Sahabat Pelangi Untukmu

Sahabat Pelangi Untukmu
Bab 10. Segelas Cappuccino Hangat


__ADS_3

Walaupun di hati Tiara masih terukir nama Kelvin, namun ia bertekad untuk mengakhiri semua yang pernah dimulainya bersama Kelvin.


Tanpa diketahui oleh Gadis, Tiara pergi ke tempat yang dituju oleh Kelvin dan Vania. Dengan kondisi yang masih lemah, Tiara tetap memaksakan dirinya.


Tidak lama kemudian, sampailah ia di depan kafe itu. Dari kejauhan ia dapat melihat mereka sedang duduk dan bermesraan.


Mereka masih bisa berbahagia seperti itu? Apakah tidak ada rasa bersalah sedikitpun padaku? pikir Tiara.


Tiara mengambil Hp-nya dari saku celana. Ia berniat mengirimkan sebuah pesan.


Vania, kamu dimana sekarang?


Lalu dikirimnya ke nomor Vania.


Kemudian, ia mengetik pesan ke dua...


Vin, kamu lagi apa sekarang?


Dan ia kirimkan ke nomor Kelvin.


Tidak butuh waktu lama menunggu balasan dari mereka,


Vania


Aku lagi di kelas piano, Ra..  Ada apa?


Kelvin


Aku lagi mau main futsal sayang.


Melihat pesan singkat itu, Tiara melangkahkan kakinya. Raut wajahnya kembali sedih lagi. Dia mencoba membendung air matanya agar tidak terjatuh lagi.


Ia masuk ke kafe itu dan berjalan mendekati meja Kelvin dan Vania dengan mata yang sedari kejauhan tadi terus saja menatap sayu keduanya yang tengah berbahagia di atas kesakitannya.

__ADS_1


“Sayang, kamu senang nggak aku ajak kesini?” tanya Kelvin sambil menggenggam tangan Vania.


“Kemana pun asalkan sama kamu, aku pasti senang kok,” jawab Vania sambil tersenyum. “Vin, kamu beneran cinta sama aku kan?” tanya Vania pada Kelvin.


“Iya, cinta banget sama kamu. Emangnya kenapa?” jawab Kelvin.


“Aku nggak mau kehilangan kamu,” sambung Vania.


Sementara Tiara yang sedari kejauhan tadi mendengar percakapan mereka, sudah tidak bisa lagi menahan emosinya. Kata-kata cinta yang didengarnya membuat darah Tiara mendidih, hingga tanpa sadar Tiara sudah mengepalkan tangannya sekuat mungkin.


“Oh, ini yang namanya kelas piano dan main futsal? Atau kelas piano yang dipakai untuk main futsal, iya?!” tanya Tiara geram sambil menggebrak meja tempat mereka berkencan.


Betapa terkejutnya Kelvin dan Vania melihat Tiara yang tiba-tiba muncul di hadapan mereka dan menangkap basah perselingkuhan tersebut.


“Kenapa?!! Kenapa kalian tega bohongi aku?!!” tanya Tiara dengan suara sedikit keras.Tetesan air mata kembali membasahi pipi Tiara. Matanya tajam memandang. Wajahnya memerah karena murka.


“Ra...”  kata Kelvin sambil ingin memegang tangan Tiara.


“Jangan sentuh aku!” tegas Tiara sambil menjauhkan tangannya dari Kelvin.


“Semuanya udah jelas, kan?! Apa lagi yang mau kamu jelasin? Hari ini, aku udah memutuskan untuk mengakhiri hubungan aku sama kalian berdua!!” tegas Tiara lagi. Kemudian beranjak pergi meninggalkan mereka.


Dengan hati yang masih tidak terima dengan apa yang telah dialaminya, Tiara dengan setengah berlari, berusaha menjauh dan keluar secepat mungkin dari Cafe itu.


Sementara Gadis, yang sedari tadi mencari Tiara, akhirnya sampai juga di Cafe tersebut. Tapi terlambat. Sebelum sampai tepat di depan kafe, dari kejauhan ia melihat Tiara keluar dengan terburu-buru dari kafe tersebut. Dan langsung saja, ia pun bergegas mengejar Tiara sambil memanggil-manggil namanya. Tapi Tiara yang sedang dalam suasana yang sangat kalut itu, menghiraukan panggilan Gadis kepadanya. Ia terus berlari tanpa tujuan. Dengan kondisi fisik yang lemah, suasana hati yang sangat kalut, kecewa dan sangat berduka, Tiara terus saja berlari, seolah ia sangat ingin pergi sejauh-jauhnya dari semua hal yang menyakitinya itu.


