
Wwirrr~!
Sebuah helikopter mengudara di langit Kota Aezak, meski begitu raungan sirine mobil Pemburu juga menggema di jalanan kota mencoba setidaknya mengikuti jalur terbang dari helikopter tersebut.
Helikopter yang berkecepatan tinggi itu mulai terbang rendah di sebuah lapangan kosong, sementara itu mobil-mobil Pemburu lainnya telah kehilangan jejak dan berakhir lolosnya Gavin serta kelompoknya.
Helikopter mendarat dengan sempurna, menerbangkan tanah dan juga dedaunan ke segala arah, angin dari baling-baling helikopter itu sangat kencang yang perlahan mulai memelan.
“Akh! A–Aku bisa serangan jantung!” seru Lucy dengan napas yang terengah-engah karena dirinya benar-benar masih merasa ketakutan hingga lututnya sendiri gemetar tak karuan.
“Hahaha! Kriminal kok takut,” celetuk Ferry.
Gavin yang baru saja turun dari helikopter dengan melompat ke tanah segera menjitak kepala Ferry sembari berkata, “Sudahi omong kosongmu, atau kepala ini tercabut dari tempatnya.”
Hening, tak ada yang bergeming atas peringatan datar dari Gavin, semuanya hanya bisa menelan ludahnya secara kasar sembari mulai berpikir ke depannya agar jangan sampai membuat Gavin menjadi sangat marah.
“Theo Si Pembeli Barang ada di sana,” ucap Gavin sembari menunjuk sebuah jalan setapak memasuki semak-semak belukar yang tinggi.
“Itu ....”
Hendak berbicara, Ferry langsung disela oleh Rita dengan memberikannya sekotak penuh berisi batangan emas dan juga beberapa butir berlian yang tentu sangat berharga hasil dari perburuan Gavin di kantor Walikota Adiwiyata.
“Cuih, perempuan tak boleh angkat beban selagi ada pria di dekatnya,” sindir Rita sambil pura-pura mengelap keringat di dahinya.
“He–Heh! Berat ... Berat ini, woy!” seru Ferry sembari langsung melepaskan pegangannya pada kotak itu hingga jatuh ke tanah mengagetkan semuanya.
“SUDAH, DIAM SAJA!” Dengan suara yang naik, Gavin kembali memeringati mereka untuk segera diam.
***
“Sa–Sampai juga!” Ferry meletakkan kotak penyimpanan itu ke tanah yang kemudian dia meregangkan tubuhnya, membuat suara khas dari peregangan otot.
“Kenapa tidak dimasukin ke {Inventaris} sih?!” keluh Ferry yang langsung ditatap dingin oleh Gavin.
Gavin melangkah maju ke depan Ferry, memegangi kedua bahunya sambil menelengkan kepalanya, sedikit tersenyum yang lantas membuat Ferry merasa dirinya seakan tenggelam dalam penyesalan abadi.
__ADS_1
“Mantra itu tidak berguna untuk barang seperti ini, dan ... Jangan sekali lagi kau bersuara untuk sekarang.”
Suasana dingin tercipta, tetapi semuanya terbuyarkan oleh suara pintu yang terbuka dan menampakkan seorang pria bertubuh besar berambut putih dengan sebatang tembakau yang digulung pada mulutnya.
“Gavin! Itu kau ternyata!” seru pria itu, dia adalah Theo.
“Ambil ini, segera konversi ke mata uang Rupiah Pangea!” ucap Gavin yang mengangkat sekotak penuh emas dan berlian, kemudian segera memberikannya kepada Theo.
“Woo! Santai, Gavin, seperti biasa saja dan jangan cuek seperti itu.”
Gavin tak memedulikannya, dia langsung berbalik dan menarik Ferry serta Lucy untuk masuk ke dalam bersama, sementara itu Rita di depan untuk menjaga proses konversi atau juga bisa dibilang penukaran yang menjanjikan.
“Hmm, seperti itu, ya,” gumam Theo yang sedikit memahami apa yang terjadi, meski terasa aneh saja melihat sikap Gavin yang berbeda sejak seminggu hingga dua minggu lalu.
Di dalam gubuk tua itu, dipenuhi berbagai barang hasil penukaran yang menjanjikan, begitu banyak barang yang terlihat antik dan juga sangat berkelas terpampang nyata sepanjang dinding.
“Ayo ke bawa,” ajak Theo sembari membuka sebuah pintu kayu yang berada tepat di belakang kursi kerjanya, tertutupi sebuah karpet kecoklatan.
Theo masuk lebih dahulu dengan menuruni deretan anak tangga ke bawah tanah, kemudian Gavin yang masuk tanpa ragu, sementara itu Ferry dan Lucy terlihat ragu untuk memasuki area bawah tanah dari pemilik tempat tersebut.
