
Di sebuah gedung dengan lalu-lalang manusia begitu padat, hari yang sangat sibuk dengan berbagai macam hal yang diurus oleh mereka-mereka.
Di sebuah ruangan, seorang pemuda dalam keadaan amarah yang mulai memuncak karena pria berjas di depannya terlalu aneh untuk seorang penanggung jawab dalam peresmian seorang Pemburu.
Namun, Deny mencoba untuk menjalaninya hingga wanita resepsionis tadi datang dengan kartu berjenis keras menyerupai sebuah kartu ATM, tentu dengan informasi Deny sebagai Pemburu yang telah diresmikan.
“Baik, Pemburu Deny, kami minta kerja kerasnya mendamaikan Kota Aezak, sejak dua hari lalu, Kota Aezak benar-benar dipenuhi oleh teriakan keputusasaan, saya sebagai resepsionis biasa hanya bisa menghela napas pasrah,” ungkap wanita resepsionis tersebut yang pada tag namanya tertulis Nanda Amelia.
“Begitu, ya, maaf saya panggil apa nih? Nona ... Nona Nanda?”
“Haha! Nggak perlu manggil Nona segala, panggil saja Nanda, kita sama usia kok!”
“Eeeehhh!”
Deny membentuk wajah layaknya orang konstipasi, keterkejutannya membuat Nanda hanya bisa terkekeh geli. Jelas bagi banyak orang, menganggap Nanda termasuk wanita yang telah dewasa melihat dari postur tubuh menakjubkannya.
“Hei, mata, mata! Lihat ke mana?” seru Nanda yang menjepit hidung Deny dengan cukup kuat.
“Ah, itu~”
***
Di sebuah kantin yang luas dengan berbagai macam jualan dan juga meja yang berjejer rapi dan juga kursi yang tak kalah rapinya, ada beberapa orang yang sedang duduk santai di kantin sembari menyesap minuman mereka.
Saat ini, Deny dan Nanda duduk dengan perasaan canggung, keduanya hanya bisa saling berdiam diri menikmati hidangan di depan mereka yang begitu menggugah selera siapapun yang melihatnya.
Deny menelan makanannya, dan berkata, “Hmm ... Itu ... Apa kita bisa berteman? Sesama satu instansi gitu, saya Pemburu dan Na–Nanda adalah resepsionis yang membantu saya.”
Nanda menoleh kepada Deny dengan tatapan sengit, mata hitam berbinarnya saling bertemu pandang dengan mata hitam Deny yang cukup polos dan tak terlalu berbinar.
“Hei, saya, saya, saya! Aku dan kamu! Paham, nggak sih?!”
Deny pun menjadi panik dan langsung buru-buru menyuapi makanannya ke dalam mulut dalam porsi sendok yang besar sehingga dirinya sulit untuk mengunyahnya membuat Nanda terkekeh geli kembali melihat tingkah Deny.
__ADS_1
Sekitar semenit kemudian, Deny pun menyelesaikan mengunyah makanan, sekarang dia menatap ragu ke arah Nanda yang menunggu jawaban atas seruannya sebelumnya.
“Aku ... Dan kamu? O–Oke!”
Nanda mengangguk puas, dia kembali makan secara perlahan dan fokus ke depan, meski begitu dia menjawab pertanyaan Deny yang mencoba membuyarkan suasana canggung sebelumnya.
“Aku aman aja, resepsionis ini akan membantu Deny dalam menanggulangi masalah mental, hihi~” Nanda menatap genit ke arah Deny.
Deny hanya bisa menelan makanannya secara kasar kembali, dia pun buru-buru mengisi mulutnya dengan makanan dan untuk sementara tidak merespons jawaban dari Nanda, ini adalah masalah mentalnya yang masih terlalu polos dalam beradaptasi.
Deny adalah satu dari ratusan ribu orang yang mencoba beradaptasi dengan cepat, tetapi merasa kesulitan karena mereka tentu merasa sangat sulit untuk menanggulangi betapa mengerikan dunia dalam gim ini yang jelas membebani pikirannya.
Deny yang mendapatkan kehadiran teman wanita tentu sedikit lega karena dirinya yang sendirian di dunia ini kembali memiliki teman sejak Gavin pergi meninggalkannya.
‘Gavin ... Seandainya ada kau, mungkin ...’ pikir Deny dengan raut wajah termenung.
