Sahabat Pelangi Untukmu

Sahabat Pelangi Untukmu
Bab 9. Sosok Pria Misterius


__ADS_3

“Meong...”  terdengar suara kucing.


“Glowie... Halo, apa kabar...” ucap Tiara pada kucing itu.


Glowie mendekati kaki Tiara. Tiara pun mengusap lembut kepala Glowie, mengangkat tubuh Glowie dan ia letakkan di pangkuannya. Glowie terlihat nyaman berada di pangkuan Tiara.


“Oh iya, Glowie belum makan, ya? Bentar ya, Ra... aku kasih makan dia dulu,” kata Vania sambil mengangkat kucing itu dari paha Tiara.


“Van, tunggu!” panggil Tiara.


Ia langsung menghabiskan jus yang tersisa tadi.


“Boleh ambilkan lagi?” tanyanya sambil mengacungkan gelasnya yang telah kosong pada Vania.


Vania tersenyum dan mengambil gelasnya dari tangan Tiara.


Setelah Vania menghilang dari hadapannya, ia melirik lagi ke arah Hp yang ditinggalkan lagi oleh Vania.


Perlahan Tiara mengambil Hp itu. Kini ia bisa membukanya. Ia langsung membuka pesan. Dan benar saja ternyata dari tadi Vania berbalas pesan dengan Kelvin.


Kelvin


Sayang, besok kan hari minggu. Gimana kalau kita jalan bareng.


Kita ke Cafe Red, yuk?


Vania


Boleh sayang, tapi emangnya kamu nggak pergi sama Tiara.


Kelvin


Udah, kamu tenang aja. Aku nggak ada buat janji kok sama dia.


Besok jam 12 aku jemput ya.


Vania


Ok deh sayang. Sampai ketemu besok.


Tiara tidak dapat berkata-kata lagi. Hatinya begitu sakit. Semua yang dia dengar dari Gadis ternyata benar. Dengan badan yang semakin lesu, Tiara pergi meninggalkan rumah Vania tanpa pamit.


“Ini Ra jusnya...” ucap Vania.

__ADS_1


Tapi, saat itu Tiara sudah tidak ada di rumahnya lagi.


***


Terdengar gemercik air di dalam kamar mandi. Sudah dua jam Tiara tidak juga keluar dari kamar mandi.


Ia terduduk lemas di bawah pancuran air yang keluar dari shower. Pakaiannya masih lengkap. Ia hanya menangis di sana. Melepaskan semua rasa sakit yang diterimanya.


“Pembohong! Penipu! Pengkhianat!” teriak Tiara. “Aku benci kalian!”


Ia masih tidak menyangka dengan apa yang telah di lihatnya. Hal ini terasa berat untuknya. Kadang ia berteriak sejadi-jadinya karena sakit yang ia rasakan di bagian dadanya. Hancur sekali rasanya.


Lama sekali ia menangis. Kini air matanya sudah tidak bisa keluar lagi. Walaupun begitu, ia masih menangis tersedu-sedu hingga kepalanya terasa sangat pusing. Dan penglihatannya pun kabur.


“Ra...Ra...  Buka pintunya, Ra!” suara perempuan memanggil nama Tiara.


Tiara dapat mendengarnya, tapi tubuhnya sudah sangat lemas dan telah terbaring di lantai. Ia dalam kondisi setengah sadar. Lama kelamaan hanya terdengar sayup-sayup suara. Dan ia melihat dengan samar-samar sesosok pria datang dan menggendong tubuhnya. Lalu semuanya menjadi gelap.


“Ra...  Bangun Ra!” kata Gadis sedih membelai pipi Tiara.


Tiara mendengar suara itu. Ia mencoba membuka matanya. Dan di lihatnya Gadis berada di sampingnya sambil menangis.


“Ra, kamu udah sadar?” kata Gadis terharu.


“Ra, kamu kenapa? Kenapa kamu ngelakuin hal ini?” tanya Gadis cemas, terlihat dari tetesan air mata di pipinya saat melihat keadaan sahabatnya itu.


Tiara mencoba untuk duduk. Wajahnya berubah menjadi sedih dan langsung memeluk Gadis. Dia menangis di pelukan Gadis.


“Kamu benar, Dis,” ucap Tiara sambil tersedu-sedu.


“Maksudnya?” Gadis mengerutkan dahinya setengah heran dengan maksud perkataan Tiara.


Tiara mengatakan semua yang telah dilihatnya kepada Gadis. Ketika ia melihat Kelvin datang ke rumah Vania. Saat ia membaca pesan Kelvin di Hp Vania. Semua itu telah membuatnya gila.


