
Di mall.
“Oh, jadi gini kelakuan kalian di belakang aku?!” bentak Tiara pada Gadis dan Dokter Haris dari belakang mereka.
“Tiara?” kata Gadis terkejut melihat Tiara. “Kamu kok di sini?”
“Iya! Kenapa? Kaget?” ketus Tiara.
“Kamu ngomong apaan sih? Terus kenapa kamu jalan sama Kelvin?” tanya Gadis bingung saat melihat Kelvin yang turut datang bersama Tiara.
“Loh kenapa? Emangnya Tiara nggak boleh jalan sama aku?” sahut Kelvin.
“Tapi kan Dokter...” penjelasan Gadis terhenti.
“Kamu sendiri ngapain berduaan sama Dokter Haris?” cecar Tiara memotong perkataan Gadis.
Saat Dokter Haris ingin menjelaskan, tapi langsung di potong oleh Tiara.
“Nggak perlu dijelaskan! Semuanya udah jelas kalau kalian udah
khianati aku. Tapi nggak masalah. Sekarang aku udah kembali sama Kelvin. Ya kan, sayang?” ucap Tiara sambil rangkul tangan Kelvin.
Tentu saja Kelvin sangat senang dengan pengakuan Tiara itu. Memang hal ini yang di tunggu-tunggunya. Yaitu, kembalinya Tiara dalam pelukannya.
Gadis dan Dokter Haris diam terpaku menyaksikan kemesraan pasangan itu.
“Tiara! Kamu udah salah paham!” ucap Gadis meyakinkan.
“Udahlah! Kalian udah ketahuan! Aku nggak nyangka orang yang aku kira sahabat, tapi justru mereka yang nusuk aku dari belakang.” ucap Tiara.
“Kenapa sih kamu nggak mau dengerin aku?” bentak Gadis kesal.
“Apa! Apa yang mau kamu jelasin lagi? Semuanya udah jelas! Kalian berdua pengkhianat! Selama ini kalian cuma manfaatin aku! Kamu tau, aku nggak nyangka kalau kamu itu cewek murahan!” perkataan kesal Tiara yang entah sudah sampai dimana rasa kecewanya.
Mendengar penghinaan dari Tiara, tangan Gadis langsung melayang ke pipi Tiara. Ia tidak terima dengan apa yang dikatakan Tiara.
__ADS_1
“Tega kamu hina aku kayak gitu, Ra!” ucap Gadis lirih.
“Tega?” tanya Tiara sambil memegangi pipinya bekas tamparan Gadis. “Kalau aku tega, terus kalian menyebut diri kalian apa? Hah?!” bentak Tiara.
Tiara pun ingin mengangkat tangannya juga untuk membalas tamparan Gadis. Namun, Dokter Haris menghentikan tangan Tiara.
“Cukup, Tiara! Kamu udah kelewatan!” bentak Dokter Haris.
Kelvin merasa tidak senang dengan perlakuan Dokter Haris terhadap Tiara, dengan sigap ia mencoba melepaskan pegangan Dokter Haris dari tangan Tiara dan menghempaskannya, “Hei! Apa-apaan ini!” ucap Kelvin kesal.
Belum sempat Kelvin melanjutkan bicaranya, Tiara menghentikannya dengan menjauhkannya dari Dokter Haris.
“Aku nggak nyangka bahkan kamu pun ngebelain dia??” ucap Tiara pada Dokter Haris.
“Apa kamu pikir aku akan membela orang yang telah menghina orang lain di depan umum?” jawab Dokter Haris.
Akhirnya, Dokter Haris mengajak Gadis untuk pulang. Tiara hanya bisa memandangi mereka tanpa bisa berkata apa-apa lagi. Hatinya semakin terluka.
“Tiara, kamu nggak apa-apa kan?” tanya Kelvin sambil memegangi pipi Tiara. “Kamu tau nggak? Aku seneng banget waktu kamu bilang mau balikan lagi sama aku. Makasih ya.”
“Nggak!” jawab Tiara sambil menghempaskan tangan Kelvin.
“Kamu salah, Vin. Aku nggak berniat balik sama kamu.” jawab Tiara tegas.
“Tapi, tadi kamu bilang....” tanya Kelvin kebingungan.
“Aku bohong. Kamu pikir sendiri deh! Menurut kamu, kamu masih pantas sama aku? Setelah kamu mengkhianati aku demi Vania. Dan sekarang kamu mencampakkan Vania terus kamu mau balik lagi sama aku? Kamu pikir aku mau?” jelas Tiara.
“Jadi kamu cuma mainin dan manfaatin aku aja?!” bentak Kelvin.
