
Gadis
Ra, udah pulang belum?
Aku ke rumah ya.
Tiara
Udah, Dis. Dateng aja.
Eh, kenapa hari ini gak masuk?
Gadis
Udah entaran aja kalo udah nyampe rumah kamu,
Baru aku kasih tau.
Siapin jus jeruk ya.
Tiara
Huuu... dasar nyebelin.
“Giliran aku udah mulai masuk kuliah lagi, nih anak malah gak dateng,” gerutu Tiara seusai berbalas pesan singkat dengan Gadis.
Sekarang pukul 16.00 wib, yang ada di rumah Tiara seperti biasa hanyalah dirinya beserta seorang satpam dan asisten rumah tangga. Sepi. Sebab lagi-lagi kedua orang tua Tiara masih sibuk dengan pekerjaan mereka. It’s okay... bukan hal yang baru bagi Tiara untuk home alone, tidak terlalu terasa sepi, karena tiap tiga jam sekali salah satu dari orang tuanya pasti membuat handphone Tiara berdering. Ya... mereka menelepon anak sematawayangnya ini tiap beberapa jam sekali, hanya untuk memastikan keberadaan anaknya, apakah anaknya sudah makan, atau apa saja yang sedang dilakukannya. Walaupun jauh, sibuk dengan pekerjaan mereka, tidak lantas membuat mereka jadi orang tua yang lalai atas kontrolnya terhadap anak.
__ADS_1
Disaat sepi sendirian di rumah seperti ini, Gadis memang jadi satu-satunya orang yang paling rajin menemani Tiara. Tak jarang pula Gadis turut bermalam di sana. Mungkin itu sebabnya persahabatan mereka bisa sangat lekat melebihi saudara, sebab quality time antar kedua sahabat ini selalu terjalin baik karena semua kebersamaan mereka.
Setelah menerima pesanan jus jeruk dari Gadis lewat pesan singkatnya tadi, Tiara langsung bangkit dari tempat tidurnya dan berjalan keluar kamar menuju dapur. Menyiapkan jus untuk Gadis yang sebentar lagi akan tiba di rumahnya.
Sesampainya Tiara di dapur...
“Lagi ngapain, neng??” tanya seorang asisten rumah tangga ketika melihat Tiara yang sedang celingukan di depan lemari es.
“Jeruknya mana ya, Mbak? Aku cari dari tadi kok nggak nemu-nemu sih...” jawab Tiara sambil tetap celingukan mencari sesuatu di lemari es itu.
“Oh jeruk toh... kirain neng lagi ngadem di dalem situ.” celetuk si mbak ART geli sambil menunjuk freezer lemari es. “Buahnya ada di bawah tuh. Bakal apa’an neng? Mau dibantuin nggak?” tawar sang ART.
“Nah ini dapet jeruknya!” jawab Tiara dengan senyum lebar karena berpuas hati telah menemukan hal yang dicarinya. “Aku bikin sendiri aja, Mbak. Mau buat jus. Bisa kok.” sambungnya sambil mengedipkan sebelah mata kepada sang ART, menunjukkan keyanikan dirinya kepada mbak ART bahwa ia bisa melakukan pekerjaan dapur itu seorang diri.
“Tapi blender jangan dirusakin lagi ya, neng.” peringatan kesekian kalinya dari sang ART kepada Tiara. Tiara memang selalu merusak perkakas dapur ketika ia sedang mengerjakan sesuatu di dapur. Memasak, memotong, mengaduk, tangannya memang belum terlalu luwes untuk melakukan pekerjaan yang katanya adalah kodratnya wanita itu.
“Dorrr!!! Hahahahah...” Gadis datang dari balik punggung Tiara dan mengejutkannya.
“Ya ampun, Gadis!! Liat tuh, jatuhkan buahnya... Aaaaaaaa, suka banget sih ngageti aku!” omel panjang Tiara kepada Gadis yang tiba-tiba datang dan mengejutkannya, membuat buah jeruk yang ada di tangannya terpental ke atas dan jatuh di lantai dapur.
