
“Stop, pak!” perintah Tiara kepada supir taksi.
Supir taksi itu pun langsung mengerem mobilnya dan berhenti tepat di depan rumah sakit, tempat Dokter Haris bekerja. Tiara memandangi rumah sakit itu dari dalam taksi. Berharap melihat seseorang yang sedang dirindukannya.
Sudah seminggu ia bertengkar dengan Gadis dan Dokter Haris. Terlalu banyak kenangan indah di benaknya yang tak mampu ia lupakan. Namun, hatinya masih hancur mengingat sebuah pengkhianatan lagi dalam hidupnya.
Ia tidak mengerti apa yang salah pada dirinya. Sampai orang-orang yang disayanginya tega menghancurkan hatinya. Tapi, rasa rindu itu tetap tumbuh. Bagaimana ia mampu mengatasinya? Antara rindu dan benci di hatinya membuatnya kalut.
Haris, yang ia harapkan bisa menggantikan posisi Kelvin di hidupnya ternyata juga tak mampu menyuguhkan kisah indah untuknya. Dokter Haris yang semula ia anggap adalah pelangi yang datang bersama keceriaan untuknya, kini juga adalah yang paling menghancurkan hatinya.
Ia merogoh saku celananya. Mengambil suatu benda yang selalu ia bawa. Benda itu adalah sebuah gantungan kunci gembok mungil yang diberikan dokter Haris padanya.
Tiara pun mengingat kembali masa-masa saat mereka berdua berada di roof top. Ia tidak bisa melupakan kejadian itu. Saat untuk pertama kalinya ia merasa begitu dekat dengan Dokter Haris hingga membuat jantungnya berdegup kencang.
Mengingat kejadian itu, tidak terasa air matanya menetes. Cepat-cepat ia mengusapnya. Lalu mengembalikan lagi benda itu di sakunya.
“Ayo, Pak! Jalan lagi!” perintah Tiara lagi.
Supir taksi itu langsung melaju sesuai perintah pelanggannya. Untuk menghibur dirinya di dalam taksi, Tiara memainkan smartphone-nya. Ia melihat-lihat akun sosial media miliknya.
Pertama ia membuka fesbuk. Tampaklah beberapa status terbaru dari teman-temannya. Tapi, ia tidak membacanya. Ia memilih untuk melihat akunnya. Tampaklah beberapa foto yang diunggahnya beberapa waktu lalu. Foto bersama Gadis, saat ia menginap, saat memasak bersama, dan juga foto mereka bertiga, bersama Dokter Haris.
Beberapa saat Tiara tersenyum melihatnya. Ia mengulang ingatannya kembali bersama mereka. Lalu ia tersadar dan menutup aplikasi itu.
Ia menarik napas panjang. Lalu ia membuka akun instagramnya. Keningnya mengerut begitu melihat sebuah foto di halaman pertama. Foto itu diunggah oleh Gadis beberapa detik yang lalu. Itu foto saat Gadis masih di bangku SMP, Tiara yakin betul tentang hal itu. Tapi, pria yang di sampingnya itu mirip sekali dengan Dokter Haris, namun tubuhnya terlihat agak lebih kurus. Lalu, Tiara membaca teks yang ada di bawah gambar tersebut.
Aku dan Haris, kakak sepupuku. Sampai sekarang kami tetap sedekat ini.
“Kakak sepupu?” ucap Tiara pelan.
Tiara mengingat sesuatu. Sebelumnya ia pernah melihat pria itu di rumah sakit saat kecelakaan dulu.
Tiara pun menyadari ternyata pria yang ikut menjenguknya bersama keluarga Gadis adalah Dokter Haris.
“Jadi, selama ini.... Astaga!” ucap Tiara geram terhadap dirinya sendiri sambil memukul dahinya. “Pak, kita putar balik aja!”
“Iya, Bu!” sahut supir taksi itu.
Tiara hendak ke rumah Gadis. Hatinya gelisah karena rasa bersalah terhadap Gadis. Masih diingatnya kejadian pada saat ia menghina Gadis. Ia begitu menyesalinya.
Ada rasa takut di hatinya. Bagaimana jika Gadis benar-benar marah padanya? Dan tidak memaafkannya?
