
“Kayaknya aku harus ke perpustakaan lagi deh!” sambungnya.
Tiara mulai merapikan barang-barang miliknya dari atas meja dan memasukkannya ke dalam tas. Kemudian ia pergi. Tapi langkahnya terhenti...
“Oh ya, Vin... kamu mau nggak bantu aku cari buku di perpus?” harap Tiara.
Kelvin tersenyum dan dengan cepat menganggukkan kepalanya, menunjukkan bahasa tubuh yang berarti “ya... aku mau”. Dan mereka pun beranjak keluar dari tempat ramai itu. Menuju perpustakaan.
Di sepanjang koridor menuju ruangan perpustakaan, Tiara tak henti-hentinya bercerita tentang tugas-tugas yang harus ia selesaikan dalam waktu singkat untuk memperbaiki nilai. Tiara memang selalu bisa membuat siapapun mau mendengarkan ceritanya.
Dari kejauhan Vania mengerutkan dahinya, melihat ke akuran Tiara dan Kelvin. Hatinya mulai bertanya-tanya apa yang telah terjadi. Sakit di dadanya kini muncul kembali. Ia sangat geram dengan pemandangan itu.
Di sisi lain, dari kejauhan juga, Gadis pun melihat Tiara dan Kelvin yang terlihat sangat dekat. Sama seperti Vania, hatinya pun bertanya-tanya. Ia mengingat perkataan Tiara tadi malam.
“Apa mungkin....???” ucapnya pelan.
Ia mengerutkan dahinya mengamati dengan seksama. Tapi, tidak ada tanda-tanda kebencian dari wajah Tiara.
“Ah, tidak! Tiara tidak mungkin melakukannya. Dia bukan orang yang seperti itu!” gumam Gadis menyingkirkan sebuah pemikiran yang sedang muncul di benaknya kala itu saat melihat Tiara yang kembali akrab dengan Kelvin.
Beberapa menit kemudian sampailah mereka di perpustakaan. Tempat yang berbeda jauh dari tempat yang tadi. Di sini begitu tenang dan nyaman. Tiara meletakkan tasnya di atas meja.
Kelvin mulai bertanya mengenai tugas yang dibuat Tiara agar ia tahu buku apa yang harus dicari. Dengan senang hati Tiara memberitahukannya. Mereka pun asyik mencari buku-buku yang diperlukan.
Saat itu Tiara ingin mengambil sebuah buku yang ia rasa cocok dengan materi yang sedang ia kerjakan. Tapi sayangnya buku itu letaknya agak tinggi. Membuat Tiara harus berjinjit untuk meraih bukunya. Saat tahu bahwa usaha tidak berhasil, ia memutuskan untuk sedikit melompat kecil demi menjangkau buku itu.
Saat ia sedang sibuk melompat, tiba-tiba dari sisi kirinya ada tangan kekar yang mendahuluinya mengambil buku itu. Tiara menghentikan aksinya. Ia melihat orang yang berada di sampingnya itu tidak lain adalah Kelvin. Saat bersampingan, mereka berdua berada pada posisi wajah yang sangat dekat. Mata mereka saling memandang tanpa berkedip.
Suasana seperti itu telah terulang kembali. Suhu tubuh yang mulai memanas, jantung yang berdegup kencang dan ada rasa aneh yang terjadi di antara mereka.
Tak lama berpandangan, Kelvin segera menyadarkan diri dari tatapan rindunya itu, lalu memberikan buku yang telah dipegangnya ke pada Tiara. Tiara menyambut, sambil menebarkan senyuman, perlahan mengambil buku itu dari tangan Kelvin. Setelah itu, Tiara berbalik arah kemudian berjalan menuju meja dimana tasnya berada. Sambil tersenyum senang atas sambutan gadis manis di hapadannya itu Kelvin mengikuti Tiara dari belakang. Dan entah beberapa menit berselang, mereka telah menjadi begitu akrab.
Sudah hampir dua jam Tiara dan Kelvin berada di perpustakaan. Tiara mulai resah. Ia sudah tidak tahan lagi menahan hasrat ingin buang air kecil.
__ADS_1
“Sebentar ya Vin, aku mau ke toilet,” kata Tiara dengan wajah gelisah dan terlihat sekali ingin buru- buru menuju kamar mandi.
Sambil tersenyum Kelvin menganggukkan kepalanya. Langsung saja Tiara setengah berlari keluar dari perpustakaan mencari toilet terdekat.
“Haaahhhh!” Tiara menarik napas setelah selesai buang air kecil.
Ia merapikan pakaiannya dan juga rambutnya di depan cermin besar yang berada di sana. Dirasa penampilannya sudah oke, dengan percaya diri ia keluar dari toilet.
Tapi, saat melangkahkan kaki keluar, tangannya ditarik oleh seseorang.
“Hei! Apa-apaan sih!” kata Tiara sambil menarik kembali tangannya.
Wanita yang menariknya itu pun berbalik arah menghadapnya.
“Vania?” ucap Tiara pelan sambil mengerutkan dahinya.
Vania menatap tajam ke arah Tiara. Wajahnya terlihat seram, seperti sedang sangat marah.
“Kenapa? Gitu amat ngeliatin aku?” ucap Tiara menjadi kesal juga.
“Oh, gitu! Apa kamu juga lupa sama diri kamu sendiri? Cewek yang pura-pura baik, demi obsesinya dapetin pacar orang lain dan ngerusak segalanya! Apa kamu ingat itu?!” teriak Tiara tak kalah lantang.
“Dengar ya! Demi dapetin cinta Kelvin, apapun bisa aku lakukan sekarang. Walaupun aku harus melukai cewek nggak berguna kayak kamu! Ingat, Ra... dari awal tuh aku udah benci sama kamu! Benci banget! Jadi jangan harap aku mau melepaskan Kelvin buat kamu!” Vania mencoba memperingatkan.
