
Melihat Tiara yang sedang menerawangkan pandangannya jauh ke atas langit, seperti sedang memikirkan sesuatu, Gadis mengambil alih pembicaraan, “Ra, kenapa sih? Kok kayak ada yang kamu pikirin?”
“Emm... Tadi... Dokter Haris bilang suka sama aku,” jawab Tiara pelan.
“Ha.. Ha.. Ha.. Berarti nggak sia-sia dong aku ninggalin kalian berduaan tadi,” ucap Gadis gembira.
Tiara mengerutkan dahinya, “Oh, jadi tadi kamu itu...” sambung Tiara memperlihatkan wajah kesalnya.
“Iya.. Iya.. Aku minta maaf.. Jangan marah gitu dong,” bujuk Gadis agar Tiara tidak meneruskan kekesalannya itu kepadanya.
Tiara menarik napasnya dalam-dalam atas tingkah sahabatnya itu. Biar bagaimanapun sikap jahilnya, ia tidak bisa marah pada Gadis.
“Terus kamu bilang apa ke dia?” tanya Gadis penasaran.
“Dis, aku rasa dia itu cuma mainin aku aja deh. Mana mungkin dalam waktu sesingkat itu dia langsung nyatain suka sama aku!” ucap Tiara penuh keyakinan atas pemikirannya.
“Ra, coba kamu pikir deh. Alasan dia mainin kamu itu apa? Apa kamu pernah lihat dia nggak serius?” Gadis mencoba menjelaskan.
Tiara memikirkan perkataan Gadis. Ia mengingat semua momen saat bertemu dengan Dokter Haris. “Dokter itu, dia nggak pernah senyum, bicara juga seperlunya saja, lebih banyak diam, emang kelihatan selalu serius sih. Tapi...”
“Mungkin menurut kamu ini waktu yang singkat, tapi bisa aja enggak buat dia kan,” sambung Gadis serius.
“Emm, maksudnya Dis??” tanya Tiara bingung.
“Aku udah tau semuanya. Mama kamu yang bilang ke aku kalau dia bakal jagain kamu,” jawab Gadis mengalihkan.
“Apa??? Jadi itu beneran???” Tiara terkejut.
“Gini aja deh, Ra. Kamu jalani aja dulu. Kalau emang kamu nggak nyaman, baru kamu protes sama orang tua kamu. Aku yakin, Dokter Haris itu orangnya baik kok,” ucap Gadis meyakinkan.
“Hmm... aku masih bingung sama semuanya, Dis,” ucap Tiara sambil menghela nafas.
Tiara menyandarkan tubuhnya pada badan bangku yang sedang ia duduki. Menikmati hembusan angin di bawah pohon rindang yang membuatnya terasa sangat sejuk. Ia memikirkan perkataan Dokter Haris, pun memikirkan perkataan Gadis.
“Hhft... “ helaan nafasnya kali ini seperti ingin berkata. “Baiklah, akan aku coba...”
__ADS_1
***
Dua minggu kemudian...
Setelah istirahat di rumahnya selama beberapa hari, hari ini ia sudah siap untuk kuliah. Beberapa hari itu berlalu bersama Dokter Haris. Seperti yang di katakan Gadis sebelumnya, lama-kelamaan Tiara sudah benar-benar terbiasa dengan kehadirannya.
Hari ini ia diantar oleh Dokter Haris mengunakan mobil pribadinya. Tapi, sebenarnya Tiara agak sedikit resah. Karena pria yang membawanya itu sangat pendiam dan tidak seru.
Beberapa menit diperjalanan mereka hanya saling diam. Tiara merasa bernapas pun susah, hingga berulang kali ia menghelakan napasnya dengan begitu berat.
Dokter Haris memberhentikan mobilnya. Tiara sih, membayangkan kalau Dokter itu bakal membukakan pintu buatnya. Tapi, sepertinya Tiara salah. Dokter Haris tidak peka.
Dokter Haris mengangkat alisnya, “Kok nggak pergi? Kan udah sampai?”
Sambil menghembuskan nafas, Tiara keluar dari mobil itu dengan perasaan kesal.
“Ngakunya suka, tapi nggak tau cara memperlakukan wanita yang disukai!” oceh Tiara kesal.
“Tiara...” panggil Dokter Haris.
Tiara menghentikan langkahnya. Lalu, ia berkhayal lagi. Ia memikirkan mungkin saja Dokter Haris melakukan sesuatu yang romantis, seperti menggenggam tangan misalnya...
