Roleplay World Online (RWO)

Roleplay World Online (RWO)
Bab 25 - Keraguan Deny


__ADS_3

Deny mengendarai mobilnya menuju tempat Haryo berada, di sana Haryo bertolak pinggang dengan tatapan kecewa karena panggilan pertama bagi dirinya bersama Deny harus mengalami kegagalan.


“Deny ... Ini pertama bagimu, tapi kurasa baik juga, kau pandai mengendarai mobil, lain kali kau yang di belakang setir!”


Deny hanya bisa tersenyum kikuk, perintah atasan adalah hal yang mutlak baginya untuk saat ini, sebelum sebuah sirine nyaring menggema di Kota Aezak.


Di udara, dua buah helikopter terbang dalam kecepatan tinggi, itu adalah helikopter Pemburu dengan berkecepatan tinggi serta teknologi yang mumpuni.


Deny dan Haryo saling melirik, hingga panggilan dari radio di mobil langsung membuat Deny tanpa basa-basi menginjak pedal gas dengan dalam.


Panggilan itu menyerukan, “Untuk Pemburu Divisi Satu, harap menuju bank Cahaya Harapan, terjadi perampokan bersenjata berskala besar dengan sandera yang diketahui sekitar 20 orang!”


Haryo terkejut ketika Deny menginjak dalam pedal gas, posisi mobil benar-benar melaju sangat cepat ke arah bank Cahaya Harapan di mana waktu tempuh normal sekitar 30 menit, tetapi dengan kecepatan tinggi tentu memangkas waktu tempuhnya.


Sirine menggema di kota, beberapa mobil Pemburu juga diterjunkan dengan skuad penuh, perampokan ini adalah skala besar di beberapa hari pertama sejak Penghakiman Dunia dan tentu ini adalah sebuah kenyataan yang sulit untuk terlupakan.


“Awas! Belokan di kiri depan ada mobil Pemburu lain!!!” pekik Haryo yang langsung menggeser setir mobil dengan cepat.


Deny terkejut, tetapi hal yang membuatnya membelalakkan mata adalah insting atau firasat Haryo benar-benar mengerikan, hanya dari mendengarnya saja sudah tahu letak mobil Pemburu lainnya.


Sekarang, dua mobil Pemburu saling beriringan dalam kecepatan tinggi menuju lokasi, dalam beberapa waktu ke depan, Kota Aezak sedang dalam kondisi bersiaga dengan berbagai macam kemungkinan yang terjadi.


“Semuanya, harap menepi!” seru Haryo di pelantang suara.


Ckiiiit~!


Mobil mengerem dengan melemparkan badan bagian belakang mobil, situasi drifting benar-benar membuat Haryo kali ini hanya bisa tersenyum karena Deny seperti seorang pembalap mengerikan yang mampu mengendalikan jalanan.


Di depan mereka, gedung berwarna putih dengan corak emas sedang terisolasi dari dalam, para perampok itu benar-benar memblokir pintu masuk dan hanya berkomunikasi dari panggilan telepon yang tersedia dalam layanan darurat.


Di depan bank sendiri telah dinetralisir oleh para Pemburu yang bergerak cepat, sekitar 50 Pemburu berkumpul bersenjata lengkap, dua helikopter bersiap di udara dengan memantau menggunakan kacamata thermal yang dapat mendeteksi keberadaan di dalam bank.

__ADS_1


“Para Kriminal, mau kalian apa brengsek!” seru seorang pria bertubuh besar di panggilan telepon yang Deny simak sedari tadi.


Haryo menatap bank dengan lekat, otaknya berputar mencari hal yang bisa dipakai dalam kejadian kali ini, sementara itu Deny terus menyimak proses negosiasi yang dilakukan Pemburu Veteran dari Pengujian Beta, Jimmy, Kepala Pemburu Kota Aezak.


“Heh, sekali lagi kalian melukai Warga Biasa, habislah kalian!” pekik Jimmy begitu kesal hingga dia membanting ponsel di tangannya.


“Para penembak jitu, bersiap!” ucap Jimmy di alat komunikasi di dadanya.


Deny mengedarkan pandangannya, kilauan cahaya dari berbagai tempat begitu terlihat, gedung-gedung tinggi di sekitar bank Cahaya Harapan dipenuhi beberapa Pemburu penembak jitu.


“Tim 1, maju ke sisi Barat bank dan bersiap menggerebek dari pintu samping, Tim 2 ikut Haryo untuk melakukan pembersihan di pintu belakang, sementara itu Tim 3 ikut saya dalam hal lainnya!” seru Jimmy begitu mendominasi.