Lalu, apa yang harus dikatakannya pada Gadis nanti? Hatinya sangat tidak tenang.
Beberapa menit kemudian, sampailah ia di depan pagar rumah Gadis. Ia turun dari taksi. Berjalan mendekati pintu pagar itu.
Ia begitu gugup sambil mengigit bibir bawahnya.
“Neng Tiara?” sapa pak Junaidi, satpam di rumah Gadis. “Ngapain berdiri aja? Biasanya juga nyelonong masuk. Tuh, Neng Gadis ada di dalam kok!”
“I... Iya pak.” jawab Tiara tergagap karena gugup.
Tiara pun masuk ke pekarangan rumah tersebut. Ia menarik napas, berjalan ke arah pintu. Kemudian mengetuk pintu tersebut.
“Iya, sebentar!” terdengar suara Gadis dari dalam rumah.
Tidak lama kemudian terbukalah pintu itu. Mereka pun saling bertatapan. Gadis melipat tangannya di dada. Seakan bertanya, “Mau apa lagi?”
“A... Aku minta maaf.” ucap Tiara lirih.
Ia menggigit bibir bawahnya ingin menahan tangisnya namun ia tidak sanggup.
“Apa harus kayak gini dulu, Ra... baru kamu mau dengerin aku?” ucap Gadis kesal.
Gadis pun juga ikut mengeluarkan air matanya.
“Aku minta maaf,” isak Tiara.
Gadis pun menarik tangan Tiara ke dalam rumah dan mereka duduk di sofa.
“Apa masalah kamu sebenarnya?” tanya Gadis.
“Vania... Dia bilang kalau kamu sama kayak dia cuma manfaatin aku. Terus dia kirim foto-foto kamu dan Dokter Haris yang lagi berduaan. Ngelihatin itu semua, tanpa pikir panjang aku langsung sakit hati sampai-sampai melabrak kalian di sana tanpa tau yang sebenarnya,” jelas Tiara panjang lebar.
“Astaga Tiara...” ucap Gadis sambil menarik napas.
“Lagian, kenapa kalian nggak pernah bilang kalau kalian sepupuan?” kata Tiara kesal.
“Bukan seharusnya kamu udah tau itu? Sebelumnya kan kalian udah bertemu di rumah sakit,” kata Gadis mengingatkan.
Tiara tertunduk. Mengingat-ingat ulang saat ia bertemu pria itu.
“Iya, Dis. Aku baru ingat waktu lihat foto itu,” ucap Tiara menyesal.
“Sebenarnya saat pertama kali dia bertemu dengan kamu, dia udah jatuh cinta sama kamu. Dan kenapa dia mau jadi dokter, ya alasannya itu karena kamu,” kata Gadis.
Tiara mengerutkan dahinya. Ia tampak bingung dengan apa yang diucapkan oleh Gadis.
“Karena aku? Maksudnya??” tanya Tiara ingin mengetahui lebih jelas.
“Waktu itu dia kagum banget sama kamu yang mau nolongin aku sampai kamu sendiri yang celaka. Tapi, dia juga sedih dan nggak tega lihat kondisi kamu yang kritis. Rasanya dia tuh ingin langsung sembuhin kamu. Tapi, ya itu nggak mungkin. Setiap saat dia terus mikirin kamu, berdoa buat kesembuhan kamu. Saat mikirin kamu, dia juga berpikir mungkin ada banyak orang yang kayak kamu di luar sana. Dan saat dia nggak bisa nolong kamu, mungkin ia bisa nolongin orang lain dan terus ingat sama kamu karena hal itu. Dan dari situ dia memutuskan untuk ambil jurusan kedokteran.” jelas Gadis lagi panjang lebar.
Tiara hanya bisa bungkam mendengar semua penjelasan Gadis. Ia sangat menyesal telah melupakan siapa Dokter Haris itu.
“Dan yang nolong kamu di kamar mandi itu emang dia. Kebetulan dia udah balik dari luar negeri. Dia khawatir banget sama kamu waktu itu. Kelihatan dari wajahnya. Apalagi saat kamu kecelakaan.” ucap Gadis lagi, “Ya, kamu pikir aja. Orang tua mana yang mau nitipkan anaknya sama orang yang nggak dikenal.”