Dokter Haris menghampiri Tiara yang belum jauh dari mobilnya. Jantung Tiara pun berdegup kencang berharap khayalannya menjadi kenyataan. Tiara terpesona oleh tampang Dokter Haris. Melihat wajahnya saja sudah membuat hati Tiara sejuk.
“Nih, buku kamu ketinggalan di mobil,” kata dokter Haris datar sambil memberikan beberapa buku pada Tiara.
Seketika raut wajah Tiara berubah masam. Ia langsung merampas buku-buku itu dengan sedikit kasar. Tanpa berkata lagi Dokter Haris langsung naik ke mobilnya lalu pergi meninggalkan Tiara. Tiara sangat murka pada sikap dan perlakuan Dokter Haris padanya.
Baru ingin melangkah, ia merasakan suasananya seperti ada yang aneh. Ia terkejut melihat para wanita menatap ke arah mobil Dokter Haris.
“Ya ampun ganteng banget...” celetukan dari beberapa wanita yang samar ia dengar.
Mereka terus menatap sampai mobil itu tidak terlihat lagi. Tiara cepat-cepat pergi ke kelasnya. Tapi... Brruuuk! Buku-buku terjatuh. Tiara menabrak seseorang. Dan betapa terkejutnya Tiara saat melihat bahwa orang itu adalah Kelvin. Perasaan murkanya pun semakin membara.
Kelvin mencoba meminta maaf pada Tiara dan ingin menolongnya mengumpulkan buku-buku yang terjatuh. Namun, Tiara menolaknya mentah-mentah.
__ADS_1
“Udahlah! Aku bisa sendiri kok!” ucap Tiara jutek.
“Ra, kamu masih marah sama aku?” tanya Kelvin sambil mencoba membantu Tiara memungut buku-bukunya.
“Kamu pergi deh! Aku lagi nggak mau ketemu sama kamu!” jawab Tiara sambil mengutip bukunya.
Kelvin sadar, memang lebih baik ia menjauh dulu dari Tiara. Ia pun meninggalkan Tiara dengan perasaan yang masih kacau.
Sampai di kelas, ia di sambut oleh beberapa teman di kelasnya. Tapi mata Tiara terfokus pada sisi kanan barisan bangku. Di sana ada Vania yang sedang memainkan Hp-nya.
“Eh, Ra! Kata temen-temen, kamu tadi diantar sama cowok ganteng ya?” kata salah satu temannya.
“Ah, kata siapa?” jawab Tiara dengan pipi memerah sambil meletakkan tas dan bukunya di atas meja.
“Ah, Tiara enak banget sih! Baru aja putus gara-gara pagar makan tanaman, eh udah dapat yang lebih aja.” celetukan temannya yang lain sambil melirik ke arah Vania.
Tiara hanya tersenyum kecil mendengar perkataan teman-temannya. Antara harus bahagia atau sedih. Ia pun baru tahu jika kabar putusnya dengan Kelvin sudah menyebar.
“Teman macam apa dia itu? Mengkhianati teman sendiri! Kayak nggak ada kerjaan lain aja!” oceh temannya lagi.
“Nggak laku kali!” sahut yang lainnya.
Tidak sanggup lagi mendengar hinaan itu, Vania yang merasa tersindir, kemudian bangkit dari tempat duduknya dan berjalan ke arah pintu hendak keluar dari kelas yang terasa sangat “panas” itu. Tapi, saat ia melintasi kerumunan itu, ia tersandung kaki salah satu dari mereka. Ia jatuh, terduduk dan tak berdaya, di tambah lagi tertawaan dari mereka, yang membuatnya semakin merasa kecil berada di bawah semua temannya saat itu.
Tiara tidak sampai hati melihatnya. Walaupun hatinya tersakiti oleh pengkhianatan Vania, tapi Vania tetap adalah sahabatnya.
“Ra, kami ke kantin dulu ya, daaah... Ha... ha... ha,” kata temannya yang berlalu dari kelas sambil mentertawakan Vania.
Dengan rasa iba, Tiara menjulurkan tangannya pada Vania dan hendak membantunya berdiri. Tapi...
“Aku nggak butuh pertolonganmu!” jawab Vania sambil menghempaskan tangan Tiara.
Betapa terkejutnya Tiara atas perlakuan kasar Vania. Ia sampai tidak mampu berkata-kata.
“Apa yang kamu pikirin, hah?” ucap Vania sambil berdiri dan membersihkan pakaiannya.
__ADS_1
Tiara masih diam seribu bahasa. Ia terheran-heran melihat perubahan sikap dari Vania. Dahinya pun di kerutkannya.
***