiwiyata yang langsung mengayunkan tangannya, memerintahkan Deny untuk pergi.


‘Tidak mungkin, entah kenapa orang ini seperti banyak tahu, segala gulingkan Jimmy, terus memberi waktu untuk aku berpikir sampai yang katanya hal ‘kecil’ yang akan terjadi,’ batin Deny sambil menatap lekat Adiwiyata yang tersenyum sembari menutup matanya.

__ADS_1


‘Uuh ... Creepy dan juga dasar licik,’ celetuk Deny di dalam benaknya.


__ADS_2