
“Loh, kamu kok ngomong kayak gitu?” tanya Gadis setengah tertawa melihat tingkah memelas Tiara.
“Aku tuh malu Dis sama dokter Haris!” jawab Tiara sambil menutupi mukanya dengan selimut.
“Kenapa malu sih? Orang tua kamu kan cuma bercanda. Dokter Haris pasti juga ngerti kok,” ujar Tiara memberikan penjelasan sambil berusaha menghentikan tawanya.
“Terus, kalau dia nanti datang ke sini lagi. Pasti dia mikir yang aneh-aneh sama aku,” ratapan lanjutan Tiara dengan muka benar-benar memelas karena merasa malu.
“Oh, jadi kamu pikir Dokter Haris bakal meriksa kamu setiap hari gitu?” sambung Gadis.
“Emangnya nggak ya?” tanya polos Tiara.
“Hahahhaa.. Jadi kamu berharap dokter Haris setiap hari meriksa kamu? Cieeee...,” gurau Gadis kepada Tiara lagi.
“Eh, Buu... Bukan gitu! Aku kira...,” tepis Tiara tergagap dengan pernyataan Gadis yang menggodanya.
“Kamu kira.... Atau kamu harap? Hayooo...,” goda Gadis yang semakin membuat Tiara salah tingkah.
Gadis mati-matian menggoda Tiara. Menghubung-hubungkan Tiara dengan dokter Haris.Wajah Tiara sampai memerah hingga terasa panas.
“Aku mikirin dokter itu, karena aku ingat seseorang, Dis,” ucap Tiara. “Dia mirip banget sama seseorang yang nolongin aku waktu itu,” Ucap Tiara berusaha memberi penjelasan kepada godaan Gadis terhadapnya.
“Waktu itu? Kapan?” tanya Gadis bingung.
“Itu loh... waktu aku pingsan di kamar mandi,” jelas Tiara.
Gadis yang baru saja meneguk air langsung terbatuk-batuk mendengar pernyataan Tiara saat itu, hingga minuman yang ada di mulutnya keluar dan membasahi blouse-nya. Gadis membersihkan bajunya yang terkena air dengan tisu.
“Kenapa sih, Dis? Kok sampai batuk gitu?” tanya Tiara bingung.
“Kamu tahu sendiri kan, yang nolong kamu itu ya aku, Ra,” tutur Gadis sambil membersihkan bajunya.
“Tapi, kayaknya aku beneran ngelihat deh, Dis. Ada dokter Haris,” sambung Tiara meyakinkan Gadis.
__ADS_1
“Ga.. Gak mungkinlah. Jelas-jelas cuma aku yang ada di kamar kamu waktu itu,” ucap Gadis setengah gelagapan dengan keyakinan Tiara.
“Tapi bukan itu aja loh, Dis. Waktu aku tertabrak itu, aku juga lihat dia nolongin aku lagi,” keyakinan Tiara yang ia tuturkan dengan polosnya kepada Gadis semakin menguat.
“Tiara, udah deh ya. Cukup ngelanturnya. Sekarang... sekarang aku paham, nih..,” sambung Gadis lagi sambil mengernyitkan dahinya dan memandang lurus ke arah Tiara sambil menepuk-nepukan telunjuknya ke bibir, berlagak seperti Sherlock Holmes yang telah berhasil memecahkan kasus.
“Paham? Paham apa??” tanya Tiara polos.
“Iya, aku paham... kalau kamu... kamu suka kan sama dokter itu. Hahahaha.... Makanya kamu tuh suka menghubung-hubungkan semuanya sama dia. Ya kan, aku bener kan..,” jawab Gadis terbahak.
Tiara melirik tajam ke pada Gadis, “Ih.. Gadis apaan sih!” tampik Tiara manyun.
“Dengar ya, aku tuh baru putus sama Kelvin. Mana mungkin bisa secepat itu bisa suka sama cowok lain!” tegas polos Tiara memberi penjelasan pada Gadis yang lagi-lagi sangat iseng menggodanya.
“Kamu masih mikirin mereka ya?” tanya Gadis yang tiba-tiba kesal.
“Rasa cinta aku ini udah terlanjur dalam, Dis. Nggak mungkin bisa menguburnya dengan cepat,” lirih Tiara.
“Ya, aku ngerti. Tapi mau sampai kapan,Ra? Dengar ya, buat ngelupain itu semua akan jadi hal yang gampang kalau kamu percaya bahwa itu adalah perkara yang gampang! Tapi, kalau kamu terus berpikiran sulit, apapun pasti sulit dilakukan,” nasehat Gadis kepada sahabatnya.
Tiara memalingkan wajahnya memandang Gadis. Ia berpikir jika perkataan Gadis ada benarnya. Tapi, ia sendiri tidak mengerti dengan perasaan yang ada di hatinya.