“Hahahah... iya... iya... maaf,” gelak Gadis melihat ekspresi kesal Tiara, yang menunjukkan bahwa misinya untuk memberi suprise kepada Tiara atas kedatangannya itu telah berhasil ia eksekusi dengan baik.
“Maaf... maaf... apaan... Kalo aku masuk rumah sakit lagi gara-gara gagal jantung waktu kamu kagetin gimana, hayo!” tutur Tiara secepat rapper profesional, sambil memungut jeruk yang tadi jatuh di lantai.
“Aku kan baik, Ra. Nggak sejahat itu. Ini buktinya aku bawain oleh-oleh buat kamu.” Gadis membela diri, sambil mengeluarkan sebuah buku yang masih tersegel sampul plastik dari dalam tasnya. “Ini novel terbaru Maria Renata, penulis favorit kamu kan,” sambungnya lagi sambil menunjukkan sisi depan cover buku yang di bawanya.
“Waaaaaaaah!! Gadiiiiiiiiiiiissss....” kata Tiara takjub setelah menjatuhkan kembali buah jeruk yang tadinya baru ia pungut. “Ini seriusan buat aku??? Ini beneran novelnya yang terbaru kan? Yang kemarin baru aku ceritain ke kamu itu kan?? Kamu dapet dari mana, Gadis... Aaaaaaaa...” celoteh Tiara panjang.
__ADS_1
“Kaget sih kaget, Ra. Tapi ini jeruk buat aku jangan disia-siain juga kali,” kali ini Gadis yang memungut jeruk tersebut.
Kemudian Tiara sibuk membuka segel plastik pada buku itu. Ia terlihat antusias sekali dengan buku barunya ini. Tiara memang sangat suka dengan buku-buku karangan penulis favoritnya itu.
Melihat Tiara yang sedang gandrung pada buku barunya, Gadis mengambil alih pekerjaan Tiara untuk membuat jus. Kali ini mereka sedang sibuk masing-masing. Tiara dengan bukunya, dan Gadis dengan jus jeruknya.
“Eh, iya... Dis, kenapa tadi nggak masuk?” tanya Tiara kepada Gadis sambil menutup lembaran buku yang sedari dibolak-balik olehnya.
“Nah itu... tadi pagi, aku bangun kesiangan. Dari pada masuk juga telat, belum lagi kena semprot sama dosen, ya mending aku gak masuk sekalian. Hahahaha...” jawab Gadis terbahak, seperti yang ia merasa tidak berdosa saja sudah membolos salah satu mata kuliah dari dosen killer.
“Ihh, kamu ya... nggak berubah banget dari dulu, cuek aja sama study,” balas Tiara yang tertawa heran, sesaat ia memikirkan bagaimana bisa ia memiliki sahabat seperti Gadis ini, yang sangat santai menjalani hidup, cuek, jahil, tapi tetap baik hatinya.
“Nginep sini kan, Dis?” tanya Tiara sambil menatap ke arah Gadis yang masih sibuk dengan jus alpukatnya.
“Hu’um... aku nginep sini aja. Pengen cerita banyak nih. Terus, gimana? Tadi ke kampus sama dokter kece nggak?” tanya Gadis kepada Tiara sambil menaik-turunkan kedua alis matanya.
“Maksud kamu dokter Haris? Kalau itu sih...Tadi aku dianter-jemput sama dia,” jawab Tiara lesu ketika ditanya perihal kuliahnya yang kemudian membuatnya terduduk di kursi meja makan dekat pentry dapurnya.
“Terus itu muka kenapa jadi kusut begitu?” tanya Gadis lagi ketika melihat kelesuan Tiara.
“Tau nggak tadi pagi itu di kelas ada kejadian apa... Vania, Dis. Dia kok jahat banget sih sama aku...” kata Tiara dengan nada semakin lesu dengan menutupkan kedua telapak tangannya tepat di wajah.
Kelesuan Tiara ketika menyebutkan nama Vania itu sesaat membuat suasana dapur yang tadinya riuh karena keterkejutan Tiara atas kedatangan Gadis dan hadiah buku baru yang diterimanya, kini berubah menjadi sendu...
Sendunya, seperti menyambut dinginnya udara malam yang akan menggantikan hangatnya sore.
***
__ADS_1