
Di sebuah gedung Markas Pusat Pemburu Aezak, tepat di lantai 3 sebuah ruangan tempat bertemunya Deny dan juga Walikota Aezak, Adiwiyata.
Saat ini, Deny sedang duduk termenung di hadapan Adiwiyata yang malah senyum sendiri sambil menutup matanya, senyuman yang jelas misterius, ditambah adanya aura yang berbeda dari Adiwiyata, seperti menghadapi seorang yang sangat berkuasa di dunia, kewibawaannya sangat tinggi.
“Hmm ... Besok, besok saya kabari Pak Walikota,” ucap Deny yang akhirnya membuat Adiwiyata pun berdiri sambil menuju pintu ruangan untuk keluar.
Memegang kenop pintu, Adiwiyata menoleh sejenak sambil mengatakan sebuah kalimat yang membuat Deny harus benar-benar memikirkan masalahnya kali ini, soalnya di depannya adalah penguasa Kota Aezak, sekali ayunan tangan, maka kehidupan damainya akan sirna.
“Ingat, jangan menyia-nyiakan kesempatanmu,” ucap Adiwiyata yang langsung membuka pintu dan keluar, kemudian ditutupnya lagi meninggalkan Deny yang sempat terhenyak.
‘Setahuku, Pak Adiwiyata, dia itu juga Walikota di dunia nyata, kalau nggak salah Walikota So–’
Clek~!
“Deny, apa yang Pak Walikota katakan? Seperti serius! Jelaskan, kumohon~!” Datang Nanda dengan memohon untuk diberikan penjelasan dari apa yang Deny alami selama kurang lebih 30 menit.
“Ah, itu ...”
Deny tentu tak bisa membuat Nanda ikut dalam arus yang ke depannya akan sangat berbahaya, seorang penguasa kota tentu memiliki banyak orang di sisinya demi menjaganya, maka dari itu, Deny untuk saat ini langsung mengalihkan pembicaraan dari Nanda.
“Nanda, laporan semalam tentang klaim garansi dari mobilku yang ringsek gimana?”
“Ah, itu, yaa! Dari Divisi Fasilitas Pemburu, katanya agak lama, sekitar dua sampai tiga hari lagi, jadi ... Gunakan saja mobilmu yang ringsek itu.”
Deny sempat bernapas lega, tetapi ketika sorot mata penuh penasaran dari Nanda langsung membuatnya melangkah pergi sambil mengatakan sebuah kalimat yang jelas akan sedikit membungkam rasa penasaran Nanda.
“Aku mau buang air besar.”
__ADS_1
“Iiish! Nggak gitu juga jelasinnya!” Nanda langsung pergi sesaat juga Deny pergi dengan tawa puasnya karena berhasil menghindari pertanyaan dari Nanda.
Saat ini, Deny memilih untuk beristirahat di ruangan miliknya yang memang disediakan untuk para Pemburu, di ruangan berukuran 6×6 meter dengan sekat pembatas pada bagian tengahnya untuk membatasi ruangan santai dan juga ruangan tempat Deny bertemu seorang klien.
Deny memasuki ruangan santai miliknya, dan mencoba untuk melakukan tinjauan kembali atas pernyataan-pernyataan yang dikemukakan oleh Walikota Adiwiyata.
Dengan segala macam pertimbangan tentunya, Deny berharap agar keputusannya ini bisa membuat hidupnya cukup damai ke depannya, tak penuh tekanan dan hanya melakukan kegiatan sebagaimana seorang Pemburu biasa yang mencari uang dan juga Poin Pemburu.
Setiap menyelesaikan suatu tugas, terkadang Poin Pemburu sama sekali tak masuk, itu karena dukungan dari Pemburu itu dalam suatu tugas sangat kurang, begitupun yang terjadi kepada Deny.
Selama dirinya menjadi Pemburu, dia hanya mendapatkan 33 Poin Pemburu, berbanding terbalik dengan para Kriminal yang sekali berbuat buruk langsung mendapatkan setidaknya 1 Poin Kriminal.
“Yap, damai. Aku butuh realisasi dari kata damai, tanpa itu tentu akan sangat risih,” gumam Deny sambil berbaring di kasurnya.
Deny mulai memutar otaknya, mencoba melakukan visualisasi selama beberapa hari ke depan setelah dirinya menerima tawaran dari Walikota Adiwiyata.