***
“Hai...” sapa Kelvin pada Vania yang sedang duduk di bangku taman kampus seorang diri.
“Oh, hai... dari mana aja sayang? Kok lama?” balas Vania ramah pada kekasihnya.
“Maaf ya, tadi aku ada kelas tambahan. Nunggunya lama ya?” ucap lembut Kelvin sambil membelai rambut Vania.
“Lumayan lama sih... Aku laper nih. Ayo makan?” ajak Vania sambil bangkit dari tempat duduknya kemudian menarik tangan Kelvin untuk mengajaknya pergi.
“Eum, Van. Bentar deh. Kita nggak jenguk Tiara dulu?” tanya Kelvin yang kemudian menghentikan gerak Vania untuk beranjak pergi.
__ADS_1
“Tiara??” tanya Vania. “Oh, kamu mau jenguk dia? Ya udah sana. Aku nggak ikut ya,” sambung Vania dengan senyum kecil. Kemudian melepaskan pegangan tangannya dari lengan kekar Kelvin.
Vania melangkah pergi begitu saja dari hadapan Kelvin tanpa menoleh kebelakang lagi. Sementara Kelvin masih berdiri terbengong melihat Vania yang beranjak pergi meninggalkannya.
“Van..,” panggil Kelvin ke Vania.
“Vania, tunggu dulu..,” panggil Kelvin lagi sambil berjalan agak cepat mengejar Vania.
Vania mendengar panggilan Kelvin. Tetapi ia tetap berjalan saja.
Vania berjalan pelan meninggalkan Kelvin. Berjalan perlahan agar Kelvin tidak terlalu jauh untuk mengejarnya. Ya... tentu saja ia berharap agar Kelvin mengejarnya, hanya saja hatinya sudah tidak seantusias tadi untuk bertemu Kelvin, ketika kekasihnya itu menyebutkan nama Tiara, -mantan- kekasihnya yang lain.
Itu sebabnya Vania lebih memilih untuk berlalu pergi dari hadapan Kelvin dari pada harus menunjukkan wajah masam di hadapan Kelvin.
“Van, kenapa aku ditinggalin sih. Aku kan belum selesai ngomong,” ucap Kelvin terengah-engah karena mengejar Vania.
“Berhenti dulu di sini, kamu kenapa gak mau ikut coba?” tanya Kelvin lagi sambil menahan tangan Vania yang lembut. Menahan tangan Vania agar ia tidak meneruskan langkah meninggalkannya.
“Bukannya gak mau ikut karena gimana-gimana sayang, aku cuma laper, pengen makan dulu,” jelas Vania kepada Kelvin dengan ciri khas tuturannya yang lembut.
“Kamu kalo mau pergi sekarang ya udah pergi aja, nggak apa-apa kok,” tatap lembut Vania kepada Kelvin dengan senyuman semanis mungkin atau sebenarnya ia sedang berusaha mengalihkan pembicaraan, agar keram hatinya itu tidak terlalu terlihat oleh Kelvin. Tentu saja Vania cemburu.
Tapi atas kecemburuannya itu tidak lantas menjadikan Vania wanita yang egois yang hanya mementingkan perasaannya sendiri. Yang ia pikirkan saat itu hanyalah ia tidak ingin membuat Kelvin cemas atas kecemburuannya.
Sifatnya yang keibuan dan penuh welas asih membuatnya memiliki hati yang sangat lembut, sehingga yang ia utamakan selalu adalah perasaan orang terkasihnya terlebih dahulu sebelum dirinya. Ya... Kelvinlah orang terkasihnya.
Meskipun sudah sekuat tenaga ia berusaha menyembunyikan pedih hatinya karena cemburu, tetapi raut wajah Vania tetap takkan sanggup berbohong. Terlihat sekali suasana hati Vania dari senyum kecut yang terlukis di bibir kecilnya.
Hatinya sedang tidak berbunga saat bertemu kekasihnya hari ini, ketika sang kekasih menyelipkan nama wanita lain di sela pertemuan mereka. Pertemuan yang seharusnya adalah jadwal lunch bareng, semuanya berubah saat nama mantan berdendang.
“Oh, kamu mau makan dulu? Ya udah ayo kita makan. Apa sih yang enggak buat kamu,” rayu Kelvin dengan cubitan kecil di pipi Vania.
“Hhm.. Kelvin..,” kata Vania tersenyum, manis sekali, tidak sekecut tadi, senyum yang telah luluh atas tingkah Kelvin.
__ADS_1
Rayuan sesederhana itu saja bisa meluluhkan hati Vania. Bukan karena ia adalah seorang gadis yang gampangan, hanya saja... hatinya itulah yang terlalu lembut, hingga bisa dengan mudah mengasihi orang lain, terlebih lagi kepada Kelvin, orang yang sangat ia cintai.