
“Kamu tau nggak? Betapa bahagianya aku waktu kamu kecelakaan. Aku sih berharap nggak ada lagi yang ganggu hubungan kami!” ucap Vania merasa menang.
Tiara tidak dapat menahan emosinya lagi tanpa dikendalikan tangannya melayang kearah pipi Vania. Namun, Vania dapat menampis tangan Tiara.
“Kenapa? Barbie lagi kesal? Iya?” ejek Vania.
Ia tahu Tiara sangat marah padanya. Tapi, itulah yang membuatnya senang.
“Sorry ya, Ken udah jadi milikku..,” sambung Vania lagi yang membuat hati Tiara semakin bergejolak marah.
Belum sempat melanjutkan omongannya, seorang Dosen, pria separuh baya masuk ke kelas itu. Mahasiswa yang lain pun berebut masuk ke kelas. Vania berjalan kembali ke tempat duduknya sambil menunjukan wajah gembiranya. Dan Tiara terduduk lemas setelah mendengarkan kenyataan yang pahit itu.
Tiara sama sekali tidak fokus pada pelajarannya. Ia masih memikirkan yang telah didengarnya tadi. Suara Vania masih terngiang di telinganya. Sayatan di hatinya belum hilang. Kini ia harus menerima irisan lain di hatinya lagi. Seorang yang selama ini dianggap lebih dari sahabat ternyata telah memberikan luka di hatinya. Ia sama sekali tidak menyangka bahwa Vania sebenci ini padanya.
Beberapa jam telah berlalu, pelajaran pun selesai. Tiara berjalan keluar kelas sambil melamun. Ia tidak dalam kondisi baik-baik saja. Terlihat benar dari wajahnya yang lesu. Adapun teman-teman yang memanggilnya tidak ia dengarkan. Pikirannya benar-benar kacau. Entah bagaimana caranya untuk menumpahkan semua itu.
“Ra...” sapa seseorang sambil memegang tangannya.
Tiara pun tersentak tersadar dari lamunannya. Ia pun menoleh ke arah orang itu.
“Dokter...” ucapnya pelan.
Ia melihat sekelilingnya. Tanpa sadar kakinya telah melangkah sampai ke pintu gerbang kampusnya.
Dokter Haris langsung menarik tangan Tiara tanpa berbicara lagi. Mereka berjalan ke arah mobil berwarna putih milik Dokter Haris. Ia membukakan pintu untuk Tiara.
Dari kejauhan, Kelvin melihat Tiara bersama pria yang tidak dikenalnya itu. Ada rasa yang tak biasa mengumpul di hatinya. Ia terus saja memperhatikan mereka sampai mobil itu tidak terlihat lagi.
Diperjalanan Dokter Haris menyadari bahwa Tiara sedang sedih. Tapi, ia belum ingin mempertanyakannya.
“Ra, kita ke rumah sakit dulu ya. Aku ada urusan sebentar,” ucap Dokter Haris sambil memperhatikan jalanan.
Tiara tidak menjawab apapun. Dokter Haris melihat ke arah Tiara, dan benar saja ia masih melamun. Dokter Haris memegang tangan Tiara. Tiara tersentak....
“Humm... Ada apa, Dok?” tanya Tiara.
__ADS_1
“Aku tadi bilang, kita ke rumah sakit dulu ya?” Dokter Haris mengulang perkataannya.
“Oh, iya,” jawab Tiara setuju
Dokter Haris sedikit bingung dengan Tiara. Tidak seperti biasanya, ia selalu bertanya dan ingin tahu, tapi kali ini ia pendiam sekali.
Sesampainya di rumah sakit, Dokter Haris mempersilahkan Tiara masuk ke ruangannya sembari menunggunya kembali dari pekerjaannya.
Tiara terduduk lemas. Ia menyandarkan tubuhnya di badan sofa. Ia ingin sekali melupakan semuanya. Tapi, entah mengapa semua itu tidak dapat pergi dari pikirannya.
“Vania, kenapa? Kenapa kamu seperti ini? Kenapa kamu seegois ini? Kau menginginkan aku menghilang dari dunia ini?” Tiara berkata sendiri dengan suara lirih. “Aku yang telah membuka jalan untuknya agar bersama Kelvin. Dan aku nggak sadar sama sekali.”
Tiara masih tidak habis pikir sama sekali. Ia mengingat kembali kejadian waktu ia membicarakan soal Kelvin pada Vania.
Sudah beberapa menit waktu berlalu. Tiara masih saja terjebak tentang Vania dan Kelvin. Ia meletakkan siku tangannya di atas paha lalu menutupi wajahnya dengan telapak tangannya.
Dokter Haris yang telah selesai dengan pekerjaannya kembali ke kantornya. Lalu mendapatkan Tiara yang sedari tadi terlihat sangat murung.
“Tiara...” sapa Dokter Haris sambil memegang kepala Tiara.
Tiara tersentak dari kegalauannya. Ia melihat ke arah Dokter Haris yang ada di hadapannya.
Mereka kembali ke mobil dan Dokter Haris mengantarnya pulang. Hari ini tidak ada senyuman yang terbentuk dari bibir Tiara. Sebenarnya Dokter Haris mengkhawatirkannya juga. Walaupun keadaan di mobil itu sunyi, bukan berarti Dokter Haris fokus pada jalanan. Ia pun bolak-balik melirik ke arah Tiara. Ia ingin menyampaikan sesuatu, tapi setiap kali ia ingin mengucapkannya bibirnya terasa kaku.