Dengan dorongan pelan, akhirnya keduanya masuk, suasana pengap dan aroma lembap pun langsung menusuk indera penciuman mereka, tentu raut wajah pun berubah.
Namun, bagi Gavin, dirinya sama sekali tak terganggu dengan suasana itu, bahkan sekelas sang pemilik sekalipun masih nampak menutupi hidungnya agar aroma menusuk itu tak mengganggu dirinya.
“Ini menuju jalur ruang bawah tanahku, di depan, akan ada pintu besi raksasa yang membatasi tangga dan ruang utama, jadi ... Bersiaplah,” jelas Theo sambil menyalakan senter miliknya yang segera menyoroti ke arah depan.
“Begitu, ya,” gumam Gavin, tangan kanannya memegang serius pistol di sakunya, nampak sangat waspada berjalan di belakang Theo.
Ferry dan Lucy yang melihat sikap Gavin pun dengan sepakat pula, mengikuti kewaspadaan Gavin, keduanya langsung mengambil sepucuk pistol tanpa membuat suara yang mencurigakan bagi Theo.
“Woalah, inilah pintu besi itu!”
Sebuah pintu besi dengan sebuah alat sejenis kemudi yang nampaknya adalah bagian dari kenopnya, kemudian sebuah fitur desain yang seperti kunci dari pintu besi itu nampak mengelilingi bingkai pintu besi tersebut.
Tang~!
__ADS_1
Theo lantas langsung memukul di beberapa sisi dengan cepat, bahkan Gavin dan kedua rekannya itu yang cukup jeli pun sama sekali tak dapat menghafal gerakan dari Theo dan juga titik-titik di mana pukulan itu berada.
Pada pukulan ke-13, pintu pun langsung bersuara nyaring, hingga kenop kemudi itu diputar oleh Theo dan didorongnya, suara decitan keras meraung memekakkan telinga bagi semuanya.
Syaaa~!
Hawa dingin menusuk pori-pori kulit, aroma wangi pun langsung membuat indera penciuman yang sebelumnya mulai beradaptasi dengan aroma lembap menjadi segar kembali.
Mereka disuguhkan ruangan dengan lantai keramik putih, berbagai furnitur kelas mewah, lemari penyimpanan berbagai macam barang antik dan juga terdapat sebuah lukisan yang benar-benar nampak asli, itu adalah wanita yang tersenyum.
“WOAAAHHH!!!” Ferry menjadi sangat berbahagia, dia tanpa sadar langsung berlari dan melompat ke atas sofa yang lembut tersebut.
“Penukarannya akan dimulai!” seru Theo sambil melangkah maju dan segera duduk di sebuah kursi yang nampak dikhususkan olehnya.
Semuanya duduk dengan tegang, terkecuali Ferry yang menikmati keindahan ruangan ini, matanya tak habis-habisnya mengelilingi setiap penjuru ruangan, bahkan sesekali mata tergiur akan barang terpatri dari binar matanya.
“Jangan coba-coba memiliki niat buruk,” sindir Theo.
“Lupakan itu, aku akan menawarkan sebesar 200 miliar untuk sekotak penuh ini, terdapat 20 batangan emas dan juga belasan berlian seukuran kelereng,” jelas Gavin yang langsung mematok harga tinggi.
“Heemm ... Memang benar deskripsimu, semuanya sekitaran begitu, nah untuk kemurniannya jangan ditanya, dari orang terpandang, bukan?”
“Adiwiyata.” Gavin tak mau berbasa-basi, dia langsung jujur saja tanpa menyembunyikannya.
Ferry dan Lucy hanya celingak-celinguk, mereka tak pandai menawar, mereka hanya bisa menjadi saksi bahwa penukaran ini telah berhasil.
“Bagaimana kalau 100 miliar?” Theo tentu ingin mengambil harga sejatuh-jatuhnya, agar kapan saja bila harga naik, maka dia bisa mendapatkan untung lebih besar.
“200 miliar atau tidak sama sekali,” ucap Gavin sembari menutup kotak itu dan segera menariknya ke arah dirinya.
Gavin lantas melirik Ferry dan Lucy, memberi kode bahwa mereka bisa mengangkat pistol di saat seperti ini.
Ferry dan Lucy pun mengangkat pistol mereka, hal ini membuat Theo tertawa terbahak-bahak dan segera memberikan sebuah kartu berwarna latar berlian dengan kilauannya yang mampu memanjakan mata.
“Di dalamnya ada 200 miliar, kita telah bersepakat, bukan?” ucap Theo sambil menghisap rokok tembakau miliknya.
__ADS_1