
Tiara dan gadis kini berada di dalam kamar. Dengan seksama Gadis mendengarkan keluhan Tiara.
“Jelas banget sekarang kenapa Vania setega itu buat ngerebut Kelvin dari sahabatnya sendiri. Bukan karena kamu yang salah, Ra. Tapi si Vanianya aja yang udah terobsesi banget sama si cowo itu. Jadinya gitu deh... kan freak banget, ngerencanain buat dapetin Kelvin, sampe kayak bikin skenario gitu. Atau jangan-jangan dia udah termasuk ke golongan psiko deh... buktinya dia terus langsung deketin kamu, deketin kita, buat deket juga sama Kelvin. Manis banget, nusuk dari belakang nyingkirin kamu buat dapetin dia. Ampun deh... gak habis pikir banget dia bisa segila itu,” cecar panjang Gadis setelah mendengar cerita Tiara mengenai peristiwa yang terjadi di kampus pagi tadi, tentang perilaku dan segala perkataan Vania terhadap Tiara selama ini yang ternyata seperti settingan saja.
Tiara yang sedang duduk di meja belajar kamarnya itu langsung merespon ucapan Gadis dengan cepat, “Itu makanya aku kesel banget kenapa tadi kamu nggak ngampus. Kalo aja kamu lihat gimana sikap dia ke aku, aku yakin kamu juga bakalan kesel banget sama dia,” kata Tiara menambahi.
“Hmm... yaudah, Ra. Sekarang kan kita udah sama-sama tahu gimana yang sebeneprnya terjadi, kita udah denger sendiri semuanya langsung dari mulut Vania. Toh kamu juga udah nggak sama Kelvin lagi kan, jadi yaudah... biarin aja mereka hidup semaunya. Kamu nggak perlu lagi punya urusan apapun sama mereka,” nasehat Gadis, mencoba meredam kekesalan hati Tiara.
“Kamu nggak lihat sih, Dis... gimana cara dia ngomong ke aku waktu di kampus tadi. Walaupun dia udah sejahat itu, tapi aku masih anggap dia temen, aku niat baik-baik mau nolongin dia, tapi tangan aku ditangkis aja gitu... abis itu dia ngomong kemana-kemana, tentang SMA-nya lah, tentang Kelvin yang udah dari dulu dia kejarlah, dan semua yang dia omongin tuh nyakitin banget, Dis. Coba bayangin udah berapa kali cewe itu bikin aku setengah mati nahanin sakit kayak gini. Dia rebut Kelvin dari aku, dia khianatin persahabatan kita, dia tusuk aku dari belakang, dan ternyata dia udah rencanain ini semua dari awal kita sahabatan sama dia. Gila kan!” sambung Tiara meluapkan sakit hatinya.
Mengetahui Tiara yang sedang sedikit terbawa suasana emosi, Gadis yang tadinya hanya mengobrol dengan berbaring santai di tempat tidur Tiara, sekarang bangkit dari tidurnya kemudian duduk bersila di atas tempat tidur itu.
A
“Udah lah, Ra... Orang kayak gitu tuh dimaafin aja. Mau diapain lagi coba,” kata Gadis mencoba menenangkan Tiara.
“Nggak bisa gitu, Dis. Dia kira aku bisa diginiin terus. Nggak. Aku nggak selemah itu. Aku harus ngebales semua rasa sakit yang udah dia kasih ke aku!” jawab Tiara sambil menepukkan telapak tangannya ke meja. Sedikit emosional.
Ditengah-tengah suasana emosi itu, terdengar suara mbak ART yang memanggil mereka berdua.
“Neng... makan malamnya udah siap.” teriak sang ART.
“Iya, Mbak. Makasih ya...” sahut Tiara dari dalam kamar. “Ayo, Dis. Kita makan dulu. Ngomongin nenek sihir itu ngabisin energi banget,” sambungnya lagi sambil beranjak dari tempat duduknya lalu berjalan keluar kamar menuju ruang makan.
“Lagian ngomongnya pake emosi sih, nggak kayak Tiara yang aku kenal deh. jangan-jangan kamu ini udah ketularan sifat nenek sihirnya Vania ya, ihhhh.... kabur ah!!” ejek Gadis menggoda Tiara sambil berjalan lebih cepat melampaui Tiara.
__ADS_1
“Ehh... enak aja. Enggak ya. Gadiiiisss...” teriak Tiara tak terima dengan ejekan Gadis, atau karena ia telah jauh tertinggal oleh Gadis yang sudah terlebih dahulu tiba di meja makan.