Nanda yang melihat Deny pun hanya bisa menghembuskan napas panjang, dia memahami bagaimana Deny yang mencoba untuk damai, tetapi di satu sisi harus menjalani hidup yang sama sekali tak damai.
Tring~!
Nanda mengintip, dia pun langsung mendorong pelan Deny sambil berkata, “Ada panggilan tuh.”
Deny pun paham dan segera mengangkatnya, dari seberang suara berat nan tegas langsung menghunjam telinganya.
“Deny Dewantara, pergi ke Jalan Kelapa Dua di daerah dekat taman kota, ada pencurian di sana, kau bersama seorang lainnya sedang menunggu di parkiran bawah tanah!”
Deny pun langsung berdiri dan berseru, “Baik, Pak!”
Deny menatap Nanda yang menganggukkan kepalanya bahwa Deny harus segera pergi mengatasi pencurian yang terjadi di taman kota.
Deny dengan langkah yang semakin cepat menuju lift, dia dengan cepat menekan tombol hingga menuju parkiran bawah tanah, sekitar beberapa detik di dalam lift, pintu lift terbuka dan terlihat mobil sedan hitam dengan corak warna biru serta sebuah lampu sirine berbentuk bulat di atap mobil.
“Masuk, Anak Baru!”
__ADS_1
Pengemudi di dalam memakai kemeja putih dengan tangan digulung, di mulutnya ada sebatang rokok yang masih menyala, tatapan matanya nampak sayu dengan rambut yang acak-acakan.
“Ba–Baik, Pak!”
Deny membuka pintu mobil dekat pengemudi dan duduk dengan nyaman, hendak menutup pintu, mobil langsung tancap gas hingga dia sedikit terkejut.
Pintu mobil otomatis tertutup sesaat sang pengemudi menginjak dalam pedal gas menuju tanjakan untuk keluar dari parkiran bawah tanah, Deny hanya bisa menelan ludahnya dan bersiap untuk kemungkinan terburuk yang terjadi.
“Saya Haryo, Pemburu dari masa Pengujian Beta!” ucap pria itu sambil menoleh sejenak kepada Deny.
Deny pun menjawabnya, “Saya Deny Dewantara, Pemburu resmi yang baru!”
Haryo tersenyum, dia pun menyalakan sirine mobilnya dan melajukannya di jalanan yang penuh keramaian, bermanuver begitu lihai hingga ketika lampu lalulintas menunjukkan warna merah, Haryo menerobosnya begitu saja membuat sedikit kekesalan dari para pengguna jalan lainnya.
Dalam waktu lima menit, mereka sampai di taman kota, di sana telah terjadi keramaian yang meributkan tentang pencurian barang berharga salah satu Warga Biasa yang berprofesi sebagai CEO suatu perusahaan.
“Deny, kau pegang setir kemudi, saya turun, ambil alih dan kejar ke arah wilayah Utara taman kota, kurasa pencurinya tak jauh, saya akan melakukan manuver pertanyaan kepada korban!”
“Sa–Saya bawa mobil?”
“Kenapa, nggak bisa? Cih, Pemburu sialan!”
Deny pun hanya bisa menghela napas dan mengiyakan perintah dari Haryo dan segera melajukan mobil meninggalkan keramaian yang sedang diredam oleh Haryo sebagai petugas keamanan.
“Deny, ambil jalur kiri, pencuri itu benar-benar ke Utara menurut kesaksian banyak orang, setelah itu ... Pindai area di sana, kelilingi setiap sudut, ini adalah perintah pertama bagimu!”
Suara itu dari radio yang terhubung langsung ke mobil, Deny menjawabnya dengan lantang, “Siap!”
Ketika sampai di daerah Utara taman kota, dia melihat seorang pemuda sedang berlari melompati tembok demi tembok begitu lihai, orang-orang yang mengejarnya tentu kewalahan dan kehilangan jejak.
Deny keluar dari mobil dan langsung memfoto pencuri itu dengan cepat memakai kamera yang telah tersedia di dalam mobil sebelumnya, foto dengan resolusi tinggi hingga pixel dari foto itu sama sekali sulit untuk dideteksi.
Deny melihat foto hasil jepretannya ketika si pencuri memanjat sebuah tembok dan menengok ke arahnya, dia hanya bisa ternganga lebar, itu adalah foto pencuri yang sangat familier baginya.
__ADS_1
“Gavin ...” gumam Deny.