Situasi ini membuat barisan Pemburu berseru serempak, mereka langsung bergerak dengan cekatan dan juga secara bersama bergerak menuju posisi masing-masing.


Tim 2 adalah tim yang dibagi oleh Jimmy berisi Pemburu-Pemburu veteran dari Penguji Beta dan beberapa darinya ada yang Pemburu baru sejak Penghakiman Dunia, salah satunya adalah Deny yang bersiap dengan pistol di tangannya.


Ini adalah pertama baginya memegang senjata berbahaya, sebuah kenyataan baginya untuk mencoba menekan mentalnya ke titik di mana dia mampu menghilangkan rasa kemanusiaan adalah hal yang sulit jika dirinya anggota Tim 2 sebagai tim pembersih atau bisa dibilang menghabisi di tempat para perampok.


Dalam sekejap, semua Pemburu telah di posisi bergerak mengikuti perintah, sementara itu para penembak jitu pun telah bersiap dengan jumlah yang menurut Deny tak dapat diidentifikasi.


“Deny, kau harus dewasa mulai dari sekarang,” ucap Haryo yang memegang senjata laras panjang menatap Deny yang seperti merasa ragu melakukan ini semua.


“Tim 2 telah di tempat, menunggu perintah!” ucap Haryo di alat komunikasi.


Dor!


Dalam sekejap secara serentak, para penembak jitu melakukan aksinya dan melepaskan tembakan yang langsung melumpuhkan para perampok yang berada tak jauh dari jendela bank.


Kejadian yang ceroboh bagi para perampok tentu dimanfaatkan oleh para Pemburu, kemudian setelah tembakan itu, Tim 2 langsung bergerak maju menerobos lewat pintu belakang.


Dor! Dor! Dor!

__ADS_1


Tembakan demi tembakan terjadi, kekacauan itu membuat para Kriminal panik dan terus berlindung di balik tembok atau objek-objek keras yang berada di sana.


Para sandera dengan sendirinya bergerak sesuai instruksi Haryo untuk berjalan menunduk sembari mereka dilindungi para Pemburu Tim 2.


Deny ikut maju, tetapi dia sama sekali belum melepaskan tembakan, dia sangat ragu dalam situasi yang seperti ini, benar-benar terasa sangat aneh ditambah mentalnya mulai goyah.


“Bodoh, jangan bergerak ke sana!” seru Haryo kepada Deny yang hilang arah.


Deny pun terkejut ketika di depannya, seorang Kriminal tersenyum licik dan langsung menariknya sebagai tameng tubuh, itu adalah sandera dalam keadaan panik.


“Jangan menembak, atau rekan kalian kehilangan nyawa!” seru Kriminal itu.


Deny bergetar ketakutan, napasnya menderu berat, keringat mengucur deras dari dahinya, sementara pistol di tangannya sendiri dijatuhkan dengan sendiri olehnya karena ketakutannya yang begitu mendominasi keadaan tersebut.


“Sial, lepaskan dia!” seru Haryo sambil menodongkan senjatanya ke depan.


“Hahaha! Mana mungkin!”


Deny menatap nanar ke arah Haryo, tatapan matanya menunjukkan betapa mengerikan situasi saat ini yang mengancam nyawanya baik di dunia dalam maupun dunia luar yang jelas dia tak ingin datang kepada kematian di saat-saat seperti ini.


“Aku akan keluar sambil membawanya, jangan macam-macam atau anak ini tewas!”


Kriminal itu perlahan mundur sambil menyeret Deny dengan ditodongkannya moncong pistolnya ke kepala Deny, terus mundur menuju pintu samping, tanpa diketahui oleh Kriminal tersebut sebuah peluru langsung menembus kepalanya dan dirinya pecah menjadi kepingan cahaya dalam sekejap.


“A ... AAAAAAHHH!” teriak Deny dengan wajah yang sangat ketakutan.


Mentalnya dalam seketika jatuh hingga di mans dirinya tak bisa berpikir secara rasional lagi, dia dikendalikan oleh ketakutan yang semakin mendominasi.


Ini adalah keraguan Deny yang bergerak maju, dia masih begitu polos dan kapan saja membahayakan dirinya di tengah kegilaan Kota Aezak atau pun kegilaan dunia ini sendiri.


Deny lantas menembakkan pistol ke sembarang tempat hingga tak terasa isi dari magazine nya telah habis dalam sekejap dengan korban tembakannya adalah Haryo yang nyaris tewas, beruntungnya Haryo segera memeluk Deny demi menenangkan kejiwaannya.

__ADS_1


“Tenanglah, tenanglah Deny,” ucap Haryo dengan pelan. “Jangan ragu ... Jangan juga terlalu polos, dunia sangat keras sekarang,” lanjutnya.


__ADS_2