Beberapa detik kemudian, Tiara menyusul Gadis duduk di meja makan.
“Tapi, Dis... aku serius loh... pengen banget tau, ngebalas semua yang udah dia lakuin ke aku.” tutur Tiara lagi yang masih membahas tentang Vania sambil menyendokan nasi ke piring makannya.
“Udah deh, Ra!” tegas Gadis, ia menghentikan suapan nasi ke mulutnya lalu meletakkan sendok itu ke piringnya dengan sedikit menghentak. Kali ini ia benar-benar ingin membuat Tiara berhenti membicarakan Vania, karena ia tahu itu hanya akan membuat luka hati Tiara menguak lagi. “Kita tuh lagi makan, waktunya rileks, menikmati apa yang udah disediain sama mbaknya, jangan ngomongin itu terus yang bikin urat leher kamu jadi tegang nggak karuan gitu,” tegas Gadis yang benar-benar ingin menenangkan hati sahabatnya itu.
Tiara sedikit tersentak oleh hentakan yang dilakukan Gadis di meja makan tadi. “Tapi kan, Dis...” belum sempat Tiara menyelesaikan ucapannya, Gadis memotong...
“Apa lagi?? Apa dokter Haris belum cukup buat kamu bahagia?" sambung Gadis kesal.
Tiara terdiam. Tapi, masih ada pembrontakan di dalam hatinya.
Aroma makanan berlemak sangatlah khas di tempat ini. Suasana ricuh pun tak pernah lepas. Ini adalah tempat berkumpul yang tidak bisa terelakkan.
Di kantin,
Tiara begitu serius memainkan laptopnya. Perutnya sudah sangat kelaparan dan ini memang waktunya makan siang. Sambil melahap makanan yang ada di hadapannya, jari-jarinya pun tak henti melompat-lompat di atas keyboard.
Dari kejauhan, Kelvin yang baru memasuki kantin langsung mendapatkan sosok Tiara yang sedang duduk di sudut ruangan itu. Tak sabar kakinya ingin melangkah ke arah Tiara. Namun, hatinya masih ragu. Bisa saja Tiara tidak ingin menerima kedatangannya.
Sekuat tenaga Kelvin mengurungkan niatnya. Kemudian ia memutuskan untuk hanya membeli sebotol minuman dingin dan menyapa teman-temannya yang lain. Tapi, matanya tidak ingin lepas dari sosok wanita di sudut sana.
Kelvin tidak dapat menahannya lagi. Walaupun langkah kakinya meraba ragu, ia tetap berusaha yakin. Beranjak menuju Tiara.
__ADS_1
"Hai, Ra!" sapa Kelvin pelan.
Tiara menghentikan gerakan jarinya dan melihat ke arah sumber suara. Ia tidak menyangka akan bertemu dengan mantan pacarnya lagi. Tapi, ia tidak mau ambil pusing. Ia kembali memperhatikan layar laptopnya.
"Iya, Vin. Ada apa?" jawab Tiara sambil kembali memainkan laptopnya.
Tidak disangka Tiara menyambut Kelvin dengan ramah. Kelvin pun berpikir ada peluang untuknya.
"Aku boleh duduk di sini?" tanya Kelvin gugup.
Tiara menarik napas panjang lalu melihat ke arah Kelvin, "Emangnya di sini ada tulisan dilarang duduk?"
"Ya... Nggak ada sih...." jawab Kelvin sambil mengusap-usap tengkuknya.
"Lalu?" sambung Tiara.
Kelvin duduk sambil tersenyum gugup. Tiara menggelengkan kepalanya. Heran melihat tingkah Kelvin.
Tiara kembali lagi terfokus pada laptopnya.
“Kamu lagi ngerjai apaan sih?” tanya Kelvin yang heran melihat Tiara begitu serius.
“Ini, tugas dari Bu Dina. Karena aku nggak masuk-masuk di kelasnya, jadi aku dikasih tugas tambahan untuk perbaikan nilai. Hmm.., kayaknya buku yang aku punya belum cukup deh buat ngerjain ini semua,” oceh Tiara sambil menunjuk buku yang dibawanya.
Kelvin tersenyum oleh celotehannya. Ini yang dia suka dari Tiara. Saat ia bercerita keluh kesahnya ia terlihat sangat imut.
__ADS_1