“Apa? Harusnya aku yang ngomong gitu ke kamu!” balas Tiara sambil menunjuk-nunjuk Kelvin.
Dengan perasaan yang masih hancur ia pergi meninggalkan Kelvin begitu saja. Kelvin tidak dapat berkata-kata lagi. Saking geramnya ia sampai menendang sebuah bangku yang ada di dekatnya.
Lalu terdengar suara tepukkan tangan. Ternyata itu berasal dari Vania.
__ADS_1
“Kamu? Ngapain kamu di sini?” tanya Kelvin heran.
“Aku lagi pengen nonton drama!” jawab enteng Vania.
“Apa?” tanya Kelvin bingung.
“Ya... Aku udah lihat semuanya dan aku senang karena sad ending,” ucap Vania tersenyum.
“Kamu benar-benar cewek gila ya!” ketus Kelvin yang tidak habis pikir dengan tingkah Vania yang menurutnya semakin freak saja.
“Ya, aku memang gila! Aku gila karena selama bertahun-tahun, aku ngejar cowok yang nggak punya pendirian kayak kamu! Jangankan Tiara, bahkan kamu juga nggak pantas buat aku!” bentak Vania lalu ia pergi meninggalkan Kelvin.
“Aaarrgggg!” teriak Kelvin kesal sambil menendang-nendang bangku lagi.
***
“Dis, aku kira kamu satu-satunya sahabat aku yang tersisa. Satu-satunya sahabat yang paling aku butuh. Satu-satunya sahabat yang paling bisa temenin aku waktu aku lagi terpuruk kayak gini. Tapi kenapa, Dis... kenapa...” tangis Tiara sambil membenamkan wajahnya ke bantal ungu favoritnya.
“Setelah Vania, apa aku harus kehilangan kamu juga Dis?? Kehilangan semua sahabat aku? Dikhianati sama kalian, kalian nggak tau gimana hancurnya aku sekarang!!!” Tiara semakin meratapi keadaannya atas kejadian yang sedang ia alami.
Tiara menangis sejadi-jadinya di dalam kamar. Tidak ada yang bisa mendengar, sebab ia membenamkan erangan tangisnya itu ke dalam bantal untuk sedikit meredam suaranya.
Beberapa saat, erangan tangis Tiara mereda. Ia membuka bungkaman bantal yang menutupi wajahnya. Ia masih tersedu. Tergeletak lemah di tempat tidur miliknya.
“Hmmm, Gadis...” dengan mata yang sudah sangat sembab, dengan lirih ia menyebutkan nama sahabatnya dengan hati yang sangat bersedih.
Berat sekali tarikan nafas yang ia simpan dalam dadanya, pertanda betapa dalam kesedihan yang kian memberat di batinnya kini.
“Dis, kamu selalu temenin aku di sini. Temenin aku tidur di sini. Ngerjain tugas bareng di kamar ini. Ngobrol, bercanda bareng kamu, di sini...” Tiara berbicara sendiri. Matanya menebarkan pandangan ke tiap sudut ruangan di kamar itu. Kamar yang sering menjadi tempat mereka bermain, menghabiskan waktu bersama sebagai sahabat yang karib. Ya... sahabat karib.
Namun kejadian yang ia saksikan langsung dengan mata kepalanya sendiri saat di mall tadi benar-benar membuatnya terpukul, terguncang, dan benar-benar mengalami hati yang sangat hancur. Ia tidak bisa lagi mengira harus berapa kali lagi ia menerima kenyataan untuk dikhianati oleh orang-orang yang ia kasihi.
Bahkan sepertinya kali ini hatinya jauh lebih hancur berantakan dari pada saat ia mengetahui perselingkuhan Kelvin dengan Vania dahulu...
“Di saat aku udah mulai bisa buka hati lagi buat orang lain, kenapa semuanya jadi kayak gini... Dokter Haris... Gadis... kenapa kalian...???” tangis Tiara kembali memecah keheningan ruangan. Kembali, dalam dekapan bantal, ia meredamkan suara tangisnya yang sebenarnya sangat ingin ia erangkan sekuat tenaga, namun harus ia tahan karena tidak ingin orang-orang yang ada di rumahnya mengetahui penyebab tangisnya kini.
__ADS_1
“Sekarang, aku cuma bisa memendam semua kesedihan ini, nggak ada siapapun yang menemani dan mengerti aku. Apakah itu kekasih, teman, ataupun sahabat,” tekad Tiara dalam hatinya yang sudah sangat pecah berkeping-keping yang bermuara pada sebuah kata... pengkhianatan.
***