
Deny yang saat ini sedang berada di rumah bekas dari Gavin yang ditinggal olehnya, dia sedang menyeruput secangkir es teh hangat yang baru saja dibuat olehnya di panas siang yang begitu terik ini.
Sejak Proses Pendewaan beberapa jam lalu, para Pemburu pemula dipersiapkan dengan segala cara demi menanggulangi tekanan mental yang dapat menghalau pekerjaan.
Sekarang mereka dipulangkan dan harus siap sedia jikalau ada panggilan dari pusat, begitulah tugas seorang Pemburu yang menyerupai petugas keamanan di dunia luar, yaitu polisi.
Hanya saja, polisi berbeda dengan Pemburu, polisi cenderung lebih memihak pemerintah dengan segala macam hal kotornya, itu terkadang. Nah, Pemburu lebih ke instansi yang dikelola pemerintah kota, tetapi dengan kebijakan yang bisa saja berbeda sehingga perseteruan antara instansi Pemburu dan pemerintah bisa saja terjadi.
“Hmm ... Es teh hangat? Sejak kapan bisa begini,” celetuk Deny tanpa sadar.
Di tengah dirinya yang termenung memikirkan segala hal tentang tubuhnya di dunia luar, apa yang sedang terjadi dan bagaimana keadaan sejak beberapa hari lalu Penghakiman Dunia.
Sebagai catatan kecil, dunia gim ini memiliki waktu yang sama seperti dunia luar, istilahnya Real-time Roleplay, atau permainan peran dengan mengusung waktu nyata yang dapat saling terkait satu sama lain.
Bagi 300.000 pemain awal, mereka menganggap dan berharap Roleplay World Online atau yang disingkat RWO bisa menjadi dunia kedua mereka demi mencari pundi-pundi uang, mereka memilih mencari uang di dalam sini daripada di dunia luar.
Drrrrt~!
Deny terkejut ketika mejanya nampak bergetar dengan suara yang cukup mengerikan, dia membuka matanya dan langsung meraih ponsel pintarnya serta menjawab panggilan dari Markas Pusat Pemburu Aezak.
“Pemburu Deny, siap siaga, ada perampokan toko baju di Utara Kota Aezak, perbatasan dengan Kota Jaya!”
Deny langsung berdiri dan kemudian menjawab, “Perampokan toko baju, siap meluncur!”
Deny pun menyeruput es teh hangatnya dalam sekali teguk dan langsung mengambil jaket hitamnya yang kemudian menuju mobil sedan hitam, fasilitas dari Markas Pusat Pemburu Aezak untuk para Pemburu pemula, itu sebuah fasilitas yang layak dianggap sebuah penghargaan bagi diri sendiri dapat menggunakan mobil dinas secara pribadi.
Deny menginjak pedal gas dengan dalam dan langsung menyalakan sirine mobilnya, membelah jalanan yang macet, seisi Kota Aezak mulai terdengar suara sirine yang saling bersahutan.
Sirine yang sangat nyaring menggema di Kota Aezak, para Pemburu Veteran dan juga Pemburu pemula mengendarai masing-masing fasilitas mereka menuju lokasi tempat perampokan toko baju.
Jarak tempuhnya cukup jauh, maka dari itu dari Markas Pusat Pemburu Aezak juga telah menghubungi Markas Pusat Pemburu Jaya untuk memberikan bantuan jikalau para Pemburu Aezak terlambat untuk bertindak.
Dari radio komunikasi yang terhubung ke setiap fasilitas kendaraan para Pemburu berseru seorang wanita operator dengan suara tegasnya.
“Para Pemburu, pergi ke masing-masing koordinat yang dikirim kepada kalian, di sana akan ada penjelasan atas misi ini karena terdapat 10 orang sandera dengan perkiraan para Kriminal adalah 6 orang!”
Deny mengambil alat komunikasi itu dan langsung berseru tegas, “Baik, delapan-enam!”
__ADS_1
Deny pun menambah kecepatan mobilnya, di depannya ada dua mobil Pemburu sepertinya ke arah koordinat yang sama dari koordinat milik Deny.
Ketegangan melanda mereka ketika sekitar berjarak 5 menit dari titik lokasi terdengar dentuman yang mampu membuat gendang telinga sedikit berdenging sehingga Deny dan dua mobil di depannya sempat tak terkendali.
“Anjir, dentuman itu!”
Kzzzrrt~!
Radio komunikasi seperti ada gangguan sinyal, hingga beberapa kata terakhir membuat mata Deny membulat sempurna.
“Se ... Semuanya mund– ... Jangan mendekat!”
Bzzzt~! Ctas~!
