Roleplay World Online (RWO)

Roleplay World Online (RWO)
Bab 45 - Malam Penuh Aksi


__ADS_3

Sirine menggema di malam yang begitu kelam ini, lampu warna biru dan merah bergantian terus berputar ke segala penjuru Kota Aezak.


Hal ini membuat para Kriminal harus benar-benar bersembunyi di balik bayangan demi ingin hidup lebih lama lagi, tentunya mereka dibayang-bayangi masa-masa mengerikan ini yang membuat terkadang mental menjadi hancur.


Sementara itu, entah mengapa para Pemburu benar-benar melakukan patroli besar-besaran pada malam itu, mereka menyisir ke segala penjuru kota dengan tujuan yang sama sekali tak diketahui oleh banyak orang, tak terkecuali kelompok Gavin yang juga sedikit khawatir akan hal ini.


Mayat dari orang misterius itu telah benar-benar musnah, Gavin tanpa rasa bersalah ataupun merasa bahwa dia harus menunjukkan kemanusiaannya, justru melakukan tindakan di luar akal sehat, yaitu membakarnya hingga benar-benar menjadi abu.


Malam itu penuh dengan ketegangan tingkat tinggi, hingga satu persatu para Kriminal yang muak diteror oleh para Pemburu pun keluar dari balik bayangan dan melakukan aksi yang membuat para Pemburu harus bertindak.


“Gavin, aku tahu kau masih belum tenang, tapi ... Jika aku lihat dari puluhan kamera pengawas yang kita pasang di segala penjuru kota, Pemburu benar-benar maju tak gentar!” jelas Laksmana yang tetap fokus ke arah laptopnya.


Gavin yang duduk dengan tenang sembari menutup mata pun akhirnya berdiri, dia langsung mengunci pistolnya dan melepas magazinenya.


“Kita bergerak, malam ini akan penuh dengan aksi, kita juga harus menunjukkan betapa kuatnya The Smily.” Sorot mata dingin, menatap setiap rekan-rekannya.


Tanpa basa-basi lagi, rekan-rekan Gavin langsung berdiri dan segera mempersiapkan persenjataan mereka, satu hal yang pasti adalah malam ini akan penuh dengan aksi mendebarkan bagi para Kriminal.


Tak satu pun dari mereka gentar, mereka hanya menatap masa depan yang semakin gelap saja, meski begitu, kemauan mereka terhadap aksi ini adalah murni sebuah insting dari peran yang mereka bawakan.


“Laksmana, kau di sini saja, kau akan mengawasi setiap inchi pergerakan kota, jika ada bahaya mengintai kabari saja!” titah Gavin kepada Laksmana yang hendak berdiri.


Laksmana menganggukkan kepalanya, dia lantas kembali fokus dengan laptopnya, bahkan membuka berbagai macam daftar jendela untuk dirinya mengawasi puluhan rekaman kamera pengawas yang tersebar di seluruh penjuru Kota Aezak.


Gavin dan sisanya pun bergerak, mereka dengan taktik kecil yang dibuat secara cepat oleh Gavin, menyebar menjadi berpasangan, setidaknya hanya Gavin seorang saja yang menyendiri.


Gavin melajukan mobil sedan hitamnya di jalanan penuh keramaian, hingga deretan mobil Pemburu melewatinya berlawanan arah, hal itu sedikit membuat Gavin meresponsnya.


“Itu cukup menegangkan,” celetuk Gavin.

__ADS_1


Terus melajukan mobilnya, hingga tak terasa Gavin telah benar-benar berada di pusat taman Kota Aezak, ini adalah sebuah tempat di mana semuanya bermula, di mana ribuan manusia meregang nyawa di sini.


“Bagaskara, kau telah membuat kesalahan besar dalam hidupmu,” gumam Gavin sembari menatap tempat di mana saat itu Bagaskara berdiri di hadapan 300.000 manusia yang terkumpul menjadi satu.


Percikan merah menyala, diikuti oleh sebuah ledakan dahsyat menghempaskan semuanya dalam radiusnya, teriakkan ketakutan pun saling bersahutan tanpa henti, suara alarm kendaraan berbunyi di mana-mana.


Gavin mengedarkan pandangannya, dirinya yang sempat terkejut karena getaran dan suara ledakan yang amat dahsyat hanya bisa tenang untuk saat ini, dan menyimak apa yang terjadi.


