Sahabat Pelangi Untukmu

Sahabat Pelangi Untukmu
Bab 29. Sudah Terlambat


__ADS_3

Pagi ini, dengan badan sempoyongan layaknya nyawa yang belum sepenuhnya terkumpul saat ia terbangun dari tidurnya, juga dengan rambut berantakan, dilengkapi dengan mata super sembab karena menangis semalaman atas kejadian yang ia alami di mall kemarin, mau tidak mau, Tiara harus bangkit dari singgasana tidurnya untuk kembali beraktivitas menjalani perkuliahan seperti biasa.


Sekuat tenaga ia mengumpulkan kembali semangatnya untuk merapikan diri dan bersiap menuju kampus. Tapi kali ini tidak dihantarkan oleh Dokter Haris. Tentu saja tidak, “Dokter Haris kan sekarang sama Gadis...” batin Tiara bergumam lesu.


Sesampainya di depan gerbang kampus, dengan sisa semangat yang ada, Tiara berjalan perlahan menuju ke kelasnya dengan ayunan langkah loyo.


Dengan wajah muram, sedih, dan galau gundah gulana, sepanjang jalan menuju kelas, yang ia pandangi hanyalah batako-batako keras yang di pijakinya satu per satu. Menunduk saja.


Sesekali ia menoleh ke kiri, ke arah bangku taman kampus, tempat ia biasa duduk bersama dengan Gadis, sahabatnya. Namun kali ini ia hanya mendapati bayangannya saja, “Gadis nggak ada di sana...” dan kenyataan itu membuatnya kembali menundukkan lesu kepalanya.


Masih dengan wajah sayu, sesampainya Tiara di koridor gedung fakultasnya, ada seseorang lelaki bertubuh tinggi yang berjalan menyalip dari sisi kanannya. Saat Tiara mendongak memperhatikan pria itu, “Kelvin...” sapa Tiara ramah.


“Oh, hai..” sahut Kelvin berbalik menengok ke arah suara yang memanggil namanya, “Ra, eumm... maaf aku duluan.” sambung Kelvin sekedarnya, tanpa basa-basi sambil berlalu begitu saja meninggalkan Tiara. Berbeda sekali dengan Kelvin yang biasanya.


Biasanya Kelvin selalu antusias tiap kali bertemu dengan Tiara. Tapi kali ini, sekedar tersenyum tipis pun tidak. “Loh, Kelvin kok gitu sih... tumben cuek banget,” gumam Tiara saat melihat Kelvin hanya melambaikan tangan beberapa detik kemudian berlalu dari hadapannya, Tiara bingung.


Sambil memikirkan sikap Kelvin, beberapa menit melangkah lunglai, Tiara tiba di depan kelas. Tanpa ada teman yang menyapa, ia langsung terduduk di bangku kelas miliknya.


Dalam duduknya, ia menoleh ke sebuah bangku yang ada di sisi kiri dan belakangnya, itu tempat duduk Gadis dan Vania. “Hmm... mereka berdua gak ada di sini. Aku bener-bener udah nggak punya siapa-siapa lagi.” tutur batin Tiara yang semakin membuatnya bersedih hati, kemudian menidurkan kepalanya di meja lalu menutupi sisi wajahnya dengan buku besar yang sejak tadi ia sandang.


Tiara hanya terdiam. Mengingat kembali bagaimana bisa semua ini terjadi kepadanya. Kehilangan semua hal dalam waktu sesingkat ini...


Ingin sekali ia meraung lagi untuk meluapkan kesedihan dan pilu hatinya, “Tapi nggak mungkin kan nangis lagi... ini tuh di kelas, bukan di kamar.” Tiara berbicara sendiri.


Kemudian tiba-tiba....


“Eh, Ra.... udah denger kabar belum?? Vania kan udah nggak di sini lagi loh” celoteh salah satu teman sekelas Tiara.


Celotehan ramai itu terang saja mengagetkan Tiara dan spontan membuat ia kembali menegakkan kepalanya dari meja, “Haa??? Vania?? Nggak di sini lagi, maksudnya??” tanya Tiara ingin tahu.

__ADS_1


“Iya... katanya dia tuh udah pindah ke luar negeri gitu, jadinya dia nggak ngampus di sini lagi deh.” sambung sang teman pembawa berita.


Belum sempat Tiara melanjutkan perbincangan dengan  temannya, mereka sudah harus memulai perkuliahan karena seorang Dosen sudah memasuki ruangan kelas.


Sepanjang perkuliahan, entah kenapa pikiran Tiara tidak terlalu fokus mendengarkan dosen di depan kelas. Ia masih memikirkan kabar yang dapatkan tadi pagi, “Beneran Vania udah pindah ke luar negeri?? Tapi kenapa?? Bukannya dia... Ah, ya sudahlah.” pikirnya.


Akhirnya, 90 menit berlalu dan perkuliahan selesai. Tiara merapikan buku-bukunya. Ia memutuskan untuk menuju ke perpustakaan, melanjutkan perburuan bukunya untuk menyelesaikan beberapa tugas tambahan yang masih belum juga rampung ia tunaikan.


Kali ini langkah kaki yang ia tujukan ke ruang perpustakaan dibarengi dengan pikiran yang sedikit lebih ringan. Tak ada lagi raut wajah lesu dan gerak lunglai. Terlihat sekali dari senyum kecil yang ia sungging. Langkah mungilnya pun terlihat santai bertenaga, tidak seloyo saat pagi tadi. Ia berpikir untuk bisa menguatkan dirinya.