Gadis sudah sangat lelah mengejar Tiara. Ia sudah tidak sanggup lagi mengejar Tiara. Ia terhenti dan memegangi lututnya. Napasnya pun terasa hampir habis.


Dan tiba-tiba... Braaaak!!!!


Terdengar suara gaduh dari kejauhan.


“Kecelakaan...! Kecelakaan...! Tolong!” semua orang yang berada di sekitar tempat itu sontak berteriak dan berkerumun.

__ADS_1


Deg! Jantung Gadis berdetak kuat. “Tiara...??” pikirnya, dengan air mata yang dengan spontan berlinangan.


Ia yang sedang dalam kondisi kelelahan itu dengan sekuat tenaga mencoba berlari menuju kearah dimana orang-orang berkerumun. Badannya masih gemetar karena kelelahan berlari. Rasanya hampir tidak sanggup ia melihat kejadian yang berjarak sekitar beberapa meter di hadapannya itu.


Sampailah ia di lokasi kejadian. Perlahan ia menerobos satu per satu kerumunan orang-orang yang berada di sekitar tempat itu.


Kemudian...


“Tiiiaaaaraaa!” seketika Gadis berlutut dan menjerit sambil memeluk Tiara.


Gadis melihat tetesan darah keluar dari kepala Tiara. Seluruh badannya semakin gemetar melihat Tiara yang hanya terkulai lemah tanpa membuka matanya lagi.


Ternyata Kelvin dan Vania yang berada di kafe pun ikut keluar dari dalam ruangan saat mendengar kecelakaan yang terjadi tidak jauh dari kafe tersebut. Kelvin juga mendengar jeritan orang-orang dan ikut mendatangi lokasi kejadian.


Kemudian ia melihat, “Gadis??” pikirnya setengah bingung apakah Gadis adalah korban dari kecelakaan ini...


Kemudian Kelvin melihat lagi dengan seksama, Gadis sedang memeluk seorang gadis lain yang sudah tidak sadarkan diri dan bersimbah darah.


“I.. itu, Ra... Ti... Tiara..” seketika itu pula kakinya melemah dan ikut berlutut di samping gadis yang sudah tak sadarkan diri itu. Air matanya menetes. Ia melihat Tiara sudah dalam kondisi lunglai tak sadarkan diri lagi.


Kemudian, dengan sigap Kelvin berdiri, bermaksud ingin menggendong tubuh Tiara dan segera menolongnya. Tapi seketika itu juga Gadis menyadari kehadiran Kelvin di sisi Tiara dan langsung menghempaskan tangan Kelvin dari tubuh Tiara yang saat itu masih ada di dalam pelukannya.


“Mau apa kamu?! Ini semua gara-gara kamu. Pergi! Aku bilang pergi!!” bentak Gadis kepada Kelvin dengan linangan air mata duka yang tiada henti.


Mendengar kemarahan Gadis, Kelvin pun tertunduk menyesal. Ia terduduk lagi di sisi Tiara. Melihat Tiara yang terluka parah, hatinya pun ikut terluka. Mungkin dari awal seharusnya dia tidak melakukan hal ini. Membuat luka menjadi duka yang tak berkesudahan bagi Tiara.


Tiara sebenarnya masih bisa mendengar suara-suara dari orang di sekelilingnya. Hanya saja tidak terdengar terlalu jelas dan ia tidak bisa menggerakkan anggota badannya. Ia mencoba membuka matanya, namun terasa sangat berat. Sedikit-sedikit ia mendapatkan cahaya. Ia pun dapat merasakan seperti ada seseorang yang mengangkat badannya.


Hah, pria itu? Katanya dalam hati. Ia melihat seorang pria yang mirip sekali dengan pria yang waktu itu menggendongnya di kamar mandi. Tiara yakin, dia adalah pria yang sama. Dan kini pria itu menggendongnya lagi.


Sementara itu...


Di dalam Cafe, Vania, setelah melihat kerumunan orang yang melihat kecelakaan tersebut, ia kembali duduk di sana. Ia sama sekali tidak tergerak untuk ikut lebih lanjut melihat situasi kecelakaan tersebut.

__ADS_1


Ia hanya duduk dengan tenang di sana, kemudian meminum segelas cappucino hangat miliknya dengan santai. Satu sisi bibirnya menyungging senyum.... Senyum sinis lebih tepatnya.


***


__ADS_2