Tiara tetap diam mencerna penjelasan dari Gadis. Semakin dia mengetahui cintanya Haris, semakin hatinya merasa cemas.
“Terus sekarang Haris gimana?” tanya Tiara pelan.
“Hahhhh...” Gadis menghela napas.
Gadis bersandar pada badan sofa. Kepalanya mendongak ke atas melihat langit-lagit rumah. Ia pun kembali mengingat kejadian saat itu.
“Dia nggak ada bahas tentang perasaannya. Tapi dari wajahnya aku tau dia kecewa.” kata Gadis menebak.
“Terus aku harus gimana, Dis?” tanya Tiara pelan.
Perlahan air matanya keluar, “Untuk ketemu dia aja aku takut. Pasti dia benci banget sama aku.”
“Udah, kamu tenang aja! Ntar aku bantuin kamu buat ngomong sama dia.” kata Gadis menenangkan Tiara.
Tiara tetap diam.
“Atau aku hubungi dia aja, suruh dia ke sini?” usul Gadis.
“Jangan Dis, aku belum siap ketemu sama dia.” tolak Tiara.
“Terus kapan siapnya?” tanya Gadis.
“Aku takut menerima kenyataan kalau dia benci sama aku, Diiiiiis.” keluh Tiara.
__ADS_1
“Dengar ya, Ra. Haris itu nggak kekanak-kanakan kayak kamu. Lagian, kita juga belum taukan apa yang dipikirannya?” Gadis harus selalu menjadi orang yang bisa menenangkan sifat cemas Tiara, sahabatnya.
“Tapi Dis....” cemas Tiara lagi.
“Kapan lagi, Ra. Udah deh kamu di sini aja tungguin dia. Aku telfon dia dulu. Sekalian aku keluar cari makanan buat kita. Tapi, mungkin dia agak malam pulangnya,” jelas Gadis dan melirik pada Tiara.
Mau tidak mau Tiara pun terpaksa mengikuti rencana Gadis. Ia menganggukkan kepalanya menandakan setuju.
Gadis pun pergi ke luar untuk membeli makanan. Tinggallah Tiara seorang di rumah. Ia berpikir keras tentang bagaimana cara meminta maaf pada Dokter Haris.
Ia berjalan mondar-mandir, wajahnya penuh dengan ketakutan dan keraguan. Bibirnya terus saja berkomat-kamit tidak jelas sangking gugupnya.
Sudah satu jam lebih Tiara di tinggal oleh Gadis. Jantungnya semakin tidak karuan.
“Duh, Gadis kemana sih! Lama banget! Apa sampai keluar negeri dia beli makanannya? Huuuhhh!” ucap Tiara cemas bercampur kesal
Ia berjalan ke arah kolam renang sambil menghapal kata-kata yang akan ia ucapkan pada Dokter Haris. Lalu ia duduk di tepi kolam itu. Kakinya dimasukkan ke dalam air. Menaruh sikunya di atas paha dan menutup wajahnya dengan tangan.
Tiara begitu menyesali semuanya. Ia menyesal karena telah berkata buruk. Ia menyesal karena telah menyakiti perasaan Gadis, terlebih lagi perasaan Haris. Ia juga merasa sangat menyesal karena tidak mengerti arti cinta yang diberikan Haris padanya.
Ia bertanya-tanya dalam hatinya kenapa ia tidak.bisa menyadarinya? Kenapa ia tidak.bisa mempercayainya?
“Hei!” sapa seseorang.
Suara itu berasal dari arah depan Tiara. Dan itu seperti suara...
“Haris?” Tiara terkejut saat membuka matanya ia melihat pria itu sudah ada di depannya.
Haris berdiri di hadapan Tiara tepatnya ia berdiri di dalam kolam renang.Lalu ia mendekati Tiara, dan merangkul pinggang Tiara. Ia pun menariknya ke dalam kolam. Dan kini mereka berdua berdiri di dalam kolam saling berhadapan dan berpandangan.
“Kata Gadis, kamu lagi nungguin aku. Makanya aku langsung ke sini”, ucap Haris lembut.
Badan Tiara gemetar, bukan karena dinginnya air di kolam, tapi karena ucapan Haris yang sama sekali tidak terdengar marah padanya.