Lalu, ia teringat akan Vania yang mereka bicarakan tadi.


 “Vania pindah, nggak di sini lagi. Hmmm... Apa ini semua karena masalah itu?” tanya Tiara dalam hati sambil memikirkan kejadian perih yang sama-sama mereka alami. “Aku harap, dia hidup bahagia di sana.”


Setibanya Tiara di ruang perpustakaan, dari kejauhan ia melihat seperti ada seseorang yang ia kenali sedang duduk sendiri di area baca perpustakaan. Ia memicingkan mata untuk memastikan bahwa seseorang yang sedang duduk di sana itu adalah orang yang ia kenali.


Tiara melangkahkan kakinya memasuki ruang perpustakaan. Mulanya, ia ingin menghampiri Kelvin untuk duduk bersamanya, toh juga ia sendirian, tidak ada salahnya jika ia menemui salah satu temannya. Tapi ia berubah pikiran. Tiara mengurungkan niatnya untuk duduk bersebelahan dengan Kelvin. Mengingat kejadian tadi pagi ketika ia berpapasan dengan Kelvin, terlihat seperti Kelvin tidak begitu senang saat melihatnya. Terbukti dengan cueknya Kelvin atas respon sekedarnya kemudian berlalu pergi begitu saja saat Tiara menyapa.


“Hmm... yaudah deh, aku beneran udah nggak punya temen sekarang,” sambil berjalan menuju rak buku-buku yang letaknya cukup jauh dari tempat duduk Kelvin, Tiara berbicara sendiri, berusaha membesar hatinya.


Tidak tenang rasa hatinya melihat sikap Kelvin yang tanpa sebab itu. Sambil memainkan jemari memilih buku, Tiara mengingat-ingat kembali, barangkali ada hal salah yang telah ia lakukan pada Kelvin hingga membuat sikap Kelvin begitu dingin kepadanya.


“Oh, God... ini pasti karena kejadian kemarin kan, waktu di mall. Aduhhh!” tutur Tiara sambil menepukkan salah satu buku di dahinya.


Kali ini, Tiara memutuskan untuk benar-benar menghampiri Kelvin.


“Hai, Vin. Boleh duduk di sini?” tanya Tiara sopan sambil duduk perlahan di tempat duduk yang berada di sisi kanan Kelvin.


“Iya, Ra. Duduk aja.” sahut Kelvin, kembali dengan tutur seadanya.

__ADS_1


“Emmm, Vin. Tentang yang kemarin, di mall, kayaknya ada yang harus aku jelasin deh ke kamu.” ucap Tiara memulai obrolan.


“Tentang apa, Ra? Kayaknya gak ada lagi hal serius yang perlu di bahas kan. Aku bukan siapa-siapa kamu.” sahut Kelvin lagi, dengan senyum polos sambil menatap wajah Tiara dalam-dalam.


“Vin...” tatap lembut Tiara kepada Kelvin.


Kelvin memalingkan pandangannya. Kini, yang Kelvin tatap hanyalah sebuah buku yang sejak tadi menemani diamnya.


“Kayaknya aku harus minta maaf ke kamu. Aku tau mungkin kata-kata aku kemarin itu nyakitin kamu banget. Tapi aku juga mohon supaya kamu ngerti posisi aku sekarang. Dikhianati sama semua orang yang aku sayang.” sambung Tiara menegaskan.


“Aku baik-baik aja, Ra. Justru aku yang harusnya minta maaf ke kamu atas semuanya.” balas Kelvin perlahan.


“Terus kenapa tadi pagi kamu cuek banget??” tanya Tiara.


“Bukan bermaksud cuek atau gimana, Ra. Sekarang aku udah bener-bener sadar, aku merasa bersalah banget ke kamu, udah nyakitin kamu banget, udah bikin hati kamu sehancur itu. Dan aku pikir, cara untuk menebus semua kesalahan itu adalah dengan menjauh dari hidup kamu.” tutur halus Kelvin.


Mendengar penuturan Kelvin, Tiara hanya terdiam saja mendengarkan. Hatinya terenyuh dengan pengakuan dari Kelvin itu.


“Sejujurnya aku masih sayang banget sama kamu. Tapi aku nggak mau nyakitin kamu lagi. Terlebih lagi setelah aku tau gimana sifat Vania yang sebenernya, aku makin nyesel udah sia-sia kamu, tapi aku juga sadar bahwa aku emang nggak akan mungkin pantas kamu terima lagi. Itu sebabnya, sebisa mungkin aku berusaha untuk menghindar dan menjauh dari kamu. Aku nggak mau nyakitin kamu lagi, Ra,” sambung Kelvin panjang lebar, membuat Tiara tertegun.


Sekarang semuanya sudah jelas, cuek dan dinginnya Kelvin adalah karena ia telah menyadari perbuatannya.


 “Vin, kenapa kamu baru menyadari semuanya, saat cintaku bukan lagi kamu...” batinnya.


Setelah goresan namanya yang selalu diukir dengan indah di pasir pantai oleh Tiara telah sirna disapu ombak. Setelah namanya yang selalu dipanggil sayang dengan lembut oleh Tiara telah hilang teredam hembusan angin. Orang yang di cintai oleh Tiara bukan lagi tertuju kepada Kelvin.


Semuanya sudah terlambat...


***

__ADS_1


__ADS_2