Baru saja Tiara ingin membalas perkataan Vania, tiba-tiba Kelvin sudah ada di hadapan Vania. Ia kelihatan sangat marah. Vania pun terkejut dengan kedatangannya. Ia berdiri tak berkutik. Melihat wajah yang berubah drastis itu, Tiara pun berbalik arah memastikan apa yang sedang dilihat oleh Vania.
Tiara ikut kaget melihat sosok Kelvin di hadapannya.
“Siapa kamu sebenarnya?” tanya Kelvin pelan pada Vania.
Vania begitu ketakutan, “V... Vi... Vin, a.. aku...”
“Jawab!!” bentak Kelvin.
__ADS_1
Tiara dan Vania sangat terkejut dengan bentakan itu. Jantung kedua wanita itu berdegup sangat kencang.
“Selama ini, wanita yang aku kenal dengan nama Vania ternyata adalah seorang pembohong?? Inikah sosok kamu yang sebenarnya? Kamu tau.. aku paling nggak suka dipermainkan kayak gini!” bentak Kelvin. Lagi. Dengan sorot mata tajam ke arah Vania.
“De.. dengar dulu Vin, aku melakukannya karena aku cinta sama kamu!” ucap Vania terbata dan membela diri menjelaskan kepada Kelvin. Tak ingin Kelvin lebih meneruskan prasangka benar itu kepada dirinya.
“Vania yang aku kenal dengan perkataannya yang lembut, perhatian dan selalu tersenyum manis, ternyata cuma seorang cewek menjijikkan yang sangat luwes memainkan perannya!” Kelvin kalap. Berbicara dengan nada suara yang lebih rendah dari bentakannya tadi, namun dengan bahasa yang sedikit kasar dan benar-benar ia tujukan kepada Vania.
Tiara menutup mulutnya yang terbuka lebar karena, terkejut mendengar kata-kata kasar dari mulut Kelvin. Begitu pula Vania, hatinya begitu perih menerima ucapan kasar itu.
“Nggak Vin, jangan bilang itu. Kamu ingat cewek yang kamu bela waktu orientasi di SMA? Lihat aku, Vin! Cewek itu adalah aku. Sejak saat itu aku jatuh cinta sama kamu,” jelas Vania lirih sambil mencoba merangkul lengan Kelvin untuk berusaha menenangkannya. Tak telak jua ia yang sedari tadi berbicara lantang kepada Tiara kini berbalik melemah yang ditandai dengan turunnya air mata melewati tebing pipinya.
“Kamu tau kenapa aku nggak mengingatmu? Karena kamu nggak berati apa-apa di hidupku. Jadi, mulai sekarang menjauhlah dari hidupku! Jangan pernah menampakkan wajahmu itu di hadapanku lagi!” ucap Kelvin geram dengan menampik rangkulan tangan Vania di lengannya.
Kelvin melihat ke arah Tiara yang sedari tadi hanya menonton pertengkaran itu. Lalu, ia menarik tangan Tiara dan membawanya pergi meninggalkan Vania.
Ditinggalkan begitu saja oleh Kelvin, Vania menundukkan kepalanya... menutupi wajahnya yang basah oleh air mata. Menyimpan sejuta luka dan amarah yang semakin memuncak di hatinya. Namun ia menyadari, jika pun ia menangis tersedu hingga tersungkur sekalipun saat ini, Kelvin tetap tidak akan pernah berbalik untuknya.
“Kalian!” ucapnya penuh dengan kemarahan sambil mengangkat kepalanya kembali. “Kalian nggak akan aku biarkan bersama!” teriak Vania histeris, meluapkan sesak hatinya yang membuncah.
Vania berteriak untuk menghilangkan kekesalannya dan rasa sakit yang sedang dialaminya. Dan setelah itu ia kembali menangis, meratapi keadaannya.
Ia terduduk lemas, layu hatinya seakan juga tidak dapat menahan dirinya untuk tetap berdiri tegak. Inilah kisah yang ia terima di kehidupannya. Orang yang selama bertahun-tahun dicintainya tidak akan pernah melihat dirinya. Pengorbanan yang ia lakukan hanya bisa dinikmati sesaat.
Hidup dengan kisah cinta yang buruklah yang selama ini ia dapatkan, dan tak pernah menjauh darinya. Ia tetaplah wanita yang menyedihkan yang tidak pernah di terima oleh siapa pun.
“Aku... benci...” ucapnya lirih sambil tersedu-sedu. “Aku benci sama hidupku sendiri! Aaarrggh!” kemudian menangis lagi, menutupi wajahnya dengan ke dua telapak tangan, menyembunyikan air matanya yang telah membanjiri pipinya.
Ya... terduduknya Vania dalam tangis saat itu benar-benar hanya ditemani oleh sepi dan hembusan angin. Angin, yang tanpa bicara seolah tahu benar bahwa Vania benar-benar sedang butuh usapan lembut dan belaian, yang andai saja itu adalah dari jemari Kelvin. Harapannya.
Ia hanya bisa menangis dan menangis meratapi nasibnya. Pun percuma saja jika menjadi pribadi yang lain di luar dirinya kini. Seperti tidak akan ada hal yang bisa merubah kehidupannya dan kisah cintanya. Hati yang na’as.
Kata-kata yang terlontar dari mulut Kelvin seperti sembilu tajam yang menyayat hatinya. Terdengar begitu kotor dirinya kini. Namun, hati keras Vania tetap tidak bisa menerima perkataan itu begitu saja. Ia tetap akan membalas semuanya. Ia akan membuat Kelvin menyesal karena memperlakukannya seperti ini.
__ADS_1
***