“Kenapa? Kok diem? Aku kelamaan ya?” ucap Haris lagi.
Tiara tidak bisa menahannya lagi. Ia langsung memeluk Haris dengan erat.
“Apa yang kamu sembunyiin dari aku?” ucap Tiara suaranya terdengar gemetar.
Haris tahu bahwa Tiara sedang menangis di pelukannya.
“Dengan kata-kata kayak gitu, siapa yang mau kamu bohongi? Aku atau diri kamu sendiri?” ucap Tiara masih memeluk Haris.
Mendengar ucapan Tiara, tangan Haris membalas pelukan Tiara. Ia pun memeluk Tiara dengan erat.
Mereka saling menumpahkan rindu dalam pelukan hangat itu. Mereka tidak berbicara lagi. Hanya merasakan kehangatan dan kenyamanan untuk beberapa saat.
Agak lama mereka saling berpelukan, keduanya melepas pelukan masing-masing...
“Aku minta maaf...” pinta Tiara
“Udah lupain aja. Aku nggak mau ada kenangan pahit diantara kita.” jawab Haris sambil merapikan rambut Tiara. “Ayo aku gendong!”
“Hah?” Tiara bingung.
Haris berbalik badan membelakangi Tiara. Lalu ia menarik tangan Tiara dan mengalungkannya di lehernya.
“Emangnya kamu mau di sini terus?” tanya Haris sambil memegangi kaki Tiara.
Perlahan Haris berjalan sambil menggendong Tiara di dalam kolam. Ia bermaksud menuju anak tangga yang berada di sisi lain kolam tersebut.
“Pasti kamu kecewa banget sama aku. Aku sama sekali nggak kenal sama kamu.” ucap Tiara menebak.
“Tapi, kenapa kamu nggak pernah bilang sih kalau kamu suka sama aku?” tanya Tiara penasaran.
“Kamu lupa ya? Bahkan aku udah minta izin sama orang tua kamu.” jelas Haris.
“Sebelum itu?” Tiara semakin penasaran.
“Kita kan baru ketemu lagi sekarang. Dan aku rasa, ini memang waktunya aku serius sama kamu.” kali ini penjelasan Dokter Haris benar-benar membuat Tiara tersipu.
“Kamu beneran cinta banget sama aku?” tanya Tiara yang masih tidak percaya.
“Iya, Ra... dari dulu sampai sekarang cinta aku nggak pernah berubah sama kamu.” jawab pria itu lembut.
Hati Tiara begitu luluh dengan perlakuan dan ucapan Haris. Tiara ingin sekali mencium pipi Haris yang sangat dekat dengan wajahnya. Tapi ia agak malu.
“Aduh gimana ya?” ucap Tiara dalam hati. “Ntar kalo dia berpikiran aneh-aneh tentang aku gimana? Ah, tapi nggak mungkin. Dia nggak mungkin berpikiran kayak gitu. Aduh.. Aku cium nggak ya? Cium aja deh. Eh tapi, jangan ah! Tapi...”
Akhirnya dengan menahan malu, Tiara mencium pipi Haris dengan lembut. Karena sudah sampai di anak tangga, Haris pun menurunkan Tiara dan menyuruhnya naik.
“Nggak ada respon sama sekali.” ucap Tiara dalam hati. “Apa aku kurang kuat nyiumnya?”
Tiara masih belum juga naik ke tangga.
“Kenapa? Kamu mau aku cium balik? Ntar bahaya lo!” ancam Haris.
Mendengar itu, Tiara cepat-cepat naik kepermukaan, di ikut oleh Haris.
“Oh iya, Ra...” panggil Haris.
Tiara pun menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah Haris, “Ya?”
“Gantungan kunci yang aku kasih kemarin, masih kamu simpan?” tanya Haris.
Tiara pun merogoh sakunya dan mengambil benda itu, menunujukkannya pada Haris.
“Kamu pernah coba buka gembok itu?” tanya Haris lagi.
“Hah? Emangnya bisa?” Tiara balik bertanya.
“Kamu coba aja nanti.” ucap Haris sambil tersenyum.
“Ehem... Nih handuknya!” ucap Gadis yang tiba-tiba datang sambil memberikan handuk pada mereka berdua.