Semua itu terjadi sangat cepat, mobilnya benar-benar bergeser hanya karena gelombang ledakan tersebut, sementara seluruh gedung dalam radius ledakan memiliki kaca yang berhamburan ke mana-mana.


Asap hitam membumbung tinggi ke langit, sirine mobil Pemburu pun menggema dalam kepanikan tersebut, hingga deretan mobil Pemburu benar-benar datang dengan persenjataan lengkap.


“Sial, aku harus pergi, rencanaku ingin sedikit membuat aksi di sini, tetapi nampaknya didahului oleh seseorang.”


Gavin memindahkan persnelingnya dan langsung menginjak pedal gas begitu dalam, meninggalkan pusat taman Kota Aezak tersebut yang benar-benar kacau dengan teriakkan putus asa.


Dari arah samping tepat di persimpangan jalan, mobil van benar-benar menghantam keras mobil sedan hitam Gavin hingga berguling beberapa kali dan kemudian meledak begitu dahsyat.


***


“AKHH SIALAN!!!” Laksmana menghamburkan semua yang ada di hadapannya, dirinya sangat kesal, matanya memerah, emosinya pun juga memuncak.


“Gavin! Mobilnya meledak di persimpangan Timur Raya, cepat ke sana bajingan!!!” teriak Laksmana pada alat komunikasi miliknya.


Kabar itu lantas membuat seisi frekuensi alat komunikasi menjadi terdiam, hingga suara dari Rita langsung membuyarkan lamunan mereka.


“Hey! Kenapa diam?! Cepat langsung ke sana!” Seruan dari Rita benar-benar membuat mereka sadar dari lamunan dan segera bergegas menuju persimpangan yang dikatakan Laksmana.


Persimpangan Timur Raya menjadi kacau, mobil Gavin yang terbalik dan meledak, serta banyaknya kejadian kriminal yang benar-benar langsung mengacaukan persimpangan damai dan tenteram tersebut.

__ADS_1


Satu persatu kendaraan yang ditumpangi oleh rekan-rekan Gavin pun berdatangan, hingga Kusuma yang terakhir datang dengan mobil sedan hitamnya.


Semuanya menatap ke arah mobil yang terbalik dan sedang terbakar itu, tak ada yang bisa mereka lakukan hingga sirine mobil Pemburu pun menggema di telinga mereka.


Tanpa aba-aba penghormatan atau apapun itu, mereka membubarkan diri dengan hati yang gundah gulana, terus saja kepikiran tentang Gavin, apakah dia masih hidup atau telah tewas terpanggang di dalam mobilnya.


Sebenarnya tak ada yang mustahil, hanya saja setelah Laksmana terus menerus memutar rekaman kejadian itu, dia hanya bisa menggelengkan kepalanya, menghela napas berat.


Laksmana yang berada di ruang bawah tanah pun hanya bisa berteriak kesal, dia benar-benar tak becus dalam menjaga rekaman setiap sudut kota yang mencurigakan.


“Sialan! Siapa pengemudi mobil van itu?!”


Dengan cekatan, Laksmana terus menerus menggulirkan setiap rekaman kamera pengawas, mencari mobil van hitam yang menabrak Gavin, tentu dengan bukti bemper depannya yang ringsek karena tabrakan tersebut.


Mata Laksmana bergerak begitu cepat, adrenalinnya meningkat hingga mencapai tingkat tertinggi, keringat dingin mengalir deras, ini adalah sebuah kegiatan yang mampu membawanya kepada tingkat serius tertinggi baginya.


“Di mana ... Di mana?!”


Sebuah suara hentakan pintu besi terdengar keras, Laksmana beranjak dari tempatnya sembari memegang pistolnya dan menodongnya ke arah pintu menuju permukaan tanah.


“Sial, siapa itu?” gumam Laksmana, dia melirik rekaman kamera pengawas di depan pintu tersebut.


Terlihat seorang yang nampak familiar untuk masalah bentuk tubuh dan cara berdiri, memakai masker dengan gambar tengkorak, memegang senapan laras panjang di kedua tangannya.


“Dia ....”


Pintu terbuka, rentetan tembakan pun berhamburan keluar, suaranya menggema memekakkan telinga, memercikkan api dari ujung moncong senjata.


Sebuah tubuh terkapar bersimbah darah, menatap nanar ke arah langkah kaki yang mendekatinya.

__ADS_1


“Maaf, Laksmana.”


__ADS_2