Beberapa menit kemudian sampailah mereka di rumah Tiara. Dokter Haris mengantar Tiara sampai masuk ke dalam rumah. Itu selalu dilakukannya sejak ia di percaya untuk menjaga Tiara.
“Tiara, kamu baik-baik aja kan?” tanya Dokter Haris lembut sambil menggenggam tangan Tiara.
Langkah Tiara terhenti. Dilihatnya wajah yang lembut itu bingung mengkhawatirkannya. Tiara ingin sekali tidak memperlihatkan kesedihannya. Tapi, mendengar suara lembutnya Tiara semakin tidak bisa menahannya lagi. Matanya mulai berkaca-kaca. Melihat itu, Dokter Haris menarik tangan Tiara dan menempatkan Tiara dalam pelukannya. Kesedihan itu tidak bisa dibendung lagi. Tiara menangis di pelukan Dokter Haris.
Masalah apa yang sedang dihadapi Tiara, ingin sekali Dokter Haris mengetahuinya. Tapi, ia juga tidak ingin memaksa Tiara untuk menceritakan padanya. Pelukan hangat itu melunturkan sesuatu yang telah mengganjal di dada Tiara sedari tadi.
Dokter Haris mengajak Tiara untuk duduk di sofa ruang tamu. Ia masih melihat Tiara termenung sejak tadi.
“Ra...” ucap dokter Haris sambil berlutut di hadapan Tiara yang sedang duduk terdiam, “Apapun masalah yang kamu alami hari ini, biarlah untuk hari ini aja,” sambungnya.
__ADS_1
Ia ingin menenangkan hati Tiara. Namun, Tiara memperlihatkan wajah bingung, ia tidak mengerti apa maksud yang diucapkan oleh Dokter Haris.
“Sejak pulang kuliah tadi, kamu kelihatan murung sampai sekarang. Jangan perlihatkan wajah itu lagi besok. Aku nggak suka,” jelas Dokter Haris, sambil membelai lembut rambut Tiara.
Mendengar perkataan itu, ada sedikit rasa bahagia yang dirasakan Tiara. Ia sadar sejak tadi Dokter Haris mengkhawatirkannya. Ia melihat sisi lain dari Dokter Haris. Walaupun ini momen langka, tapi ia juga tidak ingin melihat wajah yang mengkhawatirkannya itu.
“Hah... Dokter bisa romantis juga ternyata?” goda Tiara sambil tersenyum.
Dengan mata yang masih memerah akibat tangisan tadi, Tiara berusaha memperlihatkan senyumannya. Tapi, Dokter Haris tidak meresponnya. Ia hanya menatap Tiara.
“Katanya kamu nggak mau lihat aku sedih. Apa senyumku kurang lebar?” kata Tiara mencoba meyakinkan.
Dengan lembut dokter Haris menarik tubuh Tiara dan memeluknya. Tiara meletakkan pipinya di bahu dokter Haris.
“Aku nggak apa-apa kok...” kata Tiara pelan.
“Itu kata untuk menyembunyikan perasaanmu atau untuk tidak membuatku khawatir?” tanya Dokter Haris.
Pertanyaan itu membuat Tiara menangis kembali. Ia masih memeluk Dokter Haris. Rasanya sangat nyaman dan bisa menumpahkan semua kegundahannya.
“Sering kali Tuhan memberikan kebahagian, tapi di bungkus dengan kesedihan. Kita nggak tau rasanya bahagia itu seperti apa tanpa merasakan sakit terlebih dahulu. Anggap aja ini hal lazim supaya kamu nggak memikirnya terus-menerus,” ucap lembut Dokter Haris.
Mendengarkan perkataan Dokter Haris, Tiara melepaskan pelukannya.
“Maaf, udah buat khawatir,” ucap Tiara dengan cucuran air matanya. “Ini semua diluar dugaanku. Aku nggak tau siapa yang salah. Terasa mau mati memikirkannya.”
Tiba-tiba Dokter Haris mengecup kening Tiara. Tentu saja membuat Tiara terkejut. Jantungnya berdegup kencang akibat perlakuan Dokter Haris itu.
“Udah dari tadi kamu nangis. Emangnya nggak capek? Kasihani juga diri kamu! Ya udah, aku mau ke rumah sakit lagi,” kali ini, dengan ke jutekannya, sambil bangkit dan berdiri lalu pergi dari hadapan Tiara.
Sementara Tiara masih terpaku.
Bibir dokter Haris masih terasa di keningnya. Lalu ia mengingat kembali tiap ucapan dokter Haris. Ya, ia tidak boleh larut dalam kesedihan. Ia juga harus memikirkan dirinya, bukan menyiksa dirinya sendiri dengan pikiran-pikiran sampah seperti itu.
Dia telah mengalami hal yang hampir merenggut nyawanya. Mengalami kesakitan di sekujur tubuhnya. Dan kini ia tidak ingin rasa sakit itu terus berada di dalam hatinya.
__ADS_1
“Nggak... Aku nggak selemah itu!” ucap Tiara tegas kepada dirinya sendiri.
***