“Aku harus menggulingkan Pemburu Jimmy dari kursi Kepala Pemburu Kota Aezak, itu sulit, tapi 'kan pasti ada dukungan dari Walikota Adiwiyata.”
“Dari keyakinan Pak Adiwiyata sih, dia sungguh-sungguh, bisa kacau hidupku yang perlahan juga menuju kacau.”
Deny bangkit, dia menuju meja kerjanya, mencoba menenangkan pikirannya dengan menggulirkan komputernya, dengan menjelajahi internet mencari hal-hal yang menenangkan.
“Cih, sesulit itu kah jadi orang yang ‘baik’, sepertinya orang baik di dunia ini maupun di dunia luar sangat sedikit, itu fakta sih, banyak tikus-tikus yang duduk di kursi pemerintahan dan mengambil hak rakyat.”
Deny, semakin lama, semakin masuk dalam hal-hal yang gelap oleh sebuah tatanan pemerintahan, betapa tidak nyamannya dirinya dalam mengatasi pikiran yang semakin menjerumus ke tepi jurang tersebut.
Dirinya ketar-ketir, bisa saja akan ada alat penyadap suara yang dipasang di ruangannya, hingga dia bergumam pelan, “Bahaya, seharusnya aku pulang tadi, pikiranku semakin kotor juga. Ya, sudah seharusnya aku terima saja dan lihat konsekuensinya.”
__ADS_1
Deny mengambil blazernya dan segera memakainya, kemudian dia keluar dari ruangan itu dan segera pergi dari gedung tempat para Pemburu beristirahat serta menerima sebuah klien yang memerlukan mereka.
“Hemm ... Menjauhi Nanda untuk sementara adalah hal yang benar, dia anaknya kayaknya rasa penasarannya tinggi sekali.” Deny bermonolog sambil menekan tombol lift untuk turun ke lantai dasar.
Sesampainya di lantai dasar, Nanda sedang melayani seorang pria dengan raut wajah gusar, Nanda sendiri juga mulai merasa risih.
“Itu tugasnya, jangan ikut campur.” Deny mewanti-wanti pikirannya agar jangan sampai ikut campur urusan orang lain.
Deny dengan cepat melangkah pergi dan langsung menuju mobilnya untuk mengendarainya kembali ke rumah.
Di dalam perjalanan, sekitar 30 menit akhirnya Deny yang mulai merasa risih dengan rasa panas di pagi hari ini langsung masuk ke rumah yang ternyata ada kucing berwarna oranye sedang mengobrak-abrik isi persediaan makanannya yang berada di dalam kotak di atas meja dapur.
“Heh! Anjir, huuss! Jangan juga persediaan makananku!” keluh Deny dengan mengacak-acak rambutnya.
***
Di sebuah gedung pencakar langit dengan penuh keamanan orang-orang berwajah datar dan memakai kacamata beserta setelan jas hitam.
Di sebuah ruangan yang ada di lantai 13, seorang pria bertubuh cukup besar sedang menikmati daging yang begitu lembut dengan aroma alkoholnya.
“Ah~ Sepertinya aku harus bergerak, Jimmy terlalu mengerikan, bisa-bisa aku akan digeser olehnya dari jabatan Walikota Aezak. Semoga anak yang polos itu menerimanya,” celetuk pria tersebut yang ternyata adalah Adiwiyata.
Adiwiyata beranjak dari kursinya dan menatap sebuah buku hitam dengan segel rantai yang sangat kokoh. Buku itu terlihat misterius dengan segel yang menahannya.
Adiwiyata mengambilnya dan dia berjalan menuju jendela yang besar di ruangan itu, kenampakannya sangat menakjubkan dari ketinggian, orang-orang di bawah nampak kecil sedang beraktivitas seperti biasa dengan kesibukan mereka.
Adiwiyata menggenggam erat buku itu sambil menenggak segelas minuman berwarna merah, terasa pahit, tetapi ada kesan bahwa minuman ini sangat mewah dengan aroma alkohol yang sangat kental.
__ADS_1
Sorot mata Adiwiyata begitu tegas, napasnya menderu berat hingga sebuah kalimat mampu menciptakan rasa ancaman yang sangat besar.
“Deny Dewantara, serta buku ini ... Adalah kunci menuju kesuksesan.”