“Sayang, Kelvin memanggilnya sayang dan besok mereka lunch di Cafe Red,” kata Tiara yang masih saja menangis.


Gadis mencoba menenangkan Tiara, tubuh Tiara hangat. Tiara pasti sedang dalam kondisi yang sangat down sehingga bukan hanya hati, tetapi juga membuat kondisi fisiknya ikut melemah. Ia tidak ingin ada hal yang lebih buruk lagi menimpa sahabatnya itu.


“Apa kurangnya aku, Dis? Sebagai kekasih, aku udah berusaha memberikan yang terbaik. Dan sebagai sahabat, aku menyayangi dia sampai aku anggap dia seperti kakakku sendiri. Terus, apa kurangnya aku?” Tiara emosi, dan semakin tersedu. Terlihat sekali bahwa hatinya sedang sangat terpukul dengan hebatnya.


Gadis menggelengkan kepalanya. Ia tahu, Tiara begitu tulus menyayangi. Tidak ada yang kurang dalam cintanya.


“Kenapa... Kenapa mereka tega menyakiti perasaanku?” ucap Tiara pelan. Kepalanya tertunduk, merenungi nasib yang menimpanya.

__ADS_1


“Udahlah, Ra. Kamu nggak usah mikirin mereka lagi!” tegas Gadis.


“Tapi, aku masih cinta sama Kelvin,” jawab Tiara lirih.


“Buat apa kamu bicara cinta saat ini? Toh, orang yang kamu cinta itu nggak pernah peduli dengan perasaanmu!” tegas Gadis lagi.


“Terus aku harus gimana, Dis?” tanya Tiara melemah.


“Ra, buka mata kamu. Masih banyak cowok-cowok baik diluar sana yang mau sama kamu,” ucap lembut Gadis.


Tiara memandangi langit luar dari jendela kamarnya. Dari petang tadi, hingga malam ini,ia telah banyak mengeluarkan air mata. Menangisi perlakuan sadis orang-orang yang dikasihinya.


“Dis, kamu nggak pulang? Ntar kamu dicariin,” tanya lugu Tiara pada Gadis.


“Kamu tenang aja, Ra. Malam ini aku nginap di sini. Aku akan temani kamu, oke! Kita tidur, yuk. Udah larut malam,” ucap Gadis sambil tersenyum untuk mengalihkan pembicaraan.


Mereka pun berbaring di kasur. Menatap langit-langit.


Kini, yang tersisa hanyalah satu orang sahabat yang masih berada di samping Tiara, Gadis. Gadis yang selalu tahu kapan dirinya dibutuhkan. Gadis yang selalu mendukungnya. Gadis yang selalu memberinya semangat.


Ya, hanya Gadis seorang. Karena, orang-orang yang ia sayangi telah mengkhianatinya. Tapi, tidak dengan Gadis. Ia berbeda, ia sahabat yang sempurna.Tiara berharap semoga ini adalah yang pertama sekaligus terakhir ia dikhianati oleh orang yang ia sayangi.


Mata Tiara yang memerah kini telah lelah dan terasa berat. Di dalam kelelahan itu, ia teringat sesuatu.


“Dis...” Tiara memanggil pelan.


“Hm...” sahut Gadis.


“Perasaan tadi ada cowok yang gendong aku deh,”  ucap Tiara dengan ekspresi wajah bingung.


“Co... Cowok? Siapa?” jawab Gadis tergagap.


“Entahlah, tadi sebelum benar-benar pingsan aku sempat lihat, tapi nggak jelas,” ucap Tiara sambil memegangi kepalanya.


“Hahaha... Mimpi kali,” Gadis mengalihkan.


“Terus yang angkat aku ke kasur siapa?” tanya Tiara lagi.


“Emm, ya... Ya aku lah. Siapa lagi?” Gadis meyakinkan.


Gadis membalikkan badannya membelakangi Tiara. Sementara Tiara masih memikirkan sosok pria misterius itu. Ia mencoba mengingat kembali wajahnya, tapi ia sama sekali tidak mendapatkan gambaran apapun.


Satu yang ia tahu, pria itu bukanlah kekasihnya. Tapi, siapa dia? Apakah benar hanya mimpi? Tapi, mengapa Tiara merasa sentuhannya sangat begitu nyata. Bahkan wangi tubuhnya masih terasa dan melekat di pakaian Tiara.

__ADS_1


***


__ADS_2