Tiara dan Haris kelihatan malu karena ketahuan oleh Gadis.
“Ayo ganti baju!” perintah Gadis sambil narik tangan Tiara. “Abis itu baru kita makan. Karena udah malam, kalian nginap di sini aja.”
“Emangnya kamu punya baju yang cocok buat aku?” tanya Tiara.
Jelas saja Tiara menanyakan hal itu. Karena tubuh Gadis yang lebih kurus di bandingkan tubuh Tiara.
“Tenang, waktu ke mall itu kan sebenarnya Haris belikan kamu baju. Banyak...banget!” celoteh Gadis.
Mendengar rahasia itu dibocorkan oleh Gadis, Haris pun memelototi Gadis.
“Ups, keceplosan. Hehehe.... Tapi, ya udah lah ya. Udah ketahuan juga.” jawab Gadis tanpa merasa bersalah sambil menarik tangan Tiara lagi.
Dokter Haris hanya bisa menarik napas sambil menepuk dahinya. Rasanya malu, apa lagi ia melihat Tiara tersenyum saat mendengarnya.
__ADS_1
Saat di kamar, Tiara pun tidak sabar mencoba baju-bajunya. Sudah hampir setengah jam Tiara berdiri di depan cermin sambil menanyakan pendapat Gadis.
“Baju tidurnya lucu banget kan? Ada gambar pandanya.” ucap Tiara kegirangan. “Malam ini aku pakai yang ini aja deh.”
“Iya lucu.” jawab Gadis tak bersemangat. “Ra, mau sampai kapan lagi? Aku udah mati kelaparan nih!”
“Iya deh maaf. Ya udah aku beresin dulu bajunya, ntar aku nyusul.” jawab Tiara dengan sunggingan senyum sumringah.
“Huuuh.... Bilang kek dari tadi.” kata Gadis lemas sambil keluar dari kamar.
Saat merapikan pakaiannya, ia tiba-tiba teringat gantungan kunci tadi. Ia langsung mengambil benda itu dan mengerjakan apa yang disuruh oleh Haris.
“Eh, bener bisa terbuka. Apa ini?” kata Tiara saat melihat lipatan kertas kecil yang berada di dalam gembok itu.
Ia mengambil dan membuka kertas tersebut.
Dari dulu sampai sekarang, aku masih tetap cinta sama kamu
Aku tau, kamu pasti nggak ingat denganku
Walau kata Gadis ini rahasia, tapi sepertinya tidak adil
Aku adalah kakak sepupu Gadis yang selalu ikut menjengukmu dulu.
“Ih, nggak ada kata-kata yang romantis sama sekali. Udah jadi ciri khasnya mungkin.” gerutu Tiara. “Hmm…Tapi, seandainya aku lebih dulu tahu dari surat ini mungkin kejadian itu nggak pernah ada,”
Lagi-lagi Tiara menyesali dirinya. Lalu, ia mengembalikan kertas ini ke tempat semula dan menguncinya lagi.
***
Pagi hari yang begitu dingin. Sampai-sampai Tiara menggigil dan meringkuk tubuhnya. Walaupun tubuhnya sudah di tutupi dengan selimut yang lumayan tebal, tetap saja rasa dingin itu merasuk ke dalam tubuhnya.
“Ra, ayo bangun! Sarapan!” kata Gadis sambil menggoyang-goyang tubuh Tiara.
“Iya, Dis... nanti aja. Oh iya, matiin AC-nya dong. Dingin banget.” mohon Tiara dengan suara yang sumbang.
Mendengar suara yang sumbang itu, Gadis langsung menepelkan tangannya ke dahi dan leher Tiara.
“Tuh kan pada demam! Ayo sarapan dulu!” Gadis menarik paksa Tiara.
Dengan badan yang lemas, perlahan Tiara berjalan menuruni anak tangga dibantu oleh Gadis. Ternyata di bawah sudah ada Haris yang tengah meringkuk di sofa.
“Ayo kak, bangun! Sarapan dulu!” perintah Gadis.
Haris pun duduk setelah mendengar Gadis mengomel. Tiara ikut duduk di samping Haris. Tiba-tiba..., “Hatciiii!” keduanya bersin.