Hingga radio komunikasi putus total, dari arah depan, kembali terdengar dentuman yang cukup dahsyat hingga getaran sangat terasa, Deny segera memberhentikan mobilnya begitu pula dua mobil Pemburu lainnya dan banyak mobil para Warga Biasa lainnya.
Deny keluar dari mobil dengan menutupi telinganya memakai kedua tangannya, raut wajah ketakutan ditambah kebingungan tercetak jelas, begitu pula para Pemburu dan sebagian Warga Biasa.
Mereka menatap lekat ke arah kejauhan di mana asal suara dentuman itu berada, gelombang dentuman terus terasa sepoi-sepoi menabrak wajah mereka.
“Saya ... Saya dapat kabar, katanya–”
Dummm~!
“AAAARRRRGHHHH!!!”
“MAMAAA!!!”
“SAKIIIT~!!!”
Teriakan demi teriakan penderitaan saling bersahutan di dekat sekitar Deny, semuanya jatuh tersungkur sembari memegangi kedua telinganya dan mencoba menutupinya.
Deny dan para Pemburu lainnya juga mulai menandakan keanehan, rasa sakit tak tertahankan, dari dalam lubang telinga mereka keluar darah segar hingga ketika mencoba saling memanggil, seperti keheningan di malam hari.
Deny sama sekali tak bisa mendengar, rasa sakitnya membuat kepalanya pusing hingga dia jatuh terduduk dan masih tetap menutupi telinganya memakai kedua tangannya.
Kekacauan itu pun menjadi sebuah teriakan penderitaan, dentuman yang membawa angin kesakitan benar-benar membuat banyak orang jatuh terduduk sambil menutupi kedua telinga mereka.
__ADS_1
“UGHHH!!!” rintih Deny, dia menatap ke arah asal suara dentuman yang memekakkan bagi gendang telinganya.
“Itu ...”
Deny terbelalak, semua kendaraan lapis baja berwarna hitam dengan sebuah alat berwujud lingkaran berputar secara berkala di atasnya, terlihat secara kasat mata ada sebuah gelombang pemecah ruang dan waktu yang perlahan bergerak ke arah mereka.
Hingga ketika datang, gelombang itu menghantam setiap telinga orang-orang di sana, dentumannya amat menggetarkan tanah, tetapi efek dari gelombang yang terlihat memecahkan ruang dan waktu itu langsung membuat banyak orang jatuh tersungkur sembari menutupi telinga mereka.
“AGGGHHH!”
‘Aku sama sekali tak mendengar, tetapi rasa sakitnya masih sangat ... Benar-benar mengerikan ... Kepalaku ... Pusing,’ batin Deny.
Ngiiing~!
Sebuah dengung pun langsung menambah kesengsaraan bagi orang-orang di sana, mereka satu persatu kehilangan kesadaran atau ada bahkan sampai tewas dan menjadi pecahan cahaya.
Deny mencoba bertahan, dia merangkak menuju mobil sambil meratapi nasibnya, matanya sudah melihat banyak sekali orang yang pecah menjadi cahaya dan itu adalah tanda kematian bagi mereka baik di dunia ini maupun di dunia luar.
“Si–Sial!”
‘A–Ayo! Naiki ... Naiki mobil!’ batin Deny dengan susah payah.
Matanya mulai buram, dirinya tak tahan lagi atas penderitaannya yang sangat menyakitkan ini, hingga dia diangkat dan dipapah oleh seseorang, menoleh ke samping, seorang pria dengan seluruh lubang di kepalanya mengeluarkan cairan merah.
“Pa–Pak ... Haryo?!” Tak peduli mau sekeras apapun, Deny bahkan tak mendenga suaranya.
Beruntung, Haryo masih bisa melihat dari gerakan bibir, dia pun juga segera berbicara dengan beberapa kata saja. “Kau pergi, di sini bahaya!”
Deny mencoba menyimak gerakan bibir Haryo sembari meringis kesakitan, dia pun mengerutkan dahinya atas perkataan yang sepertinya tidak mendasar dari Haryo.
Haryo membuka pintu mobil dan mendorong Deny, kemudian berkata sembari tersenyum begitu hangat, “Selesaikan, kita bertemu di dunia luar!”
Detik kemudian, Haryo pecah menjadi pecahan cahaya dan musnah dari sana, Deny pun menjadi syok, dengan posisi yang nyaris tak terkendali atas mentalnya, dia melajukan mobilnya dengan terus menabrak mobil lain yang menghalangi.
Deny menjauhkan mobilnya dari dentuman dan gelombang pemecah ruang dan waktu dengan posisi berteriak histeris, meski sama sekali tak mendengar suaranya.
Namun, mentalnya ikut jatuh hingga sekitar berjarak beberapa kilometer, Deny telah habis, dia pun tak sadarkan diri hingga membuat mobil yang dikendarainya menabrak tiang listrik.
__ADS_1