“Makanya siapa suruh pacaran dalam kolam! Kayak nggak ada tempat lain aja!” omel Gadis.
“Namanya juga mau tampil beda, Dis.” sahut Tiara bercanda.
“Oh, tampil beda ya?” jawab Gadis geram. “Nih, tampil beda!” sambung Gadis sambil mencubit pipi Tiara.
Tiara teriak kesakitan, “Aduh... Pak Dok...”
“Hmm?” sahut Haris masih dalam keadaan ngantuk.
“Bantuin dong...” mohon Tiara manja.
Lalu Haris mencubit pipi Tiara yang satunya lagi. Tiara pun makin kesakitan.
“Ih... Kok malah dicubit sih!” ucap Tiara kesal sambil menghempaskan tangan mereka.
“Kan kamu bilang bantuin?” jawab Haris.
“Maksudnya bukan bantuin nyubit!” kata Tiara kesal.
“Terus bantuin apa?” tanya Haris.
“Nggak tau ah!” kata Tiara marah sambil melipat tangannya ke dada.
“Kalau udah gini sih bukan urusan aku. Kalau gitu aku aku nyiapin sarapan dulu ya.” ucap Gadis sambil meninggalkan mereka berdua.
Haris memperhatikan Tiara yang sedang marah padanya.
“Kamu kalau marah gini makin cantik deh.” rayu Haris.
“Udah deh, nggak usah ngegombal!” jawab Tiara yang sedang sebal.
“Oh, ya udah kalau gitu.” jawab Haris dan kembali merebahkan badannya lagi.
Melihat Haris yang acuh terhadapnya, Tiara makin kesal.
“Ih....” Tiara geram sambil memukuli kaki Haris. “Nggak peka banget sih jadi cowok!”
Haris pun kembali bangun, “Terus kamu maunya apa?”
“Nggak Tau!” ucap Tiara kesal dan melipat tangannya lagi.
Nah, tingkah cewek yang begini nih yang sering buat cowok bingung setengah mati. Ditanya apa maunya, dijawab nggak tau. Tapi, kalau dibiarkan justru dibilang nggak peka.
Tapi, buat para cowok yang benar-benar cinta dan mengerti sama pasangannya, dia tidak akan kesusahan membujuknya.
Haris membelai pipi Tiara yang telah dicubitnya tadi, “Maaf ya, aku cuma bercanda kok. Jangan marah gitu dong.”
Tiada respon sama sekali dari Tiara. Tapi wajahnya sudah mulai berubah. Tidak terlihat semarah tadi.
Haris pun berpikir harus memakai cara ke dua.
“Oh, iya. Hampir lupa. Weekend kita jalan-jalan yuk!” ucap Haris sambil memegang tangan Tiara.
“Mau kemana?” tanya Tiara masih kesal tapi dengan suara yang lebih pelan.
Dokter Haris pun tersenyum mendengar respon dari Tiara. Cara keduanya telah berhasil sedikit meluluhkan hati Tiara.
“Gimana kalau kita pergi ke puncak. Mau nggak?” bisik Haris di telinga Tiara.
Tiara menganggukkan kepalanya. Kini wajahnya terlihat lebih ceria.
Dan yang terakhir Haris bertanya, “Kamu kedinginan ya?”
Tiara menganggukkan kepalanya. Lalu Haris mendekat pada Tiara dan memberikannya sebuah pelukan.
“Gimana? Apa lebih baik?” tanya Haris.
“Kalau bisa jangan dilepas.” jawab Tiara.
Haris pun tersenyum mendengar perkataan Tiara. Sedikit lucu, tapi Haris merasa senang mendengarnya.
Satu hal lagi nasehat buat para cowok, kalau cewek udah merasa baikan sama keselnya, jangan coba-coba ungkit masalah yang udah-udah lagi deh, seperti bertanya, “Kamu udah nggak marah lagi kan sama aku?” lebih baik jangan, atau dia bakal marah lagi.
Haris, pelipur lara bagi Tiara, yang datang seperti pelangi setelah hujan badai. Persahabatan yang telah ia alami sebelumnya, membawa keceriaan dan warna-warni baru di hidupnya. Haris, adalah pelangi untuk Tiara.
__ADS_